My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 65 Surprise



Ketika hati lelah menyapa


Tidakkah kamu lupa akan cerita


Ketika bibir tak sanggup bicara


Biarkan mata mewakilinya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setetes embun menemani Krisna menyambut mentari pagi. Menggelitik jiwa yang sedikit terasa berbeda. Sedikit bahagia untuk semalam berakibat baik pada hati sepagi ini.


Wanita itu mengawali harinya dengan seulas senyum di bibir. Seperti tidak menyimpan luka sedikitpun, seolah lupa akan pahitnya kehidupan. Menanak nasi, membuat tumis bakso dan sosis pedas, serta tak lupa menyiapkan air putih. Menyajikan semua dalam ruangan kecil itu untuk menyambut kedatangan pasangannya.


Poda datang setengah tujuh, waktu yang tepat hanya untuk sarapan pagi pertanda tidak bisa berlama-lama disana. Baru memasuki gerbang depan, indra penciumnya seperti mengenal aroma yang ada.


"Seperti makanan kesukaanku, semoga saja Krisna yang memasaknya," gumam Poda.


Benar saja, setelah memasuki kamar bukan hanya hidungnya yang mencium aroma masakan lezat namun netranya juga mendapati semuanya terhidang sempurna.


"Selamat pagi, semoga kamu menyukai sarapan kali ini," ucap Krisna yang sadar akan kehadiran Poda.


"Aku sudah tidak sabar, ayo makan," ujar Poda semangat.


Krisna mengambil nasi serta tumis bakso ke dalam piring, lalu memberikan kepada Poda. Kemudian mengambil lagi untuk dirinya sendiri. Mereka menikmati makan pagi dengan senyuman sambil sesekali saling menyuapi satu sama lain.


Selesai makan, Krisna segera memembawa piring kotor menuju wastafel dan mencucinya. Sementara Poda membereskan tempat makan tadi. Membersihkan sisa nasi yang mungkin terjatuh ke lantai ketika makan.


Jam menunjukkan pukul 06.50 WIB saat keduanya selesai dengan aktivitas masing-masing. Krisna mendekati Poda bermaksud akan berjabat tangan sebelum berangkat kerja seperti biasanya. Namun Krisna kalah cepat. Baru saja dia mendekat, Poda langsung mengecup pipinya. Membuat kedua pipi itu menjadi merah alami.


"Hei, kenapa kamu menciumku? Tidak sopan, sembarangan menyentuhku," gerutu Krisna.


"Maaf, tapi kurasa kamu menyukainya," jawab Poda santai.


Krisna lantas mencubit pinggang Poda. Dia pura-pura marah atau marah beneran, entahlah hanya dia yang tahu. Kebiasaan ketika gemas dengan Poda, dia selalu mencubit ataupun menggelitik.


"Ini sudah siang, ayo berangkat! Aku tidak mau terlambat bisa-bisa gajiku tidak cukup untuk membayar keterlambatan ku," tukas Poda bermaksud menghentikan aksi Krisna.


"Hm, bukan hanya kamu yang terlambat tapi aku juga," ujar Krisna.


Mereka berdua keluar menuju rak sepatu. Berlomba siapa yang tercepat memakainya. Tentu saja Krisna selalu selesai lebih dulu lalu berlari sembari menarik tali sepatu Poda agar laki-laki itu mengulang dari awal.


Sebenarnya Poda di anjurkan memakai sepatu formal untuk laki-laki, namun dia selalu memakai sepatu kets dari rumah. Begitupun Krisna, wanita tomboy itu lebih nyaman memakai sepatu bertali. Terlebih karena di kantor tidak ada aturan khusus untuk sepatu.


"Sayang, aku menang! Aku berangkat dulu ya, jangan lupa kunci pintu kamarnya dan taruh di tempat biasa," teriak Krisna seraya menyalakan motornya.


Terkadang di saat Poda berbaik hati, Krisna bisa sesekali memerintahnya seperti ini. Ketika Poda tidak marah, Krisna bisa mengajaknya bercanda seperti saat ini. Krisna dan Poda sama-sama hafal dimana letak kunci diletakkan. Bahkan ketika menutup mata pun juga bisa menemukan keberadaannya.


Krisna keluar kost lebih dulu, meninggalkan Poda yang masih setia menggerutu karena tingkah Krisna. Namun Poda tetap menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Menaruh kunci di dalam sepatu di rak paling bawah nomor dua dari kiri. Agar jika hal buruk terjadi, cukup mereka yang mengetahui. Mereka mengantisipasi apapun yang akan terjadi karena menyadari akan keamanan di sana.


