
Jika saja aku tahu perjuanganku akan sia-sia
Sedari awal aku memilih mengakhirinya
Namun apalah daya
Jika kita tidak akan tahu bagaimana akhir dari semestinya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kamu suka?," tanya Raka.
"Iya, terima kasih," ucap Krisna.
Raka hanya menganggukkan kepala melihat Krisna menyukai barang pemberiannya. Hanya sederhana namun mampu membuat mata itu menyiratkan kebahagiaan. Mungkin benar kata pepatah tidak perlu yang sempurna jika yang sederhana mampu membuatnya bahagia.
Krisna mengambil kalung dari dalam kotak lalu mengamatinya. Betapa bahagianya wanita itu mendapatkan sesuatu dari seseorang yang dekat dengannya. Meskipun semua hanya sebatas teman tidak lebih. Mengingat kembali pilu yang selama ini dirasakan. Poda tidak pernah sekalipun memberi kejutan kecil seperti itu meskipun di hari ulang tahun Krisna.
Selama ini hanya Krisna yang berjuang sendiri mengabadikan saat-saat yang menurutnya penting. Ketika Krisna berada di tanggal lahirnya, ataupun ketika Poda mendapati hari istimewanya.
"Please kris! Jangan bodo* memikirkan Poda! Tolonglah jangan baper untuk saat ini! Nikmatilah kebahagiaanmu meskipun itu tidak bersama seseorang yang kamu harapkan!," batin Krisna.
Wanita itu tersenyum karena sadar akan kebodohannya selama ini. Mengapa dia tidak bisa melihat yang tulus. Hanya melihat berdasarkan hati yang selama ini dijalani. Hingga akhirnya rasa yang dipupuk selama ini menjadi sedikit hambar. Mungkin kurang taburan garam.
"Tersenyumlah jika itu mampu membuatmu bahagia," ucap Raka.
"Maaf," lirih Krisna.
Merasa malu karena hanya mendapat kado kecil dari Raka membuatnya tersenyum. Bagaimanapun Krisna tetap tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Kemarilah, aku akan memakaikan itu," ujar Raka.
"Nanti saja, aku masih menyayangi yang sekarang ku pakai," tolak Krisna halus.
"Jelas saja kamu masih menyayangi kalungmu, karena itu pemberian Poda kan? Sabar Raka, siapa tahu hatinya nanti terketuk karena ketulusanmu," batin Raka.
Lima menit dua insan itu berada di ruangannya. Sementara di luar ruangan, apel pagi akan segera di mulai. Seluruh karyawan mempersiapkan diri masing-masing untuk mengikuti agenda pagi mereka. Berbeda dengan Raka dan Krisna, keduanya enggan keluar ruangan.
Melirik wanita di sebelahnya yang masih tersenyum. Begitupun dengan wanita itu, dia melirik laki-laki disebelahnya hingga tanpa sadar mereka saling berpandangan. Pandangan mereka bertemu di suatu ruang bernama ketidaksengajaan.
"Kamu semakin manis ketika tersenyum, maka tersenyumlah setiap saat," batin Raka.
"Hei, kamu semakin tampan ketika tersenyum, jadi tolong jangan pernah tersenyum di depanku!," gerutu Krisna dalam hati.
Sedari tadi mereka berdua hanya beradu argumen via ikatan batin. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai, padahal biasanya mereka saling sapa satu sama lain. Saling bercanda memecah keheningan antara keduanya. Bahkan semalam saling mengirim pesan.
"Apa kamu tidak berniat menyapaku terlebih dulu? Apa aku harus memulai memecah keheningan ini? Ih Raka, kenapa kamu menyebalkan seperti ini? Baru saja kamu membuatku tersenyum kini membuatku merasa sepi," batin Krisna.
"Apa harus laki-laki yang memulai terlebih dulu? Kenapa suasana menjadi hening seperti ini?," pikir Raka.
"Ehem," ucap Raka.
"Ehem," ucap Krisna.
Mereka mengucapkan satu kata bersamaan. Kebetulan sekali, apa sebenarnya mereka berjodoh. Raka lalu tersenyum menatap Krisna yang terlihat malu.
Jelas saja membuat Krisna hanya menggelengkan kepala. Akhir-akhir ini dia melihat Raka mulai pinter menggombal melebihi dirinya. Mendadak Krisna menjadi ragu berada disampingnya. Takut jika sewaktu-waktu Raka menjadi gila karena rayuannya.
"Baiklah, kenapa kamu memberiku semua ini?," tanya Krisna.
"Sudah ku katakan, aku hanya memberimu penyambutan sebagai teman hidupku eh maksudku sebagai teman kerjaku," jawab Raka seraya tersenyum.
"Tuh kan, apa kubilang? Dia sekarang pandai menggoda dan itu dimulai dari semalam, apakah dia sedikit gila?," umpat Krisna dalam hati.
"Bolehkan aku bertanya?," ucap Krisna serius seraya menatap tajam kedua bola mata Raka.
Sebenarnya Krisna ragu melakukan itu, namun demi agar dia terlihat serius maka ditatapnya dua mata Raka. Beriringan dengan debaran dada yang mulai ada, juga detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Krisna merasakan mulai ada desiran aneh ketika Raka juga membalas tatapannya.
"Sumpah! Jangan pernah kamu menatapku seperti itu! Demi apa laki-laki di sebelahku menjadi semenakutkan ini? Oh fergusa, tolong aku!," jerit Krisna dalam hati.
"Katakanlah, apa yang ingin kamu tanyakan?," jawab Raka dengan membalas tatapan Krisna dengan tatapan tajam serta seringai liciknya.
"Duh, kenapa dia seperti akan memakanku hidup-hidup? Matila* aku!," batin Krisna.
"Hei, bisakah kamu menatapku juga? Bahkan kamu yang pertama kali melihatku seperti ini," ucap Raka yang menyadari Krisna mengedarkan pandangan ke tempat lain.
"Ah itu, aku tidak jadi bertanya! Sekarang bekerjalah ini masih pagi," tukas Krisna mencoba mengalihkan pandangan Raka.
"Kamu selalu seperti itu! Selalu memulai namun tidak pernag menikmati, hm membuatku semakin gemas melihatmu," gerutu Raka.
"Heh, apa maksudmu? Aku yang memulai? Apanya yang kumulai? Bahkan menyentuhmu saja tidak, dasar otak mes*m!," gerutu Krisna dalam hati.
Raka lalu membuka laporannya, meneliti setiap detail angka yang tertera di sana. Sementara Krisna meletakkan kalung yang sedari tadi di genggamnya lalu menutup kembali kotak pemberian Raka. Menyalakan laptop kemudian membuka file kerjanya. Suasana hening kembali menyelimuti keduanya.
Mereka saling berkutat dengan pekerjaan masing-masing dan hanya sesekali saling melempar tatapan tajam. Seperti ingin membunuh mangsa saat itu juga. Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu menbuyarkan keduanya.
"Tok..tok..tok" suara pintu diketuk lalu memunculkan sosok tegap dan tampan di sana.
"Raka hari ini seperti biasa ya!," ucap sosok itu.
"Siap ndan!," jawab Raka seraya menempelkan tangan di dahinya membentuk hormat.
Krisna yang melihat adegan itu hanya mengerutkan dahinya. Dia sama sekali tidak tahu dengan maksud kedua laki-laki itu. Raka yang menyadari sifat keingintahuan Krisna muncul segera menjelaskan percakapan penuh gaya tadi.
"Maksudnya nanti kita keluar kantor seperti biasanya, kenapa kamu tidak bertanya malah mengerutkan dahimu," ucap Raka.
"Kamu sendiri tahu, kenapa aku harus bertanya?," ujar Krisna tak mau kalah.
"Oke kamu memang selalu menang atas diriku, sekarang selesaikan pekerjaanmu disini setelah itu kita keluar," perintah Raka dengan bijaksana.
Krisna hanya melirik sekilas tanpa mengucapkan apapun membuat Raka mengerucutkan bibir. Dia ingin sekali mengerti namun masih bisa di tahannya. Tanpa sadar Krisna malah menirukan Raka mengerucutkan bibir yang membuat Raka akhirnya benar-benar menggerutu.
"Iya Raka, baiklah aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu setelah itu aku akan ikut denganmu melakukan perjalanan keluar kantor," gerutu Raka yang ditujukan untuk menyindir Krisna.
"Hei apa-apaan kamu menyindirku seperti itu?," ucap Krisna sinis.
"Biarin, aku saja tidak mengganggumu kenapa kamu menggerutu?," ucap Raka santai.
"Sialan! Rakaaa awas ya kamu!," umpat Krisna.