
Ingatlah jika orang yang sering membuat kita menangis adalah orang yang kita sayangi.
Tapi ingatlah jika karma tidak pernah salah kepada siapa dia akan mengarah.
Lalu lupakanlah semua kenangan yang mungkin hanya akan membeku dalam sebuah keabadian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terry menarik Krisna ke dalam pelukannya. Kini mereka berada di jarak yang sangat dekat. Semua mengalir begitu saja bersama dengan suasana yang semakin membuat keduanya larut.
Setelah merasa Krisna lebih baik, Terry segera melepaskan pelukannya lalu mengecup puncak kepala Krisna dengan lembut.
"Tidurlah, ini sudah larut," ucap Terry dengan suara parau karena turut mengingat kisah hidupnya yang tak jauh memilukan.
Sadar akan suara Terry yang terdengar begitu berat, Krisna memberanikan diri menatap Terry. Memastikan jika keadaan laki-laki di depannya baik-baik saja.
Mata memerah dan sedikit berkaca-kaca membuat hati Krisna tersentuh. Genangan itu terlihat tulus. Perlahan tangan kanannya terulur mengusap kelopak mata Terry yang hampir basah.
"Cup" Krisna memberanikan diri mencium bibir Terry.
"Jangan menangis, cukup aku saja yang menangis karenanya dan kamu jangan menangisinya," ucap Krisna.
Maksud ucapan Krisna disini seolah Krisnalah pihak yang terluka, padahal tidak hanya dia saja. Namun masih ada Terry yang menanggung kesedihan serupa dengannya.
"Jika malam adalah kegelapan, maka kamu adalah secerah harapan," bisik Terry.
"Jika angin adalah kerinduan, maka kamu adalah bayangan masa depan," bisik Krisna.
Maka malam akan dengan leluasa menjadi saksi kedekatan mereka. Dua insan yang sama-sama terluka, namun mencoba menutupinya. Suatu raga tidak bisa menolak meski suatu masa hanya bisa dirasa.
Mungkin kebodohan menguasaimu untuk saat ini, tapi tidak dengan nanti. Ketika perlahan waktu telah mengganti luka dengan tawa, ketika dusta perlahan berganti dengan cinta.
"Apalah daya saat nafasmu tak lagi mampu menembus tengkukku. Malam penuh kenangan hanya mampu mengingatkan, tapi hari tanpa jeritan hanya mampu menjadi alasan. Tak ada satupun rasa yang sanggup ku terima. Hanya derit malam bagai pekat dalam kerinduan. Aku rindu, tapi tidak dengan jiwamu. Jika saja meronta dapat membuat semua berbeda, aku sudah melakukannya dengan suka rela. Bahkan ketika sebuah pahitnya kehidupan menampar hidupku, aku akan tetap tersenyum untukmu," ucap Krisna bersama nafas penuh penyesalan yang terhembus.
"Kita berasal dari waktu yang sama, namun Tuhan menemukan kita dalam waktu yang salah. Ketika tanpa disadari rasa itu mengalir, aku masih bisa memungkiri, tapi untuk saat ini ketika aku dengan leluasa bisa mendekapmu seperti ini semua seolah jawaban dari bimbangnya hatiku," ucap Terry.
Krisna hanyut dalam pelukan Terry, sementara Terry masih menikmati kehangatan dari tubuh yang dipeluknya. Tidak ada dusta yang tercipta diantara mereka, namun keadaanlah yang membuat mereka merasa bersalah.
Sekali lagi Terry memberanikan diri mencium bibir Krisna. Terry ingin sekali menyesapnya dalam-dalam, tapi setelah bibir Terry mendarat, Krisna kembali memalingkan wajahnya.
Semu merah mulai terlihat dalam temaram. Meskipun sang pemilik berusaha untuk menutupinya. Guratan kecewa tergambar jelas di wajah Terry. Bahkan rasa malu tak luput dari hatinya.
Ini pertama kali bibir seksinya ditolak wanita. Dalam hati laki-laki itu mengumpat kesal.
"Oh shit! Apa kamu masih memikirkan laki-laki itu?," umpat Terry.
"Jangan membawaku terlalu jauh ke dalam penyesalan. Aku tidak munafik jika hatiku tidak bisa menolakmu, tapi logikaku masih berpikir untuk tidak melakukannya sekarang," ucap Krisna.
