
Tiba di rumah pukul 18.00 WIB. Saat Krisna hendak masuk ke dalam rumah, ayah lebih dulu keluar dan menarik Krisna agar berjalan mengikutinya.
"Ikut aku kita ke rumah Poda sekarang," tukas sang ayah yang bernama Yatma.
Terpaksa mengikuti karena wanita itu lelah selalu disalahkan dengan keadaan. Tiba di rumah Poda, keluarga besar di sana sedang menikmati waktu luangnya.
Tanpa basa-basi, Yatma langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Selamat malam, saya ingin Poda dan Krisna menikah secepatnya. Lihat! Sepertinya anak perempuan saya sudah hamil enam bulan," tukas Yatma.
"Saya juga berpikir hal yang sama," ucap ayah Poda yakni Sumit.
Yatma dan Sumut berbincang seputar keadaan Krisna dan kandungannya. Serta berterus terang jika Poda harus segera menikahi Krisna.
"Saya akan kesana besok sore dan melangsungkan pertunangan yang tertunda tiga bulan lalu," ucap Sumit sebagai akhir pembicaraan.
"Ayo pulang," ajak Sumit kepada Krisna.
"Aku pulang sendiri, saat ini aku ingin pergi bersama Poda nanti Poda yang akan mengantarku," ucap Krisna.
Yatma pulang seorang diri. Sementara Poda menaiki KLX hijau yang entah milik siapa menembus dinginnya malam dengan Krisna. Mereka tiba di sebuah taman yang sudah cukup sepi.
"Aku mencintaimu," ucap Poda.
"Apakah cinta harus pergi seenaknya?," sindir Krisna.
"Ponselku rusak aku tidak punya ponsel lain," tukas Poda.
"Secepat itukah? Padahal benda itu lebih canggih dari milikku."
"Mana tau, tapi kenyatannya sekarang tidak lagi kupakai."
"Cup" dengan lancang Poda mencium bibir Krisna.
"Jangan meninggalkanku," pinta Poda.
"Lalu selama ini siapa yang meninggalkanku? Dengan tanpa perasaan kamu meninggalkanku dan bayi dalam kandungan. Tanpa sedikitpun kamu peduli dengan keberadaannya."
Poda mengucapkan kalimat seolah Krisna yang menyakitinya. Padahal selama ini hanya kecewa yang dirasakan Krisna.
"Dari mana aku mendapatkan laki-laki tanpa hati seperti ini," gumam Krisna.
"Sudah malam ayo pulang," ajak Poda seraya mendekat dan memeluk Krisna.
Menarik kepala wanita itu agar berada di dada bidangnya. Membiarkan aroma maskulin yang dipakainya memenuhi Indra penciuman Krisna.
"Aku tidak bisa melupakan aroma yang selalu membuatku menginginkannya," batin Krisna.
Poda mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir Krisna agar bisa menciumnya. Lalu ******* lembut sampai akhirnya menjadi ciuman yang saling menuntut.
"Besok kita ke puncak," bisik Poda setelah melepaskan ciumannya.
Krisna mengangguk sebagai jawaban.
"Aku memang bodoh. Selalu terluka, tapi tidak pernah bisa menolak ajakannya. Nafsuku terlalu buas hingga aku harus melampiaskan sampai tuntas. Aaarrgghhh! Kenapa harus terlahir sebagai hyper seperti ini," gerutu Krisna dalam hati.
Pelukan perpisahan mereka lakukan di bawah hamparan langit luas. Gemerlap bintang menjadi saksi jika keduanya saling membutuhkan. Poda mengantar Krisna sembari meberikan jaket miliknya agar dipakai Krisna.
"Cup" kecupan singkat mendarat di kening wanita itu.
Malam terasa begitu cepat karena dunia kembali membiarkan sang surya menyinarinya.
Kini Poda menepati ucapannya. Dia menjemput Krisna menggunakan matic kesayangannya. Rencana ke puncak saat ini adalah rencananya yang terakhir karena setelah itu keduanya akan menikah dan bebas melakukan dimanapun.
Lima jam dua insan yang baru saja memulai hubungan baik tiba di Puncak Tanah Abang. Tempat pertama kali untuk mereka bermalam serta tempat kedua setelah kostnya.
"Yes, but i want," jawab Krisna tanpa malu.
"Aku juga menginginkannya, tapi kukira kamu tidak mau melakukannya. Apa itu keinginan calon juniorku?," ucap Poda sembari mengusap perut Krisna.
