
"Kamu akan selalu ada disini," bisik Terry seraya menunjuk dadanya sendiri.
"Tidak Terry," ucap Krisna.
"Ssttt sampai kapanpun," ucap Terry.
Krisna menggeleng berharap Terry sadar jika semua ini salah. Namun Terry tidak peduli dengan perasaannya. Dia lebih memilih untuk tetap hadir di kehidupan Krisna.
"Melihatmu seperti ini sama saja melihat bayangan kesedihanku disana. Jika kamu tidak bisa membalas perasaanku aku tidak papa, tapi melihatmu selalu murung bukanlah keinginanku," ucap Terry tulus.
"Aku tidak papa," ucap Krisna.
"Kamu bisa membohongiku, tapi tidak dengan hatimu. Aku bahkan sangat mengerti bagaimana kamu berusaha menyembunyikan luka disaat hanya kecewa yang dirasa. Aku mengenalmu dengan sempurna, meski tidak bisa menyentuhmu dengan leluasa. Tanpa sadar, bahkan rengekan kecil darimu sudah menjadi hal wajar untukku. Tuhan menciptakan kamu sebagai penyempurna hidupku dengan cara menyadarkan hatiku ketika kamu sudah jatuh terlebih dulu. Jika kamu adalah gelap, maka biarkan aku meneranginya. Jika kamu adalah kesalahan, biarkan aku membenarkannya karena kamu tidak salah. Hanya saja seseorang terpaksa membawamu ke dunia penuh gelap malam," bisik Terry.
Krisna diam menelaah setiap ucapan Terry. Laki-laki yang jauh dari kata sempurna, namun terlambat ditemuinya. Suatu kesialan yang menimpanya tanpa suatu permintaan. Tidak sempurna bukan menjadi alasan andai kesempurnaan menjadi tolak ukur kebahagiaan.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri. Ingat disini ada darah dagingmu. Kehidupannya tergantung bagaimana kamu merawatnya," ucap Terry seraya menunjuk perut Krisna.
"Jangan pernah melupakan kewajiban untuk mengisi perutmu. Jangan takut badanmu menjadi lebih berisi. Ingat, berisi lebih menggoda daripada biasa saja. Oh ya, bagaimanapun tubuhmu nanti akan berkembang aku akan tetap menemanimu. Itupun jika kamu tidak melupakannya," imbuh Terry.
"Sial! Hampir saja aku hanyut dalam buaianmu. Untung saja sifat menyebalkan mu itu muncul dan menyadarkanku," kekeh Krisna .
Terry mengacak rambut Krisna.
"Wanita ini selalu menyembunyikan lukanya, tapi aku menghargai dia menjaga privasinya," batin Terry.
"Hentikan kebiasaan burukmu itu," ucap Krisna dengan bibir sedikit mengerucut.
"Cup" kecupan mendarat lagi di bibir Krisna.
Senyum kemenangan terukir jelas di bibir Terry.
"Cup! Jangan bersikap bodoh hanya karena laki-laki bodoh. Ingat hidupmu lebih berharga daripada memikirkannya," ucap Terry setelah berhasil mencium Krisna kedua kalinya.
"Cup" kecupan singkat mendarat di bibir Terry.
Tentu saja Krisna adalah pelakunya. Dia sama sekali tidak bermaksud menggoda Terry, tapi hanya ingin membalas apa yang dilakukan laki-laki itu.
"Cup! Jangan mencium orang sembarangan, aku tahu bibirmu itu murahan," cibir Krisna setelah mencium Terry untuk yang kedua.
"Cup" bibir Terry dan Krisna berciuman.
Mereka tidak sengaja, tapi malah menerimanya.
"Cup" Terry mencium bibir Krisna.
"Ini bukan milikku, tapi aku berhak menjaganya," ucap Terry.
"Menjaga apannya bah-," gerutu Krisna.
Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya, dia kembali mendapat kecupan di bibirnya.
"Cup! Aku tidak suka dibantah. Menjaga dari laki-laki menjijikan seperti dia," tukas Terry.
"Terry berhenti menciummu seperti ini! Kamu membuat dirimu sama menjijikannya dengan dia," dengus Krisna kesal.
"Cup cup cup" Krisna menghujani leher Terry dengan ciumannya.
"Berhenti menggangguku," tukas Krisna.
Wanita itu menjauhkan tubuhnya dari Terry. Dia merasa sekarang sama kotornya dengan dua laki-laki yang membuat hatinya meronta.
