My Hidden Love

My Hidden Love
Stage 113 I Can't



Oleh karena angin yang bertiup kencang


Aku menitipkan sebuah harapan yang mungkin tak akan lekang


Aku ingin pergi,


Tapi suatu rasa menahanku disini


Aku ingin mengakhiri,


Tapi takut penyesalan kan menanti


Lalu jika aku memilih melanjutkan


Akankah ada secerah harapan untuk penikmat kehidupan?


Really baby,


Kala jemari tak sanggup lagi menepi,


Ingin rasanya mata mengisyaratkan kata


Meski sayang ketika iris biru tua tak lagi terpancar luka


Aku tetap meyakini adanya gurat kecewa


Ketika hening malam mengusik indra,


Adakah daku disini masih menutup lara


Ketika bintang malam menghias semesta,


Adakah daku yang terus menunggu lenyapnya persetan cinta


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jangan terlalu bahagia, takutlah jika nanti kecewa hadir begitu saja," ucap Terry.


"Apakah itu sebuah petuah? Tapi terdengar seperti sindiran," tukas Krisna.


"Hehe" kekehan Terry menambah tingkat ketidakpahaman Krisna.


"Lupakan," lirih Terry berharap wanita di hadapannya tidak mendengar.


"Tentu saja, mana mungkin aku punya waktu untuk memikirkanmu. Hanya sekedar bersandar pada awan saja dia tak pernah merelakan," dengus Krisna kesal kala mengingat jalan hidupnya yang tak kunjung mencapai puncaknya.


Apa yang harus dilakukan Terry agar Krisna segera menyadari. Laki-laki itu tidak mempermasalahkan status Krisna, hanya saja sang wanita merasa hina di mata teman laki-lakinya.


"Kumohon, berhentilah seperti ini," ucap Kris a dengan gurat kekecrwaan.


Terdengar dari suara yang sedikit bergetar, Terry yakin itu bukan permintaan tulus dari seorang Krisna. Lebih tepat sebagai penyataan yang harusnya tidak pernah terkabulkan.


Sekilas sudut mata Krisna menangkap satu alat kehamilan yang kemarin dibelinya. Sekali lagi mencoba tidak ada salahnya. Langkah terasa berat dari sebelumnya. Tangan kanannya menggapai benda yang sempat membuat hatinya murung.


Di satu ruang yang sama, Terry mengamati Krisna yang menyimpan seribu luka. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk membahagiakan Krisna jika bukan keinginan dari dalam hati ya terpenuhi.


"Berat," tanpa sadar kata iba Terry lolos begitu saja.


Senyum sinis tersungging di bibir Krisna kala wanita itu mendengar ucapan Terry. Benar adanya jika hidupnya berat, tapi bukankah hidup adalah ujian. Tentu saja Krisna membenarkan pepatah tersebut.


"Tak kenal maka tak sayang, aku sayang kamunya bajing*n!," umpat Krisna seraya meremas bungkus tespeck yang sudah digenggamnya.


Bergidik ngerti melihat kilatan kebencian di mata Krisna. Selama ini Terry tidak pernah bertemu dengan sisi lain Krisna yang menurutnya menyeramkan.


"Please don't touch me!," gumam Krisna.


"Oke baby," balas Terry.


"But, please tell me about something," sambungnya.


"Tentang apa?," tanya Krisna.


"Tentang cerita yang tidak kumengerti sebelumnya," jawab Terry jujur adanya.


"Tidak akan," ucap Terry sungguh.


Hembusan nafas kasar terbuang sebelum akhirnya wanita itu bercerita. Mengingat semua luka yang telah ditutupnya rapat, tapi sekarang seseorang meminta menceritakannya kembali.


"Oke, i'm fine! It's not important for me," gumam Krisna.


"Ceritakan semuanya kepadaku. Aku akan mendengarkan tanpa menyinggung sedikitpun tentangmu," ucap Terry.


Roll play film kehidupan dimulai. Dimana awal Krisna dan Poda berkenalan hingga akhirnya bertemu. Lalu mereka jadian, sering pergi ke puncak bersama untuk sekedar one night room disana. Kemudian teringat tentang hidup yang hanya menyimpan luka.


"Terry, i can't," ucap Krisna dengan suara parau.


