My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 67 Pacar Pertama



Jika kamu bertanya perihal hati yang luka,


Aku disini masih mengenggamnya


Berteman pahit bergaris sepi


Bersama nyanyian takdir yang mengalun lembut di hariku


Menari riang antar sembilu


Menepis dusta berlapis duka


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kenapa mengancamku?," tanya Raka.


"Karena pagi ini kamu menyebalkan!," gerutu Krisna.


Setelah keduanya selesai meneliti laporan masing-masing, mereka segera mengemasi barang mereka. Bersiap melakukan perjalanan keluar seperti biasa. Kali ini Raka ingin agar Krisna yang mengurus semuanya. Sudah berkali-kali Raka mengajak Krisna meminta izin keluar, harusnya wanita itu sudah bisa melaksanakan sendiri. Sementara Raka akan menunggu di parkiran sembari menanti surat itu datang.


"Kenapa tidak kamu saja yang meminta izin?," ucap Krisna tiba-tiba.


"Kenapa harus aku? Toh selama ini aku sudah sering mengajakmu, apa kamu mau aku menemanimu?," goda Raka yang membuat Krisna mengerucutkan bibirnya.


"Tadi sih kamu manis, sepersekian detik kemudian kamu menyebalkan seperti ini! Untung saja aku belum tergoda ketampananmu! Dasar laki-laki menyebalkan!," umpat Krisna dalam hati.


Krisna berjalan keluar ruangan mendahului Raka untuk meminta surat izin keluar. Tidak sampai lima menit dia mengurusnya, namun serasa lima jam berada di sana. Mungkin karena biasanya bersama Raka sehingga kini merasa kesepian.


"Tidak biasanya kamu sendiri? Raka dimana? Apa kalian bertengkar?," tanya karyawan yang bertugas di bagian perizinan.


"Dia tidak mau meminta izin, entahlah pagi ini dia sedikit berbeda dari biasanya," jawab Krisna.


"Bahkan perbedaan sekecil apapun kamu tahu, kalian memang cocok," ucap karyawan dengan senyuman.


"Apes! Kenapa aku malah mendapat durian runtuh di waktu sepagi ini? Aku harus bahagia atau menderita nih," pikir Krisna.


Selalu di bully sudah menjadi hal biasa untuk Krisna. Terlebih ketika sudah dua kali ada yang mendapati Raka sedang memeluknya. Padahal saat itu Raka hanya menenangkan Krisna yang dirundung kesedihan. Sejak saat itu suasana di kantor semakin heboh dengan gosip terhangat pasangan tercocok.


Berbeda dengan Raka yang sedikit bahagia karena semua sudah mengerti usahanya. Namun tidak untuk Krisna, sang pemilik hati yang terlanjur beku seperti es kutub. Bagi Raka mencairkan sesuatu yang sudah beku tidak semudah membawa es balok dibawah terik matahari yang seketika akan meleleh.


Tidak semua wanita menyukai kemewahan. Selama ini Raka selalu mengenal wanita yang gila akan hartanya. Sedikit memberi pujian saja mereka sudah tersanjung. Apalagi ketika Raka memberinya sedikit kejutan seperti barang branded atau jam tangan bermerk terkenal lainnya.


Bagi Raka pemberiannya tidak seberapa, tapi dia yakin jika menurut Krisna semua itu berlebihan. Tidak dipungkiri jika tadi Krisna terlihat bahagia, namun bukan itu yang diharapkan Raka.


Selesai meminta izin, Krisna segera menuju parkiran. Membuka pintu mobil kemudian masuk yang tentu saja disana sudah ada Raka yang menunggu. Laki-laki di balik kemudi itu menatap Krisna sekilas lalu tersenyum.


"Akhirnya kamu mau juga, lain kali aku akan menyuruhmu lagi, aku suka melihatmu menggerutu dan cemberut," batin Raka.


"Kenapa tersenyum?," ucap Krisna.


"Tidak apa-apa," jawab Raka.


