My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 57 Licik



Nanti setelah virus itu pergi


Aku akan mengunjungimu


Mengunjungi hatimu yang pernah kusinggahi


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Denada berlari mengejar Raka. Dia berniat mencelakai wanita yang tadi dipeluknya. Mungkin jika wanita itu lebih cantik darinya, Denada akan terima namun wanita itu jauh berada di bawahnya.


"Apakah dia tidak bisa melihat wanita cantik lagi? Kenapa harus dia? Bahkan itu sangat jauh dari seleranya? Oh, aku percaya Raka pasti hanya akan mempermainkannya," geram Denada dengan senyum liciknya.


Kini Denada merasa menang atas wanita yang berada di samping Raka. Dia percaya jika Raka tidak mempunyai hubungan apapun dengan wanita itu. Percaya jika Raka masih menyimpan cinta untuknya.


"Bukankah dia sulit melupakanku? Jelas saja, hanya aku yang pantas bersanding dengannya! Pasti wanita itu hanya pura-pura menjadi kekasih Raka," batin Denada.


Kini setelah kembali ke parkiran, Raka segera masuk ke dalam mobil dan berniat pergi menjauh dari tempat terkutuk itu. Begitupun dengan Krisna, dia juga ingin segera pergi dari tempat itu. Mereka berdua tidak sekalipun melihat ke belakang, apakah Denada mengikutinya atau tidak. Raka terlalu panik untuk menyikapi Denada. Dia bisa saja mencelakai Krisna. Berbeda dengan Krisna, dua tetap bersikap santai karena tidak mengetahui bagaimana Denada yang sebenarnya.


Segera menjalankan mobil yang dinaiki dengan pesat, menembus rintikan hujan yang perlahan mulai reda. Menyisahkan aroma tanah panas bercampur air hujan membuat Krisna begitu menikmatinya. Dia sangat menyukai aroma itu.


"Aku merindukan ini," gumam Krisna.


Wanita itu memejamkan mata, mengingat dengan jelas bagaimana dia menghabiskan waktu ketika hujan tiba. Mengingat bagaimana aroma tanah itu selalu mampu membuat hatinya merasa nyaman. Membuka jendela di sampingnya agar menyisahkan celah untuk menikmati indah kuasaNya.


Ketika nanti Raka akan menganggap Krisna seperti apa yang Denada katakan, Krisna tidak merasa keberatan karena semua memang benar adanya. Bahkan Krisna tidak menganggap pusing tentang hal itu. Dia hanya menganggap Raka tidak lebih dari sebuah teman, dan ketika kelak Denada akan memintanya kembali Krisna akan dengan senang hati mempersilahkan Denada untuk mengambilnya.


"Ternyata asmara Raka tidak seberuntung hidupnya," gumam Krisna.


"Kamu juga tidak seberuntung hidupmu," lirih Raka.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih," sesal Krisna.


"Tidak apa-apa, maaf jika aku harus membawamu ke dalam kehidupanku," ucap Raka.


"Kenapa?," tanya Krisna.


Raka kemudian menceritakan tentang kepribadian Denada. Jika dulu Raka pernah bercerita tentang Denada, itupun hanya sebatas perselingkuhannya bukan tentang kepribadiannya. Denada adalah sosok wanita keras kepala. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


"Jangan bilang jika tadi dia memintamu kembali padanya?," tukas Krisna.


"Tepat, dan aku menyesal telah membawamu ke dalam jurang permasalahan ku, aku takut dia akan mencelakaimu," jelas Raka.


"Ketika kamu menuju kamar mandi, Denada berkata jika dia sengaja menghadang ku, dia bertanya siapa kamu dan dimana aku mengenalmu, meminta maaf atas kesalahan di masa lalunya, lalu meminta agar aku kembali padanya! Tentu saja aku menolak! Aku tidak mau terjatuh ke dalam lubang yang sama! Bagaimana mungkin aku kembali kepada seseorang yang telah mengkhianatiku? Aku tidak mau kembali di khianati", terang Raka.


"Lalu bagaimana kamu menjawabnya, hingga tiba-tiba kamu memelukku tepat di hadapannya? Pasti Denada akan membenciku, Raka, apa kamu tidak berpikir sampai ke situ?," tanya Krisna.


