
"Bersama apanya? Mana mungkin aku membiarkan hidupku terjerumus bersamamu" gerutu Krisna.
Terry mengukir senyum di bibirnya. Membuat wajah tampannya terlihat sangat sempurna. Krisna mengagumi ketampanan Terry, tapi tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya jika mereka akan sedekat ini.
Wanita itu tidak ingin hanyut dalam suasana sedihnya. Dia harus mengakhiri kegilaannya bersama Terry.
"Ter," panggil Krisna.
"Hm," gumam Terry.
"Bangun kakiku keram," ucap Krisna.
"Tidak, aku tau kamu membohongiku," tolak Terry.
"Sial! Darimana dia tau? Mungkin terlalu lama menjadi teman curhat membuatnya paham dengan setiap ucapanku," batin Krisna.
"Siapa tunangamu yang dulu?," tanya Krisna.
"Rita," jawab Terry singkat.
"Aku tau, maksudku siapa dia, darimana, gimana hubungan kalian, ceritain ke aku dong biar aku tau diantara kita siapa yang lebih sakit. Aku atau kamu," jelas Krisna.
"Baiklah," ucap Terry.
"Eh, tidak. Belum saatnya kamu tau tentang semua ini. Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita. Ayolah," rengek Terry manja.
"Hm," gumam Krisna kesal.
Terry memiringkan badannya lalu memeluk pinggang ramping di depannya. Laki-laki itu menyembunyikan wajah tampannya di perut Krisna.
"Terry," ucap Krisna lirih.
"Kenapa," tanya Terry.
"Berhenti," jawab Krisna.
"Aku tidak mau," tolak Terry.
Laki-laki itu semakin menenggelamkan wajahnya di perut Krisna. Lalu menyingkap bajunya dan masuk ke dalamnya. Hal bodoh yang dilakukan Terry tidak sebanding dengan ketampanannya yang berada di atas rata-rata
"Hentikan bodoh," dengus Krisna kesal.
Terry menghentikan aksinya. Laki-laki itu bangkit dari tidurnya dan duduk di depan Krisna. Krisna merasa ada yang janggal dengan Terry. Wanita itu mengamati bibir Terry, benar disana terukir senyum liciknya.
Tanpa persetujuan, Terry mendaratkan bibirnya di bibir Krisna. Mengecup lalu menyesapnya membiarkan Terry merasakan rasa manis yang ada. Refleks Krisna menjambak rambut Terry dengan lembut karena menolakpun pasti akan sia-sia.
Baik laki-laki pendiam ataupun yang sudah jelas mata keranjang, pasti dia tidak akan suka jika hasratnya tertunda. Mereka selalu menyalurkannya dengan buas. Seperti halnya Terry malam ini. Dia begitu buas mendominasi permainan yang diciptakan.
"Terry," lirih Krisna.
Tidak mendengar atau memang sibuk dengan ulahnya. Terry tidak menghentikannya, tapi justru membuat Krisna semakin kesal dengan tingkahnya. Laki-laki itu mengecup leher berkali-kali lalu meninggalkan tanda sayang disana.
"Damn! Dasar terkutuk! Aaaaa aku mau nolak tapi kok sayang! Dasar otak mesum woey!," umpat Krisna dalam hati.
Saat ini pikiran jernih tidak bisa tercipta. Semua mengalir begitu saja tanpa persetujuan sebelah pihak. Tangan nakal Terry menyusuri milik Krisna yang sesekali ditolak oleh pemiliknya. Namun Terry tidak kehabisan akal.
Semakin dia ditolak, semakin dia akan bersikap buas. Hingga saat dimana dia mendengar ponselnya berdering, laki-laki itu dengan kesal membuka benda pipih miliknya.
"Rita? Ada apa?," gumam Terry.
Segera panggilan dari mantan tunangannya itu diangkat.
"Halo," sapa Terry.
"Halo juga," balas Rita.
"Ada apa?," tanya Terry.
"Maaf mengganggu waktumu," ucap Rita.
"Tentu saja," ketus Terry dan langsung menutup panggilannya.
Sementara Krisna memandangi Terry dengan kesal. Laki-laki tengil itu menutup sambungan hanya untuk meneruskan aksi gilanya.
"Aaargghkk! Apa yang harus kulakukan?," ucap Krisna putus asa.
Senyum kemenangan terukir di bibir Terry.
