My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 124 AWAL (Terry dan Krisna)



Laut adalah hamparan luas seluas semesta memiliki alamnya. Cinta ada ketika kita bersama. Cinta ada karena terbiasa. Terlebih ketika kita saling terbuka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kuta Beach menjadi saksi bulan maduku," tukas Terry.


"Apa maksudmu?," tanya Krisna penasaran.


Terry melirik Krisna yang duduk di bawahnya. Parangtritis memiliki ayunan yang sering digunakan untuk mereka yang sedang pacaran, tapi entah mengapa Terry mendadak ingin berada di sana.


Seperti saat ini. Krisna duduk di atas ayunan sementara Terry bertugas mengayunnya. Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih meski sebenarnya bukan itu status mereka.


"Aku pernah ke sana bersama wanita yang menjadi tunangan ku saat itu. Aku tidak pernah berpikir akan berakhir dengan perpisahan. Aku sangat menyayanginya dan tulus mencintainya. Sedetik saja aku tidak rela jika alam menjadi orang ketiga. Namun sayang semua harus hilang di tengah jalan," jawab Terry.


Menerawang jauh seakan mengingat masa lalunya yang kelam. Manusia akan dipertemukan dengan orang yang berperilaku tidak jauh darinya.


"Eh, bukankah kamu tau bagaimana kisah cintaku? Kenapa? Ada yang salah? Jangan bilang jika hidup kita sama," sambung Terry.


Wanita yang kini bersamanya menghembuskan nafas berat. Bisa dibilang seperti itu, tapi tidak untuk semua waktu.


"Setidaknya aku memiliki jodoh, tidak sepertimu," tukas Krisna.


"Bagaimana jika kita ditakdirkan berjodoh?," tanya Terry.


"Jodoh sebagai pemain Tom and Jerry? Bahkan kita lebih pantas dikatakan seperti itu," jawab Krisna acuh.


"Bukan seperti itu. Aku serius dengan pertanyaanku, bagaimana jika aku mencintaimu?," tanya Terry lagi.


"Entahlah," jawab Krisna.


Ingin rasanya Terry mengutarakan semua perasaannya. Namun tidak ingin ada penolakan seperti dulu lagi.


Semilir angin membelai lembut insan yang sedang kalut dalam lamunannya. Krisna tiada henti memikirkan takdir yang seakan tidak adil untuknya. Sementara Terry sibuk mencari cara agar mereka bisa bersama.


Ayunan kecil menggerakkan tubuh Krisna. Membiarkan wanita itu menikmati indahnya nuansa.


Hening adalah kata yang pantas untuk mereka. Tidak ada pembicaraan lagi setelah pertanyaan yang dilontarkan Terry. Ingin rasanya Terry berhenti mencintai, tapi justru rasa semakin dalam untuk memiliki.


"Kris," panggil Terry tiba-tiba.


"Hm," gumam Krisna.


Terry menghentikan ayunannya lalu berjalan mendekati Krisna. Laki-laki itu berada tepat di depannya dengan sorot mata penuh kesungguhan.


"Damn! Ini bukan yang pertama, tapi kenapa merasa gugup seperti ini? Aku benci rasa canggung, namun sekarang aku membuat detak jantungku bingung. Kemana harus berlari saat ragaku terpaku disini? Sungguh aku benci situasi saat ini," batin Terry.


Lima menit wanita itu menunggu Terry bicara. Namun hanya diam dengan tatapan bingung yang menjadi mimiknya. Rasa ingin tahu menjalar di tubuhnya. Jiwa kepo semakin meronta ingin kepastian.


"Terr," ucap Krisna.


"Hm," balas Terry.


"Em, a-aku bingung dari mana memulainya," ucap Terry terbata bahkan kegugupan terlihat jelas disana.


"Kenapa gugup?," tanya Krisna.


"Apa kamu akan marah jika aku benar mencintaimu? Aku yakin selama ini kamu hanya menganggapku bercanda seperti biasa, tapi tanpa kuduga rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Benih cinta mulai ada ketika aku dengan sengaja menikmati waktu bersama. Aku mencintaimu, jauh sebelum kamu tau. Mungkin juga jauh sebelum kamu mengandung. Di saat rasa peduli akan janin dalam rahimmu ada, aku menyadari rasa yang berbeda," ucap Terry seraya memegang kedua bahu Krisna.