"Maaf, aku tidak bisa berpikir jernih, aku hanya tidak ingin Denada mencelakaimu, percayalah, jika kelak terjadi sesuatu denganmu, aku akan mempertanggungjawabkannya," lirih Raka.


Melihat Krisna hanya diam, Raka kembali melanjutkan ceritanya. Sepertinya apa yang tadi dilakukan Raka salah. Justru dia tidak berpikir sampai ke arah sana. Tidak berpikir jika nantinya Denada akan menyakiti Krisna.


"Ada apa?," tanya Krisna.


"Tidak apa-apa," jawab Raka bohong.


Tentu saja Raka menyadari kebodohannya. Dia lupa jika saat ini dia bersama gadis yang lemah. Bagaimana Raka bisa melupakan hal itu. Laki-laki itu kini menyadari betapa bodohnya dia karena tidak bisa memikirkan keselamatan wanita yang saat ini dicintainya.


Denada tidak pernah ada kabar setelah pengkhianatan itu, dan kini dia hadir lagi hanya untuk meminta Raka kembali bersamanya. Itu hal yang mustahil untuk dilakukan Raka karena laki-laki itu tidak akan pernah meninggalkan wanita yang di sayangi.


"Wanita sialan itu menguping pembicaraan kita ketika masih berada di depan pintu tadi, padahal aku masih mengingat dengan jelas apa yang kita bicarakan, namun Denada terlalu berlebihan menceritakannya padaku, aku merasa suatu saat dia pasti akan membuat cerita baru, aku juga percaya jika nanti dia akan menjelekkan kamu di hadapanku, percayalah, tapi aku tidak akan memperdulikan itu semua, aku hanya akan memikirkan kamu dan juga keselamatanmu," janji Raka. Laki-laki itu mengucapkankan semuanya dengan tulus, bahkan terdengar seperti menawarkan suatu kenyamanan.


Melihat jam hampir menunjukkan waktu pulang, Raka segera melajukan mobil kantor dengan lebih cepat. Dia tidak mau lama-lama di jalan.


"Sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk berlama-lama di jalan walaupun sebenarnya aku ingin mengajaknya ke suatu tempat," batin Raka.


"Kris, mau latihan stir mobil?," tawar Raka untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, aku hanya ingin segera pulang ka," tolak Krisna.


"Baiklah," lirih Raka


Setengah jam berlalu, Raka dan Krisna tiba di kantor. Mereka segera menuju ruangannya dan menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Jam menunjukkan pukul 15.45 WIB ketika mereka akan pulang ke rumah masing-masing.


Suasana sore itu mendadak mendung hitam dan sedikit gerimis. Krisna lupa tidak membawa jas hujan. Jika hujan tiba sedangkan dia masih di kantor, wanita itu berniat akan menembus derasnya hujan tanpa jas hujan dan tanpa alas kaki. Namun mendadak Raka menghampirinya.


"Kenapa belum pulang?," tanya Raka.


"Sepertinya akan turun hujan," jawab Krisna.


"Bukan sepertinya lagi, tapi ini pasti turun hujan," tegas Raka.


"Ah kamu, kenapa memprediksi seperti itu jika memprediksi tentang percintaanmu saja tidak bisa," tukas Krisna.


"Hei lihat! Kamu menyebalkan sekali," umpat Raka.


Krisna hanya melirik Raka sekilas, tidak memperdulikan umpatan laki-laki itu. Dia justru berjalan menuju parkiran bermaksud akan pulang sebelum hujan benar-benar turun.


"Oh, jadi begitu cara laki-laki mencari perhatian," gumam Krisna.


"Tungguuuu!," teriak Raka.


Krisna hanya menaikkan kedua bahunya acuh seraya menggerutu. Di saat seperti ini kenapa Raka masih saja mengejarnya. Sedangkan laki-laki itu tidak peduli dengan tatapan aneh dari orang-orang yang berada di parkiran.


"Aduh, Raka membuatku malu saja," gerutu Krisna.


"Aku akan mengikutimu hari ini, sengaja mengulur waktu agar hujan turun ketika kamu masih di sini, aku akan mengajakmu berteduh di bawah sana menikmati gemericik tetes air yang turun, menikmati indahnya hawa dingin yang membuatmu akan merapatkan tubuhmu semakin dekat denganku," lirih Raka dengan senyum liciknya.