"Dasar gila! Ayo pulang," tukas Krisna.
Dengan berat hati Terry menuruti kemauan Krisna. Keduanya menikmati semilir angin malam yang membuat Krisna semakin merapatkan pelukannya.
Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, saat KLX milik Terry tiba di kostan Krisna.
"Hati-hati dan terima kasih atas waktunya," ucap Krisna.
"Huft bahkan kamu tidak menyuruhku untuk menginap disini," gerutu Terry.
"Hei, ini bukan tempat untuk menampung laki-laki mesum sepertimu," dengus Krisna.
"Sekarang Terry terpaksa mengalah, tapi lain waktu pasti Krisna yang akan kalah," gumam Terry.
Suara motor terdengar lamat-lamat semakin jauh. Wanita yang mengantar kepergian Terry melangkahkan kaki untuk memasuki kamarnya. Ruangan masih gelap tanpa penerangan sedikitpun.
Mencari saklar lalu memencetnya agar Krisna bisa dengan jelas berjalan di kamar. Wanita itu lelah sekaligus bahagia. Semua rasa berkecamuk dalam dadanya.
Meski sudah tengah malam, tapi memejamkan mata dengan keadaan badan yang masih lengket keringan hanya membuat wanita itu kegatelan.
Tentu saja bukan keringat yang tercipta dari pergulatan keduanya. Beruntung Krisna bisa sedikit menjaga dirinya karena jika sedetik saja dia lengah, bisa dipastikan malam ini akan berakhir di salah satu hotel yang berada di puncak.
Sekilas bayangan Poda hadir di benak wanita pemilik kamar yang saat ini di tempatnya. Wanita itu membuka ponselnya. Dia mencari aplikasi yang sering digunakan untuk berkomunikasi dengan Poda.
"Apa kabar kamu? Apakah kepergianku membuatmu bahagia? Atau bahkan kepergianku tidak berarti apa-apa untukmu," gumam Krisna.
Mencari pesan dimana terakhir kali mereka berkomunikasi berharap jika saat ini Poda mengirim pesan tapi pending. Namun ternyata dugaan Krisna salah. Sedikitpun tidak ada tanda-tanda pesan masuk dari laki-laki itu.
Wanita terkenal dengan air matanya. Bukan karena dia cengeng, tapi wanita memiliki hati yang lembut selembut sutra. Menangis tidaklah mengubah semuanya. Bahkan dengan menangis belum tentu membuat hidupmu lebih baik.
Setidaknya dengan menangis kamu bisa merasakan lega, walaupun hanya sesaat. Kedua kelopak mata milik Krisna mulai mengembun.
"Ddrrt ddrrttt" getaran ponsel mengagetkan Krisna membuat wanita itu sontak berjingkat.
"Siapa sih ngagetin aja," gerutu Krisna.
Ponsel menampilkan nama Terry sebagai pengirim pesan. Krisna mengerutkan dahi karena ini adalah pertama kalinya laki-lakiit mengirim pesan. Selama ini Krisna yang selalu mengirim pesan. Karena hanya Krisna yang membutuhkan Terry, sementara Terry tidak sedikitpun membutuhkan Krisna.
"Semenjak kepergian tunangan kesayanganmu, sekarang baru ngrasain galau kan? Sukurin suruh siapa selama ini suka ngehina mulu," ucap Krisna.
Melihat dari notifikasi yang ada, Terry hanya menulis nama Krisna saja. Seolah laki-laki itu sedang memanggilnya.
"Nggak penting," cibir Krisna.
"Ddrrtttt ddrrttt" ponsel bergetar lagi.
Dua notifikasi pesan masuk terlihat. Namun tentu saja Krisna tidak bisa melihat isi pesan yang kedua. Sifat keingintahuannya mendadak muncul.
Langsung saja wanita itu menekan notifikasi agar terbuka.
From : Terry
"Krisna"
From : Terry
"Aku merindukanmu"
Mata bulat itu semakin membulat ketika membaca pesan dari Terry. Segera dia membalas dengan umpatan. Tidak peduli bagaimana tanggapan Terry nantinya. Yang jelas untuk saat ini Krisna kesal dengan laki-laki tengil itu.
From : Krisna
"Apa? Hei, kamu gila ya? Baru saja kita berbuat dosa kenapa sekarang mengatakan jika merindukanku? Shit! Persetan dengan semua ucapanmu! Pantas saja Rita meninggalkanmu"