My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 60 Jemuran



Tidakkah kamu bertanya dimana hati yang dulu pernah hampa


Dan kamu pernah mengisi kekosongannya


Ketika kamu dengan manisnya melirik takdir


Ketika kamu dengan sengaja mencari tempat terindah untuk mengukir


Cinta itu begitu nyata


Ketika waktu berhenti bergulir


Meninggalkan sedikit kenangan manis di sama


Terkadang kamu harus terus mengikiskan hatimu


Sebelum kamu membuatnya mencair


Karena ketika kelembutanmu hanya untuk di hempaskan


Maka disitulah hatimu akan merasakan kekecewaan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hujan itu menjadi saksi kepergian Denada dari kantor Raka. Meninggalkan rasa malu disana. Menurunkan harga diri yang selama ini di junjung tinggi.


Sementara Krisna dan Poda tiba di kost setelah dua puluh menit perjalanan. Ketika mereka menempuh setengah perjalanan, tiba-tiba hujan semakin deras memaksa keduanya untuk tidak menepi. Semua berniat basah kuyup sampai tujuan.


Tiba di kost Krisna, suasana masih sepi. Mungkin karena sore hari penghuni kost sedang jalan-jalan. Hampir semua penghuni masih muda sehingga mereka terbiasa pulang ketika malam hari.


Krisna merasa senang mendapati kost sepi. Bukan karena ada niat terselubung, namun dia menjadi leluasa melakukan segala aktivitasnya. Bagaimana tidak jika saat dalam keadaan basah, tentu saja Krisna malu pada penghuni lain. Terkadang dia juga sungkan akan melakukan rutinitasnya meskipun hanya sekedar mencuci baju.


"Berhubung saat ini kost sedang sepi, kamu ganti baju di kamar mandi! Aku akan mengantarkan handuk, aku tidak mau kamarku basah karenamu!," perintah Krisna yang berarti harus dilaksanakan. Saat ini wanita itu tidak menerima penolakan.


"Iya," jawab Poda seraya melepas helm yang dipakainya.


Poda memasuki kamar mandi, sedangkan Krisna menyambar handuk yang tergantung di jemuran. Poda masuk ke kamar mandi tanpa membawa apapun. Di dalam kamar mandi laki-laki itu segera melepas semua pakaiannya. Juga menanggalkan celana dalamnya. Setelah itu dia membasuh seluruh tubuhnya dengan sabun cair yang telah di bawanya masuk dari sebelah pintu.


Sebenarnya aroma sabun yang digunakan Krisna identik dengan harum khas perempuan. Namun daripada Poda tidak mandi lebih baik dia menggunakan sabun seadanya.


Sedangkan Krisna, dia juga masuk ke kamar mandi yang berada di sebelah kamar mandi yang digunakan Poda. Melepaskan semua pakaiannya di sana, lalu melilit tubuhnya dengan handuk yang di bawanya. Setelahvitu dia keluar kamar mandi dengan membawa pakaian kotornya. Pakaian itu dia masukkan ke ember yang nantinya akan dicuci.


Krisna segera berlari menuju kamar. Mengganti handuk dengan pakaian seadanya. Ingat jika dia masih harus mencuci pakaian. Tentunga termasuk pakaian yang di gunakan Poda. Memilih celana pendek sebatas paha dan kaos putih bergambar hello Kitty.


Setelah mengganti semua pakaianny, Krisna segera menghampiri Poda yang masih berada di kamar mandi. Semoga saja dia sudah selesai mandi. Tidak lucu jika Krisna membawa handuk namun yang dibawakan belum selesai.


"Tok.. tok.. tok" Krisna mengetuk pintu. Khawatir jika dia berteriak, Poda tidak akan mendengarnya. Bahkan untuk saat ini jelas Poda sedang menunggunya. Lebih tepatnya menunggu handuk yang dibawakan Krisna.


"Kenapa?," ucap Poda dari dalam kamar mandi.


"Buka pintunya, aku membawa handuk untukmu," kata Krisna.


"Sebentar," teriak Poda setelah dia semakin keras menyalakan shower.


"krrekk" suara pintu terbuka.


"Dimana handuknya?," tanya Poda.


"Ini," jawab Krisna seraya mengulurkan tangan memberikan handuknya.


Setelah itu Krisna segera mandi dan berganti pakaian. Kemudian mencuci semua pakaian kotornya sambil sesekali bersenandung. Memasukkan pakaian kotor ke dalam ember, lalu mengambil ember yang lain untuk diisi air bersih guna membilas pakaian yang telah selesai di sikat.


Liquid detergent dengan aroma "royal gold" selalu menjadi pilihan Krisna. Perpaduan antara vanilla dan bunga Orchid membuat kesan menenangkan hati. Karena Krisna begitu menyukai aroma itu, tidak jarang jika dia mencari parfume non alkohol dengan perpaduan aroma keduanya, namun sayang dia tidak pernah menemukannya.


"Hufttt benar-benar melelahkan, bagaimana mungkin pakaian sebanyak ini bisa di jemur semua? Ini kan jemuran umum, mungkin semua pakaianku bisa, tapi bagaimana dengan pakaian Poda," gumam Krisna.


Berpikir bagaimana jika dia meringkas pakaian kering yang berada di gantungan lalu mengisi dengan semua pakaiannya. Krisna mendekati jemuran yang ada disana, lalu mengambil pakaian kering yang masih ada. Mengumpulkan dalam ember kering, tapi kemudian mengambilnya lagi dan menjemur ke tempat semula.


"Tidak, jelas saja aku akan bernasip buruk jika melakukan ini! Dasar laki-laki menyebalkan hanya bisa membuatku menderita, sekarang bagaimana mungkin aku akan menjemur semua ini, arrgghhh," gerutu Krisna.


Poda yang tidak sengaja mendengar Krisna berteriak segera menghampiri. Melihat Krisna masih dalam keadaan utuh dan tidak kurang suatu apapun membuat Poda menatapnya tajam. Pasalnya dia sudah berpikir Krisna digigit ular karena tidak biasanya wnaita itu menjerit.


"Kenapa?," tanya Poda.


"Aku tidak tahu harus menjemur pakaian ini dimana, lihatlah semua jemuran penuh, sedangkan sekarang masih hujan, bahkan aku ragu jika esok akan panas, bagaimana mungkin kamu dengan sengaja membawa semua pakaianmu ke sini? Disini tidak ada jemuran sayang," jawab Krisna dengan sedikit penekanan.


"Oh, kamu bisa menjemurnya di kost ku, nanti aku akan mengantarmu kesana," usul Poda.


"Kenapa tidak kamu sendiri ha?," ketus Krisna.


Wanita itu tidak mau memasuki kost Poda bukan karena takut Poda melakukan hal buruk padanya. Namun dia tidak terbiasa berada di tempat yang begitu banyak laki-lakinya. Sedangkan kamar Poda sendiri berada di tengah.


"Kamu bawa pulang sendiri pakaianm! Aku tidak akan ke sana," tukas Krisna.


"Tidak! Kamu harus ikut ke sana!," perintah Poda.


"Untuk apa? Untuk bertemu laki-laki hidung belang seperti mereka? Atau untuk mengantarmu menuju habitatmu hm?," sindir Krisna.


Poda diam karena sebenarnya yang di ucapkan Krisna benar. Dia tidak mungkin membiarkan miliknya menjadi konsumsi massa seperti itu. Poda tahu dan sangat mengerti jika kemanapun Krisna pergi, dia akan selalu memakai hot pants dan kaos longgar. Sedangkan di sana semuanya laki-laki seperti dirinya.


"Aku juga tidak akan membiarkanmu menjadi konsumsi publik, enak saja mereka dengan sengaja melihatmu seperti itu," ujar Poda.


"Terserah, yang terpenting aku tidak mau kesana, cepat sekarang bawa semua pakainmu pulang!," teriak Krisna.


"Bagaimana aku membawanya jika Krisna belum selesai mencuci, apakah aku harus mencucinya sendiri?," pikir Poda dengan memandang kedua ember yang berada di sana.


Krisna yang mengerti ke mana arah Poda memandang, kini ekor matanya segera mengikuti. Membulatkan mata ketika menyadari yang dilihat adalah ember di dekatnya.


"Aku akan menyelesaikan ini, pergilah," ujar Krisna.


Poda berlalu meninggalkan Krisna disana. Dia kembali menuju kamar dengan mengangkat kedua bahunya.


"Terserah," gumam Poda.