My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 100 Tanah Kelahiran



Setelah kepergian Raka, Krisna menjalani pekerjaannya sendiri. Kantor tidak memberikan ganti untuk menjadi partner Krisna karena Raka sendiri yang mengatakan jika wanita itu sanggup bekerja sendiri.


Hari ini Krisna mendapat jadwal keluar kantor menuju daerah tanah kelahirannya. Tentu saja wanita itu semangat empat lima karena diam-diam merencanakan sesuatu. Krisna berencana akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa pulang ke rumah orang tuanya dan akan menginap disana.


Tiba di depan outlet yang sering dilewati Krisna. Wanita itu turun dari motornya dan mengambil faktur yang dia bawa. Ya, semenjak kepergian Raka, Krisna selalu pergi menggunakan motor karena dia tida bisa menyetir. Pernah seseorang menawarkan untuk mengajari stir mobil, namun Krisna menolaknya.


"Akhirnya kembali ke tanah kelahiran juga," gumam Krisna.


Baru dua langkah wanita itu berjalan, sudut matanya menangkap pemandangan yang tak asing di hidupnya. Krisna memincingkan mata, barangkali dia salah lihat karena baru saja dari bawah terik matahari.


"Benar, tapi kenapa ada disini?," gumam Krisna.


Laki-laki yang menjadi pusat perhatiannya pun menoleh. Mendapati Krisna yang berada jauh darinya.


"Kenapa dia kesini? Haha, apa dia sengaja mencariku," gumam Terry.


Krisna berjalan masuk sementara Terry berjalan keluar. Keduanya berpapasan ketika berada di depan pintu. Pintu hanya ada satu dan dengan berat hati Krisna mengalah.


"Silahkan kakak, aku selalu mengalah karenamu," ucap Krisna.


Terry mengacak rambut Krisna karena gemas. Terry paling suka ketika melihat Krisna mengalah untuknya.


"Itu adalah kewajibanmu," tukas Terry.


"Ih, dasar laki-laki menyebalkan! Selalu saja aku yang mengalah, apa kamu tidak punya sedikit belas kasihan untukku?," gerutu Krisna.


Terry yang mendengar ucapan Krisna langsung mendekat. Tidak membiarkan sejengkal pun berada diantara mereka.


"Aku akan kasihan kepadamu jika kamu menjadi pacarku," goda Terry.


Krisna semakin kesal karena ucapan Terry. Menurutnya Terry laki-laki playboy yang selalu bermain wanita. Jadi untuk apa mempercayai ucapan laki-laki gila sepertinya.


"Menyebalkan! Pergi sana jauh-jauh dariku!," dengus Krisna kesal.


Terry pergi meninggalkan Krisna yang masih kesal karena tingkahnya. Tidak peduli jika menurut Krisna menyebalkan, yang terpenting Terry menganggap hal itu lucu untuknya.


Krisna melanjutkan pekerjaannya dengan semburat merah diwajahnya yang mendadak sering muncul. Dia merasa kesal dengan tingkah Terry, namun disisi lain dia merasa senang karena ada seseorang yang memperhatikannya.


Sewaktu bekerja, Krisna sengaja mematikan ponselnya hingga jam bekerja selesai. Wanita itu akan menghitung ada berapa pesan masuk dari Poda. Sejauh ini dia mematikan ponselnya sia-sia karena memang Poda tidak menghubunginya kecuali jika Krisna menghubungi terlebih dulu.


Dulu memang seperti itu, tapi setelah makan malam dan Poda menyanyikan lagu untuknya, laki-laki itu sering menunjukkan perhatiannya. Baru saja Krisna merasa bahagia, Raka mendadak pindah keluar kota meninggalkan Krisna dalam keadaan terluka karena Poda. Sekarang, setelah kepergian Raka Poda kembali seperti semula.


"Sabar, mungkin belum saatnya," gumam Krisna.


Krisna mengingat pertemuan singkatnya dengan Terry. Sebesit perasaan aneh mulai hadir dalam hatinya. Wanita itu kesal ketika bertemu Terry, tapi tidak dipungkiri jika Terry juga membuatnya tertawa.


Seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Terry. Hari ini Krisna mendapat jadwal ke tanah kelahirannya seperti Minggu lalu. Namun ke wilayah kecamatan yang berbeda. Jika kemarin di wilayah Utara, sekarang di wilayah selatan.


