My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 63 Ssstt Diam



Langit mengingatkanku betapa kita pernah bersatu


Meski akhirnya harus rela melepas rindu


Rindu akan hangatnya peluk kasihmu


Rindu akan indahnya menikmati gelombang tinggi bersamamu


Terik panas pernah menjadi saksi


Dimana kita pernah bersama di satu sisi


Menyambut gulungan ombak tanpa persepsi


Kepada butir pasir aku bertanya


Akankah cinta harus bergelayut manja


Melepaskan nestapa tanpa ujung pangkalnya


Kepada ombak bergulung aku menyapa


Bertanya kabar tentang dirinya


Akankah selamanya takdir kan setia


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bagaimana mungkin aku bisa tidur jika yang kuinginkan adalah pulang, apakah orang ini menginginkanku tetap disini? Tapi untuk apa? Untuk menjadi pembantu gratisan yang membereskan seluruh kamar ini?," gerutu Krisna dalam hati.


Namun antara pikiran dan hatinya tidak sejalan. Tidak biasanya Krisna melakukan hal diluar nalarya. Jarang juga hatinya terkecoh hal kecil apapun, terlebih jika itu bukan sesuatu yang penting.


"Baiklah," ucap Krisna. Akhirnya kata itu terlontar sebagai ucapan yang tidak berdasarkan pikirannya.


Krisna kemudian merebahkan badannya di tempat yang empuk. Menikmati kehangatan yang tercipta dari selimut tebal yang dipakainya. Sedangkan Poda, jangan tanyakan lagi. Untuk malam ini laki-laki itu akan mengalah.


"Kenapa masih dingin? Padahal aku sudah tidak mendengar suara hujan pertanda hujan itu telah berhenti," batin Krisna.


Dia berjalan menuju jendela, menggeser korden yang ada lalu mengintip dari sana. Benar saja di luar hujan sudah reda. Menutup korden lagi setelah mengintip sedikit keadaan di luar.


Tanpa sengaja ketika bejalan kembali menuju tempat yang empuk, Krisna menginjak botol bekas minuman soft drink. Membuat Poda bangun karena kaget. Setelah meminta Krisna untuk tidur kembali, Poda lalu merebahkan dirinya juga dan bersiap akan tidur. Ketika mata itu akan terpejam, Krisna malah menciptakan bunyi "krreeeekk".


"Kamu belum tidur?," tanya Poda dengan suara beratnya.


"Belum, aku tadi berniat ingin melihat keluar namun tidak sengaja menginjak itu," jawab Krisna seraya mengacungkan jarinya ke arah botol yang diinjaknya.


"Aku tahu," ucap Poda.


"Ih menyebalkan padahal aku hanya memberi tahu tidak bertanya padamu," gerutu Krisna seraya berlalu berniat untuk meregangkan otot-ototnya.


"Kenapa marah," tanya Poda.


"Aku tidak marah," ucap Krisna ketus.


"Hei, jangan berpura-pura! Aku serius dengan pertanyaanku," tanya Poda yang tiba-tiba berada di hadapan Krisna. Tepat melekat kedua mata bulat itu.


"Siala*! Kenapa Poda menatapku seperti itu? Membuatku malu saja, sungguh sedekat ini membuat jantungku berdetak lebih keras dari biasanya secara aku sudah lama tidak diperlakukan seperti ini," pikir Krisna.


Poda melihat Krisna yang hanya menatap kosong di depannya. Mencoba memanggil namun tidak dihiraukan. Melambaikan tangan juga tidak bereaksi apa-apa.


"Ada apa dengan Krisna? Apa dia kesambet? Tuhan jangan biarkan dia seperti itu, aku sangat mengkhawatirkannya," batin Poda.


Melambaikan tangan sekali lagi, juga memanggil namanya.


"Woey!," teriak Poda seraya mengguncang tubuh Krisna. Dia putus asa berkali-kali memanggil namanya namun hanya diam saja.


"Ah em kenapa? Apa kamu tahu jika baru saja mengagetkanku?," ucap Krisna dengan irama spot jantung.


"Ish ada-ada saja, sudah tidur sana!," perintah Krisna.


"Hei, mana mungkin aku tidur sementara tuan putri di kamar ini sedang sendirian? Hanya untuk melamun saja dia butuh ditemani," sindir Poda.


