My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 38 Keringat



Lagu ini kupersembahkan untukmu


Untuk cinta yang pernah hilang


Dan kini sedang dalam masa berjuang


Meski memperjuangkan lebih sulit daripada mendapatkan


Namun lebih sakit lagi memperjuangkan sesuatu yang saat ini dimiliki orang


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Aku tidak malu, tapi aku tidak ingin orang lain melihat kita disini," jawab Poda.


"Terus kenapa disini?," tanya Krisna santai.


"Si! Aku tidak bisa mengendalikan keinginanku hahaha," Poda menjawab dengan tertawa.


"Dasar," umpat Krisna.


"Dan aku tidak mau kita menjadi tontonan di sini! Ingat adegan kita bukan untuk dipertontonkan!," tegas Poda dengan penuh penekanan.


" Kamu pikir aku mau? Dasar pria tidak tau diri," gumam Krisna dalam hati.


"Terus kenapa masih di sini?," tanya Krisna.


"Oke, ayo kita masuk ke kamar," jawab Poda dengan langsung menggendong Krisna.


Sesampainya di kamar, Poda segera mengajak Krisna mandi. Krisna lebih dulu mandi, setelahnya baru giliran Poda yang mandi. Mereka mandi dengan tempo yang sangat cepat karena semua kedinginan. Setelah mandi Krisna memakai celana pendek dan kaos oblong longgar. Meskipun dingin, dia lebih suka memakai pakaian simpel dengan selimut tebal. Daripada berpakaian dengan piyama panjang. Dia tidak bisa tidur jika memakai pakaian panjang.


Sementara Poda hanya memandang Krisna dengan tatapan licik. Dia tidak punya sehelai pakaian pun di kamar ini. Tidak pernah sekalipun terpikir olehnya akan hujan-hujanan dan bajunya basah di sini. Keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk kecil yang cukup untuk menutupi bagian kelaki-lakiannya. Bahkan tidak lebih dari batas pusar.


"Kamu kenapa masih di situ?," Krisna bertanya ketika melihat Poda justru melihatnya, bukan lekas memakai pakaiannya.


"Kenapa? Ada yang salah?," jawab Poda santai.


"Kenapa tidak memakai baju?," ucap Krisna dengan sinis.


"Kamu lupa jika aku tidak punya baju disini?," ucap Poda tak kalah sinis.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa? Mana mungkin juga laki-laki ini meninggalkan bajunya disini? Selama ini dia pulang pagi masih dengan pakaian yang sama dengan yang dikenakan malam sebelumnya! Aduh dasar pikun!," gerutu Krisna seraya menepuk jidatnya.


"Di jidatmu ada lalat?," tanya Poda.


"Tidak," jawab Krisna ketus.


"Terus kenapa ditepuk?," tanya Poda lagi.


"Ada nyamuk," jawab Krisna.


"Oh," Poda menjawab dengan suara sedikit serak. Hampir mirip seperti desahan.


"Em, maaf," sesal Krisna dengan memasangkan kembali handuk Poda. Mengambil dari lantai dan melilitkan di pinggulnya.


"Tidak usah," tolak Poda.


Sepertinya ketidaksengajaan Krisna malam ini justru dimanfaatkan oleh Poda untuk meminta jatahnya. Jatah jika setiap dia tidur disana melakukannya sebelum tidur. Poda melepaskan handuknya. Membiarkan handuknya jatuh ke lantai untuk kedua kalinya. Namun berbeda dengan yang pertama. Bedanya saat pertama tadi Krisna menjatuhkan ke lantai dengan tidak sengaja. Dan kali ini justru Poda dengan sengaja menjatuhkannya.


"Hei! Lepaskan! Kenapa aku harus berkali-kali mengingatkanmu jika kita akan mengakhiri kegilaan ini?," teriak Krisna tiba-tiba yang membuat Poda sontak menjauhkan Krisna.


"Sial! Kenapa aku bisa lupa?," pikir Poda.


"Padahal au yakin Krisna selalu tergoda ketika sudah tersentuh yang dibawah sana, apalagi kali ini tepat di depan liang lahatnya," gumam Poda dalam hati.


"Lepaskan aku", pinta Krisna.


Meski dengan susah payah Krisna menahan keinginannya, namun dia tetap berbuat akan mengakhiri. Berkali-kali godaan datang, dia tetap dengan sabar berniat mengakhirinya. Dia menendang tengah-tengah antara kedua paha. Tidak peduli Poda akan marah atau memaksanya, yang jelas Krisna benci ketika komitmennya tidak dihargai.


"Berhenti atau kamu harus pergi dari sini!," teriak Krisna.


*Flashback Off


"Pantas saja pagi ini kepalaku terasa pening hujan semalam membuatku sakit, namun tidak dengan luka hatiku! Kekecewaanku hadir ketika hatiku silih bergilir merangkai duka, luka itu semakin terasa setelah ada ribuan dusta namun rasa itu hilang ketika berada dalam guyuran hujan! Aku selalu menyukainya karena hanya itu yang mengerti keadaanku. Aku lelah ketika semua tak pernah sempurna," ucap Krisna dalam hati.


Bangun tidur Krisna langsung mengambil cermin, khawatir jika terdapat noda merah ketika dia tertidur. Nyatanya memang iya, ada bekas merah terlihat di leher.


"Apa mungkin Poda melakukannya ketika aku tidur?," gumam Krisna.


Melihat laki-laki disampingnya yang masih tertidur lelap. Ingin sekali Krisna menjambak rambutnya melampiaskan segala amarah yang selama ini membuatnya kalut. Bagaimana mungkin laki-laki itu dengan mudah meluluhkan hatinya, namun di satu waktu tiba-tiba meruntuhkan perasaannya. Krisna menyeringai licik.


"Semua tidak adil jika aku tidak membalasnya," lirih Krisna.


"Tunggu pembalasanku!," tukas Krisna dengan senyum jahilnya.


Hukum di dunia ini adalah ada sebab ada akibat. Begitu juga tentang teori gaya tarik menarik. Sebuah kalimat yang cocok menggambarkan kehidupan keduanya. Bagaimanapun keadaannya, Krisna selalu menuntut keadilan. Sekalipun yang di perdebatkan adalah hal kecil. Wanita itu mengurungkan niatnya untuk membalas Poda.


"Ini sudah terlalu siang dan aku tidak mau berangkat terlambat," gumam Krisna.


Mengamati garis ketampanan yang Poda miliki. Termasuk mengamati setiap inchi wajah yang terlelap. Meneliti setiap helai rambut hitam yang basah oleh keringat.


"Hanya tidur juga berkeringat, apa AC disini tidak dingin?," gumam Krisna lagi.


Dia tidak mau Poda besar kepala jika tiba-tiba membuka mata dan mendapati Krisna sedang mengagumi ketampanannya. Mata bulat itu memandang sekali lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tersenyum simpul lali mengecup pipi laki-laki di depannya.


"Semoga hari ini berpihak kepadamu," lirih Krisna.


Setelah Krisna puas dengan pemandangan didepannya, Krisna segera merapikan selimut yang dikenakan Poda. Dari ujung kaki hingga batas leher Krisna membenarkannya. Kemudian mematikan AC yang semalam masih hidup. Membiarkan Poda menikmati cuaca pagi ini dengan kehangatan. Sementara Krisna bergegas mandi dan mulai membuat sarapan.


Ketika cinta menyapa, dimana engkau berada. Aku mencari dimana keberadaanmu namun tidak pernah kutemukan walau hanya seberkas bayang semu. Tidak pernah ada yang tau bagaimana nahkoda berusaha melewati ombang-ambingan ombak. Tidak pernah ada yang tahu dimana pelayar akan membawa kapalnya menepi. Anak buah kapal hanya mengikuti kemana arus dilewatinya.


Tetesan embun yang hadir setiap pagi membuatku lupa sesaat akan cinta yang begitu lara. Berdiam lembut di atas dedaunan hijau, membuka bukti jika dia masih sendiri. Bagaimana cinta menyapa jika hatimu tertutup dusta. Bagaimana hati menyapa jika dusta selalu ada.