"Oke, asalkan masih di tanah kelahiran setiap hari pun tak mengapa," gumam Krisna.


Seperti Minggu lalu, di tanah kelahirannya Krisna kembali bertemu Terry. Wanita itu memincingkan mata untuk memastikannya.


"Terry? Kenapa dia disini?," gumam Krisna.


Merasa ada yang memperhatikan, Terry memalingkan wajahnya. Benar saja, laki-laki itu mendapati Krisna tengah menatapnya dari kejauhan. Terry segera menghampiri Krisna yang terlihat kesal.


"Hai dedek, kenapa cemberut?," goda Terry.


"Sial! Apa sih kak, kenapa harus selalu bertemu denganmu?," gerutu Krisna.


"Mungkin kita berjodoh," ucap Terry.


"Ih, bahkan jika di dunia ini hanya tersisa satu laki-laki sepertimu aku memilih untuk tidak menikah," dengus Krisna kesal.


"Arghkk menyebalkan! Pergi sana jauh-jauh," usir Krisna.


Semakin membuat Krisna kesal, semakin senang pula Terry melihatnya. Laki-laki itu selalu tertawa ketika melihat Krisna tersulut emosi. Menimbulkan rasa yang selalu ingin menggodanya.


Krisna memalingkan wajah karena jengah dengan laki-laki di depannya. Sementara Terry masih terus menatapnya. Krisna memutar bola matanya karena kesal.


"Apa liat-liat?," ketus Krisna.


"Aku punya mata, aku juga punya hati jadi terserah hatiku untuk menggunakan mataku melihat siapa saja," ucap Terry enteng.


Krisna mengerucutkan bibir mendengar rayuan Terry yang terlihat garing.


"Pergi sana!," usir Krisna seraya menyeret Terry agar menjauh dari hadapannya.


"Hei, kamu bahkan memegang tanganku," teriak Terry.


Sontak Krisna langsung melepaskan tangannya. Mengamati wajah lelaki tengil di depannya.


"Pergi sana! Jauh-jauh dariku," usir Krisna kesekian kalinya.


"Tidak, aku akan disini menunggumu," ucap Terry.


Laki-laki itu duduk di kursi panjang yang telah disediakan outlet. Bersandar pada sandaran kursi, lalu membuka ponselnya. Dengan santai Terry membidik wajah Krisna yang terlihat kesal.


"Cekrek" suara kamera berbunyi.


"Oh shit! Kenapa bunyi sih!," umpat Terry.


Krisna yang mendengar suara kamera segera menghampiri Terry. Segera Krisna merebut ponsel milik Terry, namun pemiliknya menyembunyikan di balik badannya agar Krisna tidak bisa mengambil.


"Kenapa pegang-pegang lagi? Ternyata kamu mesum ya," sindir Terry dengan senyum kemenangan.


"Cih, menyebalkan!," decak Krisna kesal.


Berniat mengambil ponsel yang ada di belakang Terry, namun Krisna justru seperti wanita yang sedang memeluk laki-laki.


"Jangan peluk-peluk," ucap Terry datar.


Krisna menjauhkan tubuhnya dari tubuh Terry.


"Idih, pede banget jadi orang. Mana ponselmu? Aku berani bertaruh jika tadi kamu sengaja mengambil gambarku," tukas Krisna.


"Tidak," gumam Terry.


Setelah Krisna menjauh, Terry mengeluarkan ponsel yang disembunyikan. Laki-laki itu membuka galery dan mencari Poto Krisna. Mendapatkan gambar yang dicari, Terry segera mengirimkan kepada korbannya.


"Hai, kamu lucu juga ya," tulis Terry sebagai caption Poto yang dikirimnya.


"Drrttt drttt" ponsel Krisna bergetar.


Wanita itu segera membukanya siapa tahu ada pesan penting dari atasannya. Matanya membulat ketika mendapati gambar dirinya yang tengah mengerucutkan bibir karena menggerutu.


"Terry!," jerit Krisna kepada laki-laki tengil yang selalu membuat amarahnya memuncak.


"Apa?," tanya Terry.


"Masih bisa bicara santai ha?," ketus Krisna seraya menghampiri Terry.


"Bicara keras dan marah-marah tidak baik untuk kesehatan! Apalagi seperti kamu dari tadi terlihat sewot," jelas Terry.


"Hei, bagaimana mungkin aku bisa bersikap baik jika kamu selalu membuatku kesal," tukas Krisna.