
Aku belum bisa lupa
Akan indahnya malam kita
Oleh sebab itu aku mencari cara
Agar bisa kembali ke dalamnya
Menikmati setiap keindahan ciptaan-Nya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Krisna dan Poda belum melepaskan pelukannya. Mereka masih saling berpelukan satu sama lain. Poda sangat menikmati pelukannya kali ini. Bahkan jika Krisna tidak melepaskan sampai pagipun Poda tidak mempermasalahkannya.
"Sayang?," Poda memanggil Krisna dengan lirih.
Namun tidak ada sahutan. Mungkinkah Krisna tertidur, tapi tidak mungkin. Mereka bahkan tidak di kamar. Dan ini sedang menikmati dinginnya hujan deras.
"Kris?," Poda memanggilnya sekali lagi.
Namun tak kunjung ada jawaban juga.
"Apakah Krisna benar-benar tidur?," pikir Poda dalam hati.
Poda pantang menyerah. Akhirnya dia menggoyangkan tubuh Krisna berharap Krisna segera menjawab panggilannya. Poda tidak suka didiamkan seorang diri. Apalagi didiamkan padahal mereka saling berhadapan.
"Tidak ada sahutan juga? Eh, atau mungkin Krisna tidak mendengarku? Pendengarannya kan sedikit tidak waras, tapi bukankah aku sudah mengguncang tubuhnya dan dia tidak bergeming mungkin dia benar-benar tertidur," Poda bergumam dalam hati.
Kemudian Poda menjauhkan Krisna dari pelukannya.
"Benar saja Krisna tertidur, senyaman itukah kamu berada di pelukanku? Hingga kamu dengan nyamannya ketiduran padahal kamu pasti kedinginan," dengan bangganya Poda bergumam seraya menyeringai licik.
Menatap wajah wanita didepannya dengan lekat. Wajah sendu dengan rambut acak-acakan seakan memperlihatkan jika sang pemilik raga benar-benar lelah. Sedikit membuat hati kecil Poda menjerit. Sejahat itukah dia hingga Krisna terlihat sangat lelah menghadapinya.
"Cup," ciuman itu mendarat di kening Krisna. Beruntung saat itu Krisna sedang tertidur. Andai Krisna tidak sedang dalam keadaan tidur, Poda tidak mungkin menciumnya. Poda masih terlalu gengsi mengakui perasaanya meski sebenarnya dia sangat menyayangi wanita itu, namun Poda takut Krisna mengetahuinya.
"Apa yang pernah aku lakukan hingga kamu seperti ini? Padahal dulu kamu tidak pernah sekalipun bersedih apalagi untuk menangis, kamu terlalu tegar menghadapi hidupmu, kamu keras kepala dan pantang menyerah akan ambisimu! Selalu melakukan apapun demi tujuanmu, namun itu semua sebelum aku datang menghancurkannya! Ya, aku sadar telah menghancurkan semuanya bahkan merubahkmu yang kini menjadi sangat berbeda denganmu dulu! Kini aku tak pernah lagi melihatmu bahagia, sekedar untuk tersenyumpun rasanya terlalu sulit! Aku merasakan itu semua, tapi jiwa ini terlalu tinggi hati untuk mengakui, maafkan aku," gumam Poda.
Pikirannya berkecamuk mengingat semuanya. Semua perlakuan yang selama ini dia lakukan. Hingga perubahan Krisna yang teramat dia rasakan.
"Maafkan aku kris," pinta Poda seraya mencium Krisna.
Tidak peduli jika saat ini dia seperti orang gila berbicara sendiri. Dia hanya ingin meluapkan isi hatinya dikala tidak ada seorangpun yang menyadari.
Poda membaringkan Krisna dalam pangkuannya. Membiarkan wanita itu tertidur di atas pahanya. Sementara Poda sendiri membiarkan kakinya terjulur menyentuh hujan. Dia ingin sekali merasakan tetesan itu. Mengapa selama ini Krisna menyukai hujan.
Benar saja, ternyata tetesan air hujan berbeda dengan air lainnya. Bahkan dengan red wine yang biasa dia tenggak pun rasanya berbeda. Redwine justru membuat panas dan sekedar melupakan sesaat. Sementara air hujan benar-benar membuat merasa nyaman. Mungkin inilah ciptaan Tuhan agar aku mampu mengingatNya. Selama ini aku tidak pernah sekalipun mengingatnya.
Perlahan Podapun meneteskan air mata. Betapa brengseknya dia. Betapa terlukanya orang yang dengan tulus mencintainya namun dibalas pengkhianatan yang sangat menyakitinya.
Menatap wajah wanita didepannya dengan lekat. Wajah sendu dengan rambut acak-acakan seakan memperlihatkan jika sang pemilik raga benar-benar lelah. Sedikit membuat hati kecil Poda menjerit. Sejahat itukah dia hingga Krisna terlihat sangat lelah menghadapinya.
