
Kita berada di satu dimensi yang sama
Kita saling menyembunyikan rasa yang ada
Menutup kemungkinan agar kita tak mendua
Meski sulit menguburnya jauh di relung jiwa
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kukira marah," ujar Raka.
"Aku tidak pernah marah, hahaha," jawab Krisna dengan tertawa.
"Hahaha," Raka pun hanya ikut tertawa.
Kini mereka sampai di perempatan ringroat Jl. Kaliu*rang. Raka membelokkan mobilnya ke kiri, dengan tulisan "kiri jalan terus" pertanda Raka tidak perlu menunggu lampu traffic light menyala hijau, setelah berbelok kiri, Raka memelankan laju mobilnya.
"Damn! Benar-benar jalan yang tidak pernah luput dari kemacetan," umpat Raka seraya mengacak rambutnya.
"Setiap hari seperti itu, apa tidak kasihan kepada rambut menawanmu itu? Apakah aku harus bertanya kepada rumput yang bergoyang bagaimana rasanya menjadi rambut yang selalu kau acak itu," pikir Krisna.
Krisna tidak bergeming. Dia hanya melirik Raka sekilas. Melihatnya menggerutu membuat Krisna tersenyum.
"Ternyata orang seperti dia bisa marah juga," pikir Krisna.
Raka memutar musik semakin keras untuk meluapkan kemarahannya. Kali ini memutar lagu lokal berjudul "Kadung Ambyar". Termotivasi dari hari yang telah luruh. Begitu dia mengatakan mengapa memilih lagu itu.
"Tik.. tik.. tik" tidak terasa hujan membasahi atap mobil yang mereka naiki. Raka menengok ke samping kanannya. Merasa seperti ada hawa dingin yang merasuki tulangnya.
"Mana mungkin hujan bisa masuk kan kaca sudah ditutup," batin Raka.
"Kok ACnya tidak dimatiin?," batin Krisna.
Mereka hanya saling beradu argument lewat pikiran masing-masing. Jika begitu caranya bagaimana mereka bisa sependapat. Dasar para makhluk ciptaan Tuhan yang paling aneh.
"Kris, hujan," lirih Raka.
"Iya nih, masih jauh?," tanya Krisna pelan.
"Dua puluh menit lagi," jawab Raka.
"Oh," ucap Krisna singkat. Dia menahan hawa dingin yang semakin menusuk tulang.
Melirik wanita yang ada disebelahnya. Merasa heran kenapa wanita itu memeluk dirinya sendiri. Oh, dasar bodoh. Raka bahkan lupa kalau Krisna selalu kedinginan ketika hujan melanda. Dan parahnya, Raka justru tidak mematikan AC mobilnya. Tapi jika AC dimatikan, artinya mereka harus membuka kaca mobil untuk mendapatkan udara. Seperti awal mula ketika Krisna pertama kali naik mobil berdua dengan Raka. Dengan polos Krisna mengatakan jika dirinya tidak terbiasa naik mobil. Dia selalu membeli Antimo sejak perjalanan pertama di mulai. Dan mulai saat itu, Raka selalu menyimpan Antimo di dompetnya jika sewaktu-waktu Krisna membutuhkannya.
"Kamu tidak membawa jaket ya?," tanya Raka. Padahal dia sudah tau jawabannya. Namun entah mengapa pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Tidak, sudah tahu kenapa tanya," jawab Krisna yang menyadari ke arah mana Raka mengurarakan pertanyaannya.
"Kedinginan?," Raka menanyakan hal bodoh lagi.
"Masih nanya juga?," ucap Krisna sinis seolah seperti akan memangsa Raka saat itu juga.
"Sebentar lagi sampai," lirih Raka.
"Sampai mana? Jelas-jelas baru lima menit katanya dua puluh menit," gerutu Krisna.
Raka tidak menjawab pertanyaan Krisna. Dia justru meminggirkan mobilnya. Memilih berhenti di depan pekarangan kosong di pinggir jalan. Menutup kaca yang terbuka sedikit. Melepas sabuk pengaman.
"Kenapa sabuk pengamannya dilepas?
Kamu mau kemana? Jalannya terusin saja, aku tidak apa-apa," ucap Krisna.
"Kamu dinginkan?," tanya Raka.
