
Tidak ada rasa jika tidak ada bumbu
Namun jangan paksakan rasa
Jika belum siap tak dirasa
Untuk saat ini
Biarkan aku menikmatinya
Sedetik saja ijinkan aku bahagia
Walau hanya pura-pura
Luka tidak memiliki suara
Sebab itu air mata jatuh tanpa bicara
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"A-apa, mengagetkanku saja," ucap Rendra terbata.
"Ikut aku ayo," kata Krisna.
"Kemana?," tanya Poda.
"Kesana," jawab Krisna sambil mengulurkan tangan menunjuk ke arah taman".
"Ayo," jawab Rendra antusias.
"Jarang sekali Krisna mengajakku seperti ini. Mungkin saat ini tidak ada orang lain yang diajak. Coba kalau ada pasti bukan aku yang diajak," batin Raka.
Rendra dan Krisna kemudian berjalan menuju tempat yang dituju. Di kursi pinggir taman di pojok Monas, Krisna dan Rendra duduk bersama. Rendra memaksa melepas sepatu yang dipakai Krisna, karena Rendra tau Krisna tidak bisa memakainya lebih lama lagi. Namun lagi-lagi Krisna tetap bersikukuh ingin memakainya. Hingga Rendrapun menemukan cara untuk melepasnya.
"Pakai sandalku aja. Jangan bandel jadi orang," perintah Rendra yang pastinya ditujukan untuk Krisna.
"Iya ren, makasih untuk kesekian kalinya," lirih Krisna. Dia malu untuk mengungkapkannya.
"Apa kris?," tanya Raka. Dia sengaja menyuruh agar Krisna berkata lebih keras. Bukan seperti bisikan.
"Terimakasih untuk ke sekian kalinya Rendra!," teriak Krisna tepat di telinga Rendra.
"Aw sakit telingaku. Kenapa kamu teriak tepat di depan telingaku?," tanya Rendra heran sekaligus jengkel.
"Hehehe...," ucap Krisna. Dia hanya bisa tertawa.
"Haus?," tanya Rendra.
"Iya," jawab Krisna.
"Bentar ya aku cari minum dulu," ujar Rendra.
"Lama juga nggak papa kok ren," ucap Krisna.
"Nanti kamu sama siapa?," tanya Rendra.
"Biarkan aku disini bersama bayanganmu ren walau hanya bayang semu," goda Krisna.
"Ya Tuhan Krisna.. Kamu sadar nggak kalau kamu semakin dalam menembus jiwaku," teriak Rendra.
"Lebay ren," ucap Krisna santai.
"Tuh kan, emang dasar wanita keras kepala. Bilang sayang dibilang gombal. Bilang cinta dibilang gila. Tapi perlakuannya ke aku tetep kaya gitu. Siapapun tolong jambak aku untuk saat ini biar aku tau semua itu cuma ilusi," teriak Rendra frustasi.
Tiba-tiba Krisna datang lalu menjambak rambutnya.
"Apa sih Kris, main jambak aja," tanya Rendra.
"Katanya suruh jambak Ren, ini udah aku jambak," jawab Krisna polos.
"Aarrgghhh....Terserah...," Rendra semakin frustasi.
Bagaimana mungkin wanita itu tidak mengerti yang kurasakan. Apa semua kurang jelas menurutnya. Oke kali ini akan dijelaskan lebih jelas.
Rendra pergi meninggalkan Krisna sendiri. Toh Krisna sudah besar, tau arah dan bisa tanya orang juga. Daripada Rendra Susana semakin geregetan.
Rendra jalan sendiri mencari temannya. Bukanya teman-temannya yang ketemu malah penjual boneka.
"Boneka teddy bear yang paling besar berapa pak?," tanya Rendra ke penjual boneka.
"Yang paling besar 200rb mas, yang sedang 150rb," jawab penjual itu.
"Mau yang ini pak. Teddy bear seukuran orang dewasa berwarna pink dengan pita di lehernya dan tulisan i love you di dadanya," pinta Rendra.
Rendra kembali mencari Krisna. Khawatir anak itu menghilang. Benar saja, anak itu entah pergi kemana. Rendra menghubunginya namun tidak ada jawaban.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk," begitu seterusnya suara operator yang menjawab.
