My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 127 Ikatan Batin



"Belajarlah menerima jika kamu ditakdirkan menjadi yang kedua. Aku terlalu egois untuk memilikimu namun tidak bisa pergi darinya. Ku mohon mengertilah," gumam Krisna.


Terry sadar akan salahnya. Malah dengan sengaja dia meminta Krisna untuk menerimanya.


"Bodoh! Hal terbodoh adalah ketika aku mencintai istri orang," rutuk Terry.


Senja hampir saja kembali ke peraduan, pertanda mereka harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Keduanya kembali ke kantor masing-masing dan berpisah seperti biasa.


Hanya siang waktu yang menjadi kesempatan untuk bertemu. Karena pagi dan malam adalah waktu yang sibuk untuk mengurus sang buah hati.


Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, saat Krisna memasuki pelataran rumahnya. Di sana sudah ada bayi kecil yang menunggunya dengan senyum imutnya. Tak lain adalah Anggar Andrean. Anak pertama yang sangat dicinta.


"Hallo sayang, mama udah pulang kerja kok. Bentar ya mama mandi dulu," sapa Krisna kepada Anggar.


Lagi-lagi Anggar tersenyum lebar menampilkan giginya yang mulai tumbuh.


Krisna berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tidak lupa melakukan segala ada istiadat untuk ibu yang masih menyusui menurut tradisi Jawa.


Hidup di desa membuatnya dikelilingi dengan pantangan yang sangat kental. Beruntung perihal pekerjaan Krisna berada di kota. Selesai membersihkan diri, Krisna segera menghampiri Anggar dan bermain dengan bayi mungil itu.


"Sayang, apa kabar? Bagaimana untuk hari ini? Maaf mama sedikit kurang memperhatikanmu, tapi mama tetep sayang kamu Anggar," gumam Krisna.


Anggar seakan tahu bahasa sang mama, dia tersenyum sumringah seraya berusaha menarik wajah mamanya.


"Cup" Anggar mencium pipi mama seolah memberi kekuatan agar tegar menghadapi kenyataan.


"Terima kasih sayang, mama bahagia memiliki kamu," ucap Krisna.


Meskipun Anggar belum bisa bicara, Krisna tetap mengajaknya berkomunikasi. Sebentar saja tidak mendengar suara Anggar, wanita itu merasa dunianya hambar.


Waktu berjalan begitu cepat saat Krisna dan Anggar masih bermain. Tak terasa waktu menunjukkan jam dimana Poda seharusnya sudah pulang.


"Klek" pintu terbuka menampakkan sosok Poda yang bersifat dingin seperti biasa.


Tidak lagi rasa kecewa yang dirasa, namun rasa ingin segera mengakhiri semuanya. Setiap melihat laki-laki yang kini menjadi suaminya, Krisna akan teringat semua luka yang pernah dialaminya.


Poda mandi dan berganti pakaian lalu menghampiri Anggar.


"Sayang, papa pulang," ucap Poda yang hanya mendapat tatapan datar dari Anggar.


Bahkan Anggar tidak merespon seperti ketika Krisna menyapanya.


"Sayang, jangan begitu sama papa. Ayo senyum biar tambah ganteng," bujuk Krisna.


Anggar tetap diam. Kali ini menatap wajah mamanya yang tiada henti membujuknya.


"Apa Anggar merasakan luka yang aku rasakan? Sayang, jangan melihat mama seperti itu," batin Krisna.


"Yaudah kalau nggak dianggep mending aku pergi," tukas Poda.


Senyum lebar terbit di bibir Anggar setelah mendengar ucapan Poda. Sementara Krisna di sampingnya justru bingung dengan anak laki-lakinya.


"Apa Anggar ingin menjauh dari Poda? Tapi tidak baik memisahkan anak dan papanya," gumam Krisna setelah melihat Anggar dan Poda menjauh ke luar rumah.


"Entahlah aku tidak tau dengan semua ini. Berbagai resiko mmncul dengan saling mengucapkan apa kelebihan dan kekurangannya," gumam Krisna.


Malam hari Anggar tidur dengan tenang tidak seperti malam sebelumya yang selalu rela begadang untuk memastikan apa yang dilakukan mama ketika menemaninya.