"Ih Raka kenapa sih dari tadi tanya itu terus? Sudah tau jawabannya juga kan? Iya aku kedinginan, terus kenapa? Puas kamu? Seneng banget sih ngatain aku," jawab Krisna sengaja memanyunkan bibirnya seperti ketika dia marah. Padahal sebenarnya dia hanya merasa dikerjai Raka. Sepertinya ini sudah ketiga kali Raka menanyakan pertanyaan yang sama.
"Bagaimana jika disana Krisna kedinginan?," batin Raka.
"Tapi setidaknya aku masih berada disampingnya, semoga saja dia masih mau menerima pelukanku," batin Raka lagi.
Siapa diantara mereka yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sepertinya mereka seperti simbiosis mutualisme. Sama-sama saling menguntungkan. Raka bisa memeluk Krisna seperti apa yang diharapkan selama ini, sedangkan Krisna merasakan kehangatan atas pelukan itu. Perlahan Krisna membalas pelukan Raka. Mungkin Krisna juga berharap bisa memeluk Raka. Atau memeluk ketika kedinginan seperti ini menjadi alternatif pilihan terakhirnya. Sudahlah, hanya mereka berdua yang tau tentang kenyataan itu.
"Akhirnya, coba dari dulu kamu menganggapku ada Kris, aku yakin kamu pasti bahagia," ucap Raka dalam hati.
"Raka?," Krisna mencoba memanggil Raka yang tiba-tiba diam.
"Raka?," Krisna memanggil Raka dengan lebih keras serta melepaskan pelukannya. Percuma dia memeluk Raka sedangkan yang Raka bayangkan bukan dia.
"Eh Kris, kenapa di lepas?," tanya Raka yang tersadar dari lamunannya.
"Kenapa aku memeluk orang yang pikirannya tidak disini?," jawab Krisna ketus.
Raka merasa bingung. Tidak biasanya Krisna bersikap seperti ini. Biasanya seperti apa Raka mengacuhkannya, Krisna tidak pernah marah.
"Hei, kamu kenapa? Kenap tiba-tiba marah?," Raka bertanya seraya mengusap wajah Krisna.
"Tidak apa-apa, sudah puas melunnya?," tanya Krisna.
"Ternyata dia marah gara-gara itu, hahaha akhirnya kamu mengakuinya di depanku," ucap Raka. Dia berteriak girang dalam hati.
"Tidak kok," elak Krisna.
"Sudahlah kris, tidak usah malu biasanya kami juga malu-maluin," ujar Raka
Krisna melirik Raka sekilas. Menatapnya tajam. Menautkan kedua alisnya. Kemudian memandang ke luar jendela.
"Sial! Kenapa ke-geer-an banget sih tu orang," batin Krisna.
"Kriss," panggil Raka.
"Hem?," jawab Krisna.
"Sudah ya marahnya," pinta Raka.
"Aku tidak marah," ucap Krisna sinis.
"Sudah marahnya, please!," lirih Raka.
"Aku tidak marah," jawab Krisna
"Kenapa jutek sih? Jangan bilang kalau Krisna kepikiran pria sialan itu," gerutu Raka dalam hati.
Padahal sebenarnya Krisnapun merasakan hal yang Raka rasakan. Krisna tidak marah. Dia hanya menjaga jarak agar Raka tidak terus mengejarnya. Krisna takut kelepasan apabyang dia lakukan. Karena dia tidak pernah keluar dengan laki-laki lain selain bersama sang laki-laki yang tidak pernah menganggap kehadirannya.
"Please ka, jangan deket aku terus! Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku," batin Krisna.
"Aku peluk lagi nggak ya?," pikir Raka.
"Kris, sini aku mau bicara, cepet!," pinta Raka. Dia akhirnya menemukan ide.
"Apa?", Krisna menjawab dan mulai mendekatkan diri.
"Cupppp" Raka tiba-tiba mencium pipi Krisna. Membuat rona berwarna merah disana.
Krisna langaung memalingkan wajahnya. Seraya menggerutu. Yang justru membuat Raka tertawa.
"Ah shit!," gerutu Krisna.
"Lanjutin jalannya ya," ucap Raka.
"Iyalah lanjutin jalan masa lanjutin ciumannya, hahahaa," gelak Krisna dalam hati.