"Kalau tidak ada apa-apa kamu tidak mungkin tersenyum, aku juga tahu kalau kamu masih waras, eh apakah kamu sekarang hampir gila? Aku merasa kamu sedikit aneh," tanya Krisna.


"Ya, aku gila karenamu," jawab Raka santai.


"Tuh kan, apa kubilang? Kamu memang sedikit aneh, dimana Raka yang dulu selalu ramah namun tidak pernah sekalipun suka menggoda?," gerutu Krisna.


"Hei, aku seperti ini setelah mengenalmu! Bahkan aku belajar menggoda darimu, kenapa kamu tidak menyadarinya?," ucap Raka kesal.


Tidak habis pikir kenapa wanita yang selalu bersama Raka tidak menyadari penyebab dirinya menjadi seperti itu. Berkali-kali Raka mengeluh akan wanita yang disayangi saat ini, namun sadar jika sulit mendapatkan berarti akan sulit melepaskan.


"Ingat dia bukan sampah yang kamu pungut di jalanan, tapi permata yang kamu temukan ditengah ribuan kesempurnaan!," batin Raka seakan mengingatkan agar dia tidak gampang menyerah.


Melihat Krisna tidak menjawab ucapannya, Raka segera melajukan mobilnya ke luar kantor. Menembus padatnya kota Yogyak*rta, merayap ditengah teriknya sang mentari. Kali ini mereka menuju ke pusat kota dengan Maliob*ro sebagai tujuan sampingannya. Ya, setelah mendapat info jika mereka akan pergi ke sana, Raka memilih Malioboro sebagai pelepas penat sebelum kembali ke kantor.


Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di tempat yang di tuju. Segera melakukan pekerjaan masing-masing dan kembali ke mobil. Krisna sudah merasa cepat menyelesaikan pekerjaannya, namun setelah di depan mobil, dia mendapat pesan dari Raka jika laki-laki itu sudah menunggu di dalam.


"Sial! Sebenarnya dia kerja atau jalan-jalan, kenapa cepat sekali? Bahkan tadinya aku mengira aku yang akan menunggu Raka," batin Krisna.


Belum sempat Krisna masuk, Raka sudah keluar dari mobil menampakkan wajah cemberutnya. Meskipun cemberut dia tetap saja menawan. Sudah garis Tuhan menciptakan manusia setampan Raka hanya saja selera Krisna yang terlalu buruk untuk memilih pasangan. Dia tidak pernah melihat laki-laki tampan karena dia pernah di sakiti oleh pacar pertama yang menurutnya tampan. Jauh sebelum dia mengenal Ferry, seseorang yang sangat di sayangi, juga jauh sebelum dia mengenal Poda.


Jadilah alasan dia hingga saat ini belum menaruh hati kepada Raka, karena dia tidak mau terluka seperti pertama dirinya mengenal cinta. Dia menemukan Poda berharap sebagai pelipur lara yang mampu membuat hatinya kembali berbunga, namun nyatanya kini Poda lebih menyakitkan dari pacar pertamanya.


Alasan lain tidak memberi harapan kepada Raka adalah karena dia tidak mau mengkhianati hubungannya. Jika Krisna tidak sedang bersama Poda, tentu saja dia akan menerima Raka. Namun saat ini Krisna sedang menjalin cinta bersama Poda, dia takut akan karma yang suatu saat menghampirinya.


Sejauh ini Krisna juga belum mengerti kepribadian Raka yang sesungguhnya. Benar jika dia selalu membuat Krisna tertawa, namun tidak ada yang tahu bagaimana Raka ketika jauh dari Krisna. Tidak ada yang mengerti apakah dia masih tulus seperti ketika di samping Krisna, atau dia justru sama seperti Poda.


Berawal manis namun berakhir tragis. Siapapun yang pernah mengenal luka, dia pasti tahu bagaimana sakitnya sembilu yang menggebu. Meski tetap percaya jika suatu saat bahagia akan menghampirinya.


"Kamu lama sekali," ucap Raka.