
Selepas kepergian mu aku membenci hujan
Karena hujan mengingatkan betapa kita pernah berpelukan namun berakhir dengan tidak saling mempertahankan
~Krisna Yosepha~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bingung harus membawa Krisna kemana. Jika untuk pulang jelas tidak mungkin karena Poda mengendarai motor. Akhirnya dia memutuskan membawa Krisna ke sebuah kursi tunggu yang berada di pinggir stand.
Dengan penuh kasih sayang Poda membiarkan Krisna bersandar di bahunya. Sesekali membelai lembut rambut wanita itu membuat yang melihat keduanya menjadi iri.
Mengambil ponsel di dalam saku lalu membuka kamera karena mendadak ide jahilnya muncul. Poda tersenyum dan sengaja memperlihatkan Krisna yang tengah tidur pulas.
"Terus saja begini! Kebiasaan buruk selalu tidur di bahuku ataupun di pelukanku," gerutu Poda seraya menggelengkan kepala.
Setelah puas mengambil beberapa poto, Poda segera mengirim ke ponsel Krisna lewat aplikasi chattnya. Kemudian menyadap ponsel Krisna dengan memasang poto keduanya sebagai profil. Tentu saja Poda tidak memperdulikan jika nantinya Krisna akan malu toh saat ini wanita itu sudah membuatnya malu.
Tidak hanya itu, Poda juga membuat story dengan Poto mereka saat ini. Saat Krisna sedikit membuka bibirnya dan masih dalam keadaan terlelap. Lagi-lagi Poda memasang senyum termanisnya.
"Cekrek" lalu melihat hasilnya.
Tersenyum puas ketika menyadari dirinya begitu tampan. Sedikit mengacak rambutnya agar terlihat lebih menggoda lantas kembali mengabadikan moment tersebut.
Tiba-tiba Poda merasa bahu disebahnya bergerak. Dia lalu melirik ke samping mendapati Krisna mengerjakan kedua matanya serta mengucek pelan. Senyum simpul terbit di bibir Poda.
"Apa tidurmu nyenyak?," dengus Poda pura-pura kesal.
"Hah?," Krisna kaget langsung membuka mulutnya dan nenatap Poda tajam.
Mengamati sekeliling dimana Krisna berada kemudian mengerutkan dahi. Poda yang melihat itu segera mengerutkan dahi juga. Sementara Krisna masih dengan tatapan polosnya.
"Dua kali mengerutkan dahi, apa ada kecoa di sana?," tukas Poda.
"Eh, apa maksudmu?," tanya Krisna.
"Belum juga sadar dengan apa yang terjadi denganmu?," sindir Poda.
Kembali mengerutkan dahi dan memejamkan mata. Mungkin dia sedang mengingat apa yang terjadi.
"Tiga kali dan ayo sekali laki mengerutkan dahi kamu mendapat mangkok cantik," pikir Poda.
"Astaga! Kenapa bisa seperti ini? Seingatku tadi kita nonton film terus aku ketiduran lalu kenapa sekarang sudah diluar?," jerit Krisna setelah mendapatkan ingatannya kembali.
"Sayang, pelankan suaramu!," bisik Poda tepat di telinga Krisna membuat wanita itu merinding seketika.
"Ternyata otak mesummu belum waras! Awas saja kalau membuatku malu disini!," gerutu Krisna.
"Apa yang terjadi?," ucap Krisna pelan.
"Apa yang kamu ingat?," tukas Poda.
"Aku hanya mengingat yang kukatakan, bisakah kamu jelaskan sesuatu?," pinta Krisna dengan memincingkan mata menatap Poda.
"Em tatapan yang menggoda," ucap Poda santai.
"Hiiih menyebalkan! Dasar otak mesum!," dengus Krisna kesal dengan wajah sedikit memerah.
"Apa kamu keberatan?," goda Poda dengan memajukan bibir bermaksud mengecup bibir Krisna.
"Aish, menyebalkan!," umpat Poda.
"Sayang, lihatlah jika kita menjadi pusat perhatian! Ingat jangan membuatku malu! Dasar urat malunya sudah putus!," gerutu Krisna.
"Baiklah, aku lelah menunggumu tidur dan sekarang apa imbalan untukku?," ucap Poda seraya berdiri mengajak Krisna pergi dari tempat itu.
