
Kita bisa saja mencinta
Tapi tidak semua tau bagaimana menikmatinya
Kita bisa tertawa
Tanpa merasa bahagia
Begitupun cinta
ia bisa dengan mudah datang tak pergi
Namun untuk saat ini
Aku benar-benar menikmati
Setidaknya untuk malam ini
Aku merasakan bahagia kembali
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya, Krisna pergi bersama Poda. Mereka menuju Alun-Alun kota. Di sana ada pembukaan acara pasar malam. Hanya berdua dan ini bisa dibilang kencan pertama mereka setelah Poda sembuh dari kecelakaannya. Krisna yang memang bersifat asli wanita tomboy, memilih menggunakan celana jeans panjang, dan kaos supporter bola berwarna merah. Poda sendiri mengenakan celana jeans panjang dan kaos supporter bola berwarna hijau. Ya, meskipun mereka sepasang kekasih, namun untuk urusan sepak bola mereka memiliki selera yang berbeda.
"Untuk apa memikirkan bola? Yang terpenting kan bajunya, perihal tim kebanggaan aku tidak pernah memaksa untuk sama! Aku sendiri tidak pernah tahu apa itu di dalamnya. Hanya sekedar menyukai kaos merah dengan desain kreatifnya," pikir Krisna.
Lain halnya dengan Poda yang merupakan supporter sejati. Selalu menyaksikan tim kebanggaannya bermain dimana pun dan kapanpun. Kadang dia rela meninggalkan Krisna hanya untuk melihat tim kebanggaannya secara langsung.
"Aku menyukai tim berlogo elang berwarna hijau, aku memakai kaos ini karena aku ingin menunjukan bahwa aku suporter sejati. Ketika ada yang menanyakan kenapa sang pacar berbeda club, aku menjawab itu tentang urusan hati," ucap Poda.
Mereka menuju tengah Alun-Alun. Berada di tengah dunia permainan. Sejak kecil Krisna menyukai komedi putar. Dia senang berada di atas ketika komedi putar berhenti. Seperti melayang di awan. Begitu persepsi Krisna tentang permainan kesukaannya. Dan malam itu Krisna mengajak Poda bermain itu.
"Aku mau naik komedi putar," pinta Krisna.
"Aku takut sayang," jawab Poda.
"Percuma punya pacar kalau aku naik sendiri," ucap Krisna acuh.
"Jangan marah sayang, aku akan menemanomu tapi naik yang lain," rayu Poda.
"Tidak mau! Aku maunya itu, kalau kamu tidak mau kita pulang saja," gerutu Krisna.
"Ya sudah kita naik," Poda berkata lirih pertanda dia pasrah apapun yang terjadi.
"Oke! Aku akan membeli tiket," Krisna kembali cengar-cengir.
Krisna membeli dua tiket masuk yakni untuk dirinya dan Poda. Sudah lama Krisna tidak menaiki permainan ini. Selama ini tidak pernah ada yang mau menemaninya. Dia juga merasa malu jika harus naik sendiri.
"Sudah besar kenapa naik komedi putar? Sumpah aku tidak mau jika ada yang mengatakan begitu," umpat Krisna dalam hati.
Penjaga permainan itu membukakan pintu. Krisna menarik tangan Poda untuk segera naik. Putaran pertama, Poda diam saja. Mungkin takut terlempar dari wahana. Putaran kedua, saat berputar dari atas kebawah, Poda sedikit berjingkat karena kaget. Tiba-tiba dia merasa seperti terbang dn sedikit berdiri. Krisna yang melihat itu langsung tertawa.
"Hahaha sayang kenapa? Mau terbang atau amu lompat?," Krisna bertanya sambil tertawa.
"Huuft! Aku hampir melayang," jawab Poda seraya menghembuskan nafas kasar.
"Sini pegangan aku," Krisna dengan kejahilannya menawarkan solusi.
"Tidak mau," jawab Poda gengsi.
"Ya sudah, semoga nanti benar-benar terbang! Biar tau gimana rasanya melayang," ucap Krisna dengan gelak tawa.
Putaran kedua dari atas ke bawah, Poda merasakan seperti ingin terbang untuk kedua kalinya. Lagi-lagi Krisna menertawakannya.
"Kenapa? Lucu?," tanya Poda sinis.
Sebenarnya Poda malu ketika kaget lalu akan berdiri. Tapi mengingat Krisna di sampingnya tenang, membuatnya gengsi untuk mengakui. Sebenarnya dia benar-benar takut terlempar. Bisa dibayangkan komedi berputar berkali-kali. Terkadang Poda melihat dari bawah seperti melihat mainan itu mau lepas.
Putaran ke tiga dan seterusnya hingga berhenti. Krisna sangat menikmati permainan itu. Walaupun Poda dengan terang-terangan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Namun ia masih bertahan dalam gengsinya.
"Kamu kenapa tadi tiba-tiba pegangan aku terus dilepas? Lalu memelukku dan melepas lagi?," Krisna bertanya ketika mereka sudah keluar dari komedi putar.
