
Teruntuk kamu hidup dan matiku
Aku mengharapkanmu sebagai pelengkap hariku
Dengan segenap jiwa aku mencintaimu
Dengan sepenuh raga aku mengingkanmu
Senja
Aku berada jauh darimu
Menikmati indahnya langit jinggamu
Menyaksikan kepulangan ke peraduanmu
Temaram
Perlahan menyambut pekat dalam kerinduan
Menyisahkan pahitnya kenangan di kehidupan
Kini ketika malam menyapa
Luka itu kembali terasa
Mengungkit semua tentang perihnya derita
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Krisna keluar terlebih dulu dari ruangan itu, sementara Raka masih membenahi barang-barangnya termasuk ponsel milik Krisna. Wanita itu pergi seenaknya tanpa membawa apapun, mungkin hanya harga diri yang saat ini di bawanya. Setelah keluar dari sana, Raka celingukan mencari keberadaan Krisna.
"Kemana dia pergi?," gumam Raka.
"Hei, cari siapa?," teriak Krisna yang berhasil membuat Raka senam jantung.
"Sial! Datang tanpa di undang, pulang tanpa di antar seperti jalangkung," umpat Raka dalam hati.
"Cari wanita yang tadi bersamaku di dalam, apa kamu melihatnya?," jawab Raka geram.
Krisna kemudian memasukkan kepalanya di tengah celah pintu. Mengintip keadaan ruangan yang tadi di tempatinya. Mencari sosok wanita yang dimaksud Raka, namun tidak menemukannya.
"Apa yang dimaksud Raka adalah hantu penghuni di sini? Ih, beruntung aku tidak melihatnya," gumam Krisna dengan menggelengkan kepala dan memeluk kedua bahunya sendiri.
"Dasar! Pantas saja Poda membencimu, ternyata kamu mudah dibodo*i," lirih Raka namun masih Krisna masih mendengarnya.
"Ha? Apa maksudmu?," tanya Krisna seraya menautkan kedua alisnya.
"Maksudku, aku mencari wanita yang sedari tadi bersamaku itu kamu, bukan penghuni di dalam! Kenapa kamu malah melihat ke sana dan bergidik ngeri, dasar wanita aneh," jawab Raka.
"Kenapa wanita di depanku ini tidak bisa di tebak? Terkadang dia cerdas, pintar, namun kenapa di sisi lain dia bisa menjadi seperti ini? Apa mungkin dia terlalu lelah menahan beban hidupnya? Apakah sebenarnya wanita ini memang sedikit gila? Ah aku tidak mempermasalahkannya, aku tetap mencintainya," batin Raka. Tanpa sadar laki-laki itu tersenyum sendiri.
Sedangkan Krisna hanya memberi tatapan aneh kepada Raka. Dia tidak tahu kenapa laki-laki itu tersenyum sendiri. Wanita itu berpikir mungkin Raka sedikit terkena gangguan jiwa. Tanpa disadari, ternyata apa yang mereka pikirkan sama meskipun tidak saling mengetahui satu sama lain.
Mereka berdua saling berpandangan, namun dalam keadaan sama-sama melamun. Ketika keduanya tersadar dari lamunannya, barulah pertengkaran itu dimulai.
"Eh, kenapa melihatku seperti itu?," ujar Raka tiba-tiba.
"Aku tidak melihatmu, kamu sendiri kenapa melihatku seperti itu?," ucap Krisna dengan pertanyaan juga.
"Aku juga tidak melihatmu, mungkin perasaanmu saja, em, mungkin kamu sengaja melihatku karena mengagumi ketampananku kan?," goda Raka.
"Sebenarnya aku tahu kamu melihatku, tapi mungkin terlalu malu mengakuinya, akhirnya kamu mulai menyadari kehadiranku," batin Raka lega.
Percakapan Raka dan Krisna ternyata didengarkan oleh seseorang yang jauh dari keduanya. Sepasang mata itu menatap dengan tajam. Memaki-maki dalam hati akan kedekatan mereka.
"Aku lupa, sepertinya ponselku tertinggal di dalam," ucap Krisna.
"Iya, tapi aku sudah membawanya, ini," ujar Raka seraya memberikan benda pilih itu.
"Terima kasih, ayo pergi dari sini," tegas Krisna dengan berjalan mendahului Raka.
Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Sebenarnya belum genap satu jam Raka dan Krisna berada di sana, namun karena Krisna yang meminta untuk pergi akhirnya Raka menyetujui ajakan itu. Sampai di parkiran, Raka segera menuju pintu mobil yang ada di sebelah kanan. Bermaksud membuka mobil namun urung ketika Krisna mengatakan ingin ke kamar kecil.
"Raka, kamar kecil di sebelah mana?," tanya Krisna.
