
Angin
Sampaikan padanya
Bahwa aku merindukannya
Aku sangat mencintainya
Namun
Apalah daya
Jika yang ku cinta
Sedang mendua disama
Aku bagai butir debu ditepi pantai
Begitu sulit dicari apalagi di mengerti
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah Krisna selesai makan, dia segera pamit untuk kembali ke kantor. Poda mengizinkan Krisna pergi terlebih dulu. Namun laki-laki itu kaget ketika mendadak ada panggilan masuk dari Resta, beruntung saat itu Poda dan Krisna sudah selesai makan siang.
Poda membiarkan panggilannya. Awalnya dia berniat mengakhiri hubungannya dengan Resta namun karena panggilannya di abaikan, Resta mengirim pesan kepada Poda.
From : Resta
"Honey, kenapa kamu lama tidak ada kabar?"
From : Poda
"Aku baru saja sembuh"
From : Resta
"Terus kamu nglupain aku gitu aja?"
From : Poda
"Sorry honey, pas sakit kemarin Krisna memergokiku punya double sim"
From : Resta
"Krisna? Pacar kamu?"
From : Poda
"Bukan, aku tidak punya pacar! Dia teman dekatku"
From : Resta
"Ayolah honey, aku tidak pernah mempermasalahkan status kamu! Aku hanya menginginkanmu"
From : Poda
"Oke aku akui Krisna adalah pacarku, maaf telah membohongimu"
From : Resta
"Noted, bukan masalah untukku"
Resta dan Poda melangsungkan kesepakatan itu hingga akhirnya malam ini mereka berdua bertemu di salah satu tempat malam. Poda memesan minuman sembari menunggu kedatangan Resta.
"Lama, biasanya dia tidak pernah datang selama ini bahkan Resta tidak pernah membuatku menunggu, selalu dia yang tiba lebih dulu dan menungguku," gumam Poda.
Lain halnya dengan malam iti. Setengah jam Poda menunggu namun Resta belum juga kelihatan. Dia membuka ponselnya, melihat apakah ada pesan masuk atau tidak. Nyatanya tidak ada.
"Dimana Resta sebenarnya? Aakah dia hanya mempermainkan ku?," umpat Poda dalam hati.
"Drrtttt", ponsel Poda bergetar pertanda ada pesan masuk.
From : Resta
From : Poda
"Oke"
Poda tidak mau membahas lebih banyak lagi. Berbicara dengan wanita selalu berbelit-belit. Mereka selalu mencari alasan agar terlihat benar. Sedangkan ketika seorang pria yang salah, mereka selalu menyalahkan seenaknya. Jangankan ketika salah, ketika benar saja mereka tetap menyalahkan. Dan kalian tau betapa menyebalkan menjadi pria yang selalu salah di mata wanita.
Mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya. Poda menyesap dalam-dalam sebagai pelampiasan kekecewaan.
"Ah, andai aku menghisap selain rokok haaha," Poda berkata lirih.
Sekelebat bayangan itu muncul di benak Poda. Dia lalu menyesap rokok dengan memejamkan mata. Mencoba menikmati sensasinya. Meski yang dibayangkan tetap saja yang lain. Poda tidak peduli hanya ingin menikmati.
Hingga Poda menghabiskan lima batang rokok, barulah Resta datang. Dia mengenakan dress merah selutut. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai hingga leher jenjangnya semakin terlihat menawan. Poda yang sedari tadi membayangkannya, langsung ingin memaksa Resta untuk keluar dari sini. Namun untungnya naluri sombongnya masih ada.
"Kenapa melihatku seperti itu?," tanya Resta.
"Tidak apa-apa, kenapa lama?," Poda balik bertanya.
"Aku sudah jelaskan tadi, kenapa sekarang membahasnya?," tanya Resta.
"Kamu sudah membuatku menunggu, apa imbalan darimu?," Poda bertanya lagi.
"Aku temani minum malam ini," tawar Resta.
"Hanya itu?," Poda mulai memancing Resta.
"Bukankah kita tidak perlu membahasnya?," tanya Resta.
"Kenapa tidak sama Krisna?," tanya Resta.
"Maunya sama kamu," jawab Poda.
"Kesepian?," tanya Resta lagi.
"Iya," jawab Poda acuh.
"Aku sayang banget sama kamu, aku tidak mau pisah sama kamu," lirih Resta.
"Tapi aku punya Krisna," jawab Poda.
"Sekarang kamu pilih aku atau dia?," tanya Resta sinis.
"Jelas saja itu bukan pilihan untukku, aku bersama Resta hanya untuk bersenang-senang. Sekedar melepas penat karena aku sudah bilang sama Krisna kalau aku berhenti minum dan merokok mana mungkin aku mengatakan kalau aku ingin minum, bisa-bisa hubunganku sama Krisna berakhir kandas," pikir Poda.
"Kenapa tidak menjawab?," tanya Resta.