Meskipun menggerutu Krisna tetap mengikuti Poda pergi. Menuju pusat perbelanjaan untuk mencari barang kebutuhan Poda. Laki-laki itu melakukan perawatan lebih banyak daripada Krisna. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut tersentuh semua product, tidak seperti Krisna yang hanya menggunakan lotion sehabis mandi.
Mengambil troli belanja lalu berjalan ke lorong deodorant. Poda mengambil deo lotion dan spray. Lalu mengambil *p*omade di dekatnya. Membuka tutup lalu mencium aromanya, Poda suka. Tidak tahu dengan Krisna menyukainya atau tidak.
Kembali berniat jahil, Poda menggenggam tangan Krisna yang tidak membawa apapun sontak saja wanita itu berjingkat. Awalnya mengira orang lain yang memegang tangannya, tapi setelah melihat Poda yang memegangnya Krisna tersenyum.
"Kamu suka yang ini?," tanya Poda langsung ke tujuannya.
Krisna menyipitkan mata tidak mengerti maksud Poda. Segera laki-laki itu menggunakan jari telunjuknya untuk mencolek pomade dan mengoleskannya ke hidung Krisna.
"Podaaa! Apa yang kamu lakukan?," jerit Krisna mendapat perlakuan dari sang kekasih.
"Ssttt jangan berisik hehe," lirih Poda.
"Bagaimana aromanya? Aku suka, kamu suka kan? Ayolah suka saja aku sudah memakainya sedikit," ucap Poda.
"Berikan padaku aku akan menciumnya sendiri," pinta Krisna.
Dengan wajah polos Poda memberikan benda yang di genggamnya kepada Krisna. Tidak menyangka jika wanita itu juga akan melakukan hal yang sama liciknya. Pertama memegang Krisna memang menciumnya, tapi kemudian tangannya mencomot sedikit pomade dan mendekatkan diri dengan Poda.
"Aku tidak menyukainya!," ketus Krisna pura-pura tidak suka.
"Lalu kamu suka yang mana?," tanya Poda penasaran.
"Yang ini!," jawab Krisna seraya mencolek hidung Poda dengan jari yang sudah ada pomadenya.
Wanita licik itu tertawa seraya pergi meninggalkan Poda. Sementara dari kejauhan Krisna melihat pria itu menggerutu.
"Kenapa aku harus berada diantara lelaki super alay? Astaga ya ampun Raka dan Poda sama-sama melakukan perawatan untuk kulitnya," keluh Krisna dengan menggelengkan kepala.
Poda melihat Krisna dari kejauhan. Tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan wanita kesayangannya. Justru Poda tersenyum karena Krisna berani menggodanya. Sudah lama laki-laki bernama Poda merindukan sosok Krisna yang selalu menggoda serta manja kepadanya.
Tentunya dulu sebelum badai kehancuran menghancurkan hidupnya. Kini perlahan Poda harus mendapatkan Krisna seutuhnya karena ternyata kehadiran Raka membuatnya sadar jika yang dilakukan selama ini salah.
Memilih Eau De Perfume yang cocok untuk Krisna. Poda sangat mengerti jika Krisna wanita yang menyukai kelembutan. Juga aroma greentea yang selalu dibawanya kemana-mana. Lalu berjalan menyusul Krisna dengan mencomot yang dirasa adalah kebutuhan Krisna.
Termasuk memilih salah satu pembalut untuk wanita pujaan hatinya. Poda tidak merasa malu, dia justru bangga karena bisa menakhlukkan egonya untuk mendapatkan sedikit perhatian Krisna.
Setelah sampai di depan Krisna, Poda berhenti. Bertanya apakah ada kebutuhkan lain untuknya atau semua yang berada di troli sudah cukup.
"Sebanyak ini? Kamu tidak malu mengambilnya?," tanya Krisna ketika dia mengamati apa saja yang di bawa Poda.
"Aku tidak pernah malu melakukan sesuatu untukmu, selagi itu membuatmu bahagia kenapa tidak," jawab Poda tulus.
Membuat sepasang kekasih yang kebetulan lewat tersenyum. Tidak menyangka ternyata di dunia ada laki-laki perhatian seperti Poda.
"Lihat kamu membuat mereka tersenyum," gerutu Krisna.
"Jika kamu lupa, senyum adalah ibadah sayangku," bisik Poda.
"Hush jauh-jauh sana jangan mendekat! Sekarang aku sering mendekat ada suara tanpa rupa," dengus Krisna pura-pura kesal.