
Aku jatuh cinta pada angkasa
Oleh sebab itu
Aku bisa bicara dengan semesta
Bercerita tentang kita
Tentang cinta yang tak mungkin bersama
Teruntuk kamu,
Biarkan aku mencintaimu tanpa memilikimu
Biarkan aku menunggu ketidakpastian akan rasaku
Disana,
Di tempat kamu berada
Ada hangatnnya cinta yang pernah kurasa
Kini,
Dibalik rindu yang menyerang
Ada rasa yang terlarang
Bagaimanapun itu,
Rasaku tetap untukmu
Menunggu hingga takdir menjawab doa-doaku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini cuaca sangat mendukung untuk melanjutkan tidur. Langit mendung dengan setitik air yang mulai turun. Awalnya hanya seperti suara bergemericik namun kelamaan menjadi suara deras dengan sesekali kilatan. Krisna bangun dengan malas. Berharap hari ini adalah hari Minggu. Nyatanya ini adalah Hari Rabu. Beranjak dari ranjang dan melihat jam dinding. Pukul 05.30 WIB. Dinginnya hujan merasuk hingga ke sumsum tulang. Menjadi enggan melakukan apapun.
Membuka ponsel, berharap Raka menghubunginya. Namun sayang, Krisna justru mendapat pesan dari Poda. Hatinya merasa benci. Bukankah seharusnya dia merasa senang mendapat pesan dari Poda. Poda memang pacarnya namun bukan orang yang selalu menemaninya. Krisna lalu membuka pesan itu dengan malas.
From : Poda
"Sayang, sudah tidur?"
Pesan itu masuk di ponselnya pukul 22.35 WIB.
Sebenarnya jam segitu bukan waktu tidur Krisna. Dia terbiasa tidur di atas jam 12. Bisa di bilang dia selalu tidur dini hari dan bangun di pagi hari yang kesiangan. Namun semalam dia benar-benar lelah hingga tidur sebelum jam tidurnya tiba. Sejenak berpikir untuk apa Poda menanyakan tentang tidurnya. Apakah dia salah kirim, namun Krisna tidak peduli. Setidaknya untuk saat ini dia mempunyai tempat untuk bersandar. Meski dengan jelas apa yang Krisna lakukan salah.
From : Krisna
"Maaf semalam aku sudah tidur"
Tidak ada balasan dari Poda. Hingga pukul 06.30 saat Krisna bersiap akan kerja, Poda tak kunjung menghubunginya. Berarti Poda hanya sekedar basa-basi. Hari ini Krisna berencana berangkat agak terlambat. Dia benar-benar malas. Rasa tidak enak ketika tiba di kantor dan Raka sudah disana ditepisnya. Sekali ini saja Krisna ingin berangkat terlambat.
Mengendarai motornya, Krisna berangkat ke kantor menggunakan jas hujan selama satu jam perjalanan. Setibanya di kantor, parkiran masih sepi. Mungkin karyawan yang lain juga enggan seperti yang dirasakan Krisna. Dia melepas jas hujannya, lalu menuju ke ruangan Raka. Masih sepi, Raka tidak ada di sana mungkin laki-laki itu juga enggan berangkat pagi.
"Kris, tumben sudah berangkat?," tanya Raka karena ini pertama kali dia melihat Krisna berada di ruangan ini lebih dulu.
"Iya, padahal aku dari rumah sudah kesiangan, tidak tahu kalau sampai sini masih sepi," jawab Krisna.
"Kalau pagi hari hujan, orang-orang disini suka berangkat terlambat kris. Malah tadinya aku berpikir kamu tidak akan kerja, mengingat tumah kamu satu jam dari sini," ucap Raka.
"Aku tidak mungkin alpha ka, apa kata atasan kalau anak baru seperti aku bolos," ujar Krisna.
"Hahahaha di sini hal seperti itu sudah biasa kris, tergantung alibi mereka bisa ditoleransi atau tidak," jelas Raka.
"Kok bisa? Kenapa di hari pertama aku kerja, katanya kantor ini tidak menoleransi karyawan telat bahkan sekalipun punya alasan yang masuk akal," tanya Krisna penasaran.
"Itu berlaku setiap karyawan baru untuk pertama kali masuk, bukan untuk selamanya," terang Raka.
