My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 68 Tabir Surya



Untuk saat ini yang terpenting bukan hanya menjaga kesehatan


Namun tetaplah menjaga perasaan


Karena percuma saja kamu sehat jika kamu tetap menjadi pengkhianat


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Aku sudah merasa lebih cepat dari biasanya," jawab Krisna seraya memanyunkan bibirnya.


"Baiklah, terserah bagaimana menurutmu," ucap Raka acuh seraya berlalu meninggalkan Krisna.


"Kenapa hari ini Raka aneh sekali? Tidak biasanya dia bersikap acuh," batin Krisna.


"Kamu mau kemana?," teriak Krisna.


Raka hanya mengangkat bahunya. Dia pura-pura tidak mendengar. Tetap berjalan lurus tanpa memperdulikan Krisna yang masih berdiri di dekat mobil.


"Hei, tidak bisakah kamu bicara?," teriak Krisna lagi.


Beruntung siang itu suasana sedikit sepi. Padahal biasanya di sana adalah pusat keramaian. Mungkin siang itu banyak orang yang memilih menghabiskan waktu di tempat lain.


Raka yang merasa risih mendengar Krisna berteriak segera membalikkan badannya. Mengamati wanita itu dari kejauhan dengan tatapan tajam.


"Wanita itu suka sekali berteriak, apakah memang ini kebiasaan barunya?," gumam Raka.


"Kenapa kamu seperti membaca mantra? Apa itu rapalan agar aku menyukaimu heh?," ucap Krisna datar namun masih bisa di dengar Raka meski dengan jarak yang terbilang jauh.


"Aish, jangan pernah menggerutu apapun di depanku! Atau aku akan memakanku hidup-hidup," ujar Raka dengan suara pelan.


Mendadak Krisna diam setelah mendengar ucapan Raka. Tiba-tiba saja kupingnya menjadi tajam untuk mendengar ucapan Raka padahal biasanya tidak seperti itu.


Melihat Krisna yang tidak beranjak dari berdirinya membuat Raka segera menghampiri wanita menyebalkan itu.


"Nyebelin tapi suka kan?," batin Raka.


Tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Padahal hanya jarak mereka yang jauh, namun setelah Raka berjalan semua terasa dekat. Laki-laki itu semakin mengamati Krisna yang semakin lama semakin dekat.


Hingga tiba tepat di depan Krisna berdiri, Raka masih memincingkan matanya. Suasana siang itu benar-benar mencekam untuk seorang Krisna. Sudah dari tadi laki-laki yang selama ini dikenalnya berhati baik bak malaikat surga mendadak menjadi seperti malaikat pencabut nyawa.


"Apakah kebiasanmu sekarang adalah berteriak di depanku?," tanya Raka.


"Tidak, aku hanya berteriak ketika jauh darimu, buktinya saja sekarang aku berkata lembut," jawab Krisna santai.


"Benar-benar mengujiku untuk tidak mengacak rambutmu," pikir Raka.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu selalu mencuri pandang ketika aku tidak melihatmu?," sindir Krisna.


"Untuk apa mencuri pandang jika menatapmu secara langsung saja kamu menikmatinya," ujar Raka.


"Oh shi*! Benar-benar otak mesum! Akupun menyadari sebaik apapun laki-laki dia tetap mempunyai sisi mesum," umpat Krisna.


Dia tidak peduli jika Raka mendengarnya karena semua memang benar adanya. Tidak dipungkiri juga jika Raka adalah laki-laki mesum, tapi Krisna tidak akan pusing memikirkan itu. Dia sudah terbiasa menghadapi buaya darat.


"Tolong jaga bicaramu aku tidak suka melihatmu mengumpat seperti itu, ini tempat umum sayang," lirih Raka.


"Hei, tolong jangan memanggilku seperti itu," tukas Krisna.


"Kamu selalu berhasil membuatku untuk tetap memperjuangkanmu, eh lupa dia bukan milikku," batin Raka dengan menepuk dahinya.


"Dasar laki-laki gila," gerutu Krisna seraya berlalu meninggalkan Raka.


Seperti tadi Raka meninggalkannya. Namun kali ini berbeda dengan Raka, ketika Krisna meninggalkannya dia justru memegang tangannya. Menggenggam lembut dalam jemarinya serta menarik kembali menghadap dirinya hingga tepat keempat mata itu saling berpandangan.


