
Selesai memoles wajahnya Krisna keluar. Tak lama setelah itu penghulu datang dan ijab qobul dilakukan.
"Grogi," bisik Poda sebelum laki-laki itu menjabat tangan penghulu.
"Slow baby," ucap Krisna menenangkan seraya menggenggam tangan kiri Poda.
Campuran luka dan duka bersatu memenuhi hati memaksa benak mengingat setiap kenangan pahit yang telak. Di tengah ijab Krisna menangis dalam diam. Seluruh air matanya luruh tanpa ada yang menyuruh.
Membanjiri make up sederhana miliknya mungkin juga membuatnya luntur seketika. Wanita itu sudah menahan mati-matian, tapi air mata tetap turun begitu saja.
Dia menyesal karena terlahir di keluarga yang tidak pernah menganggap ya. Lalu bertemu dengan laki-laki yang harusnya mendari sandaran, tapi justru membuatnya merasa kekecewaan. Bertemu dengan laki-laki sebaik Terry tapi diwaktu yang salah.
Sebelum Terry, lebih dulu Krisna bertemu Raka yang jga akan merelakan hidupnya, tapi wanita itu hanya menganggapnya sebagai teman semata. Sebelum Raka, dan sebelum-sebelumnya lagi dia selalu dipertemukan dengan lelaki baik yang rela memberikan bahunya untuk bersandar namun tak sekalipun membuat hatinya goyah.
Air mata tidak berhenti hingga kata SAH menggema. Bahkan setelah berdoa, wanita itu kembali terisak mengingat semuanya. Mendadak dia ingat ucapan Terry tempo hari.
"Jangan menyesal semua sudah terjadi, ingat aku rela menjadi yang kedua," batin Krisna.
Rasa bersalah menyapu hati yang tak lagi suci. Krisna merasa bersalah karena tidak memberi tahu Terry akan hal ini.
"Berhenti menangis, semoga kamu bahagia," ucap Poda seraya menggenggam kedua jemari Krisna lalu meremasnya lembut.
"Cup" Poda mencium kening Krisna lalu menghapus air matanya.
"Kita sudah resmi menyatu, semua prosesi sudah selesai. Tidak ada foto ataupun video. Tidak ada pengabdian di pernikahan ini seperti permintaanmu," ucap Poda.
"Terima kasih," ucap Krisna lirih.
Hari-hari dilalui dengan rasa yang masih sama. Poda memiliki jiwa yang masih labil. Dia tidak bisa konsisten dengan ucapannya.
Satu bulan kemudian, Krisna melahirkan anak pertamanya di Rumah Sakit Umum Daerah. Beruntung proses kelahirannya lancar dan bayi mungilnya lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Tiga bulan Krisna menjalani kewajibannya sebagai seorang ibu. Kini tibalah saat dimana dia harus kembali bekerja.
Hari pertama bekerja, Krisna tidak sengaja bertemu Terry yang menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan.
"Maaf," ucap Krisna pertama kali.
Dia merutuki kebodohannya, dari sekian banyak kalimat kenapa harus kata maaf yang terlontar. Namun entah mengapa Krisna merasa harus mengucapkan itu.
"Untuk apa?," tanya Terry.
"Em," ucap Krisna seraya berpikir.
"Untuk pernikahan dan Kelahiranmu? Aku sudah tau, lagi pula kenapa harus minta maaf? Itu sudah menjadi keharusan untukmu," tukas Terry.
"Darimana kamu tau? Bahkan aku tidak menyebar undangan," tanya Krisna bingung.
"Kita berada di kota yang sama, temanmu banyak yang menjadi temanku. Kamu tidak memberi tau siapapun, tapi bukan berarti tidak ada yang tidak kesana kan? Ya meskipun kamu meminta mereka jangan membocorkan pernikahanmu," jawab Terry.
"Lalu kenapa kamu tidak datang jika kamu mengetahuinya?," tukas Krisna cepat.
Sekali lagi Krisna merutuki ucapan yang terkesan seperti permintaan.
"Aku tidak mau kamu membatalkan pernikahanmu karena kehadiranku," ucap Terry.
"Asal kamu tau saat itu hanya kamu yang ada di pikiranku. Tapi nggak usah bilanglah, daripada kamu tambah GR," batin Krisna.
