My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 17 Aku Lelah



Dalam cinta


Jangan pernah percaya karena semua dusta


Dalam jiwa


Jangan pernah percaya akan sebuah rasa


Dalam raga


Cukup percaya


Jika Tuhanlah yang paling sempurna membolak-balikkan hawa


Aku pernah mencintaimu


Ketika kamu tak lagi memperdulikan ku


Aku pernah menyayangimu


Ketika kamu tak hanya menyayangiku


Akankah kamu berpikir jika aku lelah


Aku lelah ketika semua tak lagi sama


Aku lelah ketika kehadiranku dianggap sama


Bahkan kini


Kau samakanku dengan sebuah debu


Yang hanya berlalu


Tanpa ada yang menunggu


Semua terasa sakit


Jika aku sedikit mengungkit


Berusaha untuk lupa


Bahkan membuatku semakin sadar akan pedihnya luka


Menganga


Tak disapa


Dan tanpa dipinta


Tetaplah abadi di dalam sana


Bersemayam indah dalam jiwa


Karena aku percaya


Jika cinta datang menyapa


Maka luka hilang dengan sendirinya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seolah melupakan lara yang baru saja. Bahkan luka itu hanya beberapa hari yang lalu. Namun Krisna benar-benar melupakannya. Melupakan untuk saat ini. Untuk nanti, esok dan kelak, hanya takdir yang tahu. Krisna bergegas bangun dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengguyur badan yang terasa lengket itu dengan hangatnya air shower.


Membiarkan rambut panjangnya terkena kucuran shower, mengingat betul kejadian yang pernah dilakukan. Tentang penginapan, tentang malam panjang, dan tentang kebodohannya yang memberikan mahkotanya untuk laki-laki yang saat semalam tidur bersamanya. Ingin rasanya mengulangi semua keindahan itulagi. Andai saat ini dia sedang tidak terluka mungkin semalam akan melakukannya dengan senang hati. Namun nyatanya rasa sakit yang dirasa masih dengan jelas bertengger di benaknya. Memberi shampo aroma strawberry kesukaannya. Menghirup dalam aromanya. Meresapi dan menikmati aromanya. Menggosok seluruh tubuh, berharap kotor sisa semalam benar-benar hilang. Karena bagaimanapun dia merasa hina dengan dirinya sendiri. Terlebih nafsu telah menguasainya.


Membasuh rambut panjangnya untuk kedua kali guna menyelesaikan ritual mandinya. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama, namun takut kedinginan merasuki tubuhnya. Selesai mandi, segera mengusap seluruh tubuhnya dengan handuk, lalu memakai kimono yang kemarin di beli dalam perjalanan pulang. Rambut basahnya sengaja digerai. Membiarkannya supaya cepat kering.


Setelah Krisna selesai, dia segera keluar dari kamar mandi. Poda menatap Krisna tanpa berkedip. Jarang sekali dyi melihat Krisna sudah mandi ketika dia bangun tidur. Biasanya mereka selalu bangun dan mandi bersama.


"Sudah mandi? Kenapa tidak membangunkanku?," tanya Poda dengan memincingkan matanya.


"Aku takut mengganggumu," jawab Krisna datar.


"Tidak, tapi kali ini aku yang mengganggumu," ucap Poda merasa bersalah.


"Tidak ada yang bisa membantahku saat ini! Dan untuk keberangkatanmu aku tidak mengijinkan!," teriak Poda.


"Baiklah, tapi aku tetap akan pergi hari ini," tegas Krisna.


"Tidak," sentak Poda.


Kemudian Poda menarik Krisna menuju ranjang. Bermaksud akan melampiaskan keinginannya namun Krisna berontak.


"Mungkin kamu akan menikmatinya hanya saja saat ini kamu berpura-lura menolak," pikir Poda.


Namun tanpa di sangka Poda sebelumnya, hal mengenaskan menimpanya. Setelah Poda menjatuhkan dirinya ke ranjang, Krisna segera memberi Poda hadiah tendangan di sela ******** Poda.


"Shit! Kamu berani menolakuu heh?," umpat Poda kasar.


"Ingat! Aku bukan budak nafsumu walaupun aku menikmatinya, karena membantahmu itu hal mustahil," ucap Krisna ketus.


"Aku tahu maafkan aku," lirih Poda pura-pura menyesal padahal hanya untuk mencari simpati Krisna.


