
Setidaknya aku pernah membuatmu bahagia
Meski akhirnya kamu tidak memilihku karena adanya pihak ketiga
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mereka berjalan menuju Starbuck di seberang jalan. Bagi Raka berkunjung ke sana adalah hal biasa, namun untuk Krisna adalah pertama kalinya. Beruntung siang itu suasana di sana sungguh sepi.
Keduanya lalu duduk sembari menunggu pesanan mereka datang. Jangan ditanyakan bagaimana ekspresi Krisna ketika masuk ke sana. Sudah di pastikan dia sangat menjaga sikapnya agar tidak membuat Raka malu.
"Disini ramai ketika sore atau malam namun akan sedikit sepi di siang hari, ya misalnya seperti siang ini," ucap Raka.
"Aku sudah tahu," jawab Krisna.
"Darimana kamu tahu? Apa kamu sering kesini?," tanya Raka.
"Tidak, aku hanya menebak, mana mungkin tempat seperti ini ramai di siang hari," jawab Krisna lagi.
"Jika aku berbohong, sudah kupastikan kamu akan semakin penasaran dengan hidupku, bisa jadi ketika kamu memergoki kebohonganku malah tertawa di atas kepedihanku! Sial! Apes banget berasal dari daerah ujung kulon jauh dari kota metropolitan," gerutu Krisna dalam hati.
"Benar juga," ucap Raka bersama dengan datangnya pesanan mereka.
Menyesap minuman penuh dengan topping whipcream membuat lidah Krisna terasa aneh. Serasa makan kue tart namun sekarang dia meminumnya. Wanita itu tidak bisa menerjemahkan bagaimana rasa yang sekarang diminumnya meskipun dia sudah memilih rasa coklat.
Sementara Raka memilih minuman Dengan rasa matcha. Perpaduan antara teh hijau dengan sedikit gula bercampur es dengan full whipcream serta taburan coklat. Minuman kesukaan Raka ketika dia berada di sana. Tak luput juga ketika di rumah laki-laki itu sering meracik minumannya sendiri.
Dia adalah laki-laki dengan tingkat keingintahuan tinggi seperti Krisna. Namun bedanya, dia selalu berusaha menutupi di depan Krisna. Masih malu jika wanita yang dikenalnya akhir-akhir ini mengetahui kebiasaan sesungguhnya. Karena Raka sendiri selalu menertawakan Krisna ketika dia menunjukkan sifatnya.
"Jadi pengen kerja disini, sepertinya sedikit pengetahuanku nantinya bisa menghasilkan uang tambahan, ah dasar otak mata duitan," batin Krisna.
Raka masih menikmati minumannya namun dengan tangan kiri memegang ponselnya. Sedikit mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak. Ternyata sama sekali tidak ada pesan yang diinginkan. Jelas saja tidak ada karena dia mengharapkan pesan dari wanita di depannya. Bukan pesan dari wanita lain atau perihal pekerjaan.
"Kamu tidak berniat memberiku makan siang?," ucap Krisna tiba-tiba.
"Kenapa? Apa kamu lapar?," tanya Raka polos.
"Astaga Rakaaa! Kamu pikir aku robot yang nggak butuh makan? Duh, sabar kris ini ujian!," umpat Krisna dalam hati.
"Tidak, bahkan hanya melihatmu saja aku sudah bahagia mana mungkin aku bisa lapar jika bersama orang yang sangat kusayangi?," jawab Krisna datar yang sebenarnya adalah sindiran untuk Raka.
"Em baiklah, terima kasih telah menyayangiku aku juga sayang kamu," ucap Raka dengan mata berbinar.
"Bodo*! Kenapa jadi senjata makan tuan begini? Arrgghhh dasar Raka!," batin Krisna.
"Hehe, habiskan minumanmu," lirih Krisna.
"Habiskan saja perasaanmu untuk Poda! Dasar menyebalkan! Aku tahu kamu tidak mungkin memberiku gombalan seperti itu, dan aku hanya memepetmu maka tamatlah riwayatmu seperti saat ini," gerutu Raka dalam hati.
Keduanya menghabiskan minuman masing-masing. Sebenarnya Raka masih ingin disana, namun melihat Krisna yang diam karena kalah membuatnya tidak tega. Dia hafal betul kebiasaan Krisna, ketika dia kalah telak bagaimanapun Raka mengajaknya bicara Krisna akan tetap diam.
