My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 22 Sosok Sederhana



Jika kita tidak ditakdirkan bersama


Setidaknya aku bisa melihatmu bahagia


Meski tidak denganku


Dan meski hanya jauh berteman rindu


Aku tau


Hatimu terlalu beku


Meski berkali-kali pengkhianatan di lakukan padamu


Namun sekalipun kamu tak pernah berniat tuk mengadu


Semesta


Bawalah dia menepi bersamaku


Menikmati indahnya masa tua denganku


Dan melihat hamparan cinta seluas samudra


Yang ku persembahkan hanya untuknya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Rambut di gerai, polosan tanpa make up apapun. Krisna menyukai tampilan seadanya. Berjalan anggun memasuki kantor. Mengulas senyum ketika berpapasan dengan rekan kerjanya. Hari ini Krisna sengaja berangkat lebih pagi. Malu ketika tiba di kantor sudah ada Raka di sana. Namun ternyata sia-sia juga. Krisna memasuki ruangannya dan mendapati Raka sudah duduk disana.


"Raka, apakah kamu selalu berangkat pagi?," tanya Krisna.


"Tentu, aku karyawan teladan disini," jawab Raka.


"Bahkan aku sudah berangkat lebih pagi dari biasanya," ucap Krisna.


"Apa yang membuatmu seperti itu? Aku tidak menyuruhmu berangkat lebih pagi," ujar Krisna datar.


"Aku malu ketika sudah ada kamu disini sedangkan aku masih baru, dimana hati nuraniku ketika mendapati senior lebih dulu berasa di meja kerjanya," lirih Krisna dengan nada bersalah.


"Sudah, jangan memaksa! Aku tidak mempermasalahkanmu," kata Raka.


"Tapi aku malu Raka," ucap Krisna.


"Hahaha, kemarin kamu membuatku malu, tapi aku tidak apa-apa, sungguh!," Raka tertawa menjawab perkataan Krisna.


"Iiihh, menyebalkan! Hei, ini masih pagi tolong jangan membuat moodku rusak," jawab Krisna sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kamu menggemaskan ketika seperti itu seperti ikan balon," ucap Raka yang semakin tertawa melihat Krisna.


"Ya sudah, semoga dengan menertawakanku bisa membuatmu bahagia," ujar Krisna lesu.


Raka semakin tertawa melihat Krisna menekuk wajahnya. Benar-benar hiburan di pagi hari. Krisna tidak menghiraukan Raka yang terus menertawakannya. Krisna duduk di kursinya, menghidupkan komputer dan melihat laporan kemarin. Berkali-kali membuka file namun tidak menemukan yang dicari. Bertanya kepada Raka, untuk saat ini hanya membuat Krisna semakin malu. Wanita itu terlalu gengsi untuk bertanya.


"Tok.. tok.. tok," tiba-tiba pintu di ketuk.


"Krisna, tolong antarkan laporan kemarin ke mejaku sekarang! Aku akan melihatnya," ujar atasan mereka.


"Baik pak," jawab Krisna


Krisna semakin panik. Bagaimana mungkin dia menghadap atasan sedangkan dia sendiri tidak tahu dimana laporan itu berada. Berkali-kali melihat file di laptop. Mana mungkin dia mengecewakan atasannya. Bisa-bisa langsung dipecat hari ini. Mencari flashdisk, membuka berkas document, namun tak juga menemukannya. Akhirnya Krisna bertanya kepada Raka. Ini adalah pilihan terakhir. Krisna bersedia jika Raka menertawakannya lagi.


"Ka, kamu liat laporan kemarin?," Krisna bertanya dengan seyum semanis mungkin. Berharap Raka tidak menertawakannya lagi.


"Sudah, tapi aku lupa dimana, di file tidak ada, Aku mencari di berkas yang sudah di print juga tidak ada ka, aku harus mencari kemana? Kamu mendengar apa yang tadi dikatakan kan? Aku harus mengantar laporan itu sekarang," ucap Krisna lesu.


"Laporannya sudah ada di aku kok kris, kamu tenang saja," jawab Raka santai.


"Serius? Akhirnya aku bisa bernafas lega padahal aku sudah panik," ucap Krisna.


"Hahaha, sudah keliatan kok," Raka lagi-lagi menertawakan Krisna.


"Tuh kan seneng banget Raka ngetawain aku! Biarin saja mungkin dia kurang hiburan," gerutu Krisna.