"Aku tidak tahu, ya sudah aku akan menemanimu ke sana," jawab Raka.
Saat ini Raka berjalan di depan, sedangkan Krisna hanya sebagai pengikut di belakang. Bagaimanapun, saat ini Raka lebih mengetahui dengan pasti tempat itu dibandingkan dengan Krisna. Mengikuti arah penunjuk jalan sebagai pengantar mereka ke tempat yang di tuju.
"Sial! Kenapa mereka menuju toilet? Apakah mereka akan melakukan hal bodoh di dalam sana? Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!," umpat wanita yang sedari tadi mengawasi Raka dan Krisna.
Wanita itu menampakkan dirinya tepat di hadapan Raka. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat Raka hampir saja menabraknya. Namun sadar jika dia tidak mungkin mengeluarkan umpatan di tempat umum seperti ini. Raka masih bisa menahan amarah yang selalu menyerangnya tiba-tiba.
Raka mendongak, menatap siapa orang yang hampir ditabraknya sementara orang yang hampir ditabrak juga menatap Raka. Sepersekian detik pandangan mereka bertemu, namun Raka segera mengalihkan pandangannya. Dia tidak sudi melihat wanita yang pernah mengkhianatinya.
Berbeda dengan Krisna, ketika Raka hampir menabrak orang, Krisna justru tidak sengaja menabrak Raka. Dia mengikuti Raka dengan tergesa karena merasakan sesuatu yang akan keluar. Tiba-tiba Raka berhenti, sontak saja Krisna langsung menabrak punggung Raka. Laki-laki itu langsung membalikkan badan. Hampir saja bibir manis itu menyentuh dahi wanita di belakangnya.
"Sial! Kenapa tidak sekalian aku menciumnya," gerutu Raka dalam hati.
Lebih tepatnya, ketika Raka hampir menabrak orang, dia langsung melihat orang itu dan pandangan mereka bertemu. Namun hanya sebentar karena Raka tidak sudi melihatnya. Bertepatan dengan itu, Krisna menabrak Raka dari belakang yang langsung membuat Raka membalikkan badannya.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja, bisakah kamu menunjukkan dimana kamar mandi itu? Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi," lirih Krisna.
"Itu ada di depan, aku akan menunggumu di depan pintu," tegas Raka seraya mengacungkan telunjuknya.
Krisna tidak menjawab ucapan Raka. Dia segera berlalu melewati Raka dan orang yang hampir di tabrak Raka. Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan keduanya karena yang dipikirkan saat ini hanya mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ditahannya. Baru setelah keluar dari sana, Krisna menghampiri keduanya.
"Ternyata Raka tidak jadi menungguku di depan pintu, bodoh kenapa aku mengharapkannya?," batin Krisna.
"Kenapa Raka dan wanita itu bertengkar? Apakah mereka saling kenal?," gumam Krisna.
Krisna yang berniat menghampiri Raka pun urung, dia mendengarkan perdebatan keduanya dari jauh. Selama Krisna mengenal Raka, dia tidak pernah melihat laki-laki itu berdebat kecuali jika itu berhubungan dengannya dan seseorang yang disayangi. Sayup-sayup Krisna mendengar Raka menyebut nama "Denada".
"Apakah dia Denada? Jika benar, pantas saja Raka marah," lirih Krisna.
Lima menit Krisna berada jauh dari mereka. Tidak tahu pasti apa yang sebenarnya dua insan itu perdebatkan. Namun melihat Raka tidak kunjung mengakhiri amarahnya, Krisna perlahan mendekat. Dia tidak mau Raka mempermalukan dirinya di tempat umum sperti ini. Setidaknya kedua orang itu sama-sama dewasa untuk menyelesaikan masalahnya. Bahkan bisa memilih tempat lain selain di sini.
Melihat Krisna mendekat, Raka langsung menarik Krisna ke dalam pelukannya. Mengecup pipi itu dengan penuh kasih sayang lalu menenggelamkan kepala wanita itu ke dalam dadanya.
"Ayo kita pergi dari sini, maafkan aku," lirih Raka. Wanita dalam pelukannya itu hanya mengangguk.
"Oh, jadi ini kekasihmu sekarang? Rendahan sekali seleramu," ucap wanita yang tadi hampir ditabrak Raka yang tidak lain adalah Denada.
"Iya, tapi dia lebih tulus mencintaiku tidak sepertimu!," tegas Raka.
Raka segera berlalu bersama Krisna meninggalkan Denada masih berdiri dengan kebenciannya. Dia benci ketika kehadirannya tidak dihargai.
"Raka! Urusan kita belum selesai," teriak Denada.
"Kita tidak ada urusan apa-apa lagi, jadi tolong jangan pernah mengganggu hidupku," teriak Raka tidak kalah keras dari Denada.