
"Sial! Ngapain juga nangkring disini, kan kesannya jadi aku yang gangguin Raka! Aarghhh gara-gara emosi meluap-luap jadi lupa diri! Mau nerkam, tapi inget dosa! Nggak di makan kok sayang haha," batin Krisna.
"Hei, kenapa liatin aku kaya gitu? Nggak pernah liat yang cakep ya?," goda Raka.
"Ih, apaan sih! Minggir sana jangan deket-deket," usir Krisna.
"Kalau kamu lupa aku ingetin ya, disini kamu yang deketin aku malah kamu yang menggodaku," jelas Raka.
"Damn! Kan bener kalau si kunyuk ini nganggep aku godain dia," gerutu Krisna dalam hati.
"Oh, gitu ya! Yaudah aku pergi, bisa gila kalau gini terus," dengus Krisna kesal.
Saat Krisna turun dari kursi dan akan pergi, Raka menarik tangannya hingga wanita itu duduk tepat di pangkuan Raka. Seperti merasa wajahnya merah, Krisna lalu menundukkan wajahnya dan melihat kebawah dimana kaki Raka berada.
Ingin sekali wanita itu mengumpat, tapi apalah daya saat ini dia memang butuh kasih sayang. Kaki kanannya terangkat akan menginjak kaki Raka, tepat saat itu Raka menarik Krisna dalam pelukan. Membiarkan wanita yang disayangi menghirup aroma maskulin milik Raka.
"Woey sadar Kris! Jangan murahan gini dong!," ucap Krisna dalam hati.
Sejenak Krisna merasakan nyaman dalam pelukan Raka, namun segera sadar jika itu semua salah. Krisna melepas pelukan Raka dan berdiri. Wanita itu menatap Raka tajam seolah ingin memberi peringatan.
"Jangan berani menyentuhku!," ucap Krisna penuh penekanan.
Laki-laki yang biasanya sedikit takut ketika melihat Krisna seperti itu tentu saja tertawa. Tidak ada alasan untuk takut kepada Krisna di saat seperti ini. Justru Raka berpikir nanti Krisna yang akan takut kepadanya.
"Jangan mendekat jika tidak mau di sentuh," ucap Raka tegas.
Mendadak bibirnya menjadi berat untuk mengucapkan kata-kata. Lebih berat daripada menghadapi pasangannya sendiri. Siapa yang tidak tergoda melihat laki-laki tampan dengan tatapan instens seperti itu.
Raka menyadari lirikan Krisna, tapi laki-laki itu memilih diam. Pura-pura tidak tahu lebih baik daripada membuat semuanya cepat berlalu. Raka melirik jam tangan miliknya yang melingkar di pergelangan tangan. Sengaja ingin menghitung berapa lama Krisna mengagumi ketampanannya.
"Yap, sepuluh detik dan kamu masih mengagumi ketampananku," ucap Raka santai.
"Ha? Sial! Apa sih dua puluh detik segala, lagipula siapa yang mengagumi ketampananmu! Dari dulu aku juga sudah tahu kalau kamu itu tampan nan kaya," gerutu Krisna yang baru sadar dari alam khayalannya.
"Ayolah, kamu sudah terang-terangan menatapku seperti ini! Kenapa kamu tidak mengakuinya?," goda Raka.
"Em, atau kamu mau yang lebih dari ini?," bisik Raka tepat di telinga Krisna.
"Hush pergi sana! Dasar laki-laki mesum!," dengus Krisna kesal seraya menjauhkan tubuhnya dari Raka.
Dengan penuh kekesalan wanita itu berjalan ke arah meja kerja miliknya lalu menghampiri kursi dan mendudukkan pantat di sana. Sementara Raka dengan penuh kemenangan tertawa tiada henti.
Tidak menyangka jika akhirnya bisa membuat wanita itu menjadi kesal seperti biasa. Bukan wanita yang terlihat lemah dan sedih seperti tadi pagi. Meskipun perjuangan kita tidak dianggap, setidaknya kita ingin melihat orang yang disayang selalu tersenyum.
