
Aku kembali terluka
Entah keberapa kalinya
Aku terlalu sering merasakannya
Bahkan aku mencoba untuk biasa
Namun semua percuma
Aku mencintaimu
Meski sendu dalam kelamku
Menjerit rasa dalam rindu
Melepas dusta dalam nestapa
Malam ini
Izinkan aku sendiri
Biarkan dingin menyelimuti
Biarkan pilu memenuhi
Biarkan sesak menghantui
Hingga nanti
Tiba saatnya aku benar-benar berhenti
Kepada dewi cinta
Lepaskanlah rasa yang pernah ada
Lupakanlah kecewa yang selalu ada
Aku tak sanggup lagi bersamanya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seminggu berlalu tanpa ada niat untuk bertemu. Setelah makan siang bersama Krisna, Poda sekalipun tidak pernah menghubunginya. Lebih tepatnya hanya menghubungi sekali saja ketika mengatakan dia ingin mencari kost Las Vegas dan Krisna mengiyakan keinginan Poda. Lalu selebihnya tidak ada saling kabar dari keduanya. Krisna mencoba menahan rindunya. Walau sebenarnya ia sangat tersiksa. Dia tidak bisa hidup sendiri. Selalu haus akan kasih sayang sang kekasih. "Untuk apa mencinta, jika akhirnya hanya dianggap tak berguna". Itulah prinsip teguh Krisna.
Selama ini, hingga detik ini Krisna masih mampu menahan hatinya untuk tidak berpaling. Seminggu ini, Krisna mati-matian untuk tidak menaruh rasa untuk Raka. Bagaimana tidak, di saat sang pacar entah kemana, Raka selalu menemaninya. Di saat sang pacar tidak memperdulikannya, Raka selalu ada dan tidak dipungkiri, selama seminggu ini Raka terus berusaha membuat Krisna bahagia meski hanya dengan hal sederhana. Raka tahu pasti, wanita seperti Krisna tidak menyukai kemewahan dia hanya menyukai sesuatu yang apa adanya.
Pernah sekali, saat itu Raka memberi bunga mawar untuk Krisna. Namun Krisna hanya menerima dan dibiarkan begitu saja. Ini hari ketiga, dimana setiap hari Raka selalu melihat Krisna datang dengan mata sembab. Raka tidak tau apa penyebabnya, namun ia memastikan Poda adalah alasan utamanya. Bukan Raka tidak pernah bertanya, hanya saja ketika Raka menanyakan apa sebabnya Krisna selalu menjawab jika dia insomnia. Apa boleh buat Raka akhirnya mengalah. Sebenarnya tanpa bertanya Raka sudah tahu jawabannya. Tapi Raka ingin memastikan apakah perkiraannya benar atau salah.
Setelah Krisna masuk dan duduk di kursinya, ia melihat ponselnya. Mengamati sebentar, lalu menatap nanar benda pipih itu lantas meletakannya di meja. Itulah akhir-akhir ini yang dilihat Raka.
"Kris, kamu tidak mau cerita sama aku?," tanya Raka mengawali pembicaraannya.
"Tidak ka," jawab Krisna lesu.
"Kalau ada masalah bisa cerita, aku akan mendengarkan," ucap Raka.
"Kamu punga pacar ka?," tiba-tiba Krisna menanyakan perihal pasangannya.
"Aku jomblo, tapi kalau pacaran sudah pernah," jawab Raka.
"Percaya dari penamlilan juga sudah kelihatan kalau kamu playboy," ujar Krisna
"Haha, tahu aja," Raka menjawab sambil tertawa. Padahal sebenarnya Raka adalah sosok setia namun justru sering kali pasangannya lah yang mendua.
"Haha iyalah, Apa sih yang aku tidak ku tahu dari kamu?," ucap Krisna yang juga ikut tertawa.
"Jllleebb" Krisna diam. Merasa perkataan Raka benar. Selama ini dia tidak tau apakah bahagia atau tidak. Hari ini dia tertawa, besok cemberut, lusa hanya tersenyum begitu seterusnya roda berputar. Bahkan ketika bercinta, Krisna seperti sangat dekat dengan Poda dan seperti utuh memilikinya, namun setelah usai seperti sesuatu jauh yang tak kan pernah tergapai.
Krisna merasakan sesak dalam dada. Tanpa sadar air matanya mulai menetes. Raka yang sedari tadi memperhatikan Krisna merasa bersalah. Raka berusaha menenangkan Krisna namun tidak ada tanda-tanda apapun. Krisna masih hanyut dalam dunianya sendiri. Seperti merasa hanya duduk seorang diri.
