
"Aku mendengarmu," ucap Raka.
"Lalu kenapa? Aku juga tahu kalau kamu belum tuli," ucap Krisna santai.
Raka masih bersama tatapan tajamnya, tapi Krisna memilih membuka laptop dan mencari kesibukan disana. Tanpa disadari, laki-laki itu mendekat ke arah Krisna. Wanita itu juga tidak menyadari saat Raka tiba dibelakangnya.
Ketika hembusan nafas hangat terasa di tengkuk, Krisna menoleh ke belakang. Mendapati Raka meliriknya dengan senyum licik. Wanita itu segera berdiri dan membalas lirikan Raka.
"Dasar penguntit! Gabut banget ya sering banget berdiri di belakangku," gerutu Krisna.
Kemudian laki-laki itu tersenyum manis menghilangkan senyum liciknya. Memang itulah saat yang ditunggu Raka. Melihat Krisna kembali menggerutu sepanjang hari bukan melihat Krisna diam dan sibuk dengan ponselnya.
"Jangan tebar pesona! Aku sudah muak melihatmu setiap hari," dengus Krisna kesal melihat senyuman Raka.
"Ayolah, jangan bersikap seperti ini! Bahkan kamu tidak pernah merayuku ketika aku marah," ucap Raka.
"Merayu katamu? Ingat aku bukan siapa-siapamu jadi untuk apa merayu laki-laki lain jika aku saja punya pacar! Makanya jomblo jangan kelamaan!," ucap Krisna penuh penekanan di kata jomblo.
"Hish, dasar menyebalkan!," ucap Raka sebal lalu berlalu meninggalkan Krisna.
Laki-laki itu kembali ke tempat duduknya dan mengambil ponsel. Membuka aplikasi kamera dan memotret Krisna. Melihat hasil jepretannya, setelah dirasa gambarnya baik lalu mengirim ke pemilik gambar asli.
"Drrttt" ponsel Krisna bergetar.
Wanita itu segera membuka, sontak saja matanya melotot dan bibirnya mengerucut.
"Apa-apaan ini? Kamu kurang kerjaan banget sih?," gerutu Krisna seraya menatap Raka.
Krisna membuka kamera lalu mengambil Poto Raka. Dia tidak mengirimnya ke Raka, tapi wanita itu membuat story akan kegabutan Raka yang hanya mengganggu hidupnya.
"He's handsome but crazy," send to story.
Hingga tiba jam makan siang, keduanya saling sindir. Namun itulah yang membuat mereka menjadi dekat. Jika kebanyakan wanita akan baper dengan perlakuan laki-laki, itu tidak berlaku untuk Krisna. Karena diantara keduanya justru Raka yang selalu baper dengan Krisna.
Mengingat hubungan keduanya seperti melihat sinetron "Dunia Terbalik" dimana yang seharusnya dilakukan wanita dilakukan laki-laki. Dan dimana selalu wanita cantik nan anggun yang mengejar laki-laki tampan dan kaya, disini justru Raka si laki-laki tampan mengejar Krisna si gadis sederhana.
Setelah makan siang keduanya kembali ke ruangan. Hari itu tidak ada jadwal perjalanan keluar kantor sehingga membuat Raka sungguh merasa bosan. Dia tidak mau bersama Krisna yang menurutnya sekarang menjadi tidak memperhatikannya.
Meskipun sadar akan posisinya yang salah, tapi Raka tidak pernah terima akan hal itu. Dia tetap bersikukuh harus mendapat perlakuan yang adil dari Krisna. Tentu saja wanita yang memiliki pendirian kuat itu tidak peduli dengan keinginan Raka.
"Gila! Dikira rebutan sosis kan bisa mat*k," umpat Krisna dalam hati.
Krisna menikmati harinya meski bersama Raka yang selalu membuat onar. Kini wanita itu mempunyai julukan baru untuk Raka. Karena memang beberapa hari ini Raka selalu mengganggu ketenangan Krisna.
Hanya untuk Krisna, karena tidak berlaku untuk Raka. Laki-laki itu selalu mengumpat dan menggerutu dari pagi hingga sore. Terlebih ketika Krisna pamit hendak pulang, Raka justru marah kepada Krisna. Namun bukan Krisna jika dia tidak berani menghadapi Raka.
