My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 51 Luka



Tidak ada yang lebih indah selain mengingatmu


Meski hanya sebentar,


Kurasa hatiku telah terpaku


Teramat jauh aku terjatuh


Tenggelam dalam pekatnya noda


Mengingat jelas manisnya cinta


Meski kutahu hanya sementara


Dan jika bisa aku meminta


Inginku putar kembali roda


Agar kelak aku terhenti


Dimana kita saling mengisi


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pintu ditutup oleh Raka ketika mereka berada dua langkah setelah masuk. Mengintip lewat kaca tembus pandang yang ada didinding. Memastikan tidak ada yang mengintip. Pasalnya, setiap kali Raka masuk bersama wanita dia sering memergoki ada yang mengintipnya.


"Semoga kali ini tidak ada yang menggangguku," batin Raka.


"Kamu lihat apa?," tanya Krisna.


"Kalau aku masuk sama pacarku pasti ada yang ngintip, semoga kali ini kita aman hahaha," jawab Raka seraya tertawa.


"Hahaha semoga saja begitu, aku tidak mau ketahuan disini sedang berdua sama kamu," jawab Krisna dengan gelak tawanya.


"Mau nyanyi lagu apa?," ujar Raka.


"Mellow"," jawab Krisna santai.


"Ha?," tanya Raka dengan menaikkan sebelah alisnya


"Kenapa? Ada yang salah?," ucap Krisna.


"Ternyata seleramu terlalu buruk," jawab Raka datar. Dia pura-pura kecewa atas pilihan Krisna.


"Bukankah kamu tahu betul bagaimana pilihanku hm?," ucap Krisna yang sengaja memancing Raka.


"Ya, aku tahu betul bagaimana pilihanmu, bahkan kamu lupa jika saat ini kamu memilih orang yang seharusnya tidak pernah hadir di kehidupanmu," ujar Raka santai.


"Shit! Kenapa justru malah aku yang terpancing," batin Krisna.


"Em kar-", ucap Krisna yang terpotong karena Raka memaksa untuk bicara.


"Karena kamu terlalu menutup hatimu, kamu terlalu berkomitmen meskipun komitmenmu tidak pernah dihargai," tukas Raka.


"Dan lagi, kamu terlalu berharga hanya untuk sebuah pengkhianat," lanjut Raka.


"Sebodoh itukah aku," batin Krisna.


Ketulusan Raka yang selalu bersedia menemaninya membuat Krisna semakin merasa bersalah. Kenapa hatinya berlabuh kepada orang yang salah. Bahkan keiklasan Raka menggetarkan hati hingga membuat bulir bening terjatuh dari sudut mata Krisna.


Hidup yang tidak sempurna. Atau mungkin tidak akan pernah sempurna. Seketika rasa menyesal menjalar di seluruh aliran darah. Menggumpal beku di setiap helaan nafas.


"Tuhan, sebodoh inikah aku?," sekali lagi Krisna berteriak dalam hati.


Berputar kembali memori yang pernah kusimpan rapat. Mengulang luka mengikis derita.


"Tuhan jika boleh aku meminta, tolong kembalikan semua seperti sedia kala, sebelum aku mengenalnya, dan sebelum aku mengenal luka," lirih Krisna.


Sontak saja membuat Raka terlonjak dari duduknya. Bagaimana mungkin disaat seperti ini Krisna justru membuatnya rapuh. Merasa bersalah atas ucapan yang baru saja dia lontarkan. Namun Raka sendiri tidak mengira Krisna akan seperti ini.


"Tolong hentikan tangisanmu! Atau aku tidak segan-segan untuk memelukmu," jerit Raka dalam hati.


Sementara Krisna berusaha untuk menahan tangisannya agar tidak pecah. Terlihat dari pejaman matanya yang seakan menyimpan kekuatan untuk menahan bendungan air mata agar tidak tumpah. Namun semua hanya sia-sia.


"Jangan pernah memaksa, biarkan tangisan itu ada jika itu mampu membuatmu sedikit lega," ujar Raka yang mulai mendekatkan diri kepada Krisna.