"Matilah aku! Dia suka sekali menyuruhku menatap mata elangnya, ada apa sebenarnya? Apakah ada bayangan masa lalunya di sana lalu aku disuruh menerjemahkannya? Ih, menyebalkan!," gerutu Krisna dalam hati.


Raka yang melihat gelagat aneh dari wanita di depannya segera tersenyum. Semenjak keduanya berteman, Raka menjadi semakin murah senyum. Tidak pernah pelit apalagi untuk Krisna. Baginya tersenyum di hadapan Krisna adalah ibadah wajib.


Tangan kanan Raka terulur menuju puncak rambut Krisna. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya. Raka kalah cepat dengan Krisna karena ternyata Krisna lebih dulu membawa tangan kanannya untuk mengacak rambut Raka.


"Oh, maafkan aku jika kali ini kamu kalah cepat! Kamu pikir enak jika setiap saat rambutku diacak sembarangan hm?," gerutu Krisna.


"Hahaha sial! Kamu ternyata sudah berani menggodaku," ucap Raka dengan tawa lepasnya.


Tidak menyangka jika Krisna juga berani menyentuh rambutnya. Sebenarnya adalah hal yang tidak sopan, namun itulah kenyataan yang diharapkan Raka. Terlebih jika tadi Krisna mengucapkan kata-kata indah, bukan menggerutu seperti tadi.


"Aku tidak suka orang lain sembarangan menyentuh rambutku, apa kamu tahu jika hanya orang yang paling kusayangi yang ku perbolehkan untuk menyentuhnya," ucap Krisna.


"Tidak masalah, bahkan bagiku hanya melihatmu saja sudah membuatku bahagia," ujar Raka


"Rakaaa! Dasar laki-laki gila, kenapa kamu sekarang pandai merayu ha?," tanya Krisna dengan sedikit berteriak.


"Lihat, bahkan kamu seperti terpancing oleh ucapanku!," tukas Raka.


"Duh kenapa aku bisa seperti ini! Dasar! Hei, sadarlah wahai otakku tercinta!," umpat Krisna dalam hati.


Kini Raka hanya memandang sekilas Krisna. Tidak berniat akan mengawali perdebatannya siang itu karena perutnya sudah terasa sangat lapar. Awalnya dia berniat memesankan makanan lalu menghampiri Krisna di mobil,nyatanya wanita tidak bisa ditebak.


Keduanya berjalan menuju Malioboro menembus teriknya panas matahari. Menikmati sengatan yang mampu membuat kulit menjadi hitam seketika.


Raka yang memiliki kulit lebih putih dari Krisna mendadak mengoleskan lotion tabir Surya agar tidak berubah menjadi gelap. Dimanapun dia selalu membawanya karena tidak bisa dipastikan akan menuju kemana dia nantinya.


"Laki-laki tulen atau jadi-jadian? Kenapa dia seperti wanita bahkan ternyata lebih rempong dariku," pikir Krisna.


Setelah selesai mengoleskan di seluruh kulit tangannya, Raka segera menuangkan lotion lagi ke telapaknya lalu mengoleskan ke kedua tangan Krisna. Tidak ingin jika wanita yang kini nersamanya menjadi sweete black karenanya.


"Eh, terima kasih," ucap Krisna yang menyadari ulah Raka dan membuat jalannya terhenti.


"Apa kamu selalu melakukan ini kepada seluruh wanita yang bersamamu?," tanya Krisna.


"Tidak, aku baru pertama kali melakukannya untumu," jawab Krisna.


"Mana mungkin begitu? Sedangkan kamu bahkan pernah berkali-kali pacaran," ucap Krisna.


"Memang, tapi kan mereka sudah membawa Tahir Surya sendiri lagian mereka juga tidak mau jika berjalan dibawah terik matahari langsung seperti ini, mereka selalu memintaku untuk membawanya ke tempat ber AC," jelas Raka..


"Oh," gumam Krisna.


Raka segera mengacak rambut Krisna, tentu saja tanpa sepengetahuan sang empunya. Untuk Raka, sehari saja tidak mengacak rambut itu rasanya seperti ada yang kurang. Seperti malam tanpa bintang, tetap indah namun belum sempurna.


Krisna hanya tersenyum melihat Raka yang lari setelah mengacak rambutnya.


"Masih saja seperti anak kecil," gumam Krisna.