My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 126 Hambar



Teruntuk waktu terima kasih telah menyadarkanku


Apa yang pernah menjadi milikku tak selamanya kan bersamaku


Teruntuk waktu terima kasih telah menyadarkanku


Jika cinta tidak selamanya sempurna


Jika cinta tidak selamanya bersama


Malam,


Akankah hidupku bak lilin yang akan padam


Hadirnya sebagai penerang kegelapan


Namun akhirnya kan hilang di telan kebisuan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Cup" Terry mengecup puncak kepala Krisna sebagai tanda kasih sayangnya.


"No baby, aku tidak akan melakukannya. Aku tulus mencintaimu bukan sekeras modus mendekatimu," ucap Terry santai.


Melihat matahari semakin memancarkan sinar teriknya, Terry segera melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Di sana menunjukkan pukul 12.30 WIB.


"Tepat terasa di atas kepala," gumam Terry.


"Panas banget," ucap Krisna seraya meniup poninya yang berantakan terkena tiupan angin.


"Cup cup cup. Sini aku rapiin rambutnya biar nggak panas," tukas Terry seraya menyentuh anak rambut Krisna.


Bukan merapikan, tapi Terry membuatnya semakin berantakan. Laki-laki itu mengacak poni dengan kasar lalu mengacak rambut yang lain. Sontak saja Krisna kesal karena perlakuan Terry.


"Terry! Sekali saja hargai aku jangan terus membuatku marah," teriak Krisna karena setelah mengacak rambut, laki-laki itu langsung berlari.


"Hei, tidak masalah bukan? Aku yakin kamu rindu kejahilanku," teriak Terry dari kejauhan.


Meskipun Krisna berusaha mengejar, tetap saja Terry tidak punya usaha untuk mengalah sebelum Krisna sendiri mengakui kekalahannya. Wanita itu tidak pernah mendapatkan keromantisan seperti ini selama tujuh tahun bersama Poda.


Selalu berusaha agar terlihat dekat, tapi Poda selalu terlihat acuh dan tidak berniat. Bahkan sekedar bicarapun juga terlihat kaku. Tidak seperti bersama Terry.


"Tuhan, maafkan kesalahanku. Aku menyadari adanya kesengajaan di sini. Aku mencintai laki-laki lain setelah laki-laki yang kusayangi tidak menganggapku lagi," batin Krisna.


Ketika Terry berhenti untuk menggulung celananya, Krisna menghampiri dengan mengendap. Tentu saja Terry tidak menyadari karena berjalan di atas pasir tidak akan menimbulkan suara seperti berjalan di atas keramik.


"Sejauh apapun kamu berlari, akhirnya aku mendapatkanmu," gumam Krisna seraya memeluk Terry dari belakang.


"Aaaaa" Terry berteriak saat belum menyadari jika yang memeluknya adalah Krisna.


Laki-laki itu juga berusaha melepas pelukannya. Mungkin karena kaget dia tidak bisa berpikir jernih.


Jika orang lain akan berteriak dengan kata "KENA" maka tidak untuk Krisna. Wanita itu cukup memberikan kelembutan untuk menunjukkan keberadaannya.


"Kenapa ingin lepas dariku? Apa di sini ada kekasihmu yang lain?," sindir Krisna pelan.


"Huft" nafas berat terhembus saat mendengar suara lembut Krisna.


Akhirnya bayangan jahat lenyap begitu saja. Beruntung dia hanya hinggap sesaat. Terry hanya takut jika ada orang lain yang memeluknya lalu Krisna marah dan cemburu padanya.


"Kenapa?," dengus Krisna kesal seraya melepaskan pelukannya.


Sementara Terry berusaha menahan agar pelukan itu tidak lepas begitu saja.


"Enak aja main peluk-peluk terus mau dilepas. Emang tutup botol? Udah rampet kenceng udah klop malah dirusak dan dipisahin biar bisa keluar airnya," batin Terry.


Wanita itu sedikit berjinjit agar dekat dengan telinga Terry. Laki-laki itu lebih tinggi. Bahkan Krisna hanya sebatas bahunya.


"Kalau malu ngapain meluk? Kan kamu yang mulai, ya kamu yang harus nanggung malunya," ucap Terry santai.


"Sial! Kenapa harus kelepasan sih? Habisnya liat Terry dari belakang bikin nggak bisa nahan," gerutu Krisna dalam hati.


"Terry lepasin," rengek Krisna masih dengan posisi memeluk Terry dari belakang.


Sebelum air datang menghampiri keduanya ternyata Terry lebih sigap tak terduga. Saat melihat adanya gelombang yang tinggi, Terry segera berbalik dan menggendong Krisna. Membawa lari wanita itu menjauh dari bibir pantai.


"Terry turunin! Aku malu! Lagian aku juga berat," ucap Krisna dengan wajah tanpa menatap Terry.


Dia malu karena Terry tidak tanggung menunjukkan perhatiannya di depan umum.


"Don't worry baby, with pleasure i'm do it," ucap Terry santai.


"Aku juga masih punya tenaga lebih untuk menggendongmu. Mungkin jika berakhir di kamar, aku akan sedikit mengalah," sambungnya.


"Ish! Dasar otak ************!," desis Krisna seraya memukul dada Terry.


"Sakit tau! Diam aku sedang mencari tempat berteduh untukmu. Kulitmu semakin gosong," dengus Terry.


Ya, Terry laki-laki yang entah berasal dari benua mana. Yang Krisna tahu, Terry adalah teman komunitasnya dan dia berasal dari kota yang sama. Kedua orang tuanya juga berasal dari kabupaten yang sama.


Namun Terry memiliki kulit putih seperti bule dan rambut pirang kemerahan. Bukan hanya rambut di kepala, tapi juga bulu halus di tangannya dan sedikit bulu kecil di wajahnya. Kalau untuk buku yang tidak terlihat, mana mungkin Krisna tau. Wanita itu belum pernah melihatnya.


Mungkin ada aliran dari neneknya terdahulu. Berbeda dengan Krisna yang memiliki kulit khas orang Asia. Laki-laki itu membawa Krisna di tempat yang jauh dari bibir pantai. Lalu menurunkannya karena tahu jika Krisna tidak suka menjadi pusat perhatian.


"Duduklah," ucap Terry.


"Terima kasih," balas Krisna.


"Ini sudah jam makan siang. Kamu mau makan apa?," tanya Terry.


"Terserah," jawab Krisna acuh.


"Baby, don't forget! Kamu harus makan, ingat juniorku berada bersamamu," ucap Terry mengingatkan.


"Dia bukan juniormu jika kamu lupa," gerutu Krisna.


"Oh ya, kamu tidak berniat memberitahu namanya kepadaku? Aku ini ayah sambungnya," tukas Terry.


Krisna memutar bola matanya yang hampir melompat setiap kali mendengar Terry mengklaim anak yang pernah dirawatnya saat di kandungan menjadi miliknya.


"Dia bukan juniormu sayang. Anak itu milikku. Hasil kebobolanku dan Poda kala itu," jelas Krisna dengan penuh penekanan.


"Oh baiklah jika kamu masih memikirkan laki-laki tidak bertanggung jawab seperti dia," ucap Terry tanpa melirik Krisna sedikitpun.


"Tidak seharusnya aku bersamamu dan merusak kebahagiaan kalian," sambung Terry.


Laki-laki itu merasa dadanya nyeri setiap kali Krisna menyebut nama Poda. Apalagi jika membahas laki-laki tidak bertanggung jawab seperti dia.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung," ucap Krisna tulus.


Bahkan wanita itu memberanikan diri menggenggam jemari Terry yang terasa dingin. Perlahan menghangat karena sentuhan Krisna. Mungkin seperti hatinya yang akan menghangat setiap kali membayangkan wajahnya.


"Kamu suka sekali bicara seperti itu. Itu sangat menyinggung perasaanku," ucap Terry lirih.


"Maaf Terry," sesal Krisna.


"Sayang, aku tidak membutuhkan maaf darimu karena memang kamu tidak bersalah kepadaku. Tapi aku hanya minta jelaskan sesutau padaku agar aku tak lagi cemburu ketika mendengar itu," jelas Terry.


Rasa tidak enak mulai menghampiri Krisna. Wanita itu bingung darimana akan memulainya. Semua akan terasa hambar jika yang kamu lakukan tidak benar