My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 27 Bertahan



Ketika seseorang bertanya apa itu cinta


Dengan angkuh aku berkata


Aku tidak mengerti perihal rasa


Yang ku tau hanya aku selalu menginginkannya


Ketika seseorang kembali bertanya


Bagaimana kamu menyikapinya


Dengan bangga aku berkata


Aku harus mendapatkannya


Dan ketika cinta yang kamu rasakan salah


Apa yang kamu lakukan


Aku akan terus mengejarnya


Hingga mendapat jawaban atas semuanya


Bersama


Atau tidak selamanya


Dengan lembut kamu berkata


Jika aku terlalu egois dengan sebuah rasa


Sadarlah akan sesuatu yang tak bisa kau genggam


Maka lepaskanlah


Kamu


Mengajarkanku arti mengikhlaskan


Mengajarkanku melepaskan


Dan mengajarkanku


Melupakan yang tak bisa disatukan


Namun tetap percaya


Jika takdir Tuhan yang nantinya akan menjadi keputusan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pukul 09.45 WIB Poda tiba di kantor PT.*r**a M***ik*r*a. Mengenakan sepatu kesayangannya, celana jeans abu-abu, kemeja navy pendek bergaris vertical serta rambut yang sedikit cepak. Tidak terlalu sempurna namun selalu membuat Krisna mempesona. Tadi pagi Poda mengirimkan foto selfie dirinya ke aplikasi berwarna hijau kepada Krisna. Dengan senyum merekah, Krisna mengirim pesan untuk Poda.


From : Krisna


"Nice, not to bad"


Dan itu yang membuat Poda tersenyum hingga kini. Poda berjalan menuju pos security.


"Permisi pak, saya Feri Poda Mardana, hari ini saya akan bertemu Pak Dani HRD puku 09.00 WIB, aya sudah membuat janji temu dengan beliau," ucap Poda.


"Pak Dani?," security tersebut bertanya.


"Iya pak," jawab Poda.


"Maaf mas, kalau Pak Dani disini bukan HRD," ucap security.


"Tapi saya kemarin membuat janji temu dengan HRD di sini bernama Dani pak," jelas Poda.


"Kalau HRD di sini namanya Mas Dani bukan Pak Dani mas," ucap security.


"Iya maaf pak maksud saya Mas Dani," jelas Poda.


"Mas masuk aja lewat pintu itu, nanti langsung naik ke atas! Ruangan HRD berada di samping kanan tangga," terang security sembari menunjukkan arah dengan ibu jarinya.


Sesampai di ruang HRD, Dani menyambut Poda dengan hangat.


"Dengan mas Feri Poda ya?," ucap Dani mengawali pembicaraan.


"Iya mas," jawab Poda.


"Begini mas, maaf jika ucapan saya membuat anda tersinggung, sebenarnya di sini belum ada lowker yang cocok untuk kualifikasi anda namun mengingat kemarin Krisna yang bertanya, saya berniat membantunya. Di sini ada lowongan untuk bagian marketing. Dan saya percaya anda pasti bisa," jelas Dani.


"Baik mas, saya akan mencobanya," ucap Poda.


"Di sini, setelah masa kerja 1 tahun, nanti mendapat cuti tahunan. Bisa di ambil sebulan sekali. Jika sakit, anda bisa menggunakan surat dokter dan langsung menginformasikan saya," terang Dani.


"Iya mas," ucap Poda.


"Apakah ada yang di tanyakan lagi mas?," tanya Dani untuk mengakhiri pembicaraan.


"Untuk gaji, benefit dan cara kerja di sini bagaimana mas?," tanya Poda.


"Untuk masalah itu nanti akan di jelaskan oleh kepala divisi marketing, sebentar lagi beliau datang," jawab Dani.


"Baik mas mohon maaf sebelumnya mas, apakah nanti saya diterima atau bisa ada kemungkinan tidak diterima?," tanya Poda dengan serius kepada Kepala Revisi Marketing yakni Pak Rian.


"Yang menentukan di terima tidaknya adalah HRD mas dan anda saya nyatakan di terima. Namun untuk yang anda tanyakan tadi, biarkan beliau yang menjelaskan," jelas Pak Rian.


"Terima kasih mas, terima kasih banyak sudah menerima saya kerja di sini," ucap Poda.


"Berterima kasihlah kepada istri anda yang baik hati dan setia mas. Dia yang mencarikan anda pekerjaan. Sebenarnya alasan saya menerima anda karena saya merasa tidak enak dengan istri anda. Bagaimanapun saya pernah menganggapnya dekat dan saya juga percaya anda pasti bisa," ujar Dani.


