My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 61 Tiga Puluh Menit



Kita sama-sama dewasa


Pernah tersesat dalam masa yang sama dan Tuhan mempertemukan kita di sana


Kita pernah saling mengerti dan saling melingkupi


Meski hanya sebatas kata penuh misteri


Kita bersama mengarungi rasa berbalut cinta


Meski tidak diperuntukan bersama


Namun tulus itu mengalir begitu saja


Lukamu adalah lukaku


Sedihku adalah sedihmu


Saling berbagi tanpa materi


Saling mengisi tanpa petisi


Teruntuk rasa yang pernah ada,


Aku terluka ketika kamu tak lagi menganggapku


Menganggap kehadiranku seperti dulu


Bukan menganggap sebagai benalu dalam hidupmu


Namun kini aku menyadari


Akan kedewasaanmu yang begitu dini


Begitu lugas kamu mengasihi


Begitu pantas kamu menyinggahi


Menjaga, melindungi, dan menjauhkan diri


Takut akan hadirku yang kelak menggoyahkan hatimu


Terima kasih atas waktu yang selalu tercipta


Meski aku tak pernah menyadarinya


Terima kasih atas rasa yang pernah ada


Meski dengan bodoh aku mengabaikannya


Cinta,


Terima kasih kamu telah mengajarkanku bagaimana menyadari ketika sudah tak lagi dimiliki


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bagaimanapun Krisna menolak, tetaplah semua penolakan itu berakhir sia-sia. Tetap saja Poda menyuruh wanita itu ikut ke kost nya. Poda membawa semua baju kotor yang telah dicuci, sedangkan Krisna yang akan menjemur semuanya.


Beruntung sore itu kost Poda juga dalam keadaan sepi seperti kost Krisna.


"Fiuhhhh lega," ucap Krisna setelah menghirup udara dingin itu. Dia merasa lega karena tidak perlu malu dengan penghuni kost lain.


Tiba di kost, Krisna segera menuju jemuran umum. Di sana tidak ada sehelai pakaian pun. Mungkin kebiasaan laki-laki lebih memilih loundry daripada mencucinya sendiri membuat Krisna leluasa menguasai tempat itu.


"Kenapa jemuran disini tidak pernah terisi barang sehelai pun? Apakah penghuni sini tidak pernah mandi? Kenapa aku yang selalu berkuasa disini? Hm, mungkin hanya Poda yang punya pembantu gratis untuk melakukannya, dasar laki-laki menyebalkan selalu seenaknya sendiri menyuruhku! Pasti sebentar lagi dia akan memintaku membuatkan makan malamnya, ya meskipun sekarang masih sore tapi aku yakin perutnya tidak bisa menahan lapar," gerutu Krisna.


Dia segera menjemur semua baju Poda agar cepat selesai. Krisna juga ingin segera istirahat tidak hanya menjadi pembantu Poda. Sore itu juga dia merasa sangat lapar.


"Bagaimana mungkin aku sibuk bekerja sedangkan dia dengan enaknya menikmati surga dunia? Ish, dasar laki-laki pemalas," umpat Krisna dalam hati.


Poda yang menyadari jika dirinya seperti ada yang memperhatikan segera terbangun. Menatap wanita yang sedari tadi melihatnya. Dengan mengangkat kedua alisnya dia berucap santai.


"Kenapa melihatku seperti itu?," ujar Poda.


"Laki-laki tidak tahu diri! Dia tidak menyadari kenapa aku melihatnya seperti itu? Aarrggghhh, laki-laki gila!," batin Krisna.


"Hei, kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu tidak bisa mendengarku?", sindir Poda.


"Tidak apa-apa, aku hanya membutuhkan sedikit tumpangan untuk bersantai sebentar," jawab Krisna ketus.


"Baiklah, silahkan nona! Selamat menikmati istirahat Anda di sini," ucap Poda.


"Oh, baiklah terima kasih tuan, apakah ada seorang majikan memperlakukan pembantunya dengan semanis ini?," sinis Krisna.


Pasalnya dia tahu jika Poda tidak suka ada yan mengganggunya. Namun Krisna tidak memperdulikan itu. Dia hanya ingin beristirahat sejenak jika diperbolehkan. Apalagi saat ini masih hujan. Sepertinya saat yang tepat untuk menikmati Quality time-nya.


