My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 34 Gagal



Sekuat apapun aku melupakanmu


Justru semakin tegas aku mengingatmu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya Krisna mengawali paginya dengan secarik harapan. Tidak mau terlalu larut dalam kesedihan. Karena terlalu larut dalam kesedihan hanya akan membuat dia teringat sakit hatinya akan masa lalu. Bangun ketika masih petang. Di saat jam dinding menunjukkan pukul 04.35 WIB. Krisna bangun ketika merasakan sesak saat bergerak. Dia lupa jika semalam Poda menginap di kostnya. Seingatnya Krisna tidur dan baru bangun pagi ini. Namun ternyata itu hanya ingatannya yang belum sempurna. Saat nyawanya belum terkumpul semua.


*FLASHBACK ONN


Sore hari, setelah Krisna pulang kerja dia mendapati ada pesan masuk di ponselnya. Karena setelah lelah seharian Krisna tidak sekalipun membuka ponselnya. Justru dia menonaktifkan ponselnya berharap tidak ada seorangpun yang mengganggunya. Dia terlalu lelah bekerja dan tidak ingin terlalu lelah dengan hatinya juga. Karena itu Krisna membuka ponsel setelah dia tiba di kostnya


"Ddrrreeettt... drreeet.. ddrrreeettt...."


Pertanda ada pesan masuk dari aplikasi berwarna hijaunya. Krisna segera membuka dan membacanya.


From : Poda


"Nanti malam kita jalan keluar"


15.50 WIB


From : Poda


"Kenapa tidak di baca?"


16.00 WIB


From : Poda


"Kenapa tidak ada yang di baca?. Belum pulangkah atau kamu sesibuk itu?"


16.15 WIB


"Kenapa tiba-tiba mengajakku jalan? Apakah dia tidak lelah? Biasanya selalu menolak ajakanku ketika aku mengajaknya jalan", pikir Krisna.


Bukannya Krisna tidak punya harga diri, hanya saja dia tidak mau jalan dengan laki-laki lain kecuali Poda. Kecuali jika dirinya berada ditingkat kekecewaan yang teramat dalam. Sesekali dia bisa khilaf. Namun tidak jalan dengan sembarangan pria. Hanya orang terdekatnya saja yang akhirnya bisa menemani Krisna keluar. Krisna tidak cantik, tapi cukup menarik sebagai teman kencan dan sedikit gurauan.


Beruntung sekali kepada laki-laki yang bisa mendapatkan hati Krisna. Jika laki-laki itu tulus, dia akan sangat bersyukur mendapatkan Krisna. Bagaimanapun Krisna sangat tertutup kepada orang lain. Apalagi untuk mengetahui kepribadiannya. Terlebih untuk bisa membuka dan masuk ke dalam hatinya. Benar-benar sosok yang berparas rupawan dan hati yang teramat istimewa. Itulah prinsip laki-laki yang selama ini menaruh kekaguman terhadap dirinya. Bahkan seorang Raka pun tidak bisa menyentuh hatinya. Apalagi bawahan dan orang-ora biasa seperti yang lainnya.


Namun prinsip itu tidak berlaku untuk sang pencuri hati sendiri. Krisna tidak pernah sekalipun berfikir akan menaruh hatinya kepada seseorang yang rupawan atau bahkan berlimpah kekayaan. Dia hanya mendambakan sosok laki-laki sederha yang mampu menerima semua kekurangannya. Sesederhanakah itu. Namun menurut Krisna itu tidak sederhana nyatanya orang yang selama ini di cintanya jauh dari harapannya. Apakah Krisna menyukai orang yang salah.


From : Poda


"Aku merindukanmu"


From : Krisna


"Oke"


Krisna menunggu Poda dalam keheningan kamar kostnya. Pukul 19.00 WIB Poda belum datang juga. Sebenarnya mereka mau kemana. Dan mereka akan pulang jam berapa. Cuaca kali ini juga sepertinya tidak mendukung. Sejak sore tadi, langit sudah menampakkan awan gelapnya. Namun masih belum terlihat tetesan air turun dari sana.


Tidak sabar menunggu Poda padahal waktu sudah larut malam. Takut jika nanti hujan dan mereka tidak jadi berpergian, akhirnya Krisna mengirim pesan kepada Poda.


From : Krisna


"Belum pulang?"


