
Jika kamu bertanya bagaimana suasana hatiku saat ini
Aku akan sangat bahagia, tapi itu nanti setelah menemukan jodohku
Karena untuk saat ini yang kurasa hanya kecewa yang kembali melanda
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara di tempat lain Krisna merasa hatinya sedikit gelisah. Tidak biasanya wanita itu merasakan gelisah kecuali dulu jika Poda melakukan hal yang menyakitinya.
"Wanita itu, tidak! Tidak mungkin Poda tega melakukan semua itu kepadaku," ucap Krisna yang segera menghilangkan bayangan kotor di benaknya.
Kembali bayangan masa lalu yang buruk hadir dalam benaknya. Wanita itu pusing memikirkan hidup kelamnya. Tentang laki-laki yang sepenuh hati dicintainya namun tega melakukan pengkhianatan kepadanya.
Semakin dilupakan, semua peristiwa itu semakin jelas. Krisna seperti merasa dadanya ditusuk-tusuk dengan belati. Bagaimana mungkin dia selalu lupa seribu luka hanya dengan sedikit belaian lembut darinya.
Semakin malam bayangan itu semakin jelas. Bahkan ketika Poda menelponnya, Krisna bisa dengan jelas mendengar suara wanita berteriak. Tanpa sadar Krisna terlelap karena lelah memikirkan semuanya.
Paginya Krisna terbangun dengan wajah yang begitu kusut. Lebih kusut dari biasanya, malah sekarang kantung matanya terlihat jelas. Wanita itu tidak memperdulikan penampilannya.
Seperti biasa Krisna menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Poda. Setelag selesai masak wanita itu segera mandi. Hingga dia akan berangkat ke kantor, Poda belum juga terlihat.
"Apa dia sakit? Kenapa jam segini belum dateng?," gumam Krisna.
Wanita itu menyelesaikan sarapan sendiri. Hanya berteman musik dari speaker yang dinyalakan. Lagu "Utopia ~ Mencintaimu Sampai Mati" seperti mewakili perasaannya.
Krisna menahan air matanya agar tidak keluar. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tegar menghadapi kenyataan pahitnya. Melirik jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 06.30 WIB, Krisna segera bersiap ke kantor.
"Lebih pagi dari biasanya," gumam Krisna.
Tiba di kantor wanita itu segera melakukan absen finger print dan naik ke atas. Menuju ruangan Raka yang masih gelap. Mungkin laki-laki itu belum berangkat.
Baru ketika Krisna akan mendudukkan pantat indahnya, suara pintu terdengar seperti di buka. Krisna segera melihat ke arah pintu. Disana menyembulkan kepala Raka yang sangat tampan dengan senyum termanisnya.
"Sial! Ganteng banget sih Raka haha," batin Krisna.
Raka mengerutkan dahi saat melihat Krisna sudah duduk di kursinya. Wanita itu juga melakukan hal yang sama. Dia mengerutkan dahi ketika menyadari tatapan Raka yang aneh.
"Hai," sapa Raka.
"Hai juga," balas Krisna.
"Kris," ucap Raka.
"Hm," balas Krisna.
"Tidak papa," tukas Raka.
Laki-laki itu merasa dirinya aneh. Dia sadar akan perubahan raut wajah Krisna dari biasanya. Sekalipun Krisna marah kepada Raka, dia tetap memperlihatkan senyumnya. Jika tidak melihat senyumnya, Raka pasti melihat senyum kesalnya.
Pagi itu tidak ada salah satu yang dilihat Raka. Terlebih ketika melihat wajah Krisna yang kusut. Raka merasa ada sesuatu yang menimpanya.
"Pasti perang dingin dimulai lagi," batin Raka.
"Hei, apa kamu tidak berniat duduk di kursimu? Atau berdiri di depan pintu lebih menyenangkan untukmu?," ucap Krisna santai membuat Raka tersadar dari lamunannya.
"Hm iya juga," gumam Raka.
Dia segera berjalan menuju tempat kesayangannya lalu mendudukkan pantat disana. Hari masih pagi, tentu saja Raka tidak langsung membuka laptopnya. Dia berencana akan mencari tahu apa yang terjadi dengan Krisna.
Meskipun cinta tidak bisa memiliki, setidaknya cinta harus bisa untuk menyayangi. Misal menyayangi orang yang saat ini menjadi pasangan orang lain.
"Kris," ucap Raka.
"Hm," lirih Krisna.
"Apa terjadi sesuatu denganmu?," tanya Raka.
Laki-laki itu tiada henti memandangi wanita di hadapannya. Dia merasa sangat iba dengan nasib malang wanita itu. Sebenarnya tanpa Raka bertanya, dia sudah mengerti jika hanya ada satu orang yang mampu memporak-porandakan hati Krisna.
Tidak berperikemanusiaan, tidak pernah memikirkan perasaan, dan selalu melakukan pengkhianatan. Ya, laki-laki tidak tahu diri itu adalah Poda sang kekasih yang menemani Krisna beberapa tahun terakhir.
Heran dengan apa yang selalu dipikirkan Krisna ketika mendapati partner kerjanya itu melamun sepanjang hari atau sekedar melamun di sela kesibukannya. Raka sendiri mengakui jika Poda tidak lebih baik dari dirinya, tapi sadar jika menyangkut hati tidak ada seorangpun yang tahu.
Pernah sangat mencintai, namun justru selalu tersakiti. Raka kembali menerawang ke masa lalunya. Masa dimana dia selalu mencintai wanita yang salah. Masa dimana laki-laki itu selalu dibutakan oleh cinta.
Menunduk dan menahan amarah yang menguasai jiwanya. Raka adalah pribadi pendendam, hanya saja rasa itu bisa disembunyikan. Namun ketika mengingat semuanya, dan dia tidak bisa menahan amarahnya, laki-laki itu bisa melakukan apa-apa.
Selama ini dia selalu tersakiti, namun tidak pernah sedikitpun membalasnya. Itu terjadi karena Raka selalu melakukan segala cara agar lupa akan lukanya. Sebenarnya Denada adalah wanita beruntung yang tidak perlu melihat amarah Raka.
Raka Rahardian laki-laki tampan dan kaya yang sengaja menutup jati dirinya rapat-rapat. Untuk kalangan teman masa lalu dan juga keluarganya, mereka semua tahu siapa Raka yang sebenarnya. Namun laki-laki itu memilih pindah rumah ketika menginjak dewasa. Dia tidak akan membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya dan mencampuri urusannya.
Bagi Raka hidup adalah pilihan. Termasuk memilih bekerja di kantor bersama Krisna saat ini. Jika dulu dia tidak minta pindah, mungkin hidupnya akan penuh dengan kemewahan dan Raka tidak suka itu semua.
Satu nama yang tidak pernah terpikir olehnya yaitu mantan kesayangannya. Wanita yang diam-diam selingkuh dibelakangnya. Raka memilih jalan hidupnya sendiri dengan bekerja tanpa bantuan orangtuanya.
"Apakah itu tentang Poda?," tanya Raka.
Ketika melihat Krisna terluka, Raka seperti kembali ke masa lalunya. Pagi itu dia tidak ingin mengingat semuanya, tapi bayangan hidupnya berputar seperti roll film yang sedang dipertontonkan.
"Iya," jawab Krisna.
Sungguh terlihat tidak mempunyai harapan hidup ketika wanita yang biasanya selalu marah dan cerewet mendadak diam dan menyandarkan kepalanya di bangku. Wanita itu menunduk dan hanya melihat kolong meja.
"Melihatmu seperti ini sama saja membuatku mengingat masa laluku," batin Raka.
Raka mendekat ke arah Krisna. Duduk dengan santainya di pinggiran kursi wanita itu. Tangan kanannya terulur mengusap rambut lembut Krisna. Perlahan Krisna merasa hatinya menghangat.
Masih dalam keadaan menunduk, hati dan pikirannya berkecamuk gelisah. Wanita itu bingung dengan perasaannya. Dia tidak mempunyai perasaan kepada Raka. Hanya sekedar suka, tapi rasa itu hanya datang dan pergi tidak menetap di hati.
Wanita itu menelan ludahnya dengan berat. Bibirnya terasa berat untuk mengucapkan kata-kata. Bahkan hanya sekedar gumamanpun Krisna merasa tidak mampu.
"Tuhan, apa salahku hingga Kau mengujiku seperti ini? Kenapa aku dihadapkan laki-laki baik di saat hubunganku berada di ambang batas?," ucap Krisna dalam hati.
Laki-laki yang masih setia mengusap rambut pun enggan beranjak. Melihat pekatnya rambut tanpa tersentuh warna membuat Raka menaruh kagum pada pemiliknya.
"Ternyata selain kamu sederhana, kamu juga tidak berbuat tingkah! Bahkan hanya memberi warna pada rambutmu saja kamu tidak melakukannya! Jujur saja jika sebenarnya kamu tidak pantas bersanding dengannya! Laki-laki yang bertolak belakang denganmu," batin Raka.
"Jika menangis membuatmu lebih baik maka lakukanlah, tapi ingat jika kamu masih mempunyai aku yang selalu ada di sampingmu," ucap Raka lirih.
Lirihpun tetap masih di dengar oleh Krisna. Sebenarnya Raka tidak berniat membisikkan kata-kata itu, tapi ketika lidahnya kelu hanya suara lirih yang hampir mirip seperti bisikan yang bisa keluar.
"Maaf," sesal Krisna.
Raka menaikkan sebelas alisnya merasa heran dengan ucapan wanita di hadapannya. Seingatnya Krisna tidak pernah berbuat salah padanya atau Raka yang lupa.
Sejenak Raka berpikir kenapa Krisna meminta maaf. Mengingat kembali masa yang selama ini dilalui bersama, dan Raka tidak menemukan kesalahan Krisna.
"Apa mungkin karena menganggapku sebagai pelampiasan? Hei, aku bahkan tidak perpikir sejauh itu jika itu yang kau maksud! Aku tulus selalu berada di sampingmu karena aku percaya suatu hari hatimu kan terketuk oleh ketulusanku," batin Raka.
Hening karena Raka tidak menjawab ucapan Krisna. Wanita itu juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu juga dengan Raka. Keduanya sedang berapi dalam benaknya masing-masing.
"Tenanglah," ucap Raka.
Krisna mengangguk karena hanya itu yang bisa dilakukan. Wanita itu juga tidak berniat membahas ucapan maafnya. Mungkin nanti ketika merasa sudah lebih baik dan Raka menanyakan baru wanita itu akan menjelaskan.
"Pegel juga tangan kekar gue," sungut Raka dalam hati.
Berhenti dari gerakannya, tidak membuat Krisna mendongakkan wajah. Raka mulai tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi dengan gadis kecilnya itu.
"Kris," panggil Raka.
"Hm," gumam Krisna.
"Ada apa," tanya Raka.
"Tidak apa-apa," jawab Krisna.
Setelah merasa gemuruh di dadanya reda, Krisna segera mengangkat wajahnya. Memperlihatkan wajah kusam nan rambut acak-acakan miliknya. Raka sudah biasa melihat wajah jelek Krisna, oleh karena itu laki-laki yang selalu bersama Krisna tidak kaget dengan tampilan wanita di depannya.
"Kamu terlihat lebih buruk," ucap Raka santai.
Laki-laki itu masih duduk bertengger di pinggir kursi pemiliknya. Sebelum wanita yang sedari tadi diam itu sadar, Raka segera bangkit ketika melihat tanda-tanda Krisna mulai membaik.
Ketika Krisna menyandarkan bahunya, refleks Raka langsung berjingkat dan berjalan menuju kursi miliknya. Kemudian mendudukkan pantat seksi itu disana.
"Hampir kena santlap singa kelaparan, sabar," batin Raka.
Tiba-tiba Krisna ingat ucapan Raka yang mengatakan dirinya terlihat buruk. Wanita itu mengambil cermin dari dalam tas, lalu memperhatikan wajahnya. Benar dia terlihat lebih jelek dari biasanya.
Meskipun itu adalah kenyataan, tapi Krisna tidak mau Raka mengejeknya secara terus terang. Perlahan Krisna memalingkan kepalanya untuk melihat ke arah Raka. Laki-laki yang sekarang duduk di tempatnya.
Merasa Raka tidak menatapnya, wanita itu memincingkan mata tanda bahwa dia mulai geram. Raka tidak bergeming, laki-laki itu pura-pura memainkan ponselnya. Padahal dia tahu jika Krisna sedang menatapnya lekat.
"Ehem," dehem Krisna.
Raka masih diam dan terus berkutat dengan benda pipih. Sementara seseorang yang tadi berdehem mulai memikirkan apa yang akan dilakukan kepada Raka nantinya.
Dua menit kemudian, Krisna masih melihat Raka sibuk dengan ponsel. Tentu saja wanita itu merasa kesal karena diabaikan. Tadi aja kehadiran Raka disebelahnya nggak dianggap. Sekarang didiemin Raka aja mulai marah. Dasar wanita memang selalu benar.
Dirasa cukup karena tidak ada kelanjutan bicara, Raka kembali menyimpan ponsel di dalam saku kemejanya. Lalu melirik sekilas ke pemilik aura dingin yang sedari tadi menyergapnya.
"Kayaknya aman, biarin ajalah daripada nanti kelar hidupku," batin Raka.
Saat akan beranjak dari kursi, Raka mendengar namanya di panggil. Laki-laki itu langsung melirikkan mata ke arah asal suara.
"Mampu*! Bakal dimulai lagi nih perang," umpat Raka dalam hati.
"Raka," ucap Krisna datar.
Ketika ucapannya tidak dibalas dengan ucapan, Krisna menyebut nama Raka lagi berharap laki-laki itu menjawabnya. Krisna adalah wanita yang tidak suka didiamkan meskipun dia sendiri sering diam kepada orang lain.
"Dua kali dipanggil! Sekali lagi dapet piring cantik Kris! Ayo sekali lagi, kalau mau piring cantiknya banyak panggil aku terus aja sampai aku budek," gerutu Raka dalam hati.
"Ehem," Krisna berdehem.
"Yaps, satu piring cantik! Mau yang baru atau bekas? Tinggal milih nanti aku ambilin di gudang! Jadi orang kok nggak sabaran banget sih udah manggil dua kali masih pakai berdehem, aku itu udah denger sayang," batin Raka.
"Iya, kenapa kris?," ucap Raka datar agar terlihat santai.
Sebenarnya laki-laki itu gugup setengah mati. Ketika namanya di sebut, dia seperti melakukan lari maraton yang membuat nafas ya ngos-ngosaan. Bahkan di kantor tidak ada yang tahu jika amarah Krisna lebih parah dari amarah Raka.
"Apa yang kamu katakan barusan?," tanya Krisna.
"Oh, itu," jawab Raka singkat.
"Oh apa hm?," tanya Krisna lagi kali ini dengan tatapan mengintimidasi
"Ah tidak," jawab Raka.
"Tidak apa?," ucap Krisna.
"Tidak apa-apa," ujar Raka.
"Oh," ucap Krisna hanya ber oh ria.
Raka bernafas lega karena Krisna tidak memperpanjang ucapannya tadi. Namun siapa sangka ketika tiba-tiba wanita itu berjalan ke arah meja Raka dan duduk di pinggir kursi yang di duduki laki-laki itu.
Seperti sang wanita penggoda yang akan merayu bosnya, tapi tidak untuk Krisna. Wanita itu seperti akan menerkam Raka hidup-hidup, seolah lupa jika Raka adalah seniornya di kantor.
"Kalau bukan kamu, udah pasti ku tendang dari tadi! Beruntung kamu wanita yang telah singgah di hatiku," batin Raka.
"Raka," panggil Krisna.
"Ya," jawab Raka.
Kini Krisna duduk di pinggir kursi Raka, sedangkan pemiliknya duduk di sebelahnya. Wanita itu melayangkan tatapan tajam ke arah Raka. Awalnya Raka tidak berani menatap Krisna karena amarah wanita itu sedang labil, tapi mengingat posisi seperti ini adalah Krisna yang menggoda, Raka memberanikan diri membalas tatapan lawannya.
"Mau menggodaku? Ah tidak masalah, dengan senang hati aku akan mem"askan mu," batin Raka.
Krisna tersenyum licik, Raka pun juga sama. Laki-laki itu tersenyum tak kalah licik dari Krisna.