My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 74 Cikhen Katsu



Berkat merindukanmu aku mampu menyelesaikan kewajiban ku


Kewajiban untuk mengingat setiap kenangan manis tentangmu


Juga kewajiban untuk selalu menjaga hatiku agar tetap untukmu


Terima kasih takdir akan garis lurus mu yang dulu pernah berliku


Lalu aku mengerti kenapa hidup ini begitu sulit ku lalui


Karena saat itu aku tidak mengerti jika berawal dari duka akan berakhir dengan cita


Dan aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita


Jika kita tidak bisa bersama


Setidaknya aku tidak bisa melupakanmu begitu saja


Karena tentangmu bukan untuk memenuhi jiwaku


Namun hadirmu hanya untuk mengubah hidupku


Hanya mengubah lukaku menjadi kenangan ku


Hanya mengubah sedihku menjadi tawaku


Hanya mengubah sederhanaku menjadi bahagiaku


Dan hanya hanya itulah yang terpenting untukku


Menemukanmu


Sosok yang jauh sempurna berada di atas ku


Namun mampu membuatku merasa sejajar denganmu


Aku tanpamu


Hanya butir abu tak menentu


Bukan aku tanpamu hanya butiran debu


Karena mencintaimu saja begitu sulit untukku


Apalagi jika harus menjadi butiran debu


Yang bahkan semut pun tak sanggup menggerutu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah Krisna berganti pakaian, keduanya segera menaiki matic 125. Menuju tempat penjual makanan malam. Sebenarnya Poda menginginkan bakmi goreng Jawa, namun Krisna tidak mau.


Tidak tahu lidah apa sebenarnya yang ada di tubuh Krisna. Makanan asing jelas dia tidak suka, namun makanan lokal tidak sedikit yang lidahnya tidak mau. Rasanya percuma saja jika menanyakan apa keinginannya. Lebih baik langsung membelinya. Jika wanita itu menyukai, dia akan langsung memakannya namun jika tidak pasti tidak akan menyentuhnya.


"Jujur aku merindukan senyummu, merindukan ceriamu seperti dulu sebelum aku merusak semuanya dengan ego tinggiku! Aku mencintaimu tulus dari dasar hatiku, meski terkadang sifat angkuhku mengalahkan ketulusanku! Maafkan aku yang membuatmu seperti ini, tapi aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi! Aku tidak mau laki-laki itu menyentuh hatimu terlebih aku tahu jika hatimu benar-benar sulit ditaklukkan," batin Poda menjerit mellow.


"Sebentar aku akan berpikir," tukas Poda.


"Seperti anak kecil begitu saja harus berpikir," gerutu Krisna.


Poda dan Krisna tiba di salah satu tempat yang terbilang romantis dengan makanan utama chicken. Pastinya tidak jauh dengan makanan biasanya karena Krisna tidak bisa makan makanan asing. Lidah wanita itu tidak terbiasa.


Setelah memarkirkan maticnya, Poda segera menggandeng Krisna untuk segera masuk. Poda memilih duduk di kursi paling pojok yang menghadap langsung ke luar dengan pemandangan bintang bintang di langit. Serta penerangan yang menggunakan lilin di setiap meja beserta musik yang sangat popular untuk kalangan remaja menambah kesan keromantisan disana.


Beruntung malam itu listrik padam karena jika tidak moment romantis Poda dan Krisna tidak akan tercipta. Memang di sana selalu menggunakan penerangan lilin, tapi tetap saja lebih romantis jika sedang mati lampu seperti ini.


"Hm, kemajuan juga nih anak! Setelah Raka mengenalku, mendadak Poda juga semakin perhatian bahkan dia rela mengajakku makan di tempat romantis seperti ini! Apa dia kesambet? Jika iya, biarkan dia seperti ini terus Ya Tuhan, aku suka melihat Poda malam ini," pinta Krisna dalam hati.


Tanpa sadar bibir itu tertarik membentuk garis lurus yang berakhir dengan senyuman. Membuat Poda yang melihatnya menjadi tersenyum juga. Berawal dari malam itu dan untuk seterusnya, Poda bertekad akan membuat Krisna menjadi wanita yang sangat berarti untuknya.


Berawal dari pertemuan singkat yang indah dan masih terngiang, namun lama-lama Poda membuatnya sedikit keruh. Em, mungkin memang sangat keruh tidak hanya sedikit. Lihat saja perawalan yang manis namun di tengah jalan bermain tragis. Seperti jagung yang baru bersemi lalu tiba-tiba pupus karena musim kemarau.


Demi mendapatkan senyum wanita itu lagi, Poda rela menjatuhkan harga dirinya untuk berada di tempat bercahaya redup itu. Tidak biasanya laki-laki berdarah sombong dan egois mampu bersikap manis.


Krisna menatap langit malam melalui jendela yang terbuka. Bersama tiupan angin yang menyapu anak rambutnya membuat seketika Krisna tersenyum.


"Kamu manis ketika tersenyum, teruslah tersenyum tapi ingat! Tersenyumlah di hadapanku jangan di hadapan Raka!," geram Poda dam hati.


Laki-laki yang sebenarnya mengakui kecantikan alami yang terpancar dari wanita di depannya, namun gengsi untuk mengakuinya. Baru sebentar keduanya berada di sana, Poda sudah berkali-kali melihat Krisna tersenyum.


"Semoga saja hatinya mencair seperti es beku, karena jika hatinya seperti batu aku akan sulit mencairkannya, masa iya aku harus memberinya air setetes demi setetes agar lama-lama batu itu hancur! Lama banget tau," gerutu Poda dalam hati.


Bertolak belakang akan Krisna yang sering tersenyum. Sedangkan Poda justru sering menggerutu. Mendadak Poda tidak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya. Malam itu Podaerasakan dadanya berdebar keras. Dia menutupi kegugupannya dengan memandang lilin yang ada di depannya.


"Hei lilin, kamu jangan cepat meleleh ya biar aku saja yang mencairkan hati wanita disebelahmu, kalau kamu tau bagaimana cara meluluhkannya itu sulit kamu tidak akan pernah sanggup melaluinya," bisik Poda kepada lilin yang menjadi saksi kegugupannya.


Dua insan yang sebenarnya telah lama bersama, kini saling bungkam. Poda enggan mengawali pembicaraan karena dia sendiri merasakan hatinya menjadi kacau balau. Tidak seperti apa yang tadinya di bayangkan.


Poda berpikir jika makan bersama sudah menjadi hal biasa, namun apa jadinya jika malam ini laki-laki itu mendadak grogi. Benar-benar di luar dugaan.


"Aku menjadi gugup seperti ini apa karena aku mencintaimu lagi? Apa rasa yang dulu aku tidak bisa menerjemahkannya kini telah memenuhi hatiku dan menguasai jiwaku? Ah aneh, kenapa aku baru merasakan sekarang? Apa aku sungguh mencintainya? Atau aku hanya tidak mau jika sesuatu yang sudah menjadi milikku akan direbut oleh orang lain? Eh tapi kan Krisna bukan mainan, aaarrggghh terserahlah," ucap Poda putus asa lalu mengacak rambutnya.


Krisna yang menyadari hal itu segera memalingkan badannya, melihat apa yang terjadi. Jujur saja malam ini Krisna juga menyembunyikan kegugupannya. Meski dengan cara yang berbeda.


"Ada apa?," tanya Krisna pelan.


"Tidak apa-apa," jawab Poda lirih.


"Kenapa jadi bisik-bisik begini ya? Aku atau dia yang gila?," pikir Krisna.


Mereka diam lagi seperti tidak berselera bercanda seperti biasa. Merasa jika Krisna tidak akan memulai pembicaraan, Poda memberanikan diri untuk mengawalinya.


"Em, kamu mau makan apa sayang?," ucap Poda.


"Chicken katsu with barbeque sauce," ujar Krisna.


"Tidak mencoba makanan lain? Steak mungkin? Atau apalah yang agak naik level dikit," tawar Poda.


"Hush, apa aku harus memperjelas lagi perihal makanan yang pas di lidahku?," ujar Krisna.