"Meskipun tidak tersenyum karenaku, setidaknya dia tidak terluka ketika bersamaku," gumam Raka.
"Jika ketulusan bisa membuat hatimu luluh, aku akan melakukan apapun untukmu! Namun jika ketulusan tidak membuat hatimu tergerak untukku, setidaknya aku akan memastikan jika kamu bersama orang yang tepat," batin Raka.
"Kepedean banget sih jadi orang, makanya jangan lama-lama jomblo! Cari pacar sana biar nggak nglantur terus," ketus Krisna.
Seandainya Raka tahu betapa hatinya saat ini sedang labil memikirkan perasaan yang dimiliki. Wanita itu tidak mungkin egois untuk memilih keduanya. Namun hatinya juga tidak mungkin bisa menerima luka yang selalu diberikan Poda.
"Luka? Baiklah aku akan meminta kejelasan kepada Poda nanti malam! Tentang siapa wanita yang semalam berteriak, tentang kenapa dia tidak sarapan bersamaku, dan tentang kenapa hingga detik ini laki-laki itu tidak menghubungiku," batin Krisna.
Sepuluh menit lagi apel pagi dimulai, namun agenda itu tidak berlaku untuk Raka dan Krisna. Sepasang partner yang sangat cocok karena tidak pernah mengikuti upacara pagi. Raka pernah sesekali mengikuti jika hatinya sedang dalam keadaan buruk. Namun Krisna, jangankan untuk mengikuti hanya mendengar saja wanita itu sudah tidak berminat.
Kedua insan yang sedang berdekatan, tapi tidak saling menganggap kehadiran satu sama lain. Raka sibuk dengan argumen hatinya sementara Krisna sibuk dengan hidup yang menurutnya berbelit-belit.
Seketika ruangan itu menjadi hening. Entah beberapa hari suasana tidak mendukung membuat atmosfer panas semakin terasa. Raka lelah jika harus memulai pembicaraan terlebih dulu. Sedangkan Krisna, wanita itu jangan ditanya karena diam seribu bahasa sudah menjadi kebiasaan ketika dia merasa kecewa ataupun terluka.
"Aku benci suasana hening seperti ini woey! Apa kamu tidak menyadarinya? Do you know what i need? Do you know who i need? I need you so much, please look at me!," umpat Raka dalam hati.
Ya, lima menit berlalu dengan suasana yang masih dalam keheningan. Wanita itu benar tidak memulai bicaranya. Bahkan melirik Rakapun tidak. Raka semakin kesal ketika dia beberapa kali meliriknya, namun tatapan Krisna masih sama.
Masih melirik laptop yang belum menyala. Tidak ada yang tau dengan isi kepala wanita itu kecuali dirinya sendiri. Jika kebanyakan orang memilih untuk berteriak atau melakukan hal gila yang bisa membuat amarahnya surut, Krisna justru memilih berdiam dan memendamnya sendiri.
Wanita yang tidak suka mengumbar aib dan masalah kepada orang lain. Dia hanya bercerita kepada satu orang yang berada di dekatnya, yakni Raka. Itupun tidak semua hidupnya di ceritakan.
Hanya hal tertentu yang tidak bisa di tangannya yang akan di ceritakan. Mana mungkin ada laki-laki yang rela diabaikan meskipun hanya sekedar teman. Raka mati-matian menahan bibirnya agar tidak mengucapkan sepatah kata.
Terlalu sering mengoceh membuat Raka harus membisu seperti patung karena Krisna sedang dalam keadaan buruk. Tidak baik memaksa orang lain untuk bicara, apalagi orang itu suka menggerutu.
Itulah Krisna, ketika harinya di ganggu dia akan mengomel sepanjang waktu. Tak luput terkadang Raka bisa seperti anak yang tidak menuruti kemauan ibunya. Wanita yang Raka sendiri tidak mengerti bagaimana kepribadian aslinya.
Memaklumi jika Krisna masih labil, karena wanita itu masih muda. Jangankan Krisna, laki-laki yang menjadi pasangan Krisna sekarang saja sifatnya melebihi bocah berumur lima tahun.