"Jangan pergi," ucap Terry seraya menarik Krisna agar wanita itu tidak pergi.
"Hm"
Tarikan tangan Terry dirasakan Krisna penuh kelembutan. Laki-laki itu membawa Krisna ke dalam pelukannya. Membiarkan menikmati debaran dada sebagai alunannya.
"Jika tidak diciptakan untuk disatukan, setidaknya biarkan kita merasa saling membutuhkan," gumam Terry.
"Jika tidak diciptakan untuk disatukan, lebih baik kita dipisahkan karena tercipta bukan untuk bersama hanya akan menimbulkan luka," gumam Krisna lirih.
Kedua tangan Terry tidak bisa lepas dari tubuh Krisna. Perlahan pelukan itu semakin erat. Krisna, tidak berniat merebahkan kepalanya di dada Terry. Namun kedekatan keduanya memaksa Krisna melakukannya.
"Na," ucap Terry.
"Hm," gumam Krisna.
"Aku mencintaimu," bisik Terry.
Krisna menengadahkan kepalanya menatap Terry dengan sungguh.
"Aku membencimu," ucap Krisna lirih.
"Cup" satu kecupan mendarat di bibir Krisna.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, tapi setidaknya kamu berhenti mencintainya," ujar Terry.
"Hal bodoh, mustahil aku melakukannya," ucap Krisna.
"Cup! Kamu milikku," ucap Terry.
"Beserta janin dalam rahimmu," tambahnya.
"Terry, ini tidak mungkin. Jangan gila hanya karena wanita sepertiku," rengek Krisna.
"Lalu setelah aku sudah gila karenamu, bagaimana takdir akan berkuasa denganku?," tanya Terry.
"Sulit dijelaskan atau mungkin sangat menyakitkan. Ketika tidak semua harapan bisa terkabulkan, aku harus merelakan sebuah kenyataan. Tentang cinta yang terlambat ada, juga rasa yang perlahan mulai sirna. Aku tidak bersamamu, tapi bayangmu selalu menemaniku. Bahkan ketika aku berada di titik terlemah ku, bayangmu yang semu mampu membuatku kembali menggebu. Akan angan yang dulu membelenggu erat, aku ingin segera melepaskan. Dan tentang cinta yang membuatku terluka, aku ingin segera melupakan," gumam Terry.
Ucapan Terry menggelitik telinga yang tak ingin mendengarnya. Untaian kata yang entah darimana Terry mendapatkannya membuat Krisna ingin menjitak kepalanya saat itu juga.
"Jika diammu adalah bahagiamu, maka teruslah mendiamkanku," ucap Terry.
Tanpa mengalihkan pandangannya, Krisna mencubit pinggang Terry karena kesal. Dia tahu maksud ucapan Terry adalah sindiran.
"Hei sakit tau!," gerutu Terry.
Laki-laki itu merenggangkan pelukan lalu mencubit hidung Krisna dengan cara menjapitnya di antara jari tengah dan jari telunjuk. Krisna meronta, tapi Terry tidak peduli akan hal itu.
"Terry sakit, lepasin," tukas Krisna seraya menjauhkan tangan Terry dari hidungnya.
Sayang tenaga Terry lebih besar dari Krisna. Usaha wanita itu gagal. Justru kini Terry mengapit kepala Krisna di bawah ketiaknya.
"Bauk! Terry kamu jorok ah!," jerit Krisna.
"Tidak peduli wek," ucap Terry seraya menjulurkan lidah.
Nada memelas serta wajah Krisna yang memerah tidak membuat Terry iba. Semakin meronta semakin kuat Terry menyiksanya. Sebenarnya bukan siksaan sungguhan, tapi itu salah satu cara agar Terry mendapatkan perhatian dari Krisna.
Mungkin wanita yang sama sekali tidak peka dengan sebuah kode adalah Krisna. Seperti saat ini bahkan dia tidak peduli dengan godaan Terry yang menurutnya adalah penyiksaan.
"Terry kamu menyiksaku!," jerit Krisna.
Ide jahil muncul agar Terry berhenti membuatnya marah. Dengan susah payah Krisna menggelitik ketiak Terry dengan rambutnya. Tidak ada yang akan bertahan jika titik sensitif kita tersentuh.
Bukan desahan ataupun rintihan tertahan, tapi kekalahan telah yang baru saja dimenangkan. Terry berhasil menghentikan aksinya. Dengan riang Krisna kembali terbebas dari siksaan Terry.
"Uhuy, bebas ye," sorak Krisna seraya menggerakkan tubuhnya untuk berjoget.