My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 24 Aku Mencintai Kekasihmu



Andai hati sanggup mendua


Ingin sekali aku bersamanya


Namun sayang


Kamu terlalu sempurna untuk sebuah pengkhianatan


Aku ingin bersamamu


Walau bukan yang pertama untukmu


Aku mengagumimu


Lewat alunan indah melodimu


Perihal nada yang tak berirama


Akupun tak mengapa


Asal kelak aku dan kamu menua bersama


Cinta


Kini kau hadir ditengah kemarau panjang


Membuatku merasa mampu melaluinya


Membawa tetes air yang siap menyejukkan segalanya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semakin hari hubungan Raka dan Krisna semakin membaik. Mereka sekarang menjadi lebih akrab. Berkat sering tugas luar kantor berdua, membuat Raka semakin mengetahui akan pribadi Krisna yang sebenarnya. Ternyata benar, Krisna sosok yang setia. Berkali-kali Raka memancingnya, namun Krisna tidak memperdulikannya. Dia hanya menganggap sebagai angin lalu. Selama ini wanita itu jarang sekali bercerita tentang kehidupannya apalagi tentang sang pacar. Jika Raka tidak bertanya, Krisna tidak pernah bercerita. Pernah sekali Raka mengajak Krisna jalan-jalan setelah pulang kantor, namun Krisna menolaknya. Dengan alasan Krisna tidak ingin suatu saat nanti merasakan apa yang dirasakan pacarnya saat ini.


Krisna jarang sekali membuka ponselnya. Tidak seperti Raka yang setiap kali membuka, meski hanya untuk melihat aplikasi berwarna hijau. Raka juga tidak punya nomor handphone Krisna.


Pernah mencoba meminta saat mereka makan siang, namun saat itu Krisna lupa membawa ponselnya. Lebih tepatnya ponselnya tertinggal di kantor saat mereka berangkat tergesa-gesa. Siang ini Raka melihat Krisna memegang ponsel. Lalu Krisna mendadak cemberut.


"Pasti karena membuka ponselnya dia menjadi cemberut, karena selama ini dia tidak pernah membuka ponsel tidak pernah cemberut," pikir Raka.


Raka berencana mau meminta nomor Krisna. Sepertinya dia tidak ada alasan untuk menolak. Akhirnya Raka memberanikan diri meminta nomor Krisna


"Kris, tumben buka ponsel?," tanya Raka.


"Iya ka, tadi ada pesan dari pacarku," jawab Krisna.


"Sepertinya baru sekarang aku melihatmu membuka ponsel?," tanya Raka.


"Iya Raka, biasanya tidak ada yang kirim pesan jadi tidak ada alasan untuk buka ponsel," jawab Krisna.


"Ya sudah besok-besok aku yang akan kirim pesan biar kamu rajin buka ponselnya," goda Raka.


"Boleh juga, setidaknya aku seperti orang sibuk setiap saat buka ponsel padahal cuma buka pesan dari kamu," Krisna menjawab dengan tertawa.


"Beneran boleh? Tolong masukin nomor kamu ke ponselku," pinta Raka.


"Oke, mana ponselmu?," tanya Krisna.


"Ini, dikasih nama sekalian ya," jawab Raka seraya memberikan ponselnya kepada Krisna.


Krisna kemudian menulis dua belas digit angka di layar ponsel itu, lalu menulis namanya kemudian menekan tombol simpan. Lalu Krisna mencoba test contact melalui aplikasi berwarna hijau berlogo


panggilan itu.


"Eh, kamu punya WA kan?," tanya Raka.


"Punya ka, kenapa? Baru saja aku melakukan test contact melalui WA?," jawab Krisna.


"Aku mau tiap hari kirim pesan lewat wa saja, kalau lewat pesan biasa boros pulsa kalau VC, aku takut kamu menolak," jelas Raka


"Ih, Raka pelit," gerutu Krisna.


"Biarin haha," Raka membalas perkataan Krisna dengan tertawa.


Krisna meneruskan makan sementara Raka masih mengamati Krisna. Seperti memikirkan seseorang yang jelas-jelas bukan miliknya. Namun dia akan berusaha semampunya. Tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Begitu prinsip Raka.


"Kris, tadi yang wa siapa kenapa wajah kamu mendadak ditekuk?," Raka bertanya untuk mengurangi keheningan diantara mereka.


"Poda ka, saat ini aku benar-benar tidak mengerti dia. Mendadak berubah, terkadang baik, terkadang suka marah-marah," jelas Krisna.


"Lima tahun, tapi sekarang entahlah seperti yang aku ceritakan ke kamu kemarin," ucap Krisna.


"Oh, kenapa kamu bertahan?," tanya Raka penasaran.