Krisna tidak menjawab ucapan Poda. Dia hanya diam dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Sementara Poda mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi. Menyalakan shower yang terdengar dari luar. Selesai Poda mandi, mereka berdua turun kebawah. Bersiap untuk sarapan. Mereka duduk bersebelahan namun masih saling diam belum ada yang memulai pembicaraan.


"Sayang jangan pergi," pinta Poda.


"Aku tetap akan pergi," ucap Krisna.


"Kamu mau kemana?," Ayah Poda angkat bicara.


"Kembali ke Sema*rang," Poda menjawab ketus.


"Tolong jangan pergi, tetaplah disini menemani Poda hingga kembali seperti sedia kala," pinta sang ayah.


"Eh, apa-apaan ini? Mereka tidak tahu apa yang kurasakan dan sekarang memintaku tetap disini? Bahkan mereka tidak tahu jika beberapa hari lalu anaknya melakukan pengkhianatan kepadaku?," batin Krisna.


"Tidak om, saya harus kembali ke sana," ucap Krisna lirih.


"Pokoknya kamu harus disini, aku tidak peduli seberapa penting kamu disana! Aku ingin kamu selalu disampingku!", teriak Poda.


Krisna hanya bisa diam. Bagaimanapun dia menolak, tetap saja keputusannya selalu tidak di terima.


Mendapat tatapan tajam dari mereka berdua, Krisna akhirnya pasrah. Semua akan berakhir tragis jika dia sedikit saja membantah.


"Anak dan ayah sama saja, seharusnya sang ayah berlaku sedikit bijaksana, tidak seperti ini!," gerutu Krisna dalam hati.


Tanpa menyelesaikan makan, Krisna kembali ke kamar. Dia menangis dalam diam. Tidak bersuara namun air mata menetes perlahan.


"Tidakkah ada yang tahu bagaimana perasaanku? Tidakkah ada yang peduli bagaimana lelahnya menjadi aku? Bahkan orangtuaku sekalipun! Mereka semua egois! Mengapa aku yang selalu menjadi korban?," lirih Krisna.


Tanpa Krisna menyadarinya, tiba-tiba Poda datang memeluknya. Semenjak Krisna meninggalkan acara sarapan paginya, Poda segera berlari mengikutinya. Ketika Krisna masuk ke kamar, dia hanya berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu juga mendengar Krisna menangis dan bergumam lirih. Poda kemudian mendekat ketika melihat keadaan Krisna tak kunjung membaik.


"Tolonglah, kali ini saja kamu menemaniku," pinta Poda.


"Kamu terlalu egois selalu memintaku disampingmu namun tak pernah sedikitpun kamu memperdulikan ku! Begitukah caramu mencintaiku? Aku melakukan semuanya untukmu dan aku memberikan semua yang kupunya untukmu, jadi ini balasan darimu?," Krisna berbicara dengan gemetar serta air mata yang kembali menetes. Dia benar-benar lelah.


"Maaf sayang," lirih Poda.


"Untuk sesuatu yang menyakitkan?," tanya Krisna.


"Tidak, tapi untuk waktu yang tidak pernah ku berikan," jawab Poda.


"Kamu menyadarinya namun tetap saja kamu tidak melakukannya kan?," tanya Krisna lagi.


"Aku akan berusaha meluangkan waktu untukmu," jawab Poda.


"Waktu untuk selalu membohongiku? Waktu untuk selalu mengkhianatku? Atau waktu untuk selalu menyiksaku?," cerca Krisna dengan berbagai pertanyaan seraya tertawa sinis seperti ada lelucon diantara kata-kata ya.


"Jangan membuatku murka," ancam Poda.


"Bahkan kamu tidak bisa sedikit saja membuang egomu," sindir Krisna dengan senyum sinis.


Aku mencintaimu," ucap Poda.


"Omong kosong," batin Krisna.


"Saat itu kamu hadir dengan segala kelembutanmu, dengan bodoh aku terjatuh ke pelukanmu! Aku tidak pernah menyelidiki lebih dulu tentang siapa kamu, tentang orang-orang di sekelilingmu, juga tentang kehidupanmu, aku terlalu mudah tergoda tanpa memikirkan bagaimana akan menjalaninya, aku tidak pernah berpikir akan luka yang saat ini ku rasa! Aku terlalu bodoh menjalani semuanya! Arrgghhhhh!," teriak Krisna seraya mengacak rambutnya penuh putus asa.