"Owh," ucap Krisna datar dengan memonyongkan bibirnya.
Setelah melepas jaket dan menaruh tasnya, Raka segera menghampiri Krisna. Memeluk Krisna dari belakang membuat Krisna kaget dan langsung menghadap ke arah Raka.
"Raka, kamu kedinginan?," tanya Krisna.
"Aku hanya ingin memelukmu," ucap Raka.
"Cukup Raka, jangan membuat aku semakin bersalah," lirih Krisna.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu," ucap Raka datar.
"Tapi aku merasa bersalah atas diriku sendiri," gumam Krisna.
"Berhenti menyalahkan dirimu hanya karena seorang baj*ngan seperti dia kris! Tolong, kamu terlalu sempurna untuk selalu merasa kecewa," ungkap Raka dengan semakin memeluk Krisna.
Raka semakin tidak mengerti akan jalan pikiran Krisna. Jelas-jelas dia selalu disakiti. Masih saja berusaha mencintai. Terlalu sering dikecewakan namun selalu mengharap kebahagiaan. Sadar kris, jika masih ada yang bisa membuatmu bahagia.
Krisna menatap bola mata Raka dengan tajam. Dia ingin menelanjangi apa yang ada di dalamnya. Krisna selalu menatap intens ketika akan mengatakan sesuatu yang menurutnya serius.
"Please," ucap Krisna. Itulah kta pertama yang Raka dengar.
Perlahan Raka melepaskan pelukannya. Dia tahu maksud arah pembicaraan Krisna. Dia selalu tidak nyaman jika diperlakukan demikian. Selalu menutup hati untuk siapapun yang mendekatinya. Sekalipun lebih segalanya dari Poda, dia tidak mau mengkhianati. Hanya ingin pergi jika dikhianati. Tidak pernah berniat untuk meninggalkan. Sekali kamu berbohong, kamu akan menciptakan kebohongan yang lainnya. Sekali kamu pernah melakukan pengkhianatan, maka selamanya kamu akan melakukan pengkhianatan lagi. Terlebih jika pengkhianatan itu perihal perselingkuhan, terkadang kekhilafan bisa terjadi berkali-kali. Bahkan tidak dipungkiri, jika kamu mendua karena mencari kenyamanan, lantas kemana hati yang dulu pernah membuatmu nyaman. Jika kamu mendua karena rasa cinta yang tak lagi sama, bagaimana jika nanti semua yang membuatmu mencinta tak lagi ada. Ingatlah, jika roda ini berputar.
"Kenapa kris?," tanya Raka.
"Tolong jangan terlalu sering bersamaku, aku takut rasa itu semakin menggebu," pinta Krisna dengan lirih. Seperti menyembunyikan sebuah luka.
"Aku ingin bersamamu," ujar Raka.
"Kita bisa bersama, namun tidak untuk rasa! Bahkan kamu terlalu mengerti melebihi apa uang kurasakan selama ini," gumam Krisna.
"Kris," lirih Raka.
"Raka, tolong! Aku tidak mau kamu terlalu jauh memendam rasa itu untukku karena aku tidak yakin suatu saat nanti kita bersatu," ucap Krisna.
"Kali ini saja kris, aku akan memelukmu meresapi kerinduanku! Mengukir namamu di hatiku, setelah itu jika kamu benar-benar pergi, aku akan mencoba mengerti tapi jangan pernah memaksaku untuk berhenti mencintaimu, dan tolong kamu jangan pernah menghindari ku! Cukup kamu ada disampingku, berlaku selakaknya kita seperti dulu! Jangan pernah pura-pura tidak tau tentang perasaanku! Aku hanya ingin kamu mengakuinya meskipun tidak saling memiliki nantinya," gumam Raka dengan suara serak.
Sebenarnya ingin sekali Raka meneteskan air matanya. Sebenarnya dia ingin memohon agar wanita itu tetap bersamanya. Namun itu mustahil baginya. Raka tau betul seperti apa Krisna. Bukan wanita yang dengan mudah merasa cinta. Tapi dia wanita dewasa yang berfikir jauh tentang cinta. Meski dengan caranya, dia semakin bodoh menjadi budak cinta.