Laki-laki yang terbiasa hidup mandiri itu berpikir sejenak. Mungkin Krisna tidak akan bahagia jika masih terus bersama Poda. Raka memang jahat berpikiran seperti itu. Namun jika itu adalah kenyataan apa boleh buat.
"Tok tok tok," suara ketukan pintu membuyarkan lamunan keduanya.
"Masuk," ucap Raka dari dalam.
Pintu terbuka menampilkan sosok Raga. Akhir-akhir ini Raga sering berkunjung ke ruangan Raka. Hanya sekedar menyapa Krisna atau memang ada urusan penting.
Raka mengamati Raga dari ujung kaki hingga ujung kepala. Laki-laki yang sedang diamati pun tersenyum sangat manis, seakan saat ini dia akan bertemu pujaan hatinya.
"Ada apa?," tukas Raka.
Dia tidak bisa lama-lama melihat Raga berada di ruangannya. Semenjak kejadian perselingkuhannya waktu itu membuat Raka menjadi ilfill kepada Raga.
"Mas Raka disuruh pimpin apel pagi," ucap Raga gugup.
Raga berani menghadapi Raka jika ada Krisna dispingnya. Saat ini memang ada Krisna, tapi Raga melihat keduanya sedang tidak bersahabat. Bisa dipastikan jika tidak menjadi korban amarah Raka, maka dia akan menjadi korban amarah Krisna.
"Ngapain masih di sini?," tanya Raka.
"Em sa-," jawab Raga yang belum selesai dengan ucapannya namun sudah dipotong Raka.
"Apa? Yang jelas ngomongnya! Apa-apaan masa di kantor kaku begitu," ucap Raka dingin.
"Woey! Lo pikir ini kantor nenek moyang lo? Lo aja nggak pernah mikirin perasaan gue, dan selalu menindas hak asasi gue! Kenapa gue harus ngomong jelas! Kalau bukan karena lo atasan gue, udah gue cincang dan jadiin arem-arem," batin Raga.
"Mas Raka aja kaku, masa aku enggak," ucap Raka santai agar tidak terlihat gugup.
"Raga aku tidak suka bercanda! Cepat katakan apa yang harusnya kamu katakan!," ucap Raka penuh penekanan.
"Sial si Raka jadi gini ngomongnya! Kris, bantuin aku lah, cuma kamu yang bisa bantuin aku untuk sekarang," batin Raga harap-harap cemas akan nasibnya.
"Hei, masih waras kan? Teriak-teriak di kantor orang! Ini bukan kantor nenek moyang kamu kan? Ingat Raka, kamu juga bukan GM atau CEO disini jadi tolong hargai Raga! Kalau kamu benci dia gara-gara masalah pribadi jangan disangkut-pautin sama pekerjaan! Malu Raka, malu! Masa pemegang jabatan penting bicaranya nggak ketata sih," ucap Krisna panjang lebar.
"Uhuy, puas deh ayang beb belain akyu! Gimana Bapak Raka Rahardian rasanya diomelin? Sakit kan? Pastilah," batin Raga.
"Sial! Kenapa belain dia sih? Jadi besar kepala tu orang! Awas kamu Raga kalau berani nyuri hatinya Krisna," batin Raka.
Begitu mendengar ucapan Krisna, Raka segera memincingkan mata menatap Raga. Baru kali ini dia mendapat nasehat seperti itu. Biasanya tidak ada seorangpun yang berani mengomelinya. Bahkan hanya untuk pura-pura bijak saja tidak berani.
"Raka, bersikaplah dewasa," ucap Krisna santai.
Perlahan emosi Raka mulai reda. Laki-laki itu sudah mampu menguasai jiwanya lagi. Raka melirik Krisna sekilas lalu tersenyum.
"Terima kasih, aku keluar dulu ya," pamit Raka.
Suara laki-laki itu terdengar tulus tidak seperti tadi. Jiwa kepemimpinannya mulai terlihat kembali. Krisna tidak mungkin membiarkan Raka merusak harga dirinya. Wanita itu tidak akan membiarkan partner sekaligus teman baiknya itu menyesal hanya karena salah mengucapkan sesuatu.
