My Hidden Love

My Hidden Love
Puas



Di seberang, Terry justru tertawa setelah membaca balasan dari Krisna. Terry sama sekali tidak merasa berdosa, bahkan dia hanya berniat membuat Krisna bahagia.


Ide licik muncul begitu saja di benaknya. Ingin rasanya Terry bertemu dengan Krisna. Dia yakin pertemuannya malam ini akan berakhir indah.


From : Terry


"Jika kamu lupa, selama ini kamu sudah melakukan dosa dengan Poda. Bahkan dosamu dan dosaku bisa jadi sama besarnya. Jadi jangan pernah mengingatkanku tentang hal yang kamu sendiri sudah tahu"


Dengan wajah kesal Krisna kembali melemparkan sumpah serapah untuk Terry.


"Apa aku salah jika saat ini aku ingin mengubah hidupku menjadi lebih baik? Kurasa apa yang kita lakukan sudah melebihi dari sekedar teman, apa otakmu itu sudah sinting?," dengus Krisna kesal.


"Ddrrttt ddrttt" ponsel bergetar.


Tanpa melirikpun Krisna tahu jika itu adalah pesan dari Terry. Laki-laki menyebalkan yang awalnya hanya teman berbagi beban kini menjadi teman penghapus kesepian.


From : Terry


"Jangan salahkan aku jika tiba-tiba aku mencintaimu, kamu yang dengan suka rela membuka hati untuk tempat berlabuhku 😛"


Terpaksa Krisna membuka pesan yang baru saja diterimanya. Sontak aura panas langsung menyelimuti wajahnya. Darahnya seakan mendidih membaca cibiran Terry yang menyalahkan dirinya.


Penuh rasa kesal, Krisna membalas pesan Terry. Dia tidak yakin malam ini akan tidur dengan nyenyak.


From : Krisna


"Apa maumu? Berhentilah memojokkanku! Aku tidak bermaksud menjadikanmu pelarian, aku hanya menganggapmu tak lebih dari seorang kakak yang harusnya memperdulikan keadaan adiknya. Apa itu salah?"


From : Terry


"Awalnya tidak karena aku mengira tidak akan jatuh ke pelukanmu, tapi ternyata waktu mengubah hatiku untuk cepat mencintaimu"


"Aarrrghhh! Gila!," umpat Krisna.


Wanita itu segera menghubungi Terry. Rasa marah kesal sekaligus senang karena mengerti Terry mencintainya bercampur menjadi satu.


"Halo," sapa Terry di seberang.


"Dimana kamu?," tanya Krisna.


"Di hotel XXX, kenapa?," tukas Terry.


"Ke hotel sekarang, aku akan share lock lokasinya," imbuh Terry.


Krisna segera memutus sambungan Terry. Jika sudah begini tidak ada solusi terbaik selain bertemu dengannya. Meskipun nantinya akan berakhir dengan kekhilafan.


"Ddrttt ddrttt" ponsel bergetar dan sang pemilik langsung membukanya.


"Oke, aku otw," gumam Krisna.


Setengah jam berlalu akhirnya Krisna sampai di hotel tempat Terry menginap. Wanita itu tanpa berpikir panjang segera mengikuti Terry tanpa dimintai tanda pengenal oleh receptionis karena kamar sudah di sewa oleh Terry.


"Bajumu kebesaren," ucap Terry.


Krisna melirik kaos hitam yang dipakainya. Mengamati penampilannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Sendal jepit, celana panjang, kaos hitam, dan jaket putih serta rambut acak-acakan, apa itu salah?," sungut Krisna.


Terry mengacak rambut Krisna karena gemas.


"Kamu terlihat menggoda," bisik Terry.


Hampir saja Krisna menjitak Terry, namun mendadak berpapasan dengan Cleaning Service hotel membuat Krisna mengurungkan niatnya.


"Terserah," ketus Krisna.


"Aku seakan lupa penampilanmu sebelumnya tidak separah ini," sindir Terry.


"Sudahlah katakan apa maumu," gerutu Krisna.


Mereka tiba di depan kamar sewaan Terry. Dengan senang hati Terry membuka pintu lalu menyuruh Krisna masuk. Tidak terdengar kata tajam dari suaranya, namun terbesit niat ingin menerkamnya ketika nanti tengah malam telah tiba.


Jaket yang menempel di tubuhnya, dilemparkan begitu saja hingga kini menampilkan kaos longgarnya. Tak ayal leher jenjangnya terlihat begitu menggoda memaksa Terry menelan ludahnya susah-payah.