"Terima kasih," ucap Krisna kepada Anggar.


Sorot mentari menembus batas antara jarak pandang dan kenyataan. Berteman tetes embun yang masih menyejukkan tentu mampu membuat jiwa merasakan nyaman.


Seperti biasa Krisna bangun untuk melakukan kewajibannya sebagai ibu sebelum berangkat bekerja. Kantor, tentu saja masih dengan jarak satu jam dari rumahnya. Dan Anggar sudah pasti menjadi kewajiban setiap paginya.


"Sayang, mama berangkat kerja dulu," pamit Krisna kepada Anggar.


Setelah menempuh satu jam perjalanan, Krisna tiba di kantor tempatnya bekerja. Jauh bukan menjadi alasan untuk berhenti dari pekerjaannya. Bagaimana jika usia golden ages butuh kasih sayang seorang ibu? Pertanyaan yang tepat dilontarkan untuk Krisna.


Tentu saja Krisna dengan berat hati meninggalkan putra kecilnya demi masa depannya kelak. Dia bukan wanita dari keluarga kaya. Sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja harus rela bekerja. Lalu bagaimana dengan Poda? Sudah dikatakan entah dia laki-laki berjenis apa.


Menjadi seorang suami yang tidak pernah menghargai istri. Sekalipun sang istri adalah wanita yang hidup dalam kesusahan. Bisa dibilang sampai saat ini belum pernah bertemu titik terang dimana bahagia kan bersua.


Melakukan absen finger seperti biasa, lalu berjalan memasuki ruangannya. Lebih tepat ruangan milik Raka yang telah ditinggalkannya dua tahun lalu.


"Ddrrtt ddrrtt ddrrtt" ponsel bergetar saat wanita itu baru saja mendudukkan pantatnya di kursi.


Segera mengambil benda pipih, lalu melihat apa yang terjadi. Satu notif pesan muncul meski membuat sang empu sedikit kebingungan.


"Terry?," gumam Krisna.


From : Terry


"Kantor cabang di kabupaten kita membutuhkan satu sekretaris. Bagaimana jika kamu di sana? Kebetulan aku mendapat promosi jabatan sebagai GM di sana"


Sejenak wanita itu berpikir. Tidak ada yang menarik dari dirinya. Apalagi untuk menjadi sekretaris.


From : Krisna


"Aku tidak memiliki kemampuan apapun. Apalagi untuk posisi sepenting itu. Aku tidak yakin bisa mendapatkannya"


From : Terry


"Bersedia? Jika iya aku akan mengurusnya"


From : Krisna


"Tidak ada salahnya, selagi bisa lebih dekat dengan si kecil"


From : Terry


"Noted! Istirahat bisa pulang ke rumah"


Setelah pesan terakhir Terry, Krisna tidak berniat untuk membalasnya lagi. Dia mengawali hubungannya dengan Terry, tapi tidak bisa menjadikan laki-laki itu sebagai prioritasnya.


Kemudian dia sadar, jika tidak ada wanita baik yang akan menduakan pasangannya seperti dirinya. Cinta, apakah semua tentang rasa.


~Aku ingin berhenti mencintai,


tapi separuh rasaku sulit untuk dimengerti


Aku terluka,


tapi percaya masih ada yang lebih kecewa


Aku tau kamu menderita


meski tanpa suara yang tercipta~


"Mungkin saat ini aku ingin sendiri. Sendiri? Ah rasanya aku terlalu egois jika mencampakkan laki-laki yang selama ini menemaniku. Namun apa yang harus kulakukan? Saat semua angan hanya bisa terbang bersama gumpalan awan? Aku tidak terlalu pintar untuk memaknai sebuah cinta! Yang kutahu, kini aku menjadi wanita bodoh berstatus budak cinta!," Krisna bermonolog pada diri sendiri.


Dua sisi yang berbeda tentu menciptakan aura yang berbeda pula. Jika cinta pernah ada, maka dia akan senang hati mengingatnya. Tapi, saat hanya ada luka dan kecewa apakah perlu seseorang mengabdikannya?


"Aku yakin tidak ada yang lebih baik dari keputusan terberatku," gumam Krisna.