"Tapi tidak akan mencampurkan antara perasaan dan pekerjaan kan mas?," tanya Poda ragu-ragu.


"Tidak, saya berusaha profesional," jawab Dani.


"Ffiuuuhhhh," Poda berlapas lega.


Setelah menunggu di ruang HRD dan bertemu kepala divisinya. Poda dinyatakan bisa kerja mulai besok pagi dan akan bekerja pukul 07.00-15.00 WIB. Biasanya ada morning brief, dan terkadang sore hari diadakan metting dadakan.


"Berarti aku bisa berangkat bareng Krisna," Pikir Poda.


Selesai dari kantor, Poda berniat mengajak Krisna makan siang. Sembari menunggu waktu, Poda mampir berbelanja mencari kemeja dan sepatu untuk seminggu ke depan. Tidak mungkin hanya memakai yang itu-itu saja. Memilih manabyang cocok untuknya, juga ingin sekaligus membelikas Krisna kemeja. Sebenarnya tidak ada kemeja couple tapi Poda memilih motif yang sama dengan ukuran yang berbeda. Krisna sedikit tomboy, jadi tetap terlihat pantas jika memakai kemeja laki-laki. Selesai membayar, Poda segera menghubungi Krisna. Karena sebentar lagi sudah menunjukan waktu makan siang.


Menekan nomornya dan memencet tombol panggil.


"Halo, sayang kita makan siang bareng ya," pinta Poda.


"Yakin, tapi aku sudah diajak Raka, sebentar ya aku bilang Raka dulu tidak enak kalau tiba-tiba di batalin," jawab Krisna.


Sementara di seberang sana, Poda mulai curiga.


Kenapa lagi-lagi Raka? Di luar kantor mereka makan bareng aku bisa memakluminya karena memang mereka tugas berdua, tapi di kantor kenapa juga Raka harus mengajak Krisna? Bukankah di sana banyak orang?," pikir Poda.


"Sayang, aku sudah bilang Raka tapi dia bilang kalau mau ikut, tidak apa-apa kan?," Krisna membuyarkan lamunan Poda.


"Terus kamu mau?," tanya Poda kesal.


"Mana mungkin aku makan siang bertiga, ya aku maunya cuma sama kamulah", jawab Krisna.


"Oke aku tunggu di Al*an dekat kantor kamu ya," ucap Poda.


"Iya sayang," ujar Krisna.


"Bye, mmuuachhh," Poda mengakhiri panggilannya dengan kecupan yang terpisah jarak.


"Mmuuachh juga sayang," Krisna juga mengakhiri dengan hal sama.


Sedangkan di kantor, di samping Krisna Raka mendengarkan dengan seksama. Melihat betapa beruntungnya Poda mendapatkan seseorang yang tulus menyayanginya meskipun berkali-kali disakiti.


"Mengapa Krisna harus minta izin padaku? Padahal dia yang akan makan siang sama Poda, apa dia mulai menaruh rasa untukku? Eh tidak, jelas Krisna minta izin padaku karena aku yang lebih dulu mengajaknya, tapi bisa juga Krisna mulai menyukaiku nyatanya dia selalu baik saat bersamaku! Tapi, aku seperti semakin bodoh bukankah Krisna baik kepada semua orang tidak hanya kepadaku dia baik, tapi sama bawahan juga dia ramah, Aaarrrrggggg lagi-lagi Krisna, sebenarnya akupun bingung kenapa aku bisa suka sama dia? Padahal jelas jauh berbeda dengan wanitaku sebelumnya, Oh mungkin karena kebaikannya, Ya dan setelah aku sadar apa yang telah dilakukan banyak wanita di luar sana kepadaku," Raka berbicara dalam hati. Hingga keluar umpatan kecil yang selalu membuat Krisna melihatnya, namun Raka tetap berbicara meski beda dengan yang dipikirkan.


"Tidak apa-apa," ucap Raka.


"Bagaimanapun, aku tetap akan bertahan mencintaimu! Aku tidak akan merasa salah karena aku mencintai orang yang benar meski dengan rasa yang salah", batin Raka yang berbicara pada dirinya sendiri.


Akhirnya ketika jam makan siang, Krisna makan bersama Poda sedangkan Raka makan sendiri. Dia tidak berniat makan bersama siapapun lagi. Sudah terlanjur kecewa kepada harapan yang musnah.