My Hidden Love

My Hidden Love
stage 11 Flashback onn 5



Lupakan yang tidak bisa dipertahankan,


Jangan malu hanya karena sebuah dusta


Tapi malulah ketika kamu dengan bangganya berkata bahwa kamu pembuat dusta


Terkadang apa yang kamu pikir sederhana


Bisa jadi sebenarnya ia yang sempurna


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


POV Krisna


Hari ini adalah hari kelulusan. Aku bersyukur bisa lulus walau dengan nilai pas-pasan. Terimakasih untuk sekolah tercinta, karena disini aku merasakan segalanya. Tertawa, tersenyum, menangis, bersedih, dan ego ku pernah terluap disini.


Teruntuk kamu laki-laki yang selama ini menemani hariku, aku sangat berterimakasih atas kebersamaannmu. Pertama kali dan sampai terakhir kali kita disini banyak hal yang terkenang indah dalam benakku. Selalu telat hingga guru BK yang berjaga didepan pintu hafal betul siapa kita. Selalu telat masuk kelas setelah istirahat hingga semua lelah menasehati kita. Selalu bercerita ketika upacara berlangsung hingga tak jarang kita berdiri menghadap matahari. Kelas VII, tugas-tugas ku yang selalu kamu kerjakan karena aku salah memilih ekskul, ketika seorang guru pembimbing memarahiku, kamu dengan sabar selalu berkata "nggak papa pak nanti biar saya yang ajarin, karena elektro itu rumit". Aku yang dengan bodohnya memilih elektro hanya untuk bisa bersamamu tanpa berpikir seberapa bodohnya aku tidak pernah tau apa lampu flip flop".


Kelas VIII setelah aku kecelakaan dan pergi ke sekolah membawa tongkat, kamu dengan sabar menemaniku.


Study tour kamu dengan tanpa malu menemaniku. Menjagaku dan melindunginya dari dinginnya Planetarium dan panasnya halaman Monas. Terimakasih untuk Teddy bear yang tanpa malu kamu berikan didepan semua orang meski aku hanya bisa mengatakan kita tidak bisa lebih dari teman.


Dan terakhir saat ujiian aku belum sembuh total, beruntung aku mendapatkan kamu sebagai mentor ku. Kamu memberi nilai yang pantas, walau sebenarnya bukan itu seharusnya nilaiku.


Saat itu, ketika perpisahan aku melihat dengan jelas kesedihanmu. "Lovarian~Perpisahan Termanis". Lagu yang pernah kamu persembahkan untukku. Terakhir kali aku melihat luka di hatimu. Semoga kelak kamu akan menemukan kebahagiaanmu. Terimakasih untuk semuanya. "Aku juga mencintaimu" dalam lubuk hatimu namun aku memilihnya mengubur dalam-dalam.


**********************************************


Pendaftaran SMK N 1 P*NG*SI* ditutup hari ini. Krisna akhirnya memilih jurusan Administrasi Perkantoran setelah berbagai perdebatan dilakukan dengan keluarganya. Sore hari tibalah pengumuman yang menyatakan Krisna diterima di jurusan itu. Awal masuk kelas X, Krisna dikenal sebagai sosok yang berandalan, ugal-ugalan dengan rambut panjang sebahu dicat golden brown.


Meskipun sekolah di sekolah favorit dan ketat, Krisna selalu saja lolos razia. Kedisiplinan, sepatu, hingga seragam dan atribut.


Kelas XI semester Ini, ia masih sama. Bahkan di semester ini dya ditinggal sang pacar ke pulau seberang. Sang pacar berkata "tidak akan lebih dari 4 bulan aku disana". Namun hingga enam bulan sang pacar tidak ada kabar. Berbagai cara dya lakukan hingga akhirnya dya menyerah. Pasrah akan suatu takdir yang nantinya menyatukan atau memisahkan mereka.


From : Tyo


"Kris, pacar kamu sudah pulang?"


From : Krisna


From : Tyo


"Dia pasti selingkuh disana. Nggak mungkin 2 bulan nggak ada kabar"


Krisna yang begitu polos lambat lain terhasut oleh perkataan Tyo. Akhirnya hati Krisna pun goyah. Ia akhirnya menjalin hubungan dengan Tyo. Diawal hubungannya, Krisna menyadari ada sesuatu yang janggal namun ia tidak tau pasti apa kejanggalannya. Krisna seperti dipermainkan Tyo, hingga akhirnya mencari pelampiasan.