Saat seseorang menanyakan tentang masa lalu atau tentang hal yang membuat Krisna mengingat kisah pilunya, wanita itu mendadak menjadi cengeng.


Bucin tiba-tiba menjalar menjadi kewajiban tersendiri untuk Krisna. Sosok wanita yang mencoba tegar menghadapi lika-liku kehidupannya.


Bukan tentang alam yang tak sanggup membuatnya terpejam, tapi tentang kenangan yang sulit dilupakan. Wanita itu berusaha tegar agar air matanya tak lagi tumpah. Namun kini laki-laki di sampingnya meminta dia untuk menceritakan apa yang dialaminya.


"Hhuftt" Krisna membuang nafas kasar.


"Tidak perlu menceritakan, tapi setidaknya mampu melupakan," gumam Terry santai.


"Hei! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sementara kamu memaksaku untuk mengingatkan. Ayolah Terry, jangan meminta hal gila seperti itu. Kamu tau bagaimana hancurnya perasaanku selama ini, jadi untuk apa kamu memintaku menceritakan kembali? Agar kamu bisa seenaknya tertawa tanpa mengingat dosa? Atau agar kamu bisa bahagia di atas luka yang kurasa hm? Please, don't make me remember about that!," rengek Krisna yang perlahan menjadi isakan.


Bukan menangis karena masalalunya, bukan pula menangis karena seorang Poda. Tapi dia kesal kepada Terry yang menyuruhkan menceritakan kisah pahitnya. Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini menjadi pendengar setia mendadak memintanya menjadi narasumber terpercaya.


"Kumohon, bantu aku melupakan hal itu," gumam Krisna.


"Fiuh, fiuh" angin sepoi bertiup di kening Krisna memaksa anak rambut berlari kecil.


"You look so cute," goda Terry dengan seringan liciknya yang spontan menambah kesan hotnya.


Terry bersiap memanyunkan bibirnya lagi untuk meniup anak rambut yang lain. Namun dia kalah gesit. Sebelum laki-laki itu sempat melakukannya, Krisna telah lebih dulu mencium bibirnya.


Seklias, tapi ketika Krisna hendak menjauhkan tubuhnya Terry menarik tengkuknya. Berganti mencium bibir Krisna lalu ********** pelan.


"Shit! Kenapa aku tidak bisa menolaknya! Sadar woey!," maki Krisna dalam hati.


Hatinya ingin menolak, tapi tubuhnya tidak bisa melepaskan ciumannya. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali melakukannya.


"Cep" Terry melepas ciumannya refleks membuat Krisna mengerucutkan bibir.


Terry melihat perubahan wajah Krisna yang tiba-tiba ditekuk.


"Apa wajahmu seperti itu karena aku?," goda Terry.


"Ha? Ah tidak," tukas Krisna.


Malu karena ternyata dia menginginkan Terry, sama seperti Terry yang menginginkannya. Dadanya berdebar semakin cepat. Dia ragu jika Terry melakukan sekali lagi akal sehatnya hilang.


"Cup" Terry mendaratkan ciuman di leher Krisna.


Lenguhan terdengar dari bibir seksinya membuat Terry tersenyum puas.


"Lepasin, geli tau," gerutu Krisna setelah menyadari baru saja mengeluarkan suara bodoh.


"Kalau nikmat mah bilang aja, kenapa ditutupin," kekeh Terry.


Dia sudah tidak bisa menahan rasa malunya lagi. Terry terang-terangan menggoda sementara dia berada di waktu yang salah.


"Sadar ter, kamu itu salah," ucap Krisna menyadarkan Terry.


"Aku tau, tapi aku lebih salah kalau meninggalkanmu saat ini," ucap Terry santai bahkan terlihat seperti tidak ada kesalahan di dalam dirinya.


"Hadeh," dengus Krisna kesal.


Bola mata yang bulat berputar sendiri karena kesal. Mungkin benda itu jengah dengan rayuan Terry. Ingin memiliki, tapi takut akan menyakiti. Tidak ingin melepaskan, tapi tidak bisa melupakan.


"Apa yang harus kulakukan? Memilikimu takut membuatmu takut bersamaku. Apa wajahku terlihat buas di matamu? Woey, aku beneran cinta kamu Krisna!," tanpa sadar Terry mengumpat kesal dalam hatinya.