From : Poda


"Sudah di jalan"


From : Krisna


"Satu jam lagi?"


From : Poda


From : Krisna


"Aku tidak mendengar suara maticmu"


From : Poda


"Aku jalan kaki dari kostku"


Merasa penasaran akhirnya Krisna membuka pintu kamarnya. Ternyata benar Poda berdiri di sana dengan celana jeans pendek navy, kaos putih berbalut hacker abu-abu. Serta memakai sandal gunung. Pesona sederhana yang selalu membuat Krisna bertekuk lutut di hadapannya. Meskipun Poda hberkulit sawo matang, namun Krisna suka melihatnya memakai celana pendek. Melihat bulu-bulu halus di kakinya, selalu membuat gejolak di dada Krisna semakin bertambah.


Mempersilahkan Poda masuk lalu menutup kembali pintunya. Tepat setelah Poda duduk di atas kasur, tiba-tiba ada kilatan petir terlihat menyambar dengan suara yang amat keras. Seketika itu juga suara atap kamar terdengar seperti suara hujan deras. Mendadak pasrah akan takdir Tuhan yang sepertinya akan membuat mereka membatalkan acara jalan-jalan malamnya.


Hembusan angin yang masuk melalui celah di atas jendela membuat udara di dalam kamar menjadi dingin. Tanpa di minta, Poda menutup celah itu dengan kertas yang ada di kamar. Berharap agar angin tidak mampu lagi masuk ke kamar.


"Hujan," ujar Poda.


"Aku tau," jawab Krisna.


Poda melirik Krisna sekilas, merasa jengkel atas ucapan Krisna.


"Siapa yang gila? Aku atau kamu? Aku juga tahu kalau ini hujan," gerutu Poda namun berhasil di dengar Krisna.


"Yang bodoh kamu sudah tau hujan malah bilang hujan! Aku tahu ini hujan bukan panas," Krisna berkata dengan geram.


"Kamu tidak kedinginan?," tanya Poda lagi.


"Tidak," kawab Krisna datar.


"Biasanya jika hujan kamu selalu memelukku?," lirih Poda.


"Bukankaj kamu yang selalu memelukku? Kamu sering cari kesempatan dalam kesempitan," Krisna menjawab dengan ekspresi yang masih saja datar.


Poda diam tidak bergeming. Dia merasakan skak mat. Seperti sebuah Ratu dalam permainan catur yang sudah dikelilingi banyak pasukan lawan. Bagaimanapun dia berjalan, tetap saja kalah.


"Kita tidak jadi pergi kan?," Poda bertanya meski dengan pertanyaan bodoh.


"Jadi," jawab Krisna.


"Kemana?," tanya Poda penasaran.


"Benar saja Krisna memang tidak bisa di tebak, terkadang dia melakukan hal di luar dugaan! Tentu saja dengan melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan, salah satunya bermain di bawah derasnya hujan, bukan kali ini saja Krisna tetap mengajak pergi ketika hujan," pikir Poda


"Ke dalam hatimu mengarungi sungai yang tak kan pernah habis airnya," jawab Krisna cengengesan.


"Apaan sih kris, garing banget," ucap Poda kesal.


Dia bertanya dengan sungguh-sungguh namun hanya dijawab dengan perumpamaan yang tidak penting menurut Poda.


"Ih sayang, aku hanya mencoba mengajakmu bercanda dengan rayuan gombal ku," gerutu Krisna dengan bersungut-sungut dan memanyunkan bibirnya.


"Oh, tadinya aku berpikir kamu belum meminum obatmu namun sepertinya kamu memang benar-benar gila," ucap Poda tanpa melihat Krisna.


"Hem," tukas Krisna yang mendadak cemberut.


"Sayang, kamu tau kenapa aku ke sini jalan kaki?," tanya Poda. Mungkin setidaknya tidak membuat Krisna marah atau cemberut.


"Tidak, memang kenapa?," jawab Krisna yang mulai penasaran dengan pertanyaan Poda.


"Benar saja Krisna langsung penasaran, benar-benar mudah di tebak," pikir Poda.


"Karena aku hanya ingin berjalan menuju hatimu dan bersemayam disana bukan berjalan dari kostku menuju kamarmu," lirih Poda.


"Ih, kamu apa-apaan," rengek Krisna dan Poda langsung membawa kedalam pelukannya.