Berada di satu tempat dalam keadaan diam lebih baik daripada berbicara namun tetap kalah. Raka benci dengan sifat Krisna yang satu ini. Mendadak menjadi wanita sama seperti umumnya, meski begitu tetap saja Raka menyukainya.
"Kenapa? Sudah bosan berada di sini?," tanya Krisna.
"Tidak, aku hanya tidak suka melihatmu diam seperti patung, aku sudah mengajak wanita cantik untuk ke sini namun wanita itu malah seperti patung," jawab Raka santai.
"Benar-benar menyebalkan!," gerutu Krisna seraya mencubit pinggang Raka.
"Aw, sakit tahu! Tolong jangan membuat reputasiku menjadi hancur, aku selalu stay cool ketika di sini," bisik Raka.
" Ups, maaf aku tidak sengaja," ucap Krisna yang juga berbisik.
"Maafkan aku wahai para wanita jala*g jikalau aku meminjam lelakimu sebentar," tambah Krisna.
"Jaga bicaramu!," ucap Raka setengah berteriak sembari membulatkan matanya.
Sontak membuat yang ada di sana menengok ke arah Raka. Betapa malunya Raka dihakimi berpasang-pasang mata. Namun betapa bahagianya Krisna mendapat dukungan semua yang ada di sana. Dengan tawa menangnya Krisna berjalan meninggalkan Raka.
Setelah berjalan cukup jauh, Krisna kembali lagi menghampiri Raka dan membisikkan sesuatu. Membuat laki-laki itu kembali membulatkan matanya. Siang itu dia merasa Krisna seperti sengaja membuatnya malu.
"Jangan lupa bayar ya, aku tunggu di luar! Di sini AC nya terlalu dingin," bisik Krisna.
Raka hanya menganggukkan kepala. Pasrah dengan apa yang dilakukan Krisna. Anggap saja ini balasan dari kejutan Raka tadi pagi. Ini juga suatu kejutan dari Krisna. Karena dia wanita yang beda dari kebanyakan kaum hawa, maka Raka berpikir seperti itulah cara Krisna memberinya kejutan.
"Besok siapkan kejutan yang lebih baik dari ini, aku akan menunggunya," gumam Raka.
Setelah keduanya keluar, Raka mengajak Krisna untuk duduk sejenak di kursi taman yang berada di sebelah kanan dan kiri sepanjang Malioboro. Merasa aman karena sudah menggunakan tabir surya, tapi sepertinya kali ini Raka gagal.
"Panas Raka, aku tidak mau duduk disini," ucap Krisna setelah tiba di dekat kursi.
"Sebentar saja, aku akan membelikan sesuatu untukmu," pinta Raka.
"Oke, sebentar saja! Awas kalau lama, aku akan meninggalkanmu di sini," ancam Krisna.
"Lupa jika aku yang mengajakmu kesini? Bagaimana caramu meninggalkanku? Apa kamu bisa mengemudi?," tanya Raka.
"Tidak perlu bisa mengemudi karena disini banyak transportasi online," jawab Krisna tak mau kalah.
Raka tidak menjawab ucapan Krisna. Dia berjalan menuju penjual es camcau dengan santan dan air gula aren yang berwarna hitam pekat bercampur es serta dengan topping nangka di atasnya. Sungguh menggoda iman, bahkan hanya membayangkan saja membuat lidah terasa kelu.
"Hallo para reader yang terhormat, tolong jaga iman kalian ya! Karena sebentar lagi akan berbuka puasa," ujar Raka dalam hati.
Setelah membayar, Raka segera membeli lutisan. Dia yakin jika Krisna akan menyukainya. Alasan utama Raka tidak mengajak makan siang adalah tidak yakin Krisna akan menyukai menu disana, dan lagi Raka tidak mau Krisna mendadak menjadi seperti ibunya yang suka mengomel panjang lebar karena harga makanan mahal.
Merasa puas dengan yang dicari, Raka segera kembali menghampiri Krisna. Meletakkan es dan lutis di bangku belakangnya, lalu menutup mata Krisna dengan kedua tangannya. Jelas saja membuat Krisna memegang kedua matanya yang tertutup.
"Lepaskan!," ucap Krisna dengan sadis sebelum dia tahu jika Raka yang menutupnya.