My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 41 Visitor



Rindu yang menggebu


Ingin ku menghampirimu


Disaat senja menyapa


Ingin ku menikmatinya


Cinta


Pergilah kamu dengan sempurna


Jangan menyisahkan rasa


walau sedikit saja


Kamu tau


Aku terluka karenamu


Atas kehadiranmu di hidupku


Aku menolakmu


Cinta yang hanya ilusi bagiku


Untuk saat ini


Tolong pahami


Kamu datang di saat yang tidak tepat


Seperti angin yang enggan untuk melesat


Luruh airmataku menganak sungai


Pergi menjauh menuju pantai


Menyisir bulir debu ditengah hamparan pasir


Menulis kisah kita yang kan abadi tuk diukir


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Raka tiba di kantin setelah dua menit perjalanan. Dia berjalan sangat pelan hampir seperti maling mengendap-endap karena tidak mau ketahuan siapapun. Apa kata mereka jika Raka yang selama ini dikenal teladan saat ini justru berada di kantin.


Mengambil camilan kecil untuk dibawa ke ruangannya dan mengambil makanan yang mungkin saja Krisna suka.


"Bu, jus alpukat satu, tolong dibanyakin es nya yang penting dingin dan manis!," pinta Raka kepada ibu penjaga kantin.


"Namanya pakai es juga adem mas," jawab Ibu penjaga dengan logat Jawa.


"Aku juga tahu bu, maksudku es nya yang banyak jadi airnya dikurangin terus ditambah es dan gula yang banyak biar tetep dingin dan manis," jelas Raka.


"Ah ibu, kan ini cuma ada aku saja jadi tidak apa-apa kan Bu? Banyakin es dan gulanya ya Bu, hehehe," pinta Raka sekali lagi sembari menampilkan senyum termanisnya. Khas ketika dia sedang merayu para wanita. Namun sayangnya kali ini di rayu ibu penjaga kantin.


"Iya mas Raka, kok tumben sampeyan mendadak jadi cerewet gini sih? Ada apa mas? Kayaknya lagi galau ya?," Ibu penjaga kantin berkata dengan logat Jawa yang khas.


"Hehehe, tidak apa-apa kok bu,"Jawab Raka yang lagi-lagi cengengesan karena malu bisa di tebak.


Melihat roti di depannya, Sa*r Ro*i sobek dengan rasa coklat dan strawberry. Membaca expired date yang tertera di kemasan roti itu. Dia lalu mengambil roti dengan rasa coklat. Apa yang dipikirkannya. Perasaan tadi dia melihat yang strawberry dan coklat. Lalu kenapa justru mengambil yang lain hanya dengan rasa coklat. Raka lalu membuka bungkus roti yang diambilnya. Melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan di roti sebelumnya. Melihat tanggal expired date. Setelah melihat dan merasa roti itu aman, dia langsung memakannya dengan lahap seperti orang kelaparan. Tapi sayangnya dia tidak kelaparan. Hanya meluapkan sebagai pelampiasan amarahnya. Membayangkan jika itu Poda. Memakannya dengan lahap dan habis tak tersisa.


"Dia suka roti tidak ya? Apa mungkin suka rasa ini? Kebanyakan wanita menyukai coklat, tapi strawberry juga enak tapi kan aneh! Sebenarnya aku ragu, secara Krisna kan orang desa yang terdampar di kota ini, eh tapi mungkin juga dia mengenal rasa strawberry. Ah semoga saja dia mau, emoga saja lidahnya mengenal rasa aneh dari buah kecil berwarna merah ini," batin Raka saat memegang kembali roti dengan rasa Strawberry dan coklat.


Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengejutkan Raka. Menepuk bahunya dari belakang. Karena tanpa disadari, laki-laki itu sudah memperhatikan tingkah Raka sejak tadi datang. Dia adalah Arya teman Raka.


"Bro, tumben ke sini? Apa kata seluruh karyawan kantor ini kalau anak teladan di sini keliaran di jam kerja?," ucap Arya seraya menertawakan Raka yang tiba-tiba berhenti mengunyah.


"Sial! Kirain siapa! Padahal aku sudah bikin alesan semampuku dan semasuk akal mungkin, eh kenapa yang datag manusia kegabutan, hahaha," jawab Raka yang juga kembali menertawakan Arya.


Arya lalu mencomot roti yang sama dengan Arya. Pagi ini dua makhluk Tuhan itu sedang kelaparan. Baru saja Arya akan membuka kemasan roti, tiba-tiba dari ekor mata Raka menangkap bayangan sosok tinggi, putih, muda sedang berbicara sembari berjalan dengan pimpinan mereka. Sepertinya masalah serius. Melihat pimpinan mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Ar, coba liat siapa yang dateng!," ujar Raka seraya menengoklah kepalanya menuju ke arah yang dimaksud.


"Itu visitor dari pusat ka, ayo cabut daripada kita kena SP," ucap Arya setelah melihat siapa yang dimaksud Raka. Sementara Raka justru malah kebingungan.


"Darimana Arya tau, sedangkan aku dan Arya lebih lama aku kerja disini? Dan Arya darimana bisa tau itu visitor pusat? Apakah mereka datang sesuka hati dan mengunjungi bagian mana yang mereka inginkan? Atau mereka menjadi audit ketika aku mengambil cuti?," pikir Raka. Dia memikirkan sesuatu yang dia sendiri tidak menemukan jawabannya.


"Ar, tunggu!," teriak Raka seraya berlari mengejar Arya. Takut visitor itu mengetahui apa yang dia lakukan. Hingga lupa kalau dia belum membayar makanannya.


"Mas, bayar dulu ini rotinya! Ini jus alpukatnya juga kenapa ditinggal?," teriak Ibu oenjaga kantin yang tak kalah keras suaranya dari Raka.


"Eh iya bu, maaf! Ini uangnya, kembaliannya ambil saja tidak apa-apa," ujar Raka. Dia kembali untuk membayar roti dan mengambil jusnya. Lalu melanjutkan larinya menuju ruangannya.


Tiba di ruangannya, Raka segera duduk dan membuka laptop berpura-pura tidak terjadi apa-apa jika nanti visitor itu memasuki ruangannya. Berdiri dan meletakkan roti di depan meja Krisna lalu kembali ke kursinya.


"Kris, ini roti dan jus alpukat untuk kamu! Tapi minumnya nanti aja ya, di luar baru ada visitor pusat takut kalau kamu ketahuan, kamu juga masih baru! Aku nggak mau ada ala-apa sama kamu," ucap Raka lirih.


"Oke ka, terima kasih," jawab Krisna santai.


"Tok.. tok.. tok," tiba-tiba pintu ruangan Raka ada yang mengetuk dari luar. Rakapun bernafas lega.Beruntung dia sudah berada di ruangannya.


"Masuk," jawab Raka tegas agar terlihat berwibawa. Siapa tahu yang mengetuk atasannya.


"Benar dugaanku," pikir Raka.


"Kris, hari ini ada visitor kita dari pusat, beliau mau bertemu dengan karyawan baru di sini! Kamu ditunggu di ruangan GM di bawah!," begitu bapak atasan tercinta mereka mengungkapkan maksud kedatangannya.


"Semoga kamu bernasip baik ya," ucap Raka setengah berbisik.


Krisna kemudian berlalu. Sementara itu, atasan mereka berada di ruangan Raka. Mengevaluasi pekerjaan Raka. Juga menanyakan bagaimana kinerja Krisna selama ini. Karena bagaimanapun orang lain menilai, tetaplah hanya Raka yang mengetahui pasti nilai tersebut. Karena hanya Raka yang selalu bekerja sama dengan Krisna . Bahkan kerap mendapat tugas keluar kantor dengannya juga. Meskipun selama ini atasan mereka selalu mendapat laporan dari Krisna, namun beliau percaya disini ada peran Raka. Dan kali ini ingin menanyakan lebih rinci bagaimana kinerjanya.


"Kinerjanya baik pak, ada apa dengannya? Krisna jangan dipindah ke divisi lain ya pak," Raka menjawab pertanyaan dengan sebuah jawaban yang hampir mirip seperti permohonan