
Kamu harus percaya perihal benci bisa menjadi cinta
Karena bisa jadi terkadang di balik amarahmu tersimpan cinta darimu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Terry! Bisa diem nggak sih?," ucap Krisna datar namun penuh penekanan.
Terry mengerti jika Krisna memanggil namanya berarti wanita itu sedang marah. Ingin sekali Terry mengacak rambut Krisna. Namun sadar jika sekarang bisa membuat hidupnya kelar.
"Em, gimana ya tergantung sih," ujar Terry.
"Tergantung apa! Jadi orang nyebelin banget! Kalau gitu aku memutuskan untuk tidak menganggapmu kakak!," dengus Krisna seraya memanyunkan bibirnya
"Cup" Terry refleks mencium bibir Krisna ketika melihat bibir itu mengerucut.
Refleks juga Krisna memelototkan matanya menatap tajam ke arah Terry. Laki-laki itu bukannya sadar malah semakin gencar menggoda Krisna.
"Kenapa? Kurang? Mau lagi?," goda Terry.
Krisna berjalan mendekat ke arah Terry lalu tanpa aba-aba wanita itu menjitak kepala Terry dengan sekuat tenaga. Setelah itu Krisna pergi meninggalkan Terry yang meringis kesakitan.
"Sukurin siapa suruh jadi orang asal nyosor," gerutu Krisna seraya berlalu.
"Duh sakit juga, sial!," dengus Terry.
Krisna segera menyelesaikan pekerjaannya agar cepat pulang ke kantor. Kemarin dia sudah pulang ke rumah, dan hari ini berencana akan bermalam di kost saja. Meski tanpa kehadiran Poda.
Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, Krisna segera meninggalkan meja kerjanya dan pulang menuju rumah keduanya. Tiba di gerbang kost, sudut matanya menangkap matic milik Poda terparkir di depan kamar.
Wanita itu menghela nafas kasar. Sebenarnya begitu rapuh, namun berusaha untuk menyembunyikannya.
"Datang tanpa diundang! Drama apa lagi yang akan dipermainkan?," gumam Krisna.
Memarkirkan motornya di depan pintu, melepas sepatu yang dikenakan, lalu segera masuk ke kamar yang pintunya sudah terbuka. Disana ada Poda yang sudah terlentang menyalakan TV dan AC. Namun laki-laki itu sedang asyik bermain ponsel miliknya.
"Ehem," Krisna berdehem agar Poda menyadari kehadirannya.
"Eh, kapan pulang?," tanya Poda tanpa memalingkan pandangannya.
"Ada apa?," tanya Krisna langsung ke inti pembicaraan.
Bukan tipe wanita yang suka rayuan. Bukan pula tipe wanita yang suka bertele-tele. Itulah Krisna wanita yang saat ini sedang terluka.
"Tidur," jawab Poda santai.
Merasa diabaikan, Krisna segera mengambil baju ganti di lemari dan segera menuju ke kamar mandi. Untuk sejenak menghilangkan penatnya seharian. Selesai mandi, Krisna segera kembali ke kamar dengan handuk yang masih melilit di kepalanya.
"Wow, kamu menggodaku ya?," tanya Poda antusias seraya bangkit dari tidurnya.
Poda mengamati wanita di depannya dengan senyuman licik. Sudah lama tidak melihat pemandangan indah seperti ini. Krisna hanya mengenakan hot pants dan kaos longgar ditambah rambut basah yang airnya menetes di leher menambah tingkat keseksiannya.
"Jaga bicaramu! Pergi sana dari kamarku! Aku tidak menerima tamu sepertimu," usir Krisna.
Poda menajamkan tatapannya serta mengepalkan tangannya. Dia merasa seperti dilecehkan. Baru kali ini ada wanita membentaknya.
"Jangan memancing amarahku," tukas Poda penuh penekanan.
"Tidak, sekarang pergilah dari sini ku mohon," pinta Krisna.
Poda mendekat ke arah wanita yang berada satu kamar dengannya. Memincingkan mata mencarikan kilat kebencian. Krisna tak kalah menatap Poda dengan berbagai rasa yang berkecamuk. Sedih, kecewa, terluka, dan bahagia bercampur menjadi satu. Semua bayangan masa lalunya kembali terngiang.
