
"Jam berapa ini? aku harus pulang! Aku harus bekerja Terry," ucap Krisna heboh agar Terry bangun dari pura-pura tidurnya.
"Ini tanggal merah," ucap Terry santai.
Krisna mengerutkan dahinya. Bagaiman mungkin dia bisa lupa dengan hari libur. Padahal biasanya wanita itu selalu menghafal tanggal berapa saja yang berwarna merah.
"Aku lupa hari libur? Apa ada hubungannya dengan Poda? Biasanya aku selalu menghabiskan holiday bersama dia, tapi sekarang? Ah entahlah," batin Krisna.
Terry membuka kelopak matanya sedikit untuk mengintip Krisna. Wanita itu masih dalam keadaan baik-baik saja, tapi selalu menggerutu.
Menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar Terry melepaskannya. Benar, Terry tanggap akan isyarat Krisna. Tidak menunggu lama, Terry langsung melepas Krisna agar bisa terbang bebas ke angkasa.
"Kenapa menjauh?," tanya Terry.
"Tidak papa," jawab Krisna.
Untuk apa berada di satu ranjang jika saling berjauhan. Sebaik apapun laki-laki, dia tetap tidak bisa diam jika hanya berdua dengan wanita.
Ide jahil muncul di benak Terry. Dia berniat ingin menikmati pagi dengan penuh kasih sayang. Kini dengan sekali tarikan, Krisna jatuh ke pelukan Terry lagi.
"Lepasin Terry! Apa-apaan sih," gerutu Krisna.
"Ssttt" Terry membuka mata dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Krisna.
"Please deh! Gue bukan ****** keles," dengus Krisna dengan bahasa gaul berharap Terry mengerti apa maksudnya.
"Bahasa apa sih? Aneh banget aku dengernya," ucap Terry.
Semakin kesal saat mendengar ucapan Terry. Krisna sangat mengerti jika Terry hanya berpura-pura. Baiklah, dengan rasa malas Krisna kembali menikmati pelukan laki-laki yang selalu membuatnya menggerutu.
Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, ketika Terry dan Krisna sama-sama membuka mata. Setelah tadi pagi Terry menarik Krisna ke dalam dekapannya, wanita itu kembali terlelap. Begitu juga dengan Terry dan sekarang keduanya baru saja membuka mata.
"Terry, aku mau mandi terus pulang," ucap Krisna.
"Baiklah," ujar Terry.
Terry sibuk membuka ponselnya. Dia menghuni kantin hotel agar mengantarkan makanan untuk mereka.
Karena Terry melakukannya tanpa memberi tahu Krisna, maka ketika Terry ke kamar mandi Krisna segera keluar meninggalkan Terry yang masih sibuk dengan dunianya.
"Good bye hotel kenangan," ucap Krisna.
Melajukan motornya pelan sembari mendengarkan musik lewat headset yang terpasang di telinganya. Krisna ingin menikmati rasanya jalan-jalan sendiri tanpa pengganggu. Sejenak ingin melepaskan penat yang bersarang dalam hatinya.
Tiba di kost setelah terlebih dulu mampir ke sebuah warung makan untuk mengisi perutnya. Tentu saja dengan menu bakso ndower yang isinya cabe dan daging cincang super pedas.
"Seperti matic milik Poda," gumam Krisna saat melihat ada matic parkir di depan pintu kamar kost nya.
Pintu sudah terbuka maka bisa dipastikan jika itu memang Poda. Siapa lagi yang berani mengusik ketenangannya jika bukan laki-laki tengil itu.
Krisna memasuki pintu yang sudah terbuka dengan santai. Matanya membulat sempurna saat melihat dua botol Jack Daniel dan satu slop rokok L.* Ice berserakan di lantai.
Sementara makhluk yang dicari kehadirannya berada di atas kasur miliknya dengan keadaan terlelap. Krisna menghampiri Poda dan mematikan TV yang masih menyala.
Tercium aroma alkohol sangat kental membuat wanita itu ingin mengeluarkan isi perutnya seketika.
"Jangan bilang disini dari semalem! ******! Kenapa apes baget sih!," umpat Krisna.