"Aku juga tidak tahu bahkan dia berkali-kali menyakitiku, namun tetap saja hati ini terus memilihnya," Krisna menjelaskan yang sedang dirasakannya.


"Kamu tidak takut dia mendua?," pancing Raka.


"Aku sudah capek Raka, kalau saja dia mendua, percayalah dia bakal mendapat karma yang penting aku tidak pernah menduakannya," ujar Krisna.


"Terus kalau ada yang suka sama kamu disaat hubunganmu seperti itu gimana kris?," tanya Raka.


"Sudah berkali-kali ada yang menyatakan perasaan kepadaku dan bodohnya aku tetap saja memilih Poda," jawab Krisna polos.


"Dia berasal dari keluarga berada, sedangkan aku bisa makan aja bersyukur, Poda putus sekolah di saat SMK karena tingkahnya! Menurutku keluarganya terlalu memanjakan Poda. Poda adalah nama pacar yang selalu kamu tanyakan kebenarannya. Dia lahir tahun 1992, tapi sifatnya kaya anak 5 tahun. Itu yang membuatku tidak sanggup menghadapinya," Krisna menjelaskan lagi.


"Disaat seperti itu kamu masih memikirkan hatinya? Ya Tuhan, Krisna kamu benar-benar tidak tergoda dengan pria lain?," tanya Raka yang semakin penasaran.


"Untuk apa tergoda pria lain? Untuk berbagi? Haha.. Aku tidak seperti itu karena tidak ada satu tempat yang akan dihuni dua orang," Krisna menjawab dengan tawa kecil.


"Eh anak kecil, kamu tau apa maksudku?," tanya Raka seraya mengerutkan dahinya tidak menyangka Krisna berpikir sejauh itu.


"Aku sudah lebih dari itu bahkan aku telah memikirkan tentang bagaimana kehidupanku kelak setelah menikah," kali ini Krisna menjulurkan lidah merasa menang atas jomblo di sebelahnya.


"Sial! Krisna ternyata sudah sejauh itu, aku tidak menyangka karena dia tidak pernah bercerita. Tapi hatinya benar-benar tertutup oleh satu cinta. Dia membuatku semakin mengaguminya," batin Raka.


Tiba-tiba ponsel Krisna berdering.


"Sebentar, aku akan mengangkatnya dulu," pinta Krisna.


Krisna berbicara dengan seseorang lewat ponsel didepan Raka. Hingga Raka dengan jelas mendengarnya.


"Halo sayang, tumben telpon?," ucap Krisna saat pertama mengangkat ponselnya.


"Aku kangen, cpat pulang," jawab suara di seberang yakni Poda sang pacar.


"Aku pulangnya masih nanti sore," jelas Krisna.


"Nanti malam kita pergi ya?," pinta Poda.


"Kemana?," tanya Krisna.


"Tempat biasa," jawab Poda.


"Oke, love you sayang," ucap Poda kemudian.


"Love you to," begitu Krisna membalas ucapan sayang sang pacar.


Setelah percakapan selesai, Krisna kembali bercerita tentang sang pacar.


"Aku kadang kalau marah cuma manggil namanya aja. Namanya Poda, kamu sudah tahu kan? Dari namanya sudah keliatan kalau orang berada," terang Krisna.


"Kris, aku sama Poda tampan mana?," tanya Raka tiba-tiba.


"Ya tampan kamu ka," Krisna menjawab acuh.


"Kalau misal aku suka sama kamu gimana?," tanya Raka.


"Aku bersyukur ada yang suka sama aku," lagi-lagi Krisna menjawab dengan polos.


"Maksudku, kamu pilih aku atau Poda," ucap Raka.


"Poda," ujar Krisna.


"Kenapa?," tanya Raka penasaran.


"Karena aku mencintainya bukan tentang fisik, tapi tentang kepada siapa hatiku memilihnya," jawab Krisna.


"Cukup kris, kamu terlalu sempurna untuk orang yang tidak menghargaimu," lirih Raka.


"Persetan dengan cinta Raka!," umpat Krisna meski dengan sedikit tersenyum.


Kini Raka dan Krisna tertawa bersama. Betapa bodohnya Raka menunggu seseorang yang jelas tidak mencintainya. Sekedar melirikpun tidak. Ini pertama kalinya ada wanita yang menolak pesona Raka. Bahkan ketika Raka terang-terangan menyatakan cinta, Krisna dengan tegas menolak. Dia tetap akan setia.


"Aaarrggghh, bisa gila aku," Raka mengacak rambutnya sebagai bentuk frustasi.


"Poda tolong aku! Tolong lepaskan Krisna karena kamu tidak pantas bersamanya! Kamu terlalu sering menyakitinya! Lihat, aku mencintai kekasihmu dia wanita yang berbeda," ucap Raka dalam hati.