"Kris," Raka memanggil Krisna pelan.
"Iya ka," Krisna menjawab seraya menatap wajah Raka.
"Maaf," ucap Raka tulus.
"Tidak apa-apa," jawab Krisna yang segera menghapus air matanya.
Perlahan Raka menarik Krisna ke dalam pelukannya. Dia tau saat ini Krisna hanya butuh tempat untuk bersandar. Krisna kembali meneteskan air mata. Dia teringat semuanya, masih mengingat dengan jelas setiap pengkhianatan yang dilakukan sang pacar. Sementara Raka disamping Krisna membelai lembut rambut Krisna. Berharap wanita di sebelahnya segera mengakhiri kesedihannya.
"Tok.. Tok.. Tok," pintu di ketuk ketika Raka ingin mencium Krisna.
"Sial!," umpat Raka.
"Maaf mengganggu, hari ini tidak ada jadwal keluar kadi kalian di kantor saja," jelas sang tuan yang tadi mengetok pintu.
"Jelas menganggu! Aku harus mencari titik terlemah seperti ini agar aku bisa mendekati Krisna kamu malah mengacaukan dalam sekejab, woey! Aku butuh berminggu-minggu menunggu moment ini," umpat Raka dalam hati.
Raka dan Krisna belum mengakhiri semuanya. Krisna masih bersandar di bahu Raka dan Raka masih memeluknya ketika pintu terbuka. Jadi menurut mereka pura-pura tidak terjadi apa-apa adalah hal bodoh.
"Raka, maaf ya," ucap Krisna pelan.
"Iya kris tidak apa-apa," ujar Raka.
Melihat Krisna masih diam di pelukannya, Raka berniat ingin msnciumnya. Setelah tadi Raka memeluk Krisna, dia tetap diam. Raka membelai rambutpun Krisna masih diam. Kini Raka berharap saat dia menciumnya, Krisna masih diam juga. Atau semoga saja malah membalasnya. Raka baru memajukan bibirnya, ketika tiba-tiba Krisna menjauh darinya.
"Kenapa? Tidak ada yang di cium ya?," Krisna berkata dengan logat polosnya.
"Ada," jawab Raka. Tentu saja dia malu untuk mengakui jika apa yang di katakan Krisna benar.
"Siapa?," tanya Krisna penasaran.
"Kamu," Raka berkata seraya memperlihatkan seringai liciknya.
"Apaan, don't touch me oke!," Krisna menjawab seraya menjukurkan lidah. Ini tampak seperti sebuah kemenangan.
Akhirnya Raka dan Krisna tertawa bersama. Raka segera sadar akan mawar yang di bawanya. Segera mengambil di mejanya dan memberikan kepada Krisna.
"Kris, jangan bersedih lagi ya! Kalau kamu sedih lihat saja mawar ini," Raka berusaha seromantis mungkin seraya memberikan mawar itu.
"Kenapa liatin mawar ini ka?," tanya Krisna.
"Biar kamu tahu masih ada aku yang selalu membuatmu bahagia," jawab Raka agar terkesan romantis.
Namun tanpa di sadari, Krisna menjawab dengan santai dan membuat Raka ingin berteriak andai saja mereka tidak berada di kantor.
"Untuk mengenangmu setiap saat jika mawar ini bisa layu?," tanya Krisna datar.
"Astagaa! Kenapa aku bisa jatuh cinta sama wanita seperti ini, keterlaluan polos atau emang nggak peka," gerutu Raka dalan hati.
"Udah kris, aku ke kamar mandi dulu ya," Raka mengakhiri pembicaraannya. Karena percuma saja bicara sama orang yang hatinya udah ketutup untuk satu orang.
Awalnya Raka berpikir Krisna sudah bjsa membuka hati untuknya. Berhari-hari Raka mengira hubungan Krisna dan Poda berakhir. Saat memeluk Krisna, Raka juga berfikir seperti itu. Ternyata saat itu perasaan Krisna hanya sedang kalut.
Setelah Raka berlalu, Krisna menaruh mawar itu di meja. Seperti mawar biasa dan tidak special. Meskipun Raka memberinya dengan penuh harapan.
Sepulang kantor Raka berencana mengajak Krisna jalan-jalan meskipun hanya duduk di taman. Setidaknya itu mampu membuatnya bahagia. Raka tidak peduli seberapa terluka hatinya ketika Krisna menceritakan Poda. Seberapa terlukanya ketika Krisna tersenyum karena Poda. Yang terpenting untuk saat ini, Raka hanya ingin melihat Krisna bahagia.