My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 12 Flashback off



Aku masih mengingat luka-lukamu


Aku masih mengingat betul masa itu


Juga mereka yang pernah ada


Hanya sekedar selingan


Atau pernah sebentar menjadi persinggahan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ingatkah saat kamu dengan sadar mengajak mereka semua phone s*x? Ingatkah saat kamu mengajak mereka video s*x? Ingatkah saat kamu setiap hari membaca cerita s*x?. Kamu sadar berapa banyak wanita yang kamu ajak?", lirih Krisna dengan derai air mata.


"Itu hanya lewat pesan, tidak pernah terjadi," timpal Poda.


"Setelah kamu memanggil mereka sayang dan aku tau dengan betul siapa mereka, kamu masih menyangkal itu semua?," tanya Krisna.


"Maaf. Tapi itu tidak pernah terjadi," jawab Poda.


"Terjadi atau tidak hanya kamu dan Tuhan yang tau. Namun terjadi atau tidak, tidakkah kamu memikirkan perasaanku?," gumam Krisna.


"Aku berfikir semua tidak nyata dan itu baik-baik saja," sanggah Poda.


"Baik-baik saja disaat orang yang aku sayangi melakukan hal yang belum pernah kulakukan?," tanya Krisna.


"Kamu aja yang terlalu polos atau terlalu bodoh?," pikir Poda dalam hati.


"Aku berjanji tidak melakukannya lagi," ucap Poda agar Krisna merasa tenang.


"Terserah, aku lelah ingin mengakhiri semuanya," lirih Krisna. Dia akhirnya menyerah karena memang ini bukan yang pertama.


Poda diam seribu bahasa. Hanya menatap kosong bunga dalam vas di depannya. Perlahan meneteskan air mata. Dia sadar jika hidupnya hanya untuk bersenang-senang. Tidak pernah bertemu dengan kesedihan. Bahkan hidupnya terlalu sempurna untuk melakukan semua yang diinginkan. Bergelimang harta, serta semua keluarga yang selalu ada untuknya. Sekalipun Poda melakukan kesalahan, keluarganya akan tetap membela. Tidak pernah memandang benar atau salah. Semua yang Poda dapatkan membuat dia hidup dalam kemenangan. Tidak pernah kalah dari siapapun. Karena dia berkuasa diatas harta yang orangtuanya punya. Namun untuk menjadi seseorang yang berhati baik, Poda tidak yakin bisa melakukan itu.


Terlalu indah berselimut kegelapan. Terjatuh dalam pekatnya malam adalah hidup yang menurutnya sempurna. Menghabiskan tegukan di setiap tetes adalah cara Poda menghabiskan malam. Berkerumun adalah cara meluapkan emosinya. Bergelayut manja dengan setiap wanita serta memuja setiap insan yang ada didekatnya adalah hal wajar untuk dia.


Takdir hingga saat itu masih berpihak kepada Poda. Mengikuti semua alur keinginannya. Dengan sempurna roda berputar bagai Podalah pemilik kendalinya. Sudah bertahan lama, namun Tuhan belum ingin menegurnya. Mungkin Tuhan masih memberi kesempatan agar Poda berubah dengan sendirinya. Namun hingga saat itu berlalu, Poda tetap saja berada di masa berjayanya.


Bagaimana mungkin seseorang yang bergelimang harta akan dengan mudah mengubah dirinya. Dia tidak pernah peduli dengan kehidupan di sekitarnya. Terlalu egois untuk disebut manusia, namun terlalu hina jika disebut seperti sebuah satwa.


"Tolong, kali ini saja biarkan aku merubah semuanya," pinta Poda.


"Maaf aku tidak bisa," lirih Krisna di sela isaknya.


"Please aku mohon," Poda memelas memandang sendu dengan mata penuh embun bening.


Krisna tidak bergeming. Dia masih setia menitikan bulir beningnya. Benar-benar merasa menjadi wanita paling bodoh. Poda memeluk Krisna lebih erat dan semakin dekat lalu mencium keningnya.


"Tolong, sekali ini saja," lirih Poda.


Krisnapun tidak kuasa melihat Poda. Memang inilah kelemahan Krisna. Dia selalu hanyut dalam tangisan dan lembutnya perlakuan. Semurka apapun ego yang menguasai jiwanya, dia tetap saja lemah akan tangisan pria itu.


"Baiklah kali ini saja," ucap Krisna


"Iya sayang, aku mencintaimu," Poda mengecup kening Krisna sekali lagi.