"Plak" tiba-tiba Poda menampar Krisna dengan kasar lalu pergi meninggalkannya.
"Oke, akhiri saja daripada selalu seperti ini," gumam Krisna.
From : Krisna
"Kak, dia laki-laki brengsek!"
Di tempat lain, Terry yang sedang bersama tunangannya mengerutkan dahi. Ini adalah pertama kali Krisna mengirim pesan kepadanya. Rita tunangan Terry yang bergelayut manja di lengannya mendadak mengerucutkan bibir mendengar suara motif di ponsel Terry.
Rita merebut ponsel dari genggaman Terry lalu membuka pesan masuk itu. Membaca nama Krisna disana, awalnya Rita berpikir jika si pengirim adalah laki-laki. Namun ketika membuka isi pesan yang memanggil Terry dengan sebutan kak, rasanya itu adalah wanita.
"Sejak kapan dia punya adik bernama Krisna?," batin Rita.
"Siapa dia?," tanya Rita seraya menunjukkan ponsel Terry ke pemiliknya.
"Dia temanku, aku juga tidak tahu kenapa mengirimiku pesan. Aku belum membacanya, apa kamu sudah?," jawab Terry.
"Baca aja sendiri," tukas Rita.
Terry segera membaca pesan dari Krisna. Laki-laki itu mengerutkan dahi saat melihat deretan huruf yang menyatakan jika Krisna mengakhiri hubungannya.
"Aneh," gumam Terry.
"Kenapa?," tanya Rita.
"Mana mungkin dia mengakhiri hubungannya jika mereka sudah lama berpacaran, aku juga tidak tahu apa motivasinya memberitahuku," jawab Terry.
"Dia modus, pasti mau deketin kamu! Atau jangan bilang kalau dia selingkuhanmu!," selidik Rita.
"Hei, aku tidak punya selingkuhan," tukas Terry.
Terry tidak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan Rita. Akhirnya laki-laki itu membalas pesan Krisna.
From : Terry
"Apa maksudmu? Kenapa kamu memberi tahuku?"
Krisna yang merasa pesannya mendapat balasan segera membukanya lalu dengan sigap dia membalas.
From : Krisna
"Kakak, aku hanya ingin berbagi beban kepadamu! Hanya kamu yang mengerti deritaku, dan ingat jangan pernah terpikir olehmu jika aku ingin mencari perhatianmu! Jangan harap! Aku masih waras bukan perebut tunangan orang"
"Ting"
Balasan yang ditunggu Rita datang juga. Dia mengharap kejelasan hubungan Terry dan Krisna. Rita bernafas lega ketika membaca pesan Krisna. Lalu Terry segera menceritakan semua kisah pilu Krisna. Rita pun mengangguk. Bahkan dia juga menawarkan diri untuk menjadi teman curhat Krisna.
"Di bales lagi nggak?," tanya Terry kepada Rita.
"Terserah," jawab Rita acuh.
"Nggak mau ah, tuh bocah tengil ganggu kita aja. Ya udah kita lanjutin aja yang sempat tertunda," bisik Terry di telinga Rita.
"Haha, nanti adik kecilmu itu marah," goda Rita.
"Dia itu sungguh menyebalkan, makanya aku suka mengganggunya," jelas Terry.
Terry dan Rita saat ini sedang berada di salah satu hotel untuk melakukan kencan seperti biasanya. Mereka baru akan bersiap mengawali, namun pesan dari Krisna membuat keduanya menunda. Sekarang, Terry dan Krisna sepakat untuk tidak membalas pesan Krisna. Bahkan Terry mematikan ponselnya.
"Sukurin, enak kan?," gumam Terry.
Sementara di kamarnya, Krisna menahan tangisnya agar tidak pecah. Dia ingat kata-kata Raka jika laki-laki seperti Poda tidak pantas untuk ditangisi. Krisna yakin dengan keputusannya untuk menjauh dari Poda agar tidak merasa kecewa terus-menerus.
"Jika kehilangan sekarang lebih baik daripada nanti, maka aku akan memilih menjauh darimu karena bersamamu ternyata lebih sakit daripada tidak memilikimu," gumam Krisna.
Jika saja kita boleh meminta, tentu akan dengan riang menceritakan setiap harapan. Namun jika kita hanya bisa menerima takdir, tentu kita hanya bisa menjalani tanpa bisa menolaknya.