"Cup...". Ciuman itu mendarat di kening Krisna. Beruntung saat itu Krisna sedang tertidur. Andai Krisna tidak sedang dalam keadaan tidur, Poda tidak mungkin menciumnya. Poda masih terlalu gengsi mengakui perasaanya meski sebenarnya dia sangat menyayangi wanita itu, namun Poda takut Krisna mengetahuinya.
"Apa yang pernah aku lakukan hingga kamu seperti ini? Padahal dulu kamu tidak pernah sekalipun bersedih apalagi untuk menangis, kamu terlalu tegar menghadapi hidupmu, kamu keras kepala dan pantang menyerah akan ambisi mu! Selalu melakukan apapun demi tujuanmu namun itu semua sebelum aku datang menghancurkannya! Ya,aku sadar telah menghancurkan semuanya bahkan merubahmu yang kini menjadi sangat berbeda denganmu dulu! Kini aku tak pernah lagi melihatmu bahagia! Sekedar untuk tersenyum pun rasanya terlalu sulit, aku merasakan itu semua, tapi jiwa ini terlalu tinggi hati untuk mengakui, maafkan aku," gumam Poda dalam hati.
Pikirannya berkecamuk mengingat semuanya. Semua perlakuan yang selama ini dia lakukan. Hingga perubahan Krisna yang teramat dia rasakan.
Setelah mereka berada di luar cukup lama, Poda merasa tidak tega melihat Krisna yang tidur dalam nyenyaknya. Dia lalu menggendong Krisna menuju kamar. Membaringkannya di kasur kesayangan. Sementara kepalanya dibiarkan berbantal dengan bantal dakron yang bersarung katak bermata bulat. Kero-keropi dengan warna hijau. Begitupun spray dan nuansa kamar itu. Menunjukkan betapa sang pemilik kamar sangat menyukai kesejukan.
Selimut berbulu dengan motif yang sama dengan bantalnya, dibiarkan menutupi seluruh tubuh Krisna. Hanya kepala yang tidak diselimuti. Bahkan lehernya pun tak luput dari selimut. Poda khawatir tidak bisa mengontrol dirinya ketika dihadapkan dengan wanita yang tertidur pulas. Dia paling suka mencium leher itu dengan buas.
"Good night, have a nice dream," ujar Poda sembari mengecup bibir Krisna.
Namun tanpa disadari, Krisna justru menggeliat pelan. Lalu membuka matanya perlahan. Sontak saja dia duduk dan menatap Poda kaget.
"Seingatnya dia tadi berada diluar sementara sekarang berada di kamar tercinta. Dan pria ini kenapa masih disini?," pikir Krisna.
"Kamu tidak pulang?," tanya Krisna.
"Tidak, ini sudah malam," jawab Poda.
"Terus tidur dimana?," tanya Krisna lagi.
"Di sini, di kamar ini dan di sampingmu," jawab Poda enteng.
"Ha? Aku tidak mau! Pokoknya kamu pulang!," tolak Krisna.
"Kenapa kaget? Biasanya malah kamu yang meminta aku tidur disini saat hujan, kamu takut mati lampu dan kedinginan kan?," goda Poda.
"Dasar menyebalkan!," umpat Krisna seraya mencubit pinggang Poda. Dia menyadari pipinya mulai memerah dan untuk mengalihkan perhatian Poda, dia mencubit pinggang Poda.
Alih-alih berniat mengalihkan pandangan, justru Poda malah memeluknya erat. Tidak membiarkan Krisna terlepas darinya. Bahkan untuk bernafas pun Krisna kesusahan. Tapi Poda tidak peduli. Dari tadi dia tidak bisa menahan hasratnya. Krisna hanya diam. Karena memberontak hanya akan membuat pelukan itu semakin erat.
"Aa-kuuu mau bi-ca-raa, lepas-kan a-ku!," Krisna bicara dengan terbata.
Poda lantas melepaskan tangannya. Membiarkan Krisna menghirup udara segar. Memberi waktu untuknya agar bicara.
"Kamu yakin tidur disini?," pancing Krisna.
"Iya," ucap Poda.
"Kenapa?," tanya Krisna.
"Aku tidak mau bajuku basah dan nanti aku sakit," jawab Poda bermaksud menjelaskan tujuannya.
"Oke, temani aku hujan-hujanan," pinta Krisna.
"Beruntung Krisna mengajakku lebih dulu. Padahal seharusnya aku yang mengajaknya. Kali ini urat Maluku masih tersembunyi," batin Poda.
"Siapa takut," tantang Poda.
Poda menggendong Krisna menuju keluar kamar. Membawa Krisna ke dalam derasnya hujan. Poda tidak peduli jika mereka akan kedinginan nantinya.
"I love you," ucap Poda.
"Hm," gumam Krisna.
"Heh, apa-apaan? Kamu menantang ku?," Poda bertanya dengan tatapan tajam.
"Tidak," jawab Krisna.
Tidak peduli jika orang lain melihat ini. Poda hanya ingin merasakan sesuatu yang selalu bisa membuat Krisna tertawa. Poda memeluk Krisna ditengah derasnya air hujan yang turun.