"Jika saja aku menyadari lebih awal, aku yakin tidak akan berakhir dengan menyesal. Aku menyesal karena terlambat mencintaimu. Aku bodoh karena membiarkanmu hidup dalam kubangan luka. Aku tidak pernah tega melihat luka dalam cinta. Hidupmu yang rumit membuatku merasa sakit. Jika cinta harus merelakan, maka aku akan merelakan kebahagiaanmu. Namun jika cinta harus mendapatkan, aku akan berusaha untuk mendapatkanmu. Jika tidak dengan hatimu, setidaknya bisa dengan cintamu," sambung Terry.


"Aku tidak tau bagaimana rasaku terhadapmu. Aku tidak bisa membencimu, tapi aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Cukup dua belas bulan aku kehilangan dan aku tidak ingin itu kembali kau lakukan," batin Krisna.


"Jika aku boleh mempercayai sorot netramu, disana terselip cinta untukku. Rasa yang terlahir dari hatimu akan tulus seperti teduhnya tatapanmu. Sebaliknya jika cinta hanya terpaksa, maka kamu tak pernah mendapatkan tawa di dalamnya," jelas Terry yakin.


Laki-laki itu tidak mungkin salah dengan perasaannya. Satu yang salah untuk saat ini yaitu waktu. Terlambat menyatukan mereka membuat Terry tidak pernah bernafas lega.


Krisna menatap Terry. Dua manik mata yang sangat bening mungkin menahan tangis. Krisna tidak ingin melihat Terry lemah. Cukup dia yang terlihat kacau, asal jangan Terry yang merasa risau.


"Aku tidak tau bagaimana rasaku, hanya saja aku tidak ingin kehilanganmu. Berada di dekatmu membuatku mampu menjadi diriku. Berbagi denganmu mampu membuatku keluar dari kata ambigu. Mungkin jika aku bisa melihat ketulusan, kisahku tidak berakhir dengan kepalsuan. Nyatanya aku terlalu dini untuk memahami hati. Aku tidak ingin suatu saat kamu merasa kecewa atas cinta yang kau duga," ucap Krisna ragu.


Wanita itu menahan debaran dadanya dengan susah payah. Sekedar merangkai kata dalam hati mudah, tapi mengucapkan dengan setulus hati adalah hal yang tidak mudah.


"Aku terbiasa dolupa meski sebenarnya ada. Untuk apa kamu takut dengan hal yang sebenarnya tidak perlu kau ragukan?," tanya Terry.


Terry mendekatkan kepalanya. Membiarkan wanita itu mencium aroma parfum yang menempel di lehernya. Krisna terpejam bersama hembusan angin yang membawa aroma maskulin memenuhi rongga dadanya.


"Aroma yang tidak bisa kulupakan," gumam Krisna.


"Tidak perlu melupakan karena aku akan damai dalam keabadian," bisik Terry tepat di telinga Krisna.


Satu jengkal jarak Terry dengan Krisna saat wanita itu mampu menghirup aromanya, tapi saat ini bahkan satu inchi saja tidak ada. Terry tau dimana kelemahan wanita itu.


Hembusan nafas kian terasa di leher Krisna. Semakin hangat dan semakin dekat. Setidaknya seperti itu yang dirasakan Krisna.


"Cup" Terry mencium leher Krisna lalu menyesapnya.


Membuat tanda kepemilikan disana seolah wanita itu benar miliknya. Tanpa perduli jika nanti ada yang mengetahui.


"Biarkan aku menikmati seperti ini," gumam Terry saat wanita itu mencoba melepaskannya.


Diam karena Krisna tidak tau bagaimana seharusnya hatinya berkata. Bahagia kecewa atau merasa berdosa.


"Percayalah jika aku mampu membuatmu bahagia," bisik Terry.


"May i be your affair?," bisik Terry sekali lagi.


"I will gladly accept you," ucap Krisna seraya mengangguk.


Terry kemudian mendongakkan wajahnya dan menyentuh bibir Krisna. Memberikan kecupan singkat lalu memeluk wanita itu dengan erat.


"Big thanks baby, i will keep my promise," ucap Terry sungguh.