
Aku menulis hanya untuk mengobati hati yang terluka
Meluapkan segala amarah dalam goresan tinta
Mengalir indah dengan sempurna
Tanpa ada sedikitpun cela di dalamnya
Ketika kamu tak lagi ada
Pada siapa aku berbagi rasa
Ketika jiwamu pergi dengan sendirinya
Pada siapa aku menyalahkan semua
Jiwamu terhimpit dalam kehangatan manja
Meracik cerita dengan berbekal dusta
Kamu pergi dengan segala keangkuhanmu
Meninggalkan luka yang tak pernah terpikir olehmu
Kamu
Tidakkah berpikir sedikit tentang hatiku
Tentang rasa yang selama ini menyelimuti kalbu
Tidakkah nurainimu sedikit terketuk karena ku
Karena rasa yang masih ku simpan dengan sempurna
Kini
Lirih tangis tak lagi kau sesali
Sendu duka tak lagi kau anggap ada
Tentang cerita yang pernah ada
Kau lupakan dengan tega
Tentang cinta yang pernah ada
Kau hempaskan begitu saja
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sudah, jangan terlalu larut," lirih Raka.
"Raka," panggil Krisna.
"Hm?," jawab Raka.
"Jawab dengan jujur karena kamu yang selama ini ada di sampingku, apakah aku terlalu bodoh?," tanya Krisna dengan lirih.
"Kamu tidak bodoh, hanya saja kamu terlalu menutup mata untuk sesuatu yang sebenarnya kau inginkan," jawab Raka dengan tatapan kosong seperti menerawang sesuatu.
"Maksud kamu?," tanya Krisna lagi.
"Sebenarnya hatimu menginginkan lembutnya kasih sayang agar kamu mengerti makna sebuah cinta, tapi kamu terlalu egois berkomitmen dengan orang yang salah," jelas Raka.
"Apa aku harus menjauh darinya?," ucap Krisna.
Raka diam tidak bergeming. Masih menerawang jauh semua cerita Krisna tentang pengkhianat Poda. Mengapa dia bertahan di tengah kepedihannya. Bahkan ketika Poda sama sekali tidak memperdulikannya, Krisna masih sabar menghadapi semuanya. Karena semua logika tidak mampu menembus setiap kata yang tercipta, maka kata tidak ada yang pantas untuknya. Raka tahu jika Krisna hanya ingin menepati janjinya namun tidak seharusnya seperti ini. Hatinya terlalu lembut untuk pemikiran yang selalu berpikir positif. Kini Raka sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan yang sebenarnya Krisna sendiri sudah tahu jawabannya. Raka tidak mau menjadi pemutus hubungan seseorang, meski sebenarnya dia menginginkan itu.
"Raka," ucap Krisna.
"Hm?," ujar Raka.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?," kata Krisna.
"Ingin ku mencaci namun sadar bebanmu terlalu nyeri, kamu sudah terlalu lama merasakan berbagai luka hingga kamu tidak pernah menyadarinya, kamu layak mendapatkan kebahagiaan meski itu hanya sebuah senyuman, bagaimana cara agar kamu bisa merubah semuanya? Tolong sadarlah jika diluar sana kamu sedang dipermainkan!," batin Raka.
"Rakaaa," lirih Krisna dengan menggoyangkan tubuh laki-laki itu Dia sendiri tidak tahu mengapa Raka melamun.
Tidak biasanya laki-laki itu larut dalam kesedihan. Namun untuk saat ini, hanya melihat wajahnya sudah terlihat guratan duka di sana. Mengapa laki-laki sebaik Raka harus merasakan luka. Beginilah cara Tuhan membuat semua terasa adil. Mungkin sudah begitu layaknya cinta mempermainkan insangnya di era seperti ini.
"Eh, iya kenapa?," ucap Raka gugup.
"Tidak biasanya kamu seperti ini, kali ini lihatlah cermin dan tanyakan mengapa kamu terlihat murung," pinta Krisna.
"Aku terlihat murung karena aku bisa merasakan semua yang kamu rasakan, aku mengakui jika aku laki-laki, namun untuk mengatakan semuanya kurasa jiwa lelakiku tidak mampu," pikir Raka.
"Aku akan melihat cermin, melihat bayangan kita berdua di sana dan berdoa semoga cermin itu segera menjadi cerita nyata," ujar Raka dengan memandang pintu. Sebenarnya dia juga gugup mengatakan itu, namun berusaha menutupinya.