"Bus*t dah ni anak, habis makan apa sih Poda kenapa menjadi sok romantis seperti ini," batin Krisna.


"Hei, apa kamu tidak mendengarku," tanya Poda yang merasa didiamkan.


"Aku mendengarmu, hanya saja aku tidak berselera berdebat denganmu," jawab Krisna.


"Aku tidak suka kamu mendiamkanmu seperti ini," ketus Poda.


"Nah kan iya, sebentar dia baik sebentar lagi dia marah dasar labil! Beruntung saat ini aku berada dalam suasana hati yang baik kalau tidak aku pasti mengutukmu," pikir Krisna.


"Kamu seperti bunglon," ucap Krisna datar.


"Kenapa begitu? Buakankah aku tampan seperti ini? Apakah penglihatan kamu sedikit terganggu?," gumam Poda.


"Susah juga ternyata bicara sama kamu," sindir Krisna.


"Baiklah aku mengalah, aku tidak ingin berdebat," lirih Poda.


"Bagus, dan sekarang aku ingin tidur tolong menyingkirlah!," perintah Krisna.


"Hm," ucap Poda acuh yang hampir menyerupai suara gumaman.


"Terserah kamu saja," pikir Krisna.


Kini mereka berdua tidur dalam diam. Keduanya di takdirkan bersatu dalam ruangan itu, namun tidak bisa bersatu dalam hal lain.


Poda langsung merebahkan tubuhnya, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Lalu mencoba memejamkan mata. Sebenarnya dia belum mengantuk namun tetap berusaha memejamkan mata.


Sementara Krisna, matanya masih terbuka lebar mengamati langit-langit kamar. Perpaduan antara warna abu-abu dan hitam membuat nuansa ruangan itu terkesan elegan.


Merasa nyaman berada di sana, terlebih jika Poda memperlakukan manis. Dia merindukan pelukan yang dulu begitu hangat. Dia merindukan kecupan manis yang selalu dilakukan sebelum tidur.


"Arrgghhh! Cukup! Aku akan menghentikan hal bo*oh tu! Benar-benar tidak bermanfaat, aku sendiri juga bingung kenapa bisa terjerumus seperti ini," gerutu Krisna.


Poda yang masih pura-pura tidur hanya mendengarkan ocehan Krisna. Sampai di titik mana wanita itu betah menggerutu. Kebiasaan buruk itu tidak pernah pudar.


"Aku akan pulang malam ini! Oke baiklah aku pulang sendiri karena kamu tidak akan mengantarkanku," gumam Krisna.


Krisna beranjak dari tidurnya hendak melewati Poda. Namun tangan Poda segera menggenggam kaki di depannya.


"Aaaaa! Apa-apaan ini? Kenapa kamu menyentuhku?," teriak Krisna.


Sontak membuat Poda langsung berdiri dan membekap mulut Krisna. Untuk yang kedua kalinya wanita itu berteriak di kamarnya. Dan untuk kedua kalinya juga wanita itu membuat Poda merasa gemas ingin memangsanya.


"Ssttt... Diamlah, tolong jangan membuat kegaduhan disini," lirih Poda.


"Aku mau pulang," pinta Krisna.


"Malam ini tidurlah, esok aku akan mengantarmu pagi sekali," ucap Poda


"Tapi aku tidak mau disini, aku ingin mengakhiri hal terlarang seperti ini! Apa kamu tidak berpikir jika kita kelewat batas?," tanya Krisna datar.


"Jika kali ini kamu tidak menghentikan kebiasaan ini, aku yakin akan menghentikan hubungan kita! Aku tidak mau terlarut dalam situasi terlarang seperti ini! Aku cukup menyesal dengan semua yang pernah ku lakukan denganmu!," sesal Krisna dalam hati.


"Baiklah jika itu maumu, lantas bagaimana cara kamu pulang? Ini sudah tengah malam, apa kamu mau kita di sidang di depan banyak orang? Kamu tidak malu akan hal itu?," tanya Poda.


"Lebih baik aku malu sekarang daripada malu melakukan hal yang tidak bermoral!," jawab Krisna ketus.


"Sebentar aku akan melihat situasi di luar," ucap Poda.