Ditengah keputusasaan Rendra mencari Krisna, tiba-tiba handphone nya berbunyi tanda ada pesan masuk.
"Ren, kamu dimana. Kita udah dibawah Monas," begitu pesan dari Ari.
"Aku lagi nyari Krisna ri. Dia ilang nggak tau kemana. Tadi aku udah bilang pergi bentar tapi pas aku balik udah nggak ada," jawab Rendra.
"Krisna udah sama kita," balas Ari.
"Astaga Kriiissssnnnnna," Rendra teriak seraya menjambak rambutnya.
Rendra berlari dibawah terik matahari berharap segera sampai dibawah Monas. Sepuluh menit dya berlari akhirnya sampai juga.
"Darimana Ren, kok kaya habis lari maraton?," tanya Krisna.
"Dasar wanita nggak berperasaan. Dibilang bentar malah ninggalin," gerutu Rendra.
"Maaf Ren. Kamu lama sih," ucap Krisna.
"Iya-iya tapi awas kalau kamu ilang lagi," ancam Rendra.
"Krisna, ini ada boneka Teddy bear buat kamu. Semoga kamu suka ya. Aku mau bilang, kalau aku selama ini deket sama kamu karena aku sayang sama kamu. Mau nggak kamu nemenin aku, selamanya kita kaya gini?," ujar Rendra.
"Terima. Terima. Terima..," begitu teriakan dari teman-teman mereka".
"Makasih ya Ren, aku suka boneka nya kok. Selamanya kita bisa kaya gini. Tapi untuk lebih dari teman, maaf aku udah punya pacar," ucap Krisna lirih.
Dia susah payah menahan kegugupannya. Membayangkan Rendra malu didepan umum pun juga sebenarnya kasihan. Tapi Krisna nggak mau dianggap manfaatin orang.
"Okey nggak papa setidaknya kita masih bareng terus," ujar Rendra.
Rendra meraih tangan Krisna dan mengecupnya pelan. Mendekapnya ke pelukan untuk kedua kalinya. Mencium pipinya lalu bibirnya. Dan tiba-tiba ada yang mendorong Krisna dari belakang. Alhasil mereka jatuh berdua di aula bawah Monas, dengan posisi Krisna menindih Rendra.
"Assstagaaa pasti mukaku semakin merah," Krisna berbicara sama Rendra disela adegan tumpang tindihnya.
"Ehemm... Tolong kalian bertindak sepantasnya," suara bapak pemandu mengagetkan mereka.
Merekapun berdiri dan lari terbirit-birit mengejar temannya yang udah jauh didepan....
Malam ini jadwal mereka semua pulang. Rendra tiba-tiba duduk di samping Krisna.
"Untuk terakhir kalinya ijinkan aku menikmati saat saat terindah kita. Setelah ini aku akan pergi jika memang kamu udah ada yang jagain," pinta Rendra.
"Cup.. Selamat malam Krisna. Have a nice dream," ucap Rendra. Rendra mengecup tulus kening wanita disampingnya.
"Semoga ini benar-benar yang terakhir," batin Rendra dalam hati.
Keesokan harinya setelah mereka sampai, Rendra pun bersikap seperti biasa. Begitu dengan hari-hari berikutnya hingga mereka merayakan kelulusan.
"Lagu ini kupersembahkan untuk orang yang pernah saya cintai, meski dia punya hati lain untuk dicinta," ucap Rendra dengan tulus.
"Bila nanti kita berpisah
Jangan kau lupakan
Kengan yang indah
Kisah kita
Jika memang kau tak tercipta
Untuk ku miliki
Cobalah mengerti
Yang terjadi
Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
Tuk tetap bertahan
Di tengah kepedihan
Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang Waktu
Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu
Semoga kelakkan kau temukan
Kekasih sejati
Yang kan menyayangi
Lebih dariku
Bila mungkin memang tak bisa
Menyatukan perbedaan kita
Dan tetap bertahan
Ditengah kepedihan
Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang Waktu
Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu*"
Lagi itu berasal dari band Lovarian~Perpisahan Termanis".
"Terimakasih untuk waktu dan semua kenangan tentangmu, tentangku, dan tentang kita," Rendra mengucapkan dengan mata berkaca-kaca.
Kini akhirnya kisah mereka benar-benar usai setelah kelulusan.