Kini Krisna kembali percaya kepada Poda. Mempercayai sesuatu yang mungkin akan kembali melukai hatinya. Terkadang seseorang yang menjaga perasaan justru mendapati pasangan yang mengkhianatinya. Terkadang seseorang yang berpegang teguh dengan komitmen akan mendapatkan pasangan yang tidak pernah menghargai komitmennya. Apakah takdir seseorang yang berhati mulia harus bersama seseorang yang tidak bisa menjaga raganya. Akankah semua persepsi itu hanya fakta yang tertunda. Akankah semua itu ada masa dalam mendapatkannya.


Jika begitu, dimana seseorang harus mendapatkan tempat yang pantas untuk kembali. Mencari hati untuk singgah selamanya, atau hanya sebentar manghampiri lalu meninggalkannya. Kemanapun cintamu berlabuh, dia akan tau kemana harus kembali karena cinta tidak pernah tertukar. Namun sering kali cinta bersama orang-orang yang lemah. Hingga mereka mudah sekali di berdaya. Mudah tertindas akan tipu daya muslihat belaka.


FLASHBACK OFF


Perjalanan dari Terminal J*mbo* menuju Kulon Pr*g* kali ini terasa sangat lama. Merekapun melalui perjalanan dalam diam. Poda diam bahkan sekedar meminta maafpun tidak. Begitupun Krisna, dia enggan berbicara setelah berkali-kali terluka dan ini bukan pertama kalinya. Satu jam kemudian tibalah Poda dan Krisna di Alun-Alun Wa*es.


"Waktu terus berlalu


Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan


Masih teringat jelas


Senyum terakhir yang kau beri untukku


Tak pernah ku mencoba


Dan tak ingin ku mengisi hatiku dengan cinta yang lain


Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku


Bila aku harus mencintai


Dan berbagi hati itu hanya denganmu


Namun bila ku harus tanpamu


Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta


Hanya dirimu yang pernah


Tenangkanku dalam pelukmu


Saat ku menangis


Bila aku harus mencintai


Dan berbagi hati itu hanya denganmu


Namun bila ku harus"


Hingga lagu mellow lainya diputar, Poda tak juga mengawali pembicaraan. Poda sibuk dengan ponselnya.


"Apa yang dilakukan Poda bukan urusanku", hati kecil Krisna kali ini berbicara.


Merasa lelah menanggung beban sendiri, perlahan Krisna bersandar di bahu Poda. Tak sengaja melihat bekas gigitan cinta di lehernya.


"Ini bekas apa?," tanya Krisna yang mulai curiga.


"Tidak tahu, tidakk ada bekas apa-apa?," jawab Poda.


Tidak mungkin Krisna salah lihat. Dia tahu dan hafal betul itu apa. Karena dia sendiri juga sering melakukannya. Mungkin dia bodoh, tapi kali ini tidak mungkin salah.


"Plak....". Akhirnya tamparan itu mendarat di pipi Poda. Meski sebenarnya Krisna ragu melakukannya. Namun dia benar-benar sudah kecewa. Sudah berkali-kali dan sekarang seperti ini lagi.


Ingin mengakhiri hidupnya, namun itu hanya menambah duka untuknya kelak. Menangis pun tidak mengurangi kekecewaannya. Hanya menambah kejelekannya.


"Kamu apa-apaan kenapa menamparku sembarangan!," teriak Poda. Dia tidak terima atas perlakuan Krisna.


"Aku kecewa entah untuk yang keberapa. Kamu egois, kamu penipu, aku capek!," lirih Krisna dengan air mata teruai.


"Aku tidak ingin perpisahan!," teriak Poda lagi


Akhirnya Krisna pasrah dengan takdir yang tak pernah lelah mengombang-ambinhkan perasaanya. Sepanjang hari mereka habiskan untuk melepas rindu. Menuju pantai, bermain ombak, melukis nama dan berlari melepaskan sejenak kepenatan. Hingga berakhir di sebuah wisma.


Diujung kamar, Krisna memandang hamparan pinus lewat celah cendela. Merasa kaget karena sebuah tangan memeluk pinggangnya. Mencium tengkuknya lalu ******* lehernya. Podapun menarik Krisna dalam pelukannya hingga mereka berhadapan.


Mereka berpelukan semakin lama semakin erat. Bibir mereka pun semakin mendekat saling melu*at, semakin dalam hingga saling memejamkan mata. Meresapi kehangatan yang menjalar.