"Labil juga ternyata, mirip aku haha," gumam Krisna setelah kepergian Raka.
Sementara Raga masih berdiri di depan pintu. Laki-laki itu hendak mengatakan jika Krisna juga harus ikut apel, namun karena Raka lebih dulu marah membuat dia mengurungkan niatnya.
"Nah kalau cuma berdua kan Raka nggak mungkin sewot," pikir Raga.
"Kenapa mas? Kok belum ikut Raka? Kan sebentar lagi apel pagi dimulai," tanya Krisna penasaran karena melihat gelagat Raga seperti masih ada yang mengganjal.
"Kamu juga disuruh ikut kris, tapi gara-gara Raka marah aku belum bisa bilang sama kamu," jawab Raga.
"Oh, baiklah aku akan ikut," ucap Krisna malas.
Malas karena harus menatap semua mata karyawan yang selama ini jarang berkumpul dengannya. Semua karyawan wajib melakukan apel pagi, tapi Krisna selalu mencari alasan agar tidak mengikutinya. Wanita itu tidak mau berdiri lama hanya untuk morning ceremonial.
Melihat Raga masih di depan pintu membuat Krisna mengerutkan dahi. Jika hanya itu yang ingin diucapkan kenapa laki-laki itu masih berdiri di depan pintu.
Raga tersenyum ke arah Krisna dan wanita itu membalas senyumannya. Krisna hendak bertanya lagi, tapi Raga lebih dulu bertanya. Pertnyaan yang tidak terlalu penting untuk Krisna karena wanita itu enggan mengurusi hidup Raka.
"Raka kenapa kok kaya bad mood?," tanya Raga.
"Haha, dia sudah biasa seperti itu! Untung dia laki-laki tampan, kalau jelek udah ku buang ke laut," jawab Krisna.
"Ingat dia senior kamu, jangan seenak jidat mainin anak orang," ucap Raga mengingatkan Krisna karena takut Raka akan berbuat nekat kepada Krisna.
"Tenang, dia sudah jinak sama aku," bisik Krisna tidak mau Raka mendengar ucapannya.
Dari kejauhan mata Raka menatap tajam ke arah pintu ruangannya. Di sana masih ada Raga dan Krisna. Mereka terlihat akrab. Raga mengumbar senyum mautnya, membuat Raka semakin geram akan sosok Raga.
"Belum puas ngambil pacar orang? Dan sekarang mau ngambil gebetan orang? Dasar pemulung! Suka banget sih mulung punyaku," gerutu Raka dalam hati.
Dua menit berlalu setelah Raka tiba, namun upacara pagi belum dimulai. Raka sengaja menunggu Raga dan Krisna datang. Semenjak kepergiannya, Raka sadar jika kedua manusia yang berada di ruangannya itu pasti membicarakan dirinya. Namun Raka tetap diam.
Satu menit berlalu Raga berada di ambang pintu. Selama satu menit pula Krisna masih dengan santai duduk di kursinya. Dua menit kemudian Krisna mendekati Raga yang ada di dekat pintu.
Mereka terlihat membicarakan sesuatu. Raka melihat Raga tersenyum membuat hatinya sedikit panas. Kemudian laki-laki itu melihat Krisna juga tersenyum, tapi setelahnya Krisna seperti membisikkan sesuatu tepat di telinga Raga.
Tentu saja hal itu membuat Raka semakin ingin mencoreng nama Raga dari kantor itu. Namun Raka tersadar jika dia bukan pemiliknya, jadi tidak mungkin dia bisa melakukannya.
"Sabar Raka, ingat ucapan Krisna! Jangan membawa urusan pribadi ke dalam urusan pekerjaan! Bersikaplah profesional Raka!," batin Raka.
"Ehem," Raka berdehem sangat keras membuat karyawan yang mendengar berjingkat.
Tidak ada yang berani mendekat ketika hawa dingin menyelimuti Raka. Di kantor hanya ada satu wanita yang berani menghadapi Raka yaitu Krisna. Semua mata mengarah ke ruangan Raka.