"Tidak apa-apa," jawab Poda ketus.
"Sial! Ini pasti gara-gara kamu," gerutu Poda ketika melihat Krisna selalu mendapatkan hadiah.
"Kamu saja yang kurang beruntung seperti itu saja tidak bisa," jawab Krisna.
Mereka mengitari setiap stand yang ada di pasar malam itu. Sesekali berhenti di stand yang menurut mereka menarik. Berhenti di penjual makanan rambut nenek dan ice cream.
"Ice cream rasa coklat dua mas dan dua rambut nenek warna merah jambu," pesan Poda kepada penjual ise cream.
Krisna dan Poda kemudian duduk di taman pinggir Alun- Alun sambil menikmati ice cream mereka.
"Sayang mau?," Krisna menawarkan ice creamnya.
"Emh, enak," ucap Poda setelah mendapatkan suapan ice cream dari Krisna.
Poda kemudian berganti menyuapi Krisna. Ide untuk membalas kejahilan Krisna muncul.
"Sayang, gantian aku yang disuapin ya,"
pinta Krisna.
"Eemm," Krisna menggigit banyak ice cream Poda".
"Lagi say," ucap Poda.
Krisna hendak memakan lagi, namun Poda lebih cepat menempelkan ice cream di pipi Krisna hingga Krisna menggerutu.
"Ih, menyebalkan!," Krisna berkata sambil mencubit pinggang Poda.
"Aw, sayang sakit," jerit Poda.
"Biarin salah siapa ngerjain aku," jawab Krisna kesal.
Kali ini gantian Poda yang mencubit pinggang Krisna. Hingga mereka berlari saling mengejar karena takut akan dicubit. Saling tertawa dan melepaskan sejenak beban yang ada.
Tidak terasa waktu sudah larut malam. Mereka pulang dengan membawa satu boneka gorila yang cukup memenuhi motor Poda. Ditambah belanjaan yang lain. Motor itu terasa sesak ditempati bertiga termasuk sang gorila.
Sampai di depan kost Krisna, Poda menurunkan barang belanjaan Krisna
Sementara Krisna sendiri menggendong gorila kesayangannya.
"Lumayan buat nemenin tidur," Krisna berbicara sambil berlalu.
POV Poda
Hari ini aku berencana mengajak Krisna jalan-jalan. Kebetulan ada aca pembukaan pasar malam. Semoga saja Krisna suka. Aku tau dia menyukai komedi putar. Pernah dia mengajakku untuk naik, tapi aku menolak. Aku tidak takut ketinggian tapi aku takut jatuh dari permainannya.
Malam ini aku menjemput Krisna di rumahnya pukul 18.00. Sepertinya pasar malam mulai sehabis Magrhib. Sampai di Alun-Alun aku dan Krisna berjalan melewati stand yang berjajar di pinggir jalan. Tidak ada yang menarik untukku. Mungkin tidak ada yang menarik juga untuk Krisna. Terbukti dia tidak meminta apapun dari tadi.
Krisna mengajak menuju wahana bermain. Aku mulai cemas, bisa saja dia mengajakku naik komedi putar. Pasalnya selama ini aku selalu menolak ajakannya untuk bermain.
"Sayang aku mau naik itu," Krisna menunjuk komedi putar.
Benar saja dia mengajakku. Aku berusaha membujuknya namun sia-sia. Akhirnya dengan berat hati aku mengiyakan ajakannya. Ini pertama kalinya aku naik komedi putar. Aku benar-benar takut jatuh.
Putaran pertama aku kaget merasa seperti akan terbang. Spontan aku akan berdiri. Namun aku mengurungkannya. Berharap Krisna belum melihat. Nyatanya sia-sia. Krisna sudah lebih dulu melihatku. Dia kemudian menertawakanku.
"Oh damn!," membuat reputasiku merosot di hadapannya.
Hingga putaran kedua dan seterusnya aku mencoba menikmatinya. Setelah turun dari komedi putar, aku ingin sekali muntah. Perutku seperti dikocak-kocak. Tapi aku tak ingin membuat diriku sendiri lebih malu.
Krisna mengajak melihat permainan lain. Melakukan permainan dan berhenti di beberapa stan. Krisna memilih boneka gorila.
"Ya Tuhan, apa wanita ini gila? Kebanyakan wanita memilih Teddy bear atau panda, tapi dia memilih gorila! Sudahlah bukankah Krisna sedikit aneh?," aku bicara pada diriku sendiri.
Gorila sialan itu memenuhi motor ku saja. Aku terpaksa mengalah daripada Krisna marah. Sampai di rumah, Krisna segera berlalu membawa peliharaan barunya tanpa memperdulikan belanjaan yang tadi di beli. Ah merepotkan saja.
"But, thanks for tonight! I'm happy!," ucapku lirih takut Krisna mendengar. Kalau dia mendengar aku memujinya bisa besar kepala nanti.
**********************************************