Krisna berkenalan dengan Edi, tetangga sang pacar. Merekapun menjalin hubungan. Merasa dipermainkan juga, Krisna akhirnya bercerita dengan sang kakak "Gery".


Awalnya Gery merespon baik cerita Krisna namun akhirnya Gerypun memanfaatkan kedekatannya. Gery mengajak Krisna jalan, nonton konser dan tak hanya sekali menciumnya walau sebenarnya Krisna selalu menolak.


Diantara tiga lelaki yang sekarang bersamanya, Krisna tetap merasakan kesepian. Ia tetap hanya mengharapkan sang pacar kembali.


"Besok pagi aku pulang," pesan masuk yang mengatasnamakan pacar Krisna. Krisna sudah tidak bisa lagi percaya, karena selama ini banyak nomor yang mengirim pesan dan mengaku sebagai Poda sang pacar.


"Aku tidak tahu lagi bagaimana perasaan ini. Terlalu sering tersakiti. Terlalu sering dikhianati. Aku tidak mengerti mengapa aku ditakdirkan menjadi wanita sebodoh ini. Bodoh tentang perihal rasa. Bodoh tentang terlalu mudah untuk percaya. Hingga akhirnya berujun kecewa. Aku tidak pernah sekalipun menaruh curiga terhadapmu. Aku selalu percaya akan kata yang terucap dari mulut manismu. Walau ternyata manisnya janjimu adalah busuk nya jiwamu. Tidak mudah menjadi seseorang yang selalu merasa kecewa. Tidak mudah menjadi hati yang tercipta hanya untuk di lupa. Aku tidak pernah menjanjikan suatu kebahagiaan, namun hingga saat ini aku tetap berusaha memberimu ketulusan cinta karena aku percaya rasa itu bisa membuatmu sedikit bahagia. Namun lagi-lagi aku salah memberikan persepsi atas semua pernyataanmu," batin Krisna. Dia hanya bisa menatap langit kamar, berharap agar airmata yang ditahannya tidak keluar.


"Ketika kamu hadir dengan seribu pujianmu, aku terlalu mudah jatuh ke dalam pelukanmu. Terlalu hina karena mudah terlena dan harus berakhir dengan sebuah luka. Ketika kamu ada menawarkan sebuah cerita, aku bersedia menjadi pemeran di dalamnya. Dengan bodohnya aku terhanyut dalam permainan sandiwaramu. Teruntuk rasa percaya, aku tidak bisa lagi mendeskripsikannya. Aku pernah percaya, namun kerap aku kecewa. Aku pernah memberimu bahagia, namun hanya luka yang kamu berikan sebagai balasannya. Mengapa takdir tak kunjung memberiku bahagia yang kekal untuk ku rasa?," lirih Krisna.


Tanpa sadar kini air mata itu benar-benar luruh. Mengalir seperti rasa sakit yang tetap menjalar. Berkali-kali memejamkan mata, berharap bisa tidur dengan sendirinya. Namun sia-sia, semakin memejamkan mata semakin mengingat jelas akan luka yang di pendamnya. Entah apa yang kemudian membuat mata itu terlelap sendiri dan terbangun dengan sembab di kedua kelopak matanya.


Hari ini adalah hari dimana Poda akan pulang ke tanah kelahirannya. Krisna tidak mengharapkan apapun. Hanya berharap semoga hatinya mampu menerima semuanya. Poda benar-benar pulang dan disambut pertengkaran oleh Krisna.


"Aku minta kita putus," pinta Krisna.


"Oke. Jika itu yang membuatmu bahagia selama," begitu sang pacar menjawabnya.


Percuma saja mereka saling beradu argumentasi jika nyatanya takdir begini.


Setelah Krisna putus dari sang pacar, Krisna malah meninggalkan mereka bertiga. Laki-laki yang selama ini menemaninya dikala sang pacar tidak ada.


"Aku udah putus sama mereka," Krisna mengirim pesan untuk sang pacar.


"Aku mau kita ketemu di cafe cozy," balas sang pacar.


Disana Krisna dan sang pacar membicarakan semuanya hingga akhirnya mereka kembali bersatu. Mereka masih saling mencintai dalam hati kecilnya namun terlalu gengsi untuk mengakui.