
Malam berlalu begitu lama untuk Krisna. Pagi hari dia bangun namun malas untuk membuat sarapan. Wanita itu seperti tidak punya harapan hidup. Salah satu orang yang bisa menjadi sandaran untuknya adalah Terry.
Krisna menulis pesan kepada Terry namun segera di hapusnya. Dia tidak mau mengganggu kehidupan Terry. Akhirnya wanita itu meletakkan ponselnya kembali.
Tiba di kantor, Krisna langsung mendapat berita jika dia dipindah tugaskan ke kabupaten lain. Wanita itu menghela nafas. Tidak ada yang dia inginkan untuk saat ini, maka berada jauh dari semuanya seperti solusi untuknya.
Hari-hari berjalan seperti biasa, tapi Krisna merasa hidupnya semakin berat. Setelah dia memutuskan Poda, laki-laki itu tidak pernah sekalipun memberi kabar padanya.
Sebulan berlalu, di siang yang terik tepat ketika jam makan siang Krisna mendapati pesan masuk dari Terry. Wanita itu lalu membukanya.
From : Terry
"Aku ada di kota X, ayo makan siang"
From : Krisna
"Tidak, aku sudah kenyang"
Terry tersenyum puas karena Krisna tidak mau makan dengannya, padahal dari kejauhan Terry melihat sosok Krisna. Terry tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan wanita itu, padahal dia sudah pindah ke kabupaten lain.
"Lain kali jangan sungkan makan bareng ya," gumam Terry.
Sementara Krisna yang tidak menyadari kehadiran Terry segera pulang ke kost untuk tidur siang. Dia bahkan tidak berpikiran untuk makan.
Setelah ajakan makan siang yang di tolak, Terry semakin sering menggoda Krisna. Laki-laki itu sengaja mengajak Krisna makan siang bersama jika sudah waktunya. Namun lagi-lagi Krisna menolak. Terry tidak memusingkan hal itu toh dia tidak punya perasaan lebih.
Suatu hari, ketika Krisna berada di salah satu lesehan yang cukup terkenal di kota X, Terry mengiriminya pesan. Isinya sama seperti biasa, laki-laki itu mengajak makan siang.
"Hei, aku galau tapi nggak gabut juga kali, masa tiap makan siang ngajak makan siang bareng. Sengaja mau pamer kalau akur sama tunangan hm," gerutu Krisna.
Terry menunggu balasan Krisna, tapi tak kunjung mendapatkannya. Sekali lagi dia mencoba mengirim pesan yang pasti tidak akan membuat Krisna menolaknya.
From : Terry
"Lihat aku, ada di belakangmu! Dan kamu harus makan siang bersamaku wek 😛"
Krisna segera menengok ke belakang. Benar, ternyata di kejauhan sudah ada Terry yang tersenyum licik ke arahnya. Krisna berjalan menghampiri Terry dan mencubit pinggangnya.
"Nyebelin banget sih! Apes kalau dimana-mana harus ketemu kamu,' gerutu Krisna.
"Eh santuy gaes, siapa tau kita jodoh," tukas Terry.
"Dasar gila," ketus Krisna seraya berlalu meninggalkan Terry.
Krisna duduk di meja paling pojok dan memesan makanan, sementara Terry mengekor dari belakang. Laki-laki itu tersenyum manis ketika Krisna menatapnya penuh permusuhan.
"Hehe," tawa Terry.
"Gila," ketus Krisna.
Tangan kanan Terry terulur untuk mengacak rambut Krisna. Wanita itu membulatkan matanya karena kesal dengan tingkah Terry.
"Jangan pegang-pegang!," ucap Krisna dingin.
"Udah ah marahnya, aku mau curhat ni," ucap Terry dengan tatapan serius.
Krisna hanya menganggap santai ucapan Terry.
"Tumben, eh dimana si Rita? Kenapa nggak makan sama dia?," tanya Krisna tiba-tiba membuat Terry menundukkan kepalanya.
"Aneh, liatin apa sih? Kolong meja juga sempit ngapain menunduk," gerutu Krisna lalu dengan bodohnya wanita itu mengintip kolong meja, tentu saja disana ada dua pasang kaki yang sedang bersila.
"A-apa maksudmu?," ucap Krisna terbata.