"Aku tidak tau bagaimana perasaanku kepada Krisna, yang kutahu kadang aku merasa senang kadang aku merasa bosan, aku berusaha menjaga perasaannya juga berusaha untuk hanya bersamanya, namun selalu saja banyak godaan! Di saat Krisna tidak mau, kamu selalu mau dan di saat Krisna sibuk kamu selalu ada, walaupun aku tahu sebenarnya hanya aku saja yang terlalu malas menemuinya mungkin di saat itu Krisna juga merasa jenuh," jawab Poda.
"Baik, sekarang tinggalkan aku!," teriak Resta.
"Bagaimana ini? Bahkan aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku! Aaarrggghh!," jerit Poda dalam hati.
"Lihat! Bahkan kamu hanya diam!," ucap Resta ketus.
"Oke jika itu yang kamu inginkan! Aku akan meninggalkanmu dan mengakhiri permainan gila ini! Jangan pernah mencariku," teriak Poda.
Akhirnya pertemuan Poda dan Resta malam itu hanya untuk sebuah pengakhiran. Setidaknya Poda sudah sedikit benar memilih wanita yang tulus menyayanginya, meskipun dia sendiri tidak yakin dengan perasaan yang ada.
"Aku merasa saat ini Tuhan sedang menguji kesetiaan ku, kemarin saat Krisna di Sema*ang, aku tidak bisa menahan diri! Ketika aku kecelakaan, Krisna dengan sabar merawat dan menjagaku, saat itu benih cinta mulai tumbuh kembali, mamun saat Krisna memilih untuk bekerja aku merasa tidak di hargai! Bagaimana mungkin aku bisa bertahan untuk seseorang yang bahkan tidak memperdulikan ku? Apa aku terlalu egois?. Aku hanya meminta Krisna tetap di sampingku tidak bekerja, namun aku tetap akan memenuhi kebutuhannya," batin Poda.
Saat ini, Krisna terlalu egois. Poda baru saja pulih ketika Krisna mengatakan ingin bekerja. Poda sudah melarangnya, tapi Krisna tetap pada pendiriannya. Akhirnya Poda mengizinkan Krisna untuk bekerja. Poda juga turut bahagia ketika Krisna bisa bekerja di perusahaan yang berada di bawah naungan brand terbesar di negara ini, namun di sisi lain, Poda benci ketika Krisna bersama pria lain apalagi Raka. Raka sangat mengganggu Poda sekali. Dia selalu ada di kantor, sementara Poda tidak mungkin setiap hari disampingnya. Untuk bertemu saja waktu tidak berpihak kepadanya. Poda selalu pulang larut karena metting dadakan. Sedangkan Krisna, ia selalu pulang pukul 15.00 WIB.
Awalnya Poda tidak tahu apa yang akan dilakukan untuk memisahkan Raka dan Krisna. Sebenarnya Poda tidak tega melihat Krisna setiap hari melakukan perjalanan dua jam untuk berangkat dan pergi ke kantor, tapi Krisna tidak pernah merasa keberatan. Sementara untuk sekarang ini, Poda berpikir mencari kost untuk mereka. Poda tidak mungkin melakukan perjalanan malam setiap hari bisa jadi sampai rumah pukul 20.00 WIB, dan paginya dia harus berangkat pukul 06.00 WIB. Setiap keterlambatan ada sanksi tersendiri sekalipun mempunyai alibi yang rasional. Denda 10rb per menit adalah wajib bagi semua karyawan yang terlambat.
Apa yang baru dipikirkan Poda kini benar-benar menjadi nyata. Tekat untuk mengakhiri perjalanan 2 jam itu kini terhenti. Poda berniat mencari kost bebas Las Vegas atau biasa di kenal dengan istilah LV. Dimana di dalamnya seseorang bebas keluar masuk kost seperti rumah sendiri. Tanpa memperdulikan status. Penghuni kost tidak pernah mempermasalahkan mereka pasangan suami istri atau pasangan muda-mudi yang terpenting adalah setiap bulan membayar kost.
Di kantor, Poda bertanya kepada teman-temannya tentang keberadaan kost LV. Mereka mengatakan tidak ada di sekitar sini. Kebanyakan di daerah kampus U*M dan Babar*ari. Ah itu terlalu jauh, jarak keduanya dengan Poda pulang ke rumah sama. Bukankan lebih baik Poda pulang ke rumah.
Poda sudah berusaha mencari informasi namun tidak kunjung mendapat kepastian. Akhirnya Poda mengutarakan maksudnya kepada Krisna. Dia sangat bahagia dan bersedia membantu Poda.
Krisna mencari di aplikasi berwarna biru. Bertanya ke setiap orang yang menyewakan kamar. Hingga akhirnya Krisna menemukan kost yang dapat di tempuh dengan waktu 10 menit. Sebenarnya tidak jauh, namun harus melewati 2 lampu merah dan itu yang membuat perjalanan menjadi lama.