Tanpa memperdulikan Raka yang masih tertawa, Krisna segera mencetak laporan dan menyerahkan kepada atasannya. Setelah memberikan laporan itu, Krisna kembali ke ruangannya. Baru sedetik pantatnya menyentuh kursi, Raka memanggilnya.


"Ada apa? Biasanya kamu teriak kenapa sekarang menyuruhku mendekat?," tanya Krisna.


"Hari ini kita ditugaskan ke luar kantor lagi. Hanya berdua! Ini baru awal, besok bisa jadi kita keluar kota berdua," lirih Raka.


"Mana mungkin keluar kota berdua? Sepertinya itu sesuatu hal mustahil. Lagian disini juga banyak yang senior kenapa harus aku?," tanya Krisna.


"Justru ini awal karier kamu kris, semakin kamu sering keluar kota, semakin besar harapan kamu mendapat promosi jabata, aku dulu juga dari bawahan dulu tidak langsung di divisi ini, kamu saja yang beruntung bisa langsung di posisi ini," jelas Raka kepada Krisna.


Jam menunjukan pukul 11.00 WIB. Pertanda Krisna dan Raka segera berangkat. Mengendarai mobil yang sama dengan kemarin dan menuju lokasi. Satu jam perlanan yang mereka lakukan. Dan setibanya di sana, jam menunjukan waktu makan siang.


"Kris, makan dulu aku lapar," ucap Raka. Dia mengajak Krisna makan karena memang perut Raka sudah berbunyi.


"Ayo, hahaha pantes aku kaya denger suara cacing nyanyi," kali ini Krisna menertawakan Raka.


Tiba-tiba Raka menggelitik perut Krisna. Sontak saja Krisna berteriak.


"Raka! Jangan seenaknya pegang-pegang! Awas saja kamu sekali lagi seperti itu! Aku bisa lebih marah dari ini," teriak Krisna.


"Maaf kris, tadinya aku cuma bercanda, tapi kamu malah marah," sesal Raka.


"Iyalah marah kan kita baru kenal bukan siapa-siapa juga, tapi kamu seenaknya pegang-pegang," jawab Krisna seraya memonyongkan bibir.


"Maaf," Raka memelas.


"Iya," jawab Krisna acuh.


Kali ini mereka makan bakso di pinggir jalan. Makanan favorit Krisna. Dia tidak pernah malu makan makanan kesukaannya. "Makan gengsi cuma bikin lapar". Begitu prinsipnya.


"Pak bakso satu mie ayam satu, sama es teh dua," pesan Krisna kepada penjual bakso.


"Kamu suka makan bakso?," tanya Raka.


"Iya, kenapa?," jawab Krisna.


"Aku tidak menyangka di era milenial seperti ini masih ada wanita sederhana seperti kamu," ucap Raka tulus.


"Cielah aku makan apa aja juga nggak malu. Denger ya Raka, aku tu orangnya apa adanya, kampungan banget, bahkan bisa dibilang kalau aku itu malu-maluin," jelas Krisna yang mendeskripsikan dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa, aku suka kamu apa adanya kok," gumam Raka.


"Udah ah, makan tu mie ayam biar nggak gombal terus," ucap Krisna.


Hahaha.. Mereka lalu tertawa bersama.


Raka berbicara pada dirinya sendiri.


Mengakui jika saat ini Raka tergoda akan sosok gadis sederhana, polos dan apa adanya.


"Kamu benar-benar sederhana, tanpa malu kamu mengatakan semuanya, mungkin kebanyakan wanita di luar sana akan malu jika ada yang tau tentang aibnya tapi kamu menganggap itu hal biasa. Toh itu memang kenyataan. Itu yang selalu kamu katakan. Banyak di luar sana yang datang hanya untuk meminta. Tapi kamu datang tanpa diminta bahkan dengan jelas kamu berkata ahwa kita hanya teman. Aku tidak mungkin mengkhianati pacarku. Kamu berkata dengan polosnya. Bahkan kamu menolak walau hanya kusentuh sedikit saja. Apalagi untuk mendua. Mustahil. Dan bisa ditebak, jika kamu memang wanita yang benar-benar tulus. Andai saat ini kamu masih sendir, pasti aku akan memilikimu. Namun kenyataanya kamu teramat setia. Aku bersyukur, dan aku berharap semoga Tuhan menyatukan kita," batin Raka berharap semoga Tuhan mengabulkan permintaannya.