Krisna adalah wanita yang tidak pernah merasakan lelah. Fisiknya kuat sekalipun berbadan dua. Hamil tidak membuat kegiatannya berkurang. Justru bertambah yaitu memikirkan calon suami yang tidak pernah memikirkannya.
Terlentang adalah posisi terbaik untuk mengurangi pegal di tubuhnya. Tanpa disadari ketika Krisna hendak memejamkan mata, dia merasakan ada sesuatu menindih kakinya.
Terpaksa membuka mata, dia mendapati Poda sudah berada di atasnya. Gejolak yang selama ini tidak pernah tersalurkan kembali bergerilya. Bayangan adegan yang tak lazim muncul begitu saja.
"Cup" kedua bibir saling menempel dan *******.
Tidak ada yang bisa menghalangi Poda ketika laki-laki itu menginginkannya hingga terjadilah hal yang membuat Krisna hamil. Jika sebelumnya Poda hanya mengeluarkan diluar, kini dia berani memuncratkan di dalam.
Meleleh keluar karena rahimnya tidak muat untuk menampung milik keduanya. Erangan panjang sebagai tanda akhir dari pelepasan mereka.
"Thanks you baby, tidurlah sudah malam tidak baik untuk kesehatan disini," ucap Poda dengan tangan kanan menunjuk ke perut Krisna.
Senyum tulus terukir di bibir wanita itu. Keduanya terlelap dengan posisi saling memeluk. Tanpa sehelai benang, hanya selimut dan dekapan yang menjadi penghangat.
Sinar mentari menyilaukan menembus jendela kamar hotelnya. Dengan terpaksa Krisna membuka mata. Mengamati sekeliling merasa pernah berada di tempat itu. Semalam dia tidak begitu peduli karena mereka bercinta dengan penerangan yang minim.
"Sial! Ternyata di Bromo Indah! Tempat yang membuatku kesal, tapi kenapa kamu suka sekali memakainya," gerutu Krisna.
"Kenapa?," gumam Poda masih memejamkan mata.
"Aku benci tempat ini," tukas Krisna.
"Aku sengaja karena hari ini kita harus pulang nanti sore ada acara jika kamu lupa," ucap Poda mengingatkan.
Kesal tentu saja menyulut emosi Krisna. Bagaimana mungkin di saat dia hamil harus melakukan perjalanan 5 jam lagi setelah semalam dia melaluinya.
"Ayo mandi," ajak Poda seraya beranjak dari tempat tidur dan menggendong Krisna ke dalam kamar mandi.
Bukan hanya mandi, tapi mereka melakukan lagi. Hamil bukan alasan untuk tidak berhubungan.
"Beruntung aku tidak pernah merasa lelah," batin Krisna.
Selesai mandi, seperti ucapan Poda sebelumnya. Dia dan Krisna kembali ke kota kelahiran setelah menikmati malam panjang. Malam terakhir keduanya menikmati indahnya hotel di kota yang terkenal akan kebebasannya.
Sore hari Poda hanya menurunkan Krisna di depan rumah karena dia harus kembali bersama keluarganya satu jam lagi.
Malam tiba, Poda bersama keluarga datang seperti tiga bulan lalu. Yang berbeda hanya tidak ada sang mama disana.
"Itu lebih baik, aku lelah selalu disalahkan," batin Krisna.
"Jangan membuat onar lagi! Ingat kali ini kamu harus menikah!," ucap Yatma penuh penekanan.
"Hidup dalam paksaan seperti burung dalam sangkar," gumam Krisna disertai senyum sinis.
Dia bukan wanita jahat, tapi berhati pendendam. Tidak pernah menyakiti orang lain jika tidak ada yang memulai. Untuk saat ini hidupnya benar-benar seperti sandiwara dengan semua orang menjadi sutradara.
"Lalu kepada siapa aku harus berbagi cerita jika Poda bahkan hanya diam saat melihatku dipaksa! Brengsek ternyata dia tidak berubah," umpat Krisna.
"Terry, ya hanya Terry sandaranku saat ini," gumam Krisna.
Mendadak bayangan Terry hadir dalam benaknya. Ketulusan Terry, keseriusan laki-laki itu juga kasih sayang yang diberikan selama ini. Bahkan dia selalu memperhatikan janin dalam kandungannya. Selalu memaksa untuk periksa. Selalu membawa makanan bergizi. Tidak lupa selalu membuatkan susu ketika malam hari.
Enam bulan Terry melakukan itu, tapi tidak sedikitpun menggoyahkan hati Krisna.
"Akulah wanita terbodoh yang tidak bisa melihat perbedaan paksaan dan ketulusan," batin Krisna.