"Raka, aku pulang dulu ya," pamit Krisna.
"Tidak! Nanti pulang jam empat, sekarang temani aku sebentar!," ketus Raka.
Segera mengambil ponsel dan menelpon Poda. Wanita itu ingin sekali menghabiskan malam bersama kekasihnya. Ingin sekali rasanya pergi makan malam di tempat yang indah seperti tempo hari.
"Hai sayang," sapa suara seberang.
"Hai juga, kamu pulang jam berapa?," tanya Krisna.
"Jam empat, hari ini aku pulang cepat malas di kantor lama-lama," jawab Poda dengan nada lesu.
"Apa kamu merindukanmu? Tebakanku pasti benar kan?," tambah Poda.
"Hahaha, tentu saja sayang! Cepatlah pulang, aku akan memasak semur ayam," ucap Kris a di sela tawanya.
"Baiklah akan ku tepati pulang cepat! Hati-hati di jalan sayang mmuuachhh," ucap Poda mengakhiri panggilannya.
Melirik Raka yang masih di ruangannya. Laki-laki itu masih memandangi Krisna penuh kebencian. Namun Krisna tidak memperdulikan Raka.
"Raka, aku pulang dulu," pamit Krisna sekali lagi.
"Hm," ucap Raka ketus.
Selepas kepergian Krisna, Raka segera merapikan berkas yang ada di meja. Hari ini laki-laki itu memilih lembur untuk menghilangkan suntuknya. Jika merasa semakin lama hatinya semakin berat, Raka berniat akan pulang.
Sementara di luar kantor langit mulai menampakkan awan gelapnya. Krisna menengadahkan kepalanya melihat ke langit lepas. Hamparan hitam dengan penuh gumpalan. Betapa Krisna merasa hatinya seperti teriris tatkala mengingat luka masa lalunya.
Sebesar apapun usaha Raka mendekatinya, wanita itu tetap tidak menganggap kehadiran Raka. Namun sekecil apapun Poda menyakitinya, wanita itu akan mengingat dengan jelas.
"Semua yang berlalu biarlah menjadi kenangan," ucap Krisna seraya bernyanyi.
Wanita itu lelah dengan masa lalunya. Semakin dipikirkan semakin menyakitkan. Namun jika tidak dipikirkan terkadang bayangan luka itu hadir dengan sendirinya.
Untuk mengobati pilu hatinya, Krisna selalu berpikir untuk berhenti mengingat masa lalunya. Masa lalu tidak akan pernah kembali jadi percuma jika terus diberi ruang untuk menepi.
Tidak hanya melulu tentang Poda. Sebenarnya wanita itu merasa bersalah kepada Raka. Laki-laki yang selalu berbaik hati kepadanya. Bahkan Raka rela menghabiskan harinya hanya untuk menemani Krisna ketika wanita itu merasa kesepian.
Selama bekerja di kantor itu, Raka tidak membiarkan Krisna sendiri. Kemanapun Krisna pergi, laki-laki itu akan dengan senang hati menemaninya kecuali jika Krisna pergi ke kamar mandi. Ketika Raka bolos jam kerja dan pergi ke kantin, Raka membawakan camilan dan jus untuk Krisna.
"Raka, kenapa kamu baik banget sih? Sekarang kalau posisiku kaya gini sama aja aku yang salah," gumam Krisna.
Wanita yang telah lama tidak meneteskan air mata itu segera mengerjapkan mata. Tidak ingin bulir bening yang telah di hapus Raka keluar lagi. Sungguh Krisna tidak ingin merasakan sakit untuk ke sekian kalinya.
Tanpa sadar, Raka dari lantai dua mengintip lewat jendela. Laki-laki itu memandang Krisna dengan tatapan sendu. Bukan lagi tatapan penuh senyum seperti dulu, namun tatapan penuh kepiluan.
"Mengapa cinta selalu mempermainkan ku," gumam Raka.
Memandangi bayangan Krisna yang semakin lama semakin berlalu membuat Raka menghembuskan nafasnya. Laki-laki itu bernafas kasar seraya mengacak rambutnya. Menyesali takdir yang selalu membawa luka untuk perihal asmara.