"Maaf, pernikahanku lebih penting dari kamu. Jadi mana mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu," gerutu Krisna.
"Aku tidak memintamu, lagi pula aku tidak menginginkan itu," ucap Krisna di tengah rasa malunya.
"Bibirmu tidak menginginkan, tapi hatimu mengharapkan," goda Terry lagi.
Rasanya sudah lama Terry tidak menggoda Krisna seperti itu. Dia terlalu sibuk menjaga hatinya agar tidak ada penghuni lain selain Krisna. Bahkan Terry rela menaruhkan hidupnya untuk menjadi ayah sambung ketika Krisna masih mengandung.
Wajah Krisna mulai memerah. Sudah lama juga wanita itu tidak merasa malu dan bersemu. Kini dia merasakan hal itu lagi. Saat bertemu dengan Terry dan tanpa disadari.
"Sudahlah, simpan saja rasa malumu untuk suamimu. Aku tidak membutuhkan jiwa malumu," ucap Terry pura-pura kesal.
"Terry! Kamu menyebalkan!," jerit Krisna sembari mendekati Terry bermaksud akan memoles laki-laki itu.
"Cup" justru bibir keduanya saling bersentuhan saat Terry berusaha menghindar dan Krisna berusaha mengejar.
Tanpa sadar Terry ******* bibir yang telah menyatu dengan miliknya. Keduanya melepas rindu dengan cara seperti itu. Hampir saja Terry membawa Krisna ke pelukannya, tapi wanita itu segera sadar dengan dunianya.
"Brak" Krisna mendorong Terry hingga terjatuh sementara Terry masih memegang jemarinya.
Keduanya jatuh dengan posisi Terry berada di bawah Krisna. Dengan wajah malu, Krisna berdiri dan mengeluarkan Omelan khas miliknya.
"Terry! Apa-apaan sih mesum gini. Udah nggak punya pacar ya? Makanya cari jangan kelamaan jomblo," gerutu Krisna kesal.
"Gimana mau cari pacar kalau aku udah naksir istri orang," ucap Terry santai.
"Sial! Kenapa harus ketemu dia sih? Bisa khilaf beneran nanti," gerutu Krisna dalam hati.
"Pergi sana! Daripada aku khilaf," usir Terry.
"Dengan senang hati," ucap Krisna.
Wanita itu pergi meninggalkan Terry yang masih menatapnya. Dari kejauhan, Krisna memberanikan diri menengok ke belakang melihat ke arah Terry.
Lambaian tangan Terry bersama senyuman membuat Krisna semakin gugup.
"Damn! Gitu banget sih jadi orang, tapi nggak papa lah lumayan nyaman untuk sandaran," gumam Krisna.
Senja menyapa ketika Krisna baru saja tiba di rumah. Setelah menikah dia memilih hidup di rumah dan mengakhiri masa kost nya. Meski sebenarnya berada di rumah berarti mengurung diri dalam amarah.
Poda belum pulang kerja ketika Krisna bermain dengan anak kesayangannya. Pukul 19.00 WIB, Poda pulang dengan wajah yang menyiratkan kelelahan.
"Enak ya jam segini udah pulang," sindir Poda.
"Iya, kan aku emang kerja pagi sampai sore nggak sampai malem," ucap Krisna.
Poda tersinggung dengan ucapan Krisna. Laki-laki itu terhina dengan kata kerja pagi sampai sore.
"Aku kerja cari uang bukan cari selingkuhan," tukas Poda.
"Aku juga kerja nggak cari selingkuhan kok," ucap Krisna.
"Nyolot banget sih jadi istri. Udah aku mau mandi terus tidur capek," ketus Poda.
"Iya sayang, nanti aku pijitin ya," tawar Krisna.
Bagaimanapun Poda adalah suaminya. Semenjak menikah, mengalah adalah kewajiban bagi Krisna. Terlebih ketika mendapati Poda berwajah murka.
Sebenarnya laki-laki itu tampan, tapi sayang berperilaku hampir sama dengan hewan. Sifat labil serta mamanya yang selalu memanjakan membuat Poda tidak pernah sadar dengan posisinya saat ini. Seakan dia lupa jika sudah menikah.