"Dia memilih lelaki lain," gumam Terry.
"Eh, maaf aku tidak tahu. Lalu kamu melepasnya begitu saja?," tanya Krisna lagi.
"Tidak, aku sudah mempertahankan dia tapi tetap saja dia memilih laki-laki lain," jawab Terry.
"Maaf," ucap Krisna lirih menyesali ucapannya.
"Tidak papa, aku masih punya kamu kok," tukas Terry seraya mendongakkan wajahnya menatap Krisna penuh kemenangan.
"Sial! Bocah tengil!," umpat Krisna.
Tanpa sadar, pelayan datang membawa pesanan mereka. Keduanya makan dengan lahap serta saling melempar sindiran tajam. Tajam karena keduanya telah berduka, namun tetap saja Terry juga ingin Krisna merelakan Poda.
Selesai makan, Krisna memberanikan diri berbicara kepada Terry. Wanita itu sengaja memasang wajah galak agar Terry tidak mencibirnya.
"Ter," ucap Krisna.
"Hm," jawab Terry.
"Aku balikan sama Poda," jelas Krisna.
Sontak Terry membulatkan mata mendengar ucapan Krisna. Terry menjitak kepala Krisna karena saking kesalnya.
"Bodoh! Kenapa kamu kembali padanya? Itu sama saja kamu jatuh ke lubang yang sama, ayolah Krisna buka matamu!," dengus Terry.
"Aku juga tidak tahu kenapa hatiku luluh lagi dengan perlakuannya," lirih Krisna.
"Aargghhkk! Oke lihat saja sampai sejauh mana kamu mampu menghadapinya," tukas Terry.
Krisna diam karena sebenarnya wanita itu juga ragu jika harus kembali kepada Poda, tapi entahlah mungkin seperti itu jalan takdirnya.
Ucapan Terry terbukti ketika Poda masih dengan labil berlaku sesuka hati kepada Krisna. Bahkan terkadang Krisna memergoki Poda menelpon wanita lain. Sebenarnya wanita itu merasa hatinya terluka, tapi kali ini juga merupakan salahnya yang rela kembali hanya untuk merasa terluka lagi.
Hubungan Terry dan Krisna lambat laun semakin dekat. Bukan karena rasa cinta yang dimiliki keduanya, tapi karena rasa iba yang masih bertengger di hati mereka. Terry sudah menganggap Krisna seperti adiknya sendiri, begitu juga Krisna yang sudah menganggap Terry seperti kakak kandungnya. Dimana ada rasa tidak terima ketika mendengar salah satu di antara mereka merasakan kecewa.
Sore hari, setelah Krisna pulang dari kantor memutuskan untuk mengunjungi caffe. Dia ingin sekali memesan berbagai macam coklat untuk menenangkan hatinya. Tanpa disadari, Terry juga berencana mengunjungi caffe itu. Tanpa sengaja, keduanya bertemu saat Krisna sudah duduk di pojokan dan Terry ingin duduk di bangku sebelahnya.
"Eh, makhluk Tuhan lagi ngapain?," tanya Terry dengan nada mengejeknya.
"Kamu sendiri ngapain kesini," ketus Krisna.
"Aku mencarimu Krisna," ucap Terry.
"Boleh aku duduk di sampingmu?," tanya Terry hati-hati.
Terry tau Krisna kesana pasti menenangkan diri. Wanita itu tidak mungkin berkeliaran sendiri jika tidak ada masalah. Terlebih ketika memasuki cafe tanpa pengawalan Poda.
"Sejak kapan kamu punya sopan santun," dengus Krisna.
Terry hanya mengedikkan bahu mendengar ucapan Krisna. Lalu menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Entah mengapa Terry seperti berfirasat jika nanti Krisna akan menceritakan kesedihannya, jadilah Terry menyiapkan diri untuk menghadapi Krisna.
Aneka macam coklat datang di meja Krisna membuat Terry mengerutkan dahi. Laki-laki itu bingung sekaligus ingin tertawa. Wanita yang tidak suka manis itu ternyata memesan banyak minuman dan cake yang berasa coklat.
"Apa hatimu terlalu buruk hingga kamu memesan semuanya?," sindir Terry.
"Diamlah!," ucap Krisna dingin.