"Dasar wanita aneh, suka sekali meninggalkanku disini, bagaimana jika aku sesekali menukar tempat kuncimu? Apa kamu akan marah padaku? Selalu saja membuatku terlambat masuk kantor," gerutu Poda.


Sampai di kantor, Krisna masih dengan jelas mengingat jika kemarin adalah hari terakhirnya dengan Raka dan sekarang adalah hari pertama dia berada di divisi baru. Dia lupa akan di pindah dimana, karena kemarin hanya mengingat kebahagiaan dari kabar pemindahannya.


Kantor sudah ramai, namun belum mendapati KLX Raka berada di parkiran. Selama apel pagi belum dimulai, Krisna berniat menuju ruangan Raka. Ingin mengucapkan perpisahan karena kemarin belum sempat pamitan.


Padahal Krisna hanya akan bertemu Raka. Namun perasaannya mengatakan hal lain. Dia seperti akan bertemu seseorang yang disayangi karena mendadak dadanya berdebar. Benar-benar memalukan toh biasanya mereka juga bersama bahkan tanpa dada berdebar.


"Duh, aku bisa jadi gila beneran nih hahaha," lirih Krisna dengan sedikit tawa.


"Kris, kamu sehat kan?," ucap suara dari belakang.


Lantas Krisna menengok, melihat siapa orang yang sudah bertanya seperti itu. Padahal pagi itu Krisna terlihat sangat bahagia, kenapa ada orang lain yang menganggapnya gila. Sebenarnya bukan mengatakan dia gila, tapi dari cara bertanya sudah bisa dilihat apa dan bagaimana maksudnya.


"Eh Rena aku sehat kok, bahkan aku terlihat seperti sedikit bersemangat, kenapa kamu bertanya seperti itu?," tanya Krisna.


"Tidak biasanya kamu tertawa sendiri, aku takut kamu mendadak kesambet hahaha," jawab Rena seraya tertawa.


"Sia*! Ya sudah aku duluan ya," pamit Krisna.


Sadar jika waktunya hanya sebentar sebelum aktivitas kantor ini dimulai. Tiba di depan pintu, Krisna segera mengetoknya berharap Raka segera muncul. Krisna mengetok sekali, namun tidak ada sahutan dari dalam. Mungkin Raka tidak mendengarnya. Lalu mengantuk sekali lagi, namun tetap masih tidak ada jawaban.


Akhirnya Krisna membuka pintu ruangan Raka. Tidak mendapati pemilik ruangan disana, hanya dua bangku kosong yang menyambutnya. Saat hendak menutup pintu lagi, tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundak Krisna.


"Hei, kamu mencariku?," tanya Raka.


"Ih kamu, kenapa suka mengagetkanku? Untung saja aku belum berteriak," gerutu Krisna.


"Kenapa kamu suka sekali menggerutu ketika bertemu denganku? Apa itu kebiasaan barumu?," tanya Raka lagi.


"Kamu sendiri kenapa hobbi tiba-tiba dibelakangku?," jawab Krisna datar.


Raka tidak menjawab pertanyaan Krisna, dia hanya tersenyum. Senyum misterius yang belum pernah dilihat Krisna selama ini.


"Kenapa dia seperti menyembunyikan sesuatu?," pikir Krisna.


"Ya sudah, aku akan menuju ruangan baruku", tukas Krisna.


"Ruangan mana? Kamu belum tahu jika kamu tetap akan menjadi partnerku?," ucap Raka yang membuat Krisna menatapnya tajam.


"Apa maksudmu?,"tanya Krisna.


"Kamu tetap akan menjadi partnerku, tetap menjadi seseorang yang duduk di sebelahku sepanjang hari dan menemani perjalanan keluarku," jelas Raka.


"Sudah, ayo masuk ruangan kita! Aku sudah mempersiapkan kejutan untukmu," sambung Raka.


Krisna hanya menurut perintah Raka. Dia ikut menuju ruangannya dan duduk di sana. Wanita itu tidak habis pikir dengan Raka kenapa dengan mudahnya membohongi Krisna.


Setelah Krisna duduk, Raka mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu memberikan kepada Krisna.


"Ini, silahkan dibuka," ucap Raka seraya menyerahkan bingkisan kotak bermotif kero-keropi.


"Terima kasih," jawab Krisna sembari membuka kotak itu.


Matanya terlihat berbinar kala melihat isi di dalamnya. Tidak terlalu mahal, namun bukan harga yang dilihatnya. Dia melihat dari ketulusan pemberinya. Terdapat kalung perak dengan gantungan berinisial K. Sangat cocok untuk Krisna.


Coklat Diar* Milk, chunkybar, serta mawar di dalamnya. Tak lupa sepucuk kertas bertuliskan rangkaian kata dari Raka.