Raka mengalihkan jauh-jauh perhatiannya agar nantinya sesuatu yang terlontar bukan lagi tentang Poda dan kesedihan. Sebenarnya melihat Krisna bersedih adalah hal yang menyakitkan untuk Raka. Tidak pernah sekalipun dia berniat untuk melihat kesedihan Krisna. Meski bukan dengan Raka Krisna menjalin hubungan, tetap saja rasa untuk melihatnya bahagia adalah hal yang diharapkan.
"Andai sedetik saja kamu menyadari jika ada aku yang selalu disampingmu, tidak pernah merendahkanmu, tidak pernah mengkhianatimu akankah kamu akan tetap di situ? Bersama namun hanya untuk mengukur sejauh mana rasa kecewamu," batin Raka.
Sementara layar masih memutar lagu dengan sendirinya. Menambah kesan kedekatan mereka. Duduk berdua bersama mendengarkan cerita hati yang penuh dengan sembilu. Ragu, itulah yang dipikirkan Krisna. Wanita itu ragu akan kisah asmaranya. Ragu akan perasaan yang dimilikinya.
Melodi yang tercipta mengalun dengan lembut penuh irama membuat perlahan beban itu menjadi ringan. Tanpa sadar, Krisna kembali tersenyum. Dia merasa sangat beruntung, karena di saat seperti ini masih ada seseorang yang dengan penuh kelembutan berada di sampingnya. Mendengarkan keluh kesahnya dengan tulus.
"Teruntuk kamu, hidup dan matiku
Aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menuliskannya
"Kenapa ini lagi?," ucap Krisna dengan heran.
"Aku akan menyanyikan lagu ini untuk seseorang, untuk wanita yang telah menjadi prioritas ku meski dia tidak menjadikanku prioritasnya," lirih Raka.
"Benarkah? Beruntung sekali dia," ucap Krisna dengan mata berbinar.
"Ya, dia sangat beruntung namun tidak denganku," gumam Raka.
"Benarkah? Siapa wanita yang tidak menganggapmu prioritasnya itu?," tanya Krisna penasaran.
"Kamu," ucap Raka yang mendadak menjadi bersemangat. Kali ini dia tidak lagi berkata lirih, namun dengan suara yang agak keras dan terdengar penuh ketulusan.
"Sial! Gara-gara kamu lagunya udah lewat jauh kan, aku harus memutar ulang untuk ketiga kalinya hm," ucap Raka malas meski sebenarnya dia tidak ingin Krisna lebih dalam membahas tentang perasaannya.
Baru beberapa hari yang lalu Raka mengungkapkan rasa yang dimilikinya dan Krisna menolak. Raka berpikir lebih baik menunggu sementara waktu agar membuat Krisna lebih yakin dengan hatinya. Semoga saja saat itu tiba, Krisna benar-benar telah mengisi hatinya dengan ukiran nama bertulis "Raka".
"Teruntuk kamu hidup dan matiku
Aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menuliskannya
Atau dengan kalimat apa aku mengungkapkannya
Karena untuk kesekian kalinya
Kau buat aku kembali percaya akan kata cinta
Dan benar, bahwa cinta masih berkuasa di atas segalanya
Ketika hati yang mudah rapuh ini
Di uji oleh duniawi, di uji oleh materi untuk kesekian kali
Lagi, lagi, dan lagi
Ku tuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berpikir tentang hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari yang ku jalani sampai kini?
Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu hidup dan matiku
Bila musim berganti sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci, ku kan tetap di sini
Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia (Bila musim berganti sampai waktu terhenti)
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu (Walau dunia membenci, ku kan tetap di sini)
Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia (Bila musim berganti sampai waktu terhenti)
Karena telah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu (Walau dunia membenci, ku kan tetap di sini)
Karena telah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu"
Akhirnya Raka dan Krisna berhasil menyanyikan lagu itu dengan akhir yang sempurna. Ternyata Raka bisa menyanyikan lagu galau seperti itu.
"Ternyata kamu bucin ya? hahaha," ucap Krisna dengan tertawa.
"Heh, aku begini karena kamu, aku bernyanyi untukmu," ujar Raka.
"Sial! Stop! Ayo kita pergi dari sini," umpat Krisna.
"Sekarang? Bahkan kita belum genap satu jam," ucap Raka.
"Ayolah, kita pergi, aku tidak mau lama-lama di sini," pinta Krisna.
"Tidak! Kamu yang memulainya dan sekarang aku mulai menikmatinya, sebentar saja," lirih Raka.
"Tidak Raka, ayolah," Krisna mulai merajuk.
"Baiklah dengan terpaksa, tapi suatu saat aku akan memintamu menemaniku lagi hm?," ujar Raka memberikan penawaran.
"Dengan senang hati, wekk," ucap Krisna seraya menjulurkan lidahnya.