
Dimana ada pertemuan
Di situ juga ada perpisahan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah Krisna mendekatkan kupingnya, Raka segera berbisik di telinga Krisna. Sebenarnya Raka belum mengatakan apa-apa. Tapi Raka ingin melihat ekspresi Krisna yang menurutnya menggemaskan.
"Apa kamu mendengarku?," tanya Raka.
"Tidak," jawab Krisna polos.
"Aku memang belum bicara apa-apa," jawab Raka polos.
"Raka!," Krisna menyebut nama Raka dengan sedikit berteriak.
Sontak saja Raka langsung menjauhkan wajahnya. Kupingnya kini terasa berdengung. Bagaimana tidak, jika Krisna berteriak saat mereka berada dalam posisi berdekatan.
"Kris kenapa teriak? Sakit kupingku," ucap Raka dengan sedikit menggerutu.
"Kasihan, salah siapa nyebelin," tukas Krisna.
"Nyebelin tapi kamu suka kan?," Raka mulai menggoda Krisna.
Raka menyukai saat-saat dimana Krisna marah kepadanya padahal itu merupakan upaya yang menurut Raka membuat mereka semakin dekat.
"Ka, sebenernya kamu mau bicara apa? Kenapa jadi membodohiku seperti ini," tanya Krisna.
"Tapi kamu tidak boleh marah," pinta Raka .
"Iya-iya, au memang tidak pernah marah sama kamu," lirih Krisna.
"Kata siapa?," tanya Raka.
"Kata aku barusan," jawab Krisna datar.
"Baru saja kamu teriak dikupingku, sekarang kamu bilang jika kamu tidak pernah marah?," Raka berkata dengan alis yang dinaikkan dan menatap Krisna tajam. Seperti akan melahapnya habis tanpa sisa.
"Hehehe, maaf Raka, bahas itu terus hem?," sindir Krisna.
"Salah siapa bilang kalau kamu tidak pernah marah," jawab Raka pura-pura acuh.
"Serius ka, kamu tadi mau bilang apa?," Krisna kembali ke topik awal. Tidak mau gila karena menanggapi ocehan Raka.
"Aku tadi mau bilang ka-," Raka sengaja menggantung kalimatnya.
"Apa?," tanya Krisna yang semakin penasaran.
"Aku tadi mau bilang kalau sebenernya..," Raka menggantung ucapannya lagi. Kali ini dia melirik Krisna. Melihat bagaimana ekspresi yang nampak di wajahnya.
"Sebenarnya apa? Kenapa kamu menyebalkan seperti ini?," gerutu Krisna karena mulai terpancing emosi.
"Hahaha," Raka tertawa terbahak-bahak. Karena memang ini yang diharapkan Raka. Dia memang berniat membuat Krisna marah.
"tok..tok..tok" suara pintu diketok terdengar.
"Masuk," tukas Raka malas.
"Siapa sih? Mengganggu! Menyebalkan!," gerutu Raka.
"Mas Raka dan Krisna disuruh keluar kantor berdua, mungkin ini terakhir kali kalian melakukan perjalanan karena setelah ini Krisna akan dipindah ke divisi lain," ujar orang yang membuka pintu tersebut.
"Oke," kawab Raka pendek.
"Terakhir? Artinya Krisna benar-benar jadi dipindah?," batin Raka.
Sementara Krisna, dia sedang tersenyum. Ternyata harapannya di kabulkan. Ternyata semua tidak sesulit yang dibayangkan. Oh, mungkin saja saat ini Tuhan berpihak kepadanya.
"Ka, kamu mendengar apa yang baru saja di katakan? Aku mau dipindah, duh Raka bahagia banget aku, Finally," ujar Krisna dengan bahagia yang tanpa sadar memeluk Raka disebelahnya.
"Berarti aku harus mengakhiri perasaanku, padahal baru sekarang aku merasa mencintai seseorang dengan seluruh hatiku," batin Raka.
"Raka?," Krisna menyenggol lengan Raka. Namun tetap tidak ada respon.
"Rakaa," akhirnya Krisna berteriak tepat di depan kuping Raka.
"Eh, apa Kris? Kenapa kamu suka teriak?," jawab Raka datar. Kali ini Raka benar-benar menahan amarahnya. Sebenarnya hatinya sangat kacau, namun Krisna malah mengagetkannya. Jika saja bukan Krisna yang memanggilnya pasti sudah di marahin habis-habisan.
"Kamu tidak mendengarkanku!," ucap Krisna dengan wajah ditekuk.