"Tidak sekarang? Apa maksudmu di lain waktu?," tanya Terry memastikan.
"Aku tidak bilang seperti itu," jawab Krisna.
"Apa kamu masih memikirkannya?," tanya Terry lagi.
Berusaha meyakinkan Terry jika yang dilakukan mereka berdua tidak ada bedanya dengan dua manusia yang telah melukai hatinya.
"Nikmatilah malam ini," ucap Terry parau.
Sekuat tenaga laki-laki itu masih ingin menggoda Krisna berharap setan jahat segera merasuki tubuhnya dan dia sejenak lupa dengan akal sehatnya.
"Aku tidak bisa Terry," gumam Krisna.
Meski terlihat pasrah, tapi masih berusaha menolak. Malam ini Krisna berusaha menjadi orang lain dengan menolak apa yang menjadi keinginannya. Satu ranjang dengan laki-laki bisa membuatnya khilaf, tapi dia sudah membuang sifat buruknya jauh-jauh.
Sebatas mata memandang, sebatas itulah pertahanan yang dimiliki Krisna. Tidak terlalu kuat, tapi hatinyalah yang selalu menguatkan. Mungkin jika sekali lagi Terry menggodanya, dia bisa khilaf untuk sepanjang malam.
"Maaf," ucap Terry lirih seakan menyesali ucapannya.
Mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Terry. Krisna tidak ingin Terry membahasnya lebih dalam. Menurutnya, hanya melihat Terry seperti ini sudah membuat adrenalinya terpacu.
Berpikir atau tidak, itu sama sekali tidak merubah keadaan. Terry berbohong atau hanya menggoda, juga tidak berpengaruh untuk Krisna selagi laki-laki itu masih ada dalam kehidupannya.
Malam semakin larut hingga tanpa sadar Terry terlelap dengan keadaan memeluk Krisna. Wanita itu juga turut terpejam dalam kehangatan yang diberikan Terry.
Hingga pagi menjelang, sayup-sayup Krisna mendengar burung berkicau memaksa wanita itu membuka matanya.
"Tidak ada," gumamnya.
Saat ingin beranjak, dia sadar ada lengan kekar yang menahan pinggangnya. Tersenyum tipis mengingat apa yang dilakukan bersama Terry tadi malam.
Seolah dunia milik mereka berdua dan hal bodoh akan menjadi pelengkapnya. Namun beruntung Krisna segera sadar akan kesalahannya.
Beranjak dari ranjang rasanya sangat sulit. Apalagi di suguhkan pemandangan yang akan sia-sia jika dibiarkan begitu saja.
Terus mengagumi hingga dengan keberanian yang perlahan muncul, wanita itu memberikan kecupan singkat di bibir seksi Terry.
"Terima kasih untuk waktu yang selalu ada untukku," ucap Krisna.
"Cup" kecupan kedua hampir mendarat jika saja Terry tidak menarik pinggangnya lebih dekat.
"Kamu menggodaku," gumam Terry masih dengan mata terpejam.
"Cup" kecupan singkat mendarat ke bibir Krisna yang masih kering karena belum tersentuh apapun.
Ucapan yang pernah dilontarkan seakan ingin ditariknya kembali saat menyadari ada yang berbeda dengan hatinya pagi ini. Morning kiss membuat dadanya yang semula berdetak teratur menjadi berdetak lebih cepat. Bahkan jantungnya seakan memacu darah yang mengalir agar lebih cepat juga.
Seketika hawa sesak menguasai rongga pernapasannya. Berkali-kali menghembuskan nafas panjang guna membuang kegugupannya.
"Gugup, aku kenapa?," gumam Krisna.
Seringai licik terbit di bibir Terry tatkala mendengar gumaman Krisna. Hatinya mulai menghangat ketika menyadari wanita di depannya perlahan mulai mencintainya.
Seolah tidak ingin besar kepala, Terry tetap pura-pura masih terpejam walau sebenarnya sudah beberapa kali melirik Krisna dari kelopak mata yang sengaja dibuka sedikit.
"Jangan membuatmu malu dengan pura-pura tidak mencintaiku," batin Terry.