Kini Raka berada tepat di bawah Krisna. Dia sengaja berjongkok di lantai dan mensejajarkan dirinya tepat di lutut Krisna. Menggenggam tangan itu dengan erat seperti menyalurkan aura positifnya. Dia hanya ingin wanita didepannya itu bahagia bukan menangis dalam derita seperti ini.


Tepat ketika membuka mata, Krisna melihat sosok laki-laki yang berada dibawahnya ikut terluka. Terlihat begitu cemas mengkhawatirkan keadaannya. Hanya senyum samar yang bisa dipersembahkan Krisna untuk laki-laki itu.


"Jangan pernah berada di bawah posisiku," pinta Krisna dengan lirih.


"Baiklah," ucap Raka dengan segera duduk di samping Krisna.


"Aku cukup terluka hanya dengan melihatmu seperti ini, apa kamu tidak merasakannya?," tanya Raka.


"Kenapa?," jawab Krisna.


"Karena aku tidak akan membiarkanmu untuk meneteskan air mata walau hanya setitik saja," lirih Raka.


"Maaf," ucap Krisna lesu.


Benar-benar tidak mengerti kenapa dia harus dihadapkan kepada orang yang tidak di cintai. Kenapa harus dihadapkan kepada seseorang yang perlahan mengisi kekosongan hati.


"Aku ragu, apakah bisa aku menahan perasaan ini?," batin Krisna.


"Terima kasih," ucap Krisna tiba-tiba.


"Untuk apa?," ujar Raka yang langsung memincingkan mata menatap wanita di depannya itu.


"Untuk waktu yang selama ini selalu tercipta untukku," jawab Krisna.


"Andai kamu tau bukan waktu yang terpenting untuku, tapi kamu," batin Raka.


"Bahkan aku tidak pernah meluangkan waktu untukmu," ujar Raka santai.


"Raakaa," Krisna mulai merajuk. Dia hafal kebiasaan Raka yang tidak pernah mau dianggap menemaninya.


Bagi Raka apapun yang dilakukan untuk Krisna adalah kebahagiaannya. Secara tidak langsung dia mempunyai kewajiban tersendiri untuk membuat wanita itu tertawa. Walaupun sebenarnya dia berselimut duka. Tidak pernah ada ruang sedikitpun untuk bersemayam dihatinya.


Kini Raka kembali hanyut dalam imajinasinya. Melakukan apapun sesuai yang ada dalam benaknya. Termasuk memeluk Krisna untuk saat ini. Raka benar-benar memeluk Krisna. Berharap seseorang yang kini diperlukannya tidak menolak.


"Cup" Raka mencium puncak rambut Krisna. Menikmati aroma strawberry membuat dirinya merasa nyaman.


"Bisakah aku hadir dalam hidupmu?," pinta Raka dengan lirih namun masih terdengar.


"Aku tidak mau kamu terluka," jawab Krisna.


Tidak dipungkiri, kini mereka mempunyai perasaan yang sama. Hanya saja semua keputusan berada di tangan Krisna. Raka tidak peduli dengan masa lalunya, begitupun masa lalu Krisna. Dia hanya ingin memulai hidup baru bersama Krisna. Itupun jika dia diberi kesempatan olehnya.


"Aku tidak peduli," ujar Raka.


"Please Raka kamu terlalu berharga hanya untuk seseorang sepertiku," ucap Krisna.


"Please Krisna kamu juga terlalu berharga hanya untuk seseorang seperti dia," tegas Raka meski dengan suara yang berat dan sedikit serak.


"Cukup aku yang terluka! Aku mohon kamu jangan merasakan apa yang pernah kurasakan," pinta Krisna.


"Bagaimana jika Tuhan menciptakan kita untuk saling mencinta, apakah kamu bersedia?," Raka berkata seraya menatap kedua bola mata bulat milik Krisna.


"Tidak! Ku mohon jangan! Tolong lepaskan! Aku tidak mau kamu terluka," jerit Krisna dalam hati.


"Aku tulus menyayangimu, bahkan mungkin rasa ini melebihi apa yang pernah kamu rasakan! Kali ini saja aku mohon bukalah hatimu untukku," pinta Raka yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Aku sudah membukanya, aku sudah membiarkan kamu masuk di dalamnya dan sekarang aku meminta kamu untuk pergi dari sana," lirih Krisna yang sedang menahan air matanya.