"Tidak! Aku lelah biarkan aku yang beristirahat disini," tukas Krisna seraya merebahkan badannya di ranjang empuk sebelahnya.


"Fyyyuuuhhh" melepas nafas lega.


Ikut serta membaringkan tubuh di samping Krisna membuat Terry juga menghembuskan nafas lega.


"Ada apa?," tanya Krisna.


"Apa bebanmu terlalu berat?," tukas Terry.


"Ku rasa penglihatanmu masih tajam," dengus Krisna.


Wanita itu berpaling memunggungi Terry yang ada di sebelahnya. Namun dengan sigap Terry memeluk pinggang Krisna agar wanita itu tidak menghindar.


"Lepaskan," ucap Krisna.


"Tidak sebelum kamu mengatakan apa masalahmu," ujar Terry.


"Lagi pula apa kamu mau menginap disini?," tanya Terry.


"Kembali ke kost adalah hal mustahil, tapi tidak jika kamu memesankan satu kamar lagi untukku," jawab Krisna.


"Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu pergi," ucap Terry.


"Hm terserah," gumam Krisna.


Merasa kehadirannya tidak dianggap, Terry membalikkan tubuh Krisna dengan pelan agar wanita itu tidak marah. Rasa gugup mendadak dirasakan Terry padahal laki-laki itu tidak melakukan apapun.


Ketika melihat Krisna tetap diam, Terry menjadi ragu apakah Krisna bisa diajak begadang semalam atau tidak.


"Aku tidak memintamu untuk melayaniku, aku tau kamu wanita baik-baik hanya saja dia yang tidak pernah memperdulikanmu," pikir Terry.


"Cup" kecupan mulus mendarat di bibir Krisna.


"Plaaak" sebuah tamparan berhasil melayang ke pipi Terry.


Pipi mulusnya mendadak panas membuat Terry memeganginya.


"Kenapa melakukannya?," tanya Terry bingung.


"Aku bukan ****** bodoh! Kalau begitu aku pergi saja," jawab Krisna seraya beranjak.


Namun Terry tetap menahannya sehingga Krisna kembali jatuh ke ranjang. Dengan perasaan kesal bercampur marah Krisna terpaksa merebahkan tubuhnya lagi.


"Jangan menamparku lagi," ucap Terry.


"Aku tidak akan seperti itu jika kamu menjaga bibirmu! Mentang-mentang horang kaya seenaknya," gerutu Krisna.


Ya, Terry lebih baik melihat Krisna yang selalu menggerutu karenanya daripada melihat Krisna diam dan bersedih seperti tidak mempunyai kehidupan. Meskipun tidak dipungkiri hidupnya teramat sulit. Hatinya juga teramat sakit untuk sebuah pengkhianatan yang selalu dirasakan.


Rasa terlalu iba atau rasa untuk selalu melindunginya. Terry menarik Krisna ke dalam pelukannya.


"Jangan menganggapmu ******, aku hanya ingin membuatmu tenang! Ingat kita sama-sama tersakiti, bahkan aku terlihat masih lebih tegar daripada dirimu," gumam Terry.


Krisna menarik satu nafas panjang lalu kemudian di hembuskan dengan kasar.


"Hatiku terlalu sakit," ucap Krisna.


"Ssttt tidak apa-apa. Aku ada disini bersamamu," bisik Terry.


"Terima kasih kak, meskipun aku juga tidak tahu sebrengs*k apa kamu nantinya," tukas Krisna seraya membalas pelukan Terry.


Hanya seorang kakak yang Krisna rasakan ketika bersama Terry. Dia bahkan tidak merasakan adanya getaran cinta saat di dekat laki-laki itu. Namun siapa sangka jika diam-diam rasa iba yang dimiliki Terry berubah menjadi rasa cinta.


"Aku sendiri tidak mengerti kapan rasa itu ada, tapi ketika melihatmu tertawa aku seperti melihat kebahagiaan disana. Sebaliknya jika kamu menatap ruang kosong di hadapanmu dengan sorot kecewa, aku seperti melihat luka ku berada disana," batin Terry.


"Bagaimana jika cinta ada diantara kita?," ucap Terry tiba-tiba.


"Mustahil," tukas Krisna.


Tidak pernah sekalipun terlintas di benak Krisna jika dia akan menyimpan rasa kepada Terry laki-laki yang hanya dianggapnya tak lebih dari seorang kakak.