"Maaf kris, kamu tadi bilang apa?," Raka menyulangi pertanyaannya.
"Aku tadi bilang kamu dengar tidak jika hari ini perjalanan kita keluar kantor terakhir, berarti aku akan dipindah dari divisi ini, bahagia banget aku," Krisna menjawab dengan nada yang dibuat sedikit alay.
Raka melirik jam di pergelangan tangannya. Menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kemudian mengajak Krisna menuju ruang administrasi untuk meminta izin melakukan perjalanan keluar kantor.
Tanpa Krisna sadari, Raka menggenggam tangannya erat. Tidak tau apa yang ada di pikiran Krisna hingga dia tidak menyadari apa yang dilakukan Raka. Terus bergandengan tangan hingga tiba di depan mobil. Raka melepaskan genggamannya. Di saat itulah Krisna sadar.
"Eh, kamu kenapa?," tanya Krisna yang tersadar dari pikirannya.
"Iya, kenapa?," jawab Raka datar.
"Kenapa aku baru sadar sekarang," lirih Krisna.
"Eh, aku kira kamu tadi mengerti," ucap Raka.
"Tidak Raka, hehehe maaf ya," pinta Krisna.
"Tidak apa-apa, aku yang minta maaf kris sudah pegangin kamu," sesal Raka.
"Duh sial, kenapa aku terlihat bod*h seperti ini? Coba dari tadi aku sadar jika Raka pegangin aku pasti sudah aku lepas dari tadi padahal dari tadi muter-muter dari ruangannya, ke admin terus jalan ke sini, ya Tuhan, apa kata mereka? Pasti yang liat menganggapku wanita gampangan, pasti mereka mikir aku hanya mau deketin Raka, aarrgghhhhh," gerutu Krisna dalam hati seraya mengacak rambutnya sendiri.
"Kris, ayo masuk," ujar Raka yang sedari tadi sudah masuk ke mobil. Menunggu Krisna masuk namun tidak masuk juga.
"Eh, iya," jawab Krisna.
Raka mulai menginjak gas. Mobil itu melaju pelan keluar dari halaman kantor. Melewati gerbang kantor, menyalakan klakson sebentar. Lalu memberikan surat izin keluar kepada security yang sedang berjaga.
"Aku keluar sama Krisna," ucap Raka ketika memberikan surat izin tersebut.
"Baik mas," jawab security.
Raka kembali melajukan mobil kantor. Keluar dari area kantor dan menembus padatnya jalanan kota.
Di dalam mobil, Raka sesekali menengok Krisna yang duduk di sebelahnya. Memutar lagu mellow karena Raka tau Krisna sangat menikmati lagu bergenre mellow tersebut.
"ku cinta kau
bukan karena kau begitu berarti
ku cinta kau
bukan karena kau terlihat sempurna
tapi karena hadir dirimu
membuat aku merasa sempurna
aku tak tahu sampai kapan usiaku
tapi cintaku hanya untukmu
ku sayang kau seperti hembusan nafas dari hidupku
bagaimana mungkin ku berhenti mencintaimu"
Lagu yang dinyanyikan "Jihan Audi ~ Kau Berarti Untukku" mulai terdengar.
Krisna mendengarkan dengan saksama. Menikmati lagu yang mewakili perasaannya tersebut. Sedikit heran karena tidak biasanya Raka memutar lagu itu.
"Kenapa ada lagu seperti ini? Biasanya kamu nggak suka mellow", Krisna mengutarakan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Sengaja biar kamu seneng kris," jawab Raka dengan menampilkan senyum termanisnya.
Kemudian Raka dan Krisna sama-sama terdiam. Menikmati lagu yang mengalun merdu. Memecah keheningan diantara keduanya.
"Kris, ini terakhir kita keluar berdua?," pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Raka.
"Iya ka", jawab Krisna datar. Dia tidak mengetahui maksud pertanyaan Raka.
"Kamu tidak akan merindukanku jika kita jarang bertemu?," tanya Raka.
"Hahaha, tidak. Kenapa? Apa kamu merindukanku?," goda Krisna.
"Kamu tetap tidak menyadari jika aku mengharapkan kamu?," pikir Raka.
"Kenapa?," tanya Raka.
"Karena kita hanya teman, kenapa aku harus merindukanmu," jawab Krisna polos.
"Kris," lirih Raka.
"Hm?," gumam Krisna
"Kamu tau kita akan kemana?," tanya Raka.
"Tidak, biasanya kamu tidak pernah bilang," jawab Krisna.
"Kita mau ke area Pak*m kris," ujar Raka.