My Hidden Love

My Hidden Love
53 Kekasih Gelapku



Untuk apa mencintaimu


Jika berakhir dengan harapan palsu


Untuk apa merindukanmu


Jika berakhir dengan tipuanmu


Biarkan aku disini


Menikmati tipu daya seorang sendiri


Berusaha mengerti


Mengapa takdir membawaku ke sini


Dalam cakrawala aku berdoa


Meski dengan hati yang terluka


Kepada Dewi Cinta aku memuja


Semoga ego segera luruh dengan sendirinya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Iya," ucap Raka.


"Fiyuuuhhhh," Krisna akhirnya bisa bernafas lega.


"Ini ponselmu," ucap Raka.


"Untuk apa?," tanya Krisna.


"Aku tidak tertarik membaca pesan kalian, aku lebih suka membaca isi hatimu," ucap Raka santai.


"Ya Tuhan, kenapa laki-laki ini sekarang menjadi sedikit tukang gombal," batin Krisna.


"Aarrgghhh, kenapa kamu sekarang seperti ini? Apa kamu lupa meminum obatmu?," ucap Krisna dengan mengacak rambut frustasi.


"Kamu terlihat semakin menggoda ketika mengacak rambutmu seperti itu," kata Raka.


"Ih dasar laki-laki mesum! Husshhh pergi sana jauh-jauh dari aku! Jangan pernah mendekat," ucap Krisna seraya menirukan gaya mengusir kucing agar Raka menjauh.


"Kamu juga kan?," ujar Raka.


"Tidak!," elak Krisna.


"Tidak salah?," ucap Raka.


"Entah," jawab Krisna acuh dengan mengangkat kedua bahunya.


"Baiklah," ucap Raka pasrah.


"Eh, untuk apa aku mengatakan baiklah, bukankah semua memang baik-baik saja," ucap Raka linglung.


"Hahaha, bagaimana mungkin seseorang sepertimu bisa terlihat bodoh di depanku?," kata Krisna disela tawa terbahaknya.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu heh?," ucap Raka dengan sinis.


"Hei, aku baru tahu ternyata kamu bisa sinis juga," ujar Krisna. Dia berhenti tertawa lalu menatap Raka dengan intens.


"Kenapa aku sangat merindukan Poda, padahal laki-laki di depanku ini sangat sempurna," batin Krisna.


"Apa?," tanya Raka.


"Eh, em ti-tidak apa-apa," jawab Krisna terbata.


"Sial! Kenapa aku selalu mudah di tebak? Kenapa juga aku selalu terbata ketika Raka mempergokiku," umpat Krisna dalam hati.


"Ah tidak, aku hanya ingin menjambak rambut cepakmu itu, eh?," ucap Krisna. Dia keceplosan mengatakan hal itu lalu segera menutup bibirnya dengan tangan kanan. Namun terlambat, Raka sudah mendengar jelas apa yang barusan di katakan.


"Apa? Kamu ingin menjambak rambut cepakku ini hm?," goda Raka yang membuat wajah Krisna semakin memerah.


"Tidak," ucap Krisna dengan menundukkan wajahnya


"Tidak menolak? Atau tidak mengakui ketampananku ini?," ucap Raka dengan seringai licik.


"Kata siapa kamu tampan?," ujar Krisna dengan memberanikan diri menatap Raka.


"Andai laki-laki di hadapanku ini Poda, sudah kulastikan habis sedari tadi, namun sayang aku masih punya sedikit gengsi untuk ini, bagaimana mungkin aku akan melahap laki-laki ini sedangkan aku sama sekali tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, oh hati, tolong berfikirlah sedikit jernih! Jangan melulu memikirkan tentang nafsu duniawi! Dasar bodo*!," gerutu Krisna dalam hati.


Raka tidak menjawab celotehan Krisna, namun membalas tatapan itu. Dia ingin tahu seberapa berani wanita yang sedang berhadapan itu menatapnya. Padahal Raka sendiri juga sedang memikirkan hal yang sama. Tanpa sepengetahuan Krisna, Raka berpikir akan menghabisinya. Namun ingat dia saat ini berada di tempat umum. Bahkan sejak memasuki ruangan itu belum ada lagu satupun yang dinyanyikan. Mana mungkin Raka akan melakukannya di sana. Terlalu bodoh dan memalukan. Meski terkadang keinginan mengalahkan imannya. Namun Raka tetap Manahan diri. Setidaknya untuk saat ini. Perihal nanti setelah keluar dari sana, itu urusan nanti.


Sementara Krisna semakin merasa malu. Dadanya berdebar semakin keras. Mungkin sejengkal saja Raka melangkah, pasti akan mendengar detak jantungnya. Padahal Krisna terbiasa melakukan ini dengan Poda, tapi untuk saat ini hatinya benar-benar tidak memahami situasi dan kondisi. Tanpa malu jantung itu berdetak keras seakan dia berada di ruang kosong sendirian.


"Ah bagaimana jika Raka memergokiku lagi, pasti tamatlah riwayatku," pikir Krisna.


"Hei, apa yang kamu pikirkan? Kenapa senyum-senyum sendiri?", tanya Raka yang membuat Krisna tersentak. Ternyata Krisna tanpa sadar tersenyum sendiri.


"Em, kenapa? Ada yang salah jika aku tersenyum?," ucap Krisna datar.


Raka semakin menatap Krisna tajam. Seperti benar-benar akan menghabisinya. Krisna hanya membalas tatapan itu dengan kosong. Perlahan Krisna mendekat, menjambak rambut laki-laki di depannya yang sedari tadi hanya dapat dia bayangkan. Lalu mencium pipi Raka dengan singkat.


"Eh, sial! Kenapa aku kebisa seperti ini?," gerutu Krisna.


"Kenapa menggerutu?," tanya Raka.


Krisna tidak menjawab pertanyaan Raka. Dia masih diam menikmati ciuman tadi. Menikmati indahnya rambut yang tadi dijambaknya.


"Woey kris, kenapa diam?," ucap Raka sekali lagi dengan melambaikan tangannya tepat di depan kedua mata Krisna yang nampak kosong.


"Eh, kenapa? Ada yang salah?," ucap Krisna yang tersadar dari lamunan.


"Kamu dari tadi kenapa diam?," tanya Raka.


"Beruntung aku tadi hanya hanyut dalam bayangan, astaga efek kurang kasih sayang jadi begini! Lain kali jangan sampai membayangkan sesuatu yang tidak mungkin kris, ingat! Jangan pernah membayangkan sesuatu yang tidak mungkin!," umpat Krisna dalam hati.


"Em aku tidak apa-apa," jawab Krisna datar.


"Apa yang akan kita lakuakan di sini?," tanya Raka. Dia tahu tidak mungkin hanyut dalam pikiran kotornya, oleh karena itu dia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sing a song, mau apa lagi?," jawab Krisna.


"Kenapa dari tadi kamu diam? Jangan bilang kalau kamu masih mengagumi ketampananku?," goda Raka lagi. Dia tidak pernah bosan menggoda wanita yang kini bersamanya.


"Rakaaa, cukup jangan pernah memuji ketampananmu di hadapanku," ucap Krisna sedikit berteriak.


"Kenapa?," tanya Raka santai.


"Karena aku tidak mau terjatuh di pelukanmu, butuh waktu yang lama untuk aku terbiasa dengan segala godaanmu," jawab Krisna.


"Apa? Bisa kamu jelaskan maksud dari ucapanmu tadi?," tanya Raka.


"Sudahlah, jangan membuatku selalu terlihat bodoh! Dasar menyebalkan!," gerutu Krisna.


Raka hanya diam mendengar Krisna menggerutu. Dia tidak ingin dirinya juga jatuh dalam suasana selarut ini. Cukup hatinya saja yang terlalu jauh mencintai seseorang yang bukan miliknya, sedangkan raganyaasih dengan jelas berada dalam kebimbangan. Bimbang antara bertahan atau melepaskan. Namun hati kecilnya mengatakan jika dia tetap harus memperjuangkan cintanya. Mungkin hanya ada satu diantara seribu wanita yang hampir sama seperti Krisna, atau mungkin malah tidak pernah ada. Wanita sederhana dengan pemikiran yang tak kalah cerdas dari seseorang yang berpendidikan di atasnya. Terlebih dia tidak pernah menuntut sesuatu yang membuat orang lain celaka. Dia hanya menuntut kejujuran dan perhatian. Wanita malang dalam hal percintaan. Namun tetap bertahan di tengah ketidakpastian.


Krisna mengambil wireless mic yang ada di atas meja. Mengambil dua, satu untuknya dan satu lagi diberikan untuk Raka.


"Terima kasih, judul dan pencipta?," ucap Raka.


"Ungu ~ Kekasih gelapku," ujar Krisna.


"Apakah ada seseorang yang saat ini kamu cintai?," tanya Raka.