Krisna membereskan kamar kesayangannya yang mendadak menjadi kapal pecah karena ulah Poda. Sesekali bayangan masa lalu terlintas di benaknya. Semakin ingin melupakan, semakin sulit dilupakan.
Memalingkan kepala agar melihat dengan jelas bagaimana keadaan Poda. Awalnya Krisna mengira Poda masih mengigau, tapi ternyata laki-laki itu sudah sadar.
"Ada apa?," tanya Krisna santai.
"Kamu darimana? Semalam aku menunggumu disini," jawab Poda.
Otak berputar lebih cepat untuk mencari jawaban atas pertanyaan Poda. Krisna tahu pasti jika jujur bukanlah saat yang tepat untuk saat ini. Ya, mungkin sekarang adalah pertama kali wanita itu membohongi Poda. Bahkan dia tidak peduli lagi dengan statusnya yang selalu mempertahankan kebenaran.
"Apa kamu mengkhawatirkan ku?," tanya Krisna.
"Iya," jawab Poda.
"Untuk apa?," desak Krisna lagi.
"Aku merindukanmu," ucap Poda.
"apakah rindu bercinta denganku setelah kamu lelah dengan para wanitamu?," pancing Krisna.
"Ayolah, jangan membahas ****** itu. Saat ini aku menginginkanmu. Bahkan kamu tahu jika aku sudah tidak pernah berhubungan dengan mereka," ucap Poda santai.
Masih dengan mata yang sedikit merah serta bau alkohol yang tercium dari bibirnya. Poda mendekati Krisna lalu menarik wanita itu ke dalam kasur besar miliknya.
Menerima mungkin menjadi pilihan yang tepat untuk Krisna. Bagaimanapun dia juga merindukan sentuhan Poda. Apalagi semalam dia tidur bersama Terry yang tiada henti mengganggunya.
"Cup" kecupan singkat mendarat di bibir Krisna membuat wanita itu merasakan panas di sekitar wajahnya.
"Lupakan kesepakatan kita ya?," bisik Poda.
Anggukan terlihat sebagai isyarat persetujuan.
Tanpa menunda waktu, Poda segera menindih Krisna dan bermain di atas kendalinya. Melakukan apapun yang diinginkan hingga tidak ada yang terlewati.
Entah berawal darimana, Krisna akhirnya mengikuti alur permainan Poda. Hingga kini keduanya sudah saling menyatu tanpa mengenakan sehelai benangpun. Hanya selimut yang digunakan Poda untuk menutupi tubuh keduanya setelah nanti selesai.
"Keluar di mana?," bisik Poda.
"Terserah," ucap Krisna dengan suara lirih.
Dengan seluruh nafsu yang telah menguasai tubuhnya, Poda ingin sekali menyemburkan cairan itu ke rahim agar benihnya bisa berkembang dengan baik.
Aliran panas terasa di bawah pusar keduanya. Masih dengan tubuh yang saling menyatu, Poda memeluk erat wanita di bawahnya. Setelah semua benih tersembur sempurna ke sarangnya, Poda segera turun dan merebahkan diri di kasur kosong sebelah Krisna.
"Muach" Poda mengecup dahi sembari mengusap peluh yang bercucuran.
"Terima kasih," imbuhnya.
"Sama-sama," balas Krisna.
Keduanya tenggelam dalam hasrat yang lama tak pernah tersalurkan. Mungkin jika saat itu Poda tidak melakukannya, bisa jadi Krisna akan terjerumus ke dalam limbah dosa bersama Terry.
Jika saat ini waktu berpihak pada keduanya, maka sebuah kesepakatan akan musnah begitu saja. Tidak ada sesuatu yang mustahil bagi dua insan yang saling merindukan selain melepas hasrat dalam sebuah rengkuhan.
Bukan tentang nafsu dunia, tapi tentang kebutuhan manusia yang harus tersalurkan kapanpun menginginkan. Jika saat ini bukan waktu yang tepat, lalu akankah esok adalah kesempatan yang lekat.
Cinta terlahir suci tanpa saling mengikari. Namun ketidakmampuan kita dalam menjaga cinta akan membuat cinta menjadi simbol sebuah dusta. Betapapun kamu terluka karena kecewa, kamu akan tetap menyalahkan rasa yang bernama cinta.