"Jika kamu sudah tahu aku menyindirmu kenapa kamu membalasku? Bukannya sadar diri malah semakin berani menentangku," gerutu Poda.


Tangan kanannya meraba saku bermaksud mencari keberadaan ponsel kesayangannya. Namun Krisna tidak menemukannya. Dia lalu bangun dari tidurnya melihat sekeliling kamar itu.


"Tidak ada, dimana? Apa aku lupa tidak membawanya?," batin Krisna.


Wanita itu mengerjakan matanya berkali-kali. Pertanda jika dia sedang mengingat sesuatu. Menautkan kedua alis lalu menatapnya.


"Sial! Aku tidak membawanya kesini," gumam Krisna dengan menepuk jidatnya.


"Hei, ada apa denganmu?," tanya Poda yang ternyata memperhatikan Krisna.


"Aku tidak membawa ponselku," jawab Krisna.


"Lalu? Apa kamu menyimpan sesuatu? Kenapa kamu terlihat kecewa ketika sadar tidak membawanya," ucap Poda datar.


"Tidak, aku hanya tidak mau disini seorang diri sedangkan kamu dengan jelas menyibukkan diri dengan ponselmu," tegas Krisna.


"Maaf, aku tidak akan memainkannya lagi," ucap Poda seraya meletakkan ponselnya.


"Terserah, aku mengantuk, aku akan tidur sebentar, tiga puluh menit lagi tolong bangunkan aku," perintah Krisna.


"Jika aku tidak lupa," ketus Poda.


"Tidak bisakah sedikit manis denganku? Ingatlah jika setiap hari aku memasak untukmu, apa itu balasanmu atas ketulusanku?," sindir Krisna yang tentu saja ditujukkan untuk Poda.


Laki-laki yang dimaksud tidak menjawab. Dia merasa enggan harus berdebat akan hal kecil. Lebih tepatnya terlalu gengsi mengakui kebaikan Krisna yang selama ini dilakukan. Namun dengan sengaja Poda memanfaatkan ketulusan itu. Mencari celah dimana kelemahan Krisna, dan selalu membuat wanita itu menderita.


Tentu saja hanya menderita untuk Krisna karena semua itu menguntungkan bagi Poda. Bukan simbiosis mutualisme, karena keduanya tidak saling menguntungkan.


Tidak tahu juga darimana Krisna mendapat keberanian untuk memerintah Poda. Juga keberanian yang dia dapatkan untuk memberi sindiran pada laki-laki itu. Padahal biasanya dia akan selalu tunduk mematuhi kata-kata Poda. Laki-laki itu tidak bisa di tebak. Selalu melakukan apapun sesuka hatinya. Bisa bersifat hangat, bisa juga tiba-tiba menjadi galak.


"Wahai jiwa dalam ragaku, tolong tiga puluh menit lagi bangunkan aku! Bahkan aku tidak yakin jika laki-laki itu akan membangunkanku, bisa saja dia akan tidur juga tapi tolonglah aku benar-benar mengantuk dan saat ini situasi sendang mendukung untuk meringkuk di dalam selimut," ucap Krisna pada diri sendiri.


"Aku masih di sini, tolong hargai kehadiranku. Dan jangan bersikap seperti orang gila yang berbicara sendiri," gerutu Poda.


"Dasar menyebalkan," umpat Krisna dalam hati.


Setelah itu tidak ada percakapan antara dua orang yang berada di satu ruang. Poda kembali mengambil ponsel yang sempat diletakkan.


"Bod*h! Untuk apa aku meletakkan ponsel jika bukan karena ingin mendekatimu, namun kamu dengan sengaja meninggalkanku menuju alam mimpimu! Jgan harap tidurmu nyenyak," ucap Poda dengan senyum liciknya.


Membuka aplikasi dengan tulisan "kamera". Poda berniat mengabadikan moment putri tidur di depannya. Mengambil angle yang pas, lalu membidiknya.


"Kamu cantik saat tidur, apalagi saat tidur di bawahku, eh dasar otak mesum! Sadarlah Poda, sadar! Buang jauh-jauh pikiran kotorku itu", gerutu Poda dalam hati seraya menjambak rambutnya asal.