
Rembulan
Untuk siapa temarammu kau persembahkan
Diantara gemerlap bintang
Inikah yang kau tampakkan
Aku berada di bawahmu
Bersama luasnya samudra biru
Berselimut duka yang enggan berlalu
Disini aku mengasingkan diri
Berbalut ombak yang melambai
Merajut mimpi di atas sebuah diksi
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Raka tetap berusaha terlihat tegar meski sebenarnya hatinya terluka. Ini bukan pertama kalinya perasaan yang dimiliki Raka tidak terbalas. Namun saat ini dia merasa semua berbeda. Jika selama ini dia di pertemukan dengan kebahagiaan, kini saatnya Raka menikmati sebuah kesedihan. Ini bukti jika Tuhan masih menyayangi Raka.
Bagaimana tidak, Tuhan lebih mengerti daripada insan yang mengalami. Lebih baik Raka tersakiti untuk saat ini daripada nanti ketika rasa itu semakin mendalam.
Semua berputar jelas di benak Raka. Tentang awal perkenalan, tentang bagaimana perjalanan suatu rasa yang bernama cinta. Dia menyadari jika semula berawal dari kesalahannya. Salah ketika suka kepada wanita yang sudah berada di pelukan laki-lakinya. Salah ketika Krisna pernah mengingatkan Raka namun dia tidak mendengarkannya. Raka bersikukuh tetap akan mempertahankan perasaan itu. Meski semua berawal seperti ini.
Selalu saja berbagai kenangan itu terlintas. Ketika Raka memperkenalkan diri kepada Krisna. Ketika Raka dengan sengaja sering membuat Krisna marah. Ketika perjalanan keluar kantor bersama. Ketika Raka memeluk Krisna. Hingga ketika Krisna tidak menerima Raka sebagai yang kedua.
Bisa saja Raka memaksa Krisna agar menjadi miliknya. Namun dia tidak ingin sebuah kecurangan ada dalam hubungannya. Semua yang berawal baik belum tentu berakhir dengan baik juga. Lantas tidak menutup kemungkinan sesuatu yang berawal dengan buruk akan berakhir buruk. Namun tidak pernah ada yang tau tentang takdir memutar roda kehidupan. Akhirnya Raka terpaksa menerima keputusan Krisna. Meski sebenarnya dia masih ingin berusaha. Menaruhkan segenap jiwa dan raga untuk cinta yang lekas memenuhi ruang di hatinya.
"Aku tidak akan mengganggumu, aku tidak akan pergi darimu, tapi biarkan aku tetap disampingmu. Biarkan hatimu dengan sendirinya menerima kehadiranku," pinta Raka lirih.
"Raka, aku tidak bisa," ucap Krisna.
"Apa yang membuatmu seperti itu?," tanya Raka.
"Aku takut hatiku menerimamu," jawab Krisna.
"Kenapa kamu harus berbohong kepada dirimu sendiri? Bahkan mungkin untuk saat ini aku sedikit mengisi ruang itu kan?," tanya Raka.
"Iya, kamu mengisi celah yang kosong itu, tapi aku tidak mau kamu mengisi sepenuhnya," jawab Krisna.
"Tapi berbeda denganku, aku akan terus berusaha agar aku bisa mengisi sepenuhnya," ucap Raka yakin.
"Bagaimana jika aku tidak bisa memberimu kebahagiaan?," tanya Krisna.
"Aku tidak menuntutmu untuk memberi kebahagiaan untukku, karena aku yang akan berkewajiban membahagiakanmu," tutur Raka.
"Drett.. drett.. dret" tiba-tiba terdengar ponsel bergetar.
"Bentar ya k,", ucap Krisna.
"Siapa? Pasti Poda," ujar Raka dengan lesu.
"Iya maaf," lirih Krisna.
"Mengapa Poda selalu ada tanpa di minta? Kenapa dia selalu menghubungi Krisna ketika aku sedang menikmati kebersamaan diantara kita, dasar laki-laki tidak tahu diri," umpat Raka dalam hati.
Sementara Krisna mengerutkan dahi ketika membuka ponselnya. Tidak pernah berpikir mengapa dia harus berada disamping orang yang hanya menyakitinya. Tidak pernah memberi kebahagiaan namun selalu memberi kesedihan. Namun dengan bodohnya Krisna masih terbuai dengan semua itu.
Selang sepuluh menit, Krisna kembali memasukkan ponselnya. Dia menjadi semakin pendiam dari tadi. Senyum yang tersungging ketika mereka keluar dari kantor perlahan menghilang dan kini berganti dengan kesedihan yang terlihat jelas. Semua benar-benar berbeda. Kini suasana diantara keduanyalun menjadi canggung.
"Kris", ucap Raka.
"Hm?," jawab Krisna.
"Apa yang terjadi," tanya Raka.
Krisna kemudian mengambil ponselnya laku memperlihatkan pesan Poda. Dia tidak kuasa untuk membaca kedua kalinya. Membiarkan Raka membaca sendiri pesan itu. Semoga Raka mengerti dan tidak bertanya lagi.
From: Poda
From: Poda
"Sibuk?"
From: Poda
"Woey, kamu dimana? Seperti ini kesibukanmu?"
From: Poda
"Dasar wanita ******! Kamu dimana?"
"Ternyata Krisna tidak mendengar ada notifikasi pesan masuk, kenapa laki-laki ini tidak bisa bertutur kata sedikit lebih sopan? Dasar laki-laki brengs*k!", umpat Raka.
"Jangan pernah terpancing hanya karena sesuatu yang tidak penting," lirih Krisna.
"Kenapa kamu masih saja memperdulikan dia? Sedangkan dia sendiri dengan rendahnya mengatakan kamu rendahan seperti ini?," tanya Raka.
"Raka please, jangan terlalu berlebihan terhadapku," jawab Krisna.
"Tapi kenapa kamu seperti ini? Bahkan kamu tidak bisa melihat dimana tempat cintamu yang sesungguhnya berlabuh," lirih Raka. Sepertinya Raka mulai frustasi.
"Aku sudah sering mengatakan bahwa aku tidak mengerti tentang cinta jadi tolong berhentilah membicarakan cinta di depanku," pinta Krisna.
"Kris, terlalu banyak kecewa yang kamu pendam, terlalu banyak juga luka yang kamu rasakan, kenapa kamu bertahan di atas ketidakpastian?," tanya Raka.
"Aku tidak tahu," gumam Krisna. Dia tidak masalah jika nantinya Raka akan menganggap bodoh.
Raka tidak tega melihat Krisna yang semakin memprihatinkan. Sebenarnya Raka ingin memeluk Krisna, ingin membiarkan wanita itu sedikit kebahagiaan. Namun sayang hati itu terlalu sulit untuk didapatkan.
"Aku belum selesai baca pesan dari Poda, tapi ponselnya mati," ucap Raka. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan agar Krisna tidak tersudut di tengah kehancurannya.
"Apakah baterainya habis?," tanya Krisna.
"Tidak, maksudku ini aku tidak apa kata sandimu," ucap Raka.
"Oh," jawab Krisna singkat.
"Kok oh? Bagaimana aku bisa membaca jika kamu tidak membuka sandinya?," ucap Raka gemas.
"Buka sendiri," ujar Krisna.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membukanya? Arrggg kamu kenapa menjadi menyebalkan seperti ini?," umpat Raka seraya menjambak rambutnya.
"Iryasyaa," lirih Krisna.
"Apa?," tanya Raka.
"I-R-Y-A-S-Y-A-A," teriak Krisna. Dia juga merasa frustasi kenapa Raka tidak juga memahaminya.
"Arrrggggghhhhh," Raka kembali menjambak rambutnya.
Laki-laki itu lalu menulis kata sandi di ponsel Krisna agar ponsel itu terbuka. Sementara Krisna hanya melirik Raka sekilas. Mengapa wajah tampan itu sekarang terlihat sangat buruk. Terlihat frustasi, bahkan tidak menampilkan senyum yang biasanya tersungging di bibirnya.
"Kenapa? Apakah dengan memandangku seperti itu bisa membuatmu lebih baik?," tanya Raka yang hampir mirip seperti gerutu.
"Eh, tidak! Kenapa kamu jadi percaya diri seperti itu ha?," ucap Krisna. Dia menjawab pertanyaan Raka dengan pertanyaan juga.
Raka tersenyum melihat kegugupan Krisna. Walaupun wanita di depannya itu berusaha menutupi, tetap saja Raka mengetahuinya. Untuk Raka, melihat Krisna tersenyum adalah kebahagiaan terbesarnya. Terlebih seperti saat ini Krisna tersenyum gugup karena Raka.
"Kenapa wajahmu memerah?," tanya Raka santai.
"Rakaaa, apaan sih," ucap Krisna.
"Sial! Kenapa Raka bisa mengetahui kegugupanku, padahal aku sudah berusaha menutupinya semampuku," umpat Krisna dalam hati.
"Kenapa? Kurang jelas aku mengatakan semuanya? Aku bisa melihat dengan jelas kegugupanmu, bahkan kini wajahmu merona, kamu terlihat menggemaskan," jelas Raka.
"Rakaaa, cukup!," pinta Krisna. Dia sudah tertangkap basah di hadapan Raka. Percuma saja jika Raka menelanjangi